gairah kedekatan

1634 Words
Papa Julian mencermati cerita Julian. "Julian papa tidak tahu harus berkomentar apa? Tapi papa berusaha mengerti dengan keputusan kamu" ucap papa Julian sambil menepuk pundak Julian Julian dan papanya akhirnya ngobrol ngalir ngidul tentang Tialina dan Jefri, papa Julian menanyakan segala tentang menantu dan cucunya yang terakhir dirinya lihat saat Jefri lahir. Mama Julian mendengar dari depan pintu anak dan suaminya tertawa menceritakan tentang Tia dan Jefri ada sedikit kesal, karna mama Julian merasa level Tia dan Julian tidak sepadan dengan keluarga mereka. **** Seperti hari biasa Digta dan Tialina bekerja, hubungan terlarang mereka hanya mereka yang tahu, ketika mereka berdua saja, Digta mencoba bermesraan dengan Tia, bagaimana dengan Tia ? Apakan sudah memiliki perasaan dengan Digta ? Jawabannya belum, Tia baru merasa bahwa Digta adalah sandaran untuk dirinya saat ini, dirinya belum bisa menentukan cinta sayang atau tidaknya kepada Digta, karena di pikirannya hanya keruwetan tentang penyelesaian rumah tangganya. Bagaimana dengan Digta ? Baginya bisa dekat dan sering tidur bersama sangat indah di hati Digta, baginya hanya perlu menunggu sampai Tialina sang pujaan hati bisa benar-benar menerima kehadirannya. 6 bulan berlalu, perceraian Tia dan Julian masih berjalan di persidangan. Semua keluarga Tia kaget setelah mengetahui bahwa sudah berjalan hampir setahun perceraian Tialina dan Julian, ibunya pun sampai sakit saat tahu perceraian anaknya. " Kenapa Julian tidak mengantar dirimu ke ibu nak ? " Tanya ibu Julian lemas di kasur " Maaf Bu, Tia juga enggak tau kalau rumah tangga Julian dan Tia sampai sejauh ini " ucap Tia sambil memegang tangan ibunya " Dia (Julian) meminta kamu baik-baik ke ibu dan adik laki-lakimu, tapi mengapa hampir setahun kamu sendirian merasakan penderitaan" ucap ibu Tia mengusap wajah Tia. "Tia baik-baik aja Bu, maaf ya Bu, Tia sering merepotkan ibu, dengan nitipin Jeje selama ini" Tia tertunduk " Ibu senang ada Jeje nak, Jeje anak penurut dan baik, adik mu juga sering bantu ibu jaga Jeje " ucap ibu kembali dengan senyum di paksakan " Ya udah ibu istirahat ya, Tia bawa Jeje dulu agar ibu bisa istirahat" ucap Tia "Jangan kamu kerja kan, biar Jeje sama ibu dan adikmu, kamu harus biayain Jeje buat masa depannya" pinta ibu Tia. " Kamu ngobrol aja sama ademu Erlangga, sambil ngawasin Jeje" perintah ibunya kembali Dengan helaan nafas berat Tia meninggalkan ibunya, pikirannya makin rumit karena permintaan ibunya kembali. Di ruang tamu sederhana peninggalan ayah Tia, Erlangga sedang bermain dengan Jeje yang beranjak makin besar " Angga " panggil Tia "Iya mba " jawab Erlangga " Makasih ya mau di repotin sama mba, maaf mba belum bisa ngasih apa-apa " ucap Tia sambil duduk di samping Erlangga " Mba kaya sama siapa aja" kekeh Erlangga " Angga dan ibu yang harusnya minta maaf karna mba jalanin masalah mba sendirian, Angga gak tau mas Julian bisa jahat sama mba" ucap Erlangga sedikit kesal " Julian gak salah kok ngga, mungkin mba belum bisa jadi istri yang baik buat Julian" jawab Tia. " Mba, kalo mba butuh apa-apa jangan sungkan ya ke Angga dan ibu, kami disini malah berterima kasih sama mba, karna sejak mba kerja, ibu bisa punya usaha yang cukup maju, dan biaya kuliah Angga bisa terbayar karna bantuan mba, nanti Angga kerja, Angga bakal bales semua kebaikan mba ke ibu dan Angga" ucap Angga panjang lebar. Tia membalas tersenyum dengan semua ucapan Erlangga, karna pikirannya sedang ruwet lebih banyak diam dan berusaha menata hidupnya kembali. Tia sampai di rumah Digta, seperti biasa Digta dan Juni suka dadakan ngasih kerjaan ke Tia. Saat mendudukkan b*****gnya ke sofa, Digta menaruh buku berwarna hijau depan matanya, karena lelah Tia tidak menyadari buku apa, di pikirannya hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumahnya. Digta menghampiri Tia dan mencoba memeluknya, dengan malas Tia merespon Digta, karena merasa kelelahan seharian dari rumah ibunya dan bermain dengan Jeje. Digta mencoba mencium bibir Tia, karna Digta memang sedang b*******h, menanti kedatangan Tia, untuk melepaskan kegairahan nya. Tia yang memang lelah tidak merespon perlakuan Digta, tapi Digta tidak kalah akal agar Tia merespon dirinya. Digta mulai memasuki tangannya kedalam baju Tia sambil mencium dan menjilat leher tia, meraba p**********Anya sambil memilih p*****l p*********Anya, Tia yang merasa lelah mulai merasa b*******h karna ulah Digta. "Aku mandi dulu ya" lepas Tia setelah merasa bergairah "Gak usah, aku udah h****y dari tadi bayangin kamu" ucap Digta sambil mencium leher Tia, Tia yang menggeliat karna ulah Digta mencoba menahan Digta yang memang terlihat bergairah "Aku bau seharian dari luar, biar kamu makin nafsu kalo aku wangi" goda Tia sambil mencium bibir Digta. Digta yang merasa keberatan menghela nafas rendah "Heeemmmm tapi mandi di kamar mandi kamar aku ya, telanjang aja kalo udah mandi" ucap Digta menatap Tia. "Baik bos" ucap Tia sambil berjalan ke kamar Digta. Digta mengunci pintu rumahnya, dan menyuruh semua asisten rumah tangganya pulang, sudah mulai terbiasa kalau asisten rumah tangganya melihat kelakuan Digta, mereka tidak menaruh curiga apapun termasuk Juni. Di dalam kamar Digta sudah melepas pakaiannya, tidur di kasur menutupi tubuhnya, wangi tercium dari kamar mandi terbuka, melihat Tia yang sehabis keramas dan tubuh terlilit handuk. Tia menuju cermin melihat dirinya dan ingin mengeringkan rambutnya. Digta yang sudah sangat b*******h menghampiri Tia dengan tubuh bertelanjang, menghampiri Tia dan memeluk Tia dari belakang, mencium tengkuk Tia, dan melepas lilitan handuknya. "Eehhmmm Digta sabar sayang" ucap Tia menahan erangan. Tia melihat dirinya di depan cermin sudah tanpa sehelai benangpun, Digta yang dari belakang mencium tengkuk Tia, tangan kiri memainkan p*******a Tia tangan kanannya memainkan v******a Tia, Tia makin terangsang saat kejantanan Digta menggesek b*****g Tia. "Aaaahhh Digta, gak sabar banget kamu" erang Tia. "Aku nungguin kamu sayang, jangan buat aku menunggu lebih lama" racau Digta sambil mencium leher tia Di meja dekat cermin Digta membuat posisi d****y s******y dengan Tia, memasukkan kejantanannya perlahan, membuat desahan pada Tia, perlahan Digta menggerakkan pinggulnya, merasakan nikmat yang sudah lama di nantinya. "Aaaa sayang" racau Tia berkali-kali "Ucapkan namaku sayang" pinta Digta mendesah "Digta.. terus sayang" racau Tia berusaha meraih pinggul Digta. Digta lalu menarik Tia menuju kasurnya, merebahkan Tia, Digta ingin memimpin permainan malam itu, desahan demi desahan mereka nikmati, berbagai gaya yang di d******i Digta, membuat Tia meracau. " Aaaah sayang, kamu bener-bener buat aku ketagihan" racau Digta Tia terus mendesah menikmati permainan Digta, "A ku ma u ke lu ar" racau Tia terbata, "Keluarin sayang" ucap Digta Digta menggerakkan pinggulnya sedikit kencang "Aaaaaaaahhhhhhh ssssaaaayyyaaaannngggg" lenguh Tia yang mencapai klimaksnya. Digta yang ikut menyusul makin mengencangkan gerakannya "Sayang aku keluar" ucap Digta "Aaaaaahhhhhhhhhhhhh" sambung Digta menyemburkan s****Anya di dalam v*****a Tia dan Mulai memelankan gerakannya, Digta membaringkan tubuhnya di atas Tia, peluh keringat terasa hangat saat mereka bersentuhan, Digta memindahkan dirinya di sebelah Tia, dan tertidur pulas, Tia yang lemas membangkitkan tubuhnya membersihkan diri di kamar mandi, di kamar mandi, dirinya melihat cermin, Tersenyum dan tidak menyangka betapa ganas permainan Digta tadi, tidak seperti biasanya. Tia keluar kamar mandi, mendengar dengkuran Digta, tersenyum sambil membetulkan selimut untuk menutup tubuh Digta, di cium kening Digta sambil tersenyum. Tia beranjak ke dapur, mengambil air minum dan ada notifikasi chat di handphone nya, tertera dari Julian. Tidak berapa lama saat ingin membalas chat, Julian menelepon. " Kamu dimana ?" Tanya Julian di seberang sana "Kenapa" ucap Tia "Aku di depan kontrakan" ucap Julian kembali "Ini tengah malam, gak baik kita yang sedang berproses cerai bertemu" ucap Tia ketus "Kamu masih sah istri aku sebelum ketok palu perceraian kita" ucap Julian santai " Besok aja kamu kembali, aku sedang kerja" ucap Tia, "Oke aku on the way rumah Digta" lanjut Julian mematikan handphone sepihak. Tia panik melihat dirinya dalam kondisi sehabis mandi tengah malam, dia berusaha tenang agar terlihat tidak apa-apa. Dirinya segera keluar rumah Digta setelah membenahi diri. Tak lama dirinya keluar, Julian sampai, Julian terpesona melihat Tia sehabis mandi, tanpa sadar turun dari motor ingin memeluk Tia, tapi segera Tia tepis. "Ngapain kamu" ketus Tia mengontrol dirinya yang cukup senang bertemu Julian "Ijinin aku peluk kamu sebentar aja" ucap Julian memelas "Gak aku ijinin" ucap Tia kembali ketus. "Jujur aku rindu kamu sama Jeje" ucap Julian tertunduk "Gak usah basa-basi, kamu mau apa ?" Tanya Tia "Aku hanya rindu kamu dan Jeje, terakhir kita bertemu di pengadilan aku ingin menghampiri kamu, tapi ada Digta dan Juni yang selalu di dekat kamu" ucap Julian menahan tangis " Terus ?" Tanya TIa kembali "Ijinin aku kamu dan Jeje jalan-jalan terakhir kali, besok gimana ? Kita puasin jalan-jalan, aku juga udah beli mobil impian kamu dulu " ucap Julian memohon, "Aku banyak kerjaan" jawab Tia santai. "Aku mohon" pinta Julian "Aku ijin Digta dulu, bisa gak aku ijin bsok, tapi jangan seperti ini lagi, cukup kamu sakiti aku, jangan Jeje" ucap Tia meninggalkan Julian "Makasih" sayup-sayup terdengar ucapan Julian. Tia masuk ke rumah Digta, rumah Digta terasa sepi sekali, karena Digta mungkin lelah karna percintaan mereka. Tia mengambil minum di dapur dan duduk di sofa sambil menonton tv. Terdengar langkah kaki, Tia sudah tau itu Digta, karna Digta akan mencari dirinya ketika tidak ada sisinya. Dengan bertelanjang d**a Digta menghampiri Tia sambil mengusel. "Kebiasaan deh menghilang" manyun Digta "Aku haus" jawab Tia. "Kamu gak liat itu dari tadi" tanya Digta mengarahkan jarinya ke buku berwarna hijau Tia menoleh dan kaget melihat buku bertuliskan SERTIFIKAT, lalu mengambilnya "Astaghfirullah Digta lu naro barang penting sembarangan" ucap Tia mencubit perut Digta. "Buka dong" ucap Digta tersenyum Saat Tia buka SERTIFIKAT itu tertulis namanya tertera di SERTIFIKAT tersebut. "Ini apa Digta ?" Tanya Tia menyelidik " Itu aku beli kontrakan kamu sekalian 5 pintu di sampingnya, biar kamu gak perlu pusing bayar kontrakan" jawab Digta panjang. "Digta ini berlebihan" ucap Tia kesal "Anggap aja ini hadiah kamu puasin aku terus" jawab Digta santai Tia mendorong Digta "maksud kamu Aku hanya perempuan pemuas kamu hingga aku harus kamu bayar" Tia marah Bangkit melempar SERTIFIKAT ke wajah Digta. Digta terkejut dan bangkit menahan tangan Tia yang terlihat marah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD