goresan luka yang dalam

1798 Words
"Hei..hei.. kamu kenapa ? Sorry..sorry kalo aku salah ngomong" ucap Digta memohon Tia memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Digta dadanya masih kembang kemping menahan amarahnya. Digta mensejajarkan tubuhnya di depan muka Tia, Tia kembali memalingkan wajah ke sisi sebelahnya. "Honey..pegel aku" ucap Digta Tia masih memalingkan wajahnya. Digta menghela nafas sambil mengajak Tia duduk. Tapi Tia masih memalingkan wajah, Digta terpaksa memaksa wajah Tia menatap wajahnya dan mencium bibir Tia. "Sayang maafin aku"mohon Digta hingga hampir berlutut. Reflek Tia menahan Digta "apa-apaan sih lu" "Biar kamu maafin aku" ucap Digta menatap tia "Huft.. gue gak suka kata-kata lu Digta, dan lu gak perlu memohon Ampe begini" ucap Tia menghela nafas "Berarti kamu maafin aku kan ?" Tanya Digta "Iya..iya..aku maafin." Ucap Tia Digta memeluk Tia kembali. "Kamu seriusan sama sertifikat itu ?"tanya Tia Digta mengganguk perlahan. "Ini berlebihan Digta" ucap Tia kembali "Ehm anggap aja ungkapan sayang aku ke kamu, apalagi kamu sebentar lagi menjanda, butuh biaya ekstra buat Jeje, kalo nanti kita menikah, itung-itung buat jajan kamu sama jeje yang ngontrak disitu, kan kamu tinggal bareng sama aku nantinya" kekeh Digta sambil mencolek dagu tia "Dih yakin banget nikahnya sama gue" goda Tia "Yakinlah, pokoknya aku bakal bikin kamu cuma nikah sama aku" ucap Digta mengerlingkan mata Saat Digta berbicara seperti itu, tiba-tiba Tia ragu mau bicara rencana dirinya bersama Julian tadi. "Ehm, Dig" panggil Tia "Apa sayang" jawab Digta tersenyum dan mengelus pipi Tia. "Ehm tadi Julian kesini, pas kamu tidur" ucap Tia ragu-ragu Digta sedikit terkejut, tapi tidak di tampakkan "Ngapain ?" Dengan mimik wajah sedikit berubah "Tapi kamu jangan marah ya" ucap Tia, yang entah mengapa mulai ada ketakutan ketika membahas laki-laki lain depan Digta, merasa lebih harus menghargai Digta yang hampir setahun ini menemaninya dengan berbagai masalah "Iya, aku gak akan marah kok, status kamu kan masih sah istri dia" jawab digta sedikit ketus "Ehm... Julian ajak aku sama Jeje jalan-jalan besok" ucap Tia ragu Digta sedikit mengepalkan tangannya, pertanda begitu cemburu mendengar Julian mendekati pujaan hatinya kembali. Tia yang melihat ekspresi Digta berubah, mencoba meraih tangannya untuk menenangkan nya. "Aku gak akan ngapa-ngapain kok" ucap Tia meyakinkan "Aku yakin sama kamu, tapi tidak dengan Julian" jawab Digta yang terlihat gemas ketika cemburu "Ya kalo aku di apa-apain kan aku masih sah istri dia kata kamu" goda Tia terkekeh Digta menatap wajah Tia dan memegang wajah Tia, "Jangan sampe aku nekat ya Tia" jawab Digta tegas. Tia mengecup bibir Digta dan tersenyum " aku berusaha buka hati aku kok buat kamu, jangan khawatir ya, anggap aja nemenin Jeje ketemu ayahnya" Digta yang mendengar ucapan Tia, sedikit salah tingkah dan berpura-pura bisa menenangkan diri. Tia begitu gemas melihat tingkah Digta. "Ya udah, tapi kata-kata terakhir kamu jangan kamu lupain ya" ucap Digta makin salah tingkah "Yang mana ? Yang anggep nemenin Jeje ketemu ayahnya" goda Tia " Iiihhh kamu tuh ya" rengek Digta layaknya anak kecil Kekeh Tia sambil tidur di paha Digta " aku gak minta apa-apa dari kamu, sama halnya dengan kamu, aku terkejut ketika ungkapan perasaan kamu 2 tahun lalu adalah nyata" " Dari awal jumpa kamu itu , kamu begitu menggoda lho sebagai istri orang" goda Digta sambil mengelus rambut Tia " Astaghfirullah kan kita jarang ngobrol dulu" jawab Tia. "Entahlah, rasa itu mengalir apa adanya" ungkap Digta menatap wajah Tia Mereka berbicara ngalor ngidul hingga pagi, sampai-sampai mereka pesen makanan online untuk mengisi perut mereka yang kosong. ***** Pagi menjelang siang, saat Tia sedang siap-siap ingin menjemput Jeje, ibu Tia menelepon. "Tia kamu dimana nak ?" Tanya ibu Tia di seberang sana "Tia baru mau jalan Bu, kan mau jemput Jeje" ucap Tia sambil membenahi tas perlengkapan Jeje " Ehm gini, Julian ada disini nak " ucap ibu Tia sedikit panik dari seberang sana " Hah kok dia kesana Bu ?" Tanya Tia tidak kalah panik, Tia takut Jeje akan di bawa Julian seperti chat dengan ibunya "Namanya ayahnya nak, Angga di depan ngawasin Jeje juga kok, Julian juga pamit Mau ajak Jeje dan nungguin kamu" ucap ibu di seberang sana " Ya udah Bu, Tia otw kesana kok" Tia bergegas ke rumah ibunya. Sesampai di rumah ibu Tia, Julian sedang asik bermain dengan Jeje, saat melihat Jeje dan Julian, terasa goresan luka dalam d**a, betapa Julian tega memisahkan dirinya dengan anaknya, demi ke egoisnya sendiri. "Gak ngabarin sampe sini " ketus Tia "Aku kangen banget sama Jeje" ucap Julian sambil menggendong Jeje. Akhirnya Julian pun pamit kepada ibu Tia membawa Jeje dan Tia pergi, ibunya Tia hanya tersenyum tipis. Saat ingin masuk mobil Julian berhenti dan membukakan pintu untuk Tia " Buat bunda Jeje first " ucap Julian tersenyum Tia memutar bola mata malas melihat tingkah Julian, tapi Tia malah memberikan bangku depan kepada Jeje, ada senyum kecut melihat tingkah Tia. Tia memilih bangku belakang. " Bunda kenapa tidak di samping ayah sama Jeje" tanya Jeje menoleh ke belakang " Biar Jeje leluasa lihat depan nak, bunda pusing kalo di depan nak" jawab Tia Julian yang masuk ke mobil pun, melirik Tia melewati kaca spion mobil. " Ehm gimana pekerjaan kamu ?" Tanya Julian " Baik-baik aja" jawab Tia sambil asik bermain handphone " Kamu sehat ?" Tanya Julian sambil melirik lagi "Seperti yang kamu liat" ucap Tia lagi " Gimana mobil ini ? " Tanya Julian " Ya mobil aja, mau berubah bentuk gitu jadi helikopter" ucap Tia ketus " Hahaha.. Kamu gemesin banget kalo ngambek " kekeh Julian Tia tidak menjawab obrolan Julian, Julian menceritakan apapun tentang keseharian dirinya setelah berpisah, dan lebih banyak berbicara dengan Jeje. "Ayah kok sekarang gak pernah ada di rumah yah " tanya Jeje "Ayah kerja nak" jawab Julian seperlunya. "Kok gak pernah pulang ?" Tanya Jeje kembali " Kan ini ayah pulang" ucap Julian lagi. " Berarti Bobo bareng lagi ya yah bertiga bunda" ucap Jeje tersenyum Tia Dan Julian kaget dengan ucapan Jeje. "Ehm sayang ayah kan mesti kerja, jadi belum bisa bobo bareng bertiga" ucap Tia sambil mengelus kepala Jeje. " Ayah bisa kok hari ini tidur bertiga" ucap Julian santai melirik Tia Tia melotot mendengar ucapan Julian, dan lebih banyak maen handphone nya ketimbang ngelayanin pembicaraan Julian. Akhirnya mereka mampir di sebuah mall di kota J, Julian sudah lama tidak mengajak Jeje ke arena bermain anak, sambil menggenggam tangan Jeje, Julian berjalan tanpa melihat Tia, Tia yang santai pun hanya di belakang ayah dan anak yang wajahnya bak pinang di belah dua. Mereka sampai di arena bermain anak, Jeje terlihat bahagia bermain, Tia terus melihat Jeje, tiba-tiba Julian menggenggam tangan nya. Reflek Tia menepisnya. Ada rasa kecewa dengan sikap Tia. " Jangan melakukan hal-hal di luar batas kamu Jul, kita sedang proses perceraian" ucap Tia tegas " Aku rindu kamu sama Jeje " ucap Julian memelas " Kan aku sudah turutin kemauan kamu, jalan bertiga" ucap Tia " Tapi bisa kan kita tidur bertiga seperti permintaan Jeje lagi" tanya Julian makin memelas "Maaf Jul, itu sudah di luar kuasa kita, pelan-pelan aku akan bahas tentang kita dengan Jeje" jawab Tia makin ketus. Tia makin kesal dengan tingkah Julian, berpikir kemana Julian yang beberapa bulan lalu tanpa menoleh meninggalkan dirinya dan Jeje. Dan memilih seseorang dari masa lalunya. "Aku gak mau tau malam ini aku akan tidur di kontrakan bersama Jeje" ucap Julian keras kepala " Ya udah tidur aja, toh aku bisa numpang tidur di rumah Digta, kan ada asisten rumah tangganya" ucap Tia tak kalah keras "Jadi selama ini kamu sering nginep di rumah Digta ?" Tanya Julian marah " Iya memang kenapa ? Digta baik, keluarga dan orang rumahnya baik apalagi Juni, sangat baik apalagi ketika tau pengkhianatan kamu sama aku" ucap ketus Tia. Julian mengepalkan tangannya. Merasa cemburu mendengar Tia bisa dekat dengan lelaki lain selain dirinya. Mereka akhirnya pulang, tapi apa yang Julian katakan ingin tidur di kontrakan di benarkan oleh dirinya. Sedangkan Tia kebingungan sendiri, akhirnya setelah memandikan Jeje, Tia keluar tanpa berpamitan. Di luar Tia berusaha menelepon Digta, tapi tidak tersambung, akhirnya Tia menelepon Juni. " Hallo Jun, Digta sama lu ?" Tanya Tia sedikit panik " Iya lagi ada meeting dadakan" jawab Juni "Lama gak ?" Tanya Tia "Lu ada perlu ? Nanti gue sampaikan ke Digta" ucap Juni " Ehm bilang aja baca chat gue ya" ucap Tia kembali "Oke.. nanti gue kabarin ya" jawab Juni kembali sambil mematikan teleponnya. Tia memejamkan matanya, berpikir hal-hal jauh di luar nalarnya, kebetulan ada tukang nasi goreng, dirinya pesan untuk dirinya sendiri. Setelah selesai dia berjalan pulang malas, tiba-tiba ada telepon masuk dari Digta, Tia antusias mengangkatnya. "Digta dimana ?" Tanya Tia "Baru selesai meeting, aku baru baca chat kamu" ucap Digta di seberang sana " Kamu kapan pulang ?" Tanya Tia lemas " Rindu ya sama aku ?" Kekeh Digta di seberang sana " Huft " desah berat Tia merasa Digta tidak menyimak chatnya. " Gak apa-apa sayang, i believe you beib" ucap Digta " Huft " desah Tia lagi "aku butuh kamu, aku sampe beli nasi goreng lho padahal aku kenyang banget" ucap Tia memanyunkan mulutnya "Hehe, nanti malam aku mampir gimana ?" Tanya Digta " Jangan Dig, Julian kan di kontrakan " desah Tia sambil memainkan kakinya " Ya sudah, kamu istirahat aja, biar besok bisa fit buat bekerja" ucap Digta di seberang sana. "Baiklah, aku matikan teleponnya ya, kasian Jeje di rumah cuma berdua Julian" ucap Tia melemah "Baik sayang, semangat ya, bye assalamualaikum" ucap digta di barengi putusnya telepon mereka berdua. Jauh di sana Digta yang menahan amarahnya mendengar sang pujaan hati Dekat dengan lelaki lain yang tak lain adalah suami sahnya, sampai terus mengusap wajahnya karena gelisah. Tia sudah sampai di kontrakannya. Melihat rumah dalam keadaan sepi, Tia berpikir Julian dan Jeje sudah tertidur. Sampai dalam rumah Julian memainkan handphone dan terlihat Jeje sudah terlelap di kasur. "Dari mana kamu" tanya Julian sambil menaruh handphone nya "Beli nasi goreng" memperlihatkan nasi goreng bawaannya " Lama banget" tanya Julian kesal Tia tidak menjawab berlalu ke arah dapur, Tia hanya diam mau ngapain di dapur. Saat sedang Berpikir ada tangan merangkul tubuhnya dari belakang, Julian memeluk Tia dari belakang. "Kangen kamu" ucap Julian mulai mencium tengkuk Tia Tia melepaskan pelukan Julian, Julian kaget dengan respon Tia, dirinya pikir Tia ketus karna mengambek pada dirinya, tetapi perlakuannya membuat Julian kecewa. " Jul, gue udah gak bisa ngomong Alus sama lu ya " marah Tia " lu udah buat gue terluka, dan gue pelan-pelan mencoba buat lepasin lu " tangis Tia Julian tertunduk dan menyenderkan tubuhnya, "sejujurnya aku masih menyayangi kamu sama Jeje, tapi.." potong Julian, Julian melihat Tia yang masih menangis, perlahan mencoba menenangkan Tia. Tapi masih respon penolakan dari Tia. "Gue nginep aja di rumah Digta" ucap Tia yang ingin pergi. Tia di tahan oleh Julian, " aku minta biarkan Jeje terakhir merasakan kasih sayang lengkap saat ini Tia" Tia makin menangis dan menjadi mengingat kebahagiaan mereka bertiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD