Rencana Licik

1591 Words
"Gimana Tante ?" Tanya Melda sehabis merencanakan sesuatu bersama mama Julian " Ehm, gak apa-apa ?" Jawab mama Julian, "Percaya aja deh sama aku Tan" ucap Melda meyakinkan. Julian fokus dengan segala pekerjaannya, tiba-tiba mamanya menghubungi dirinya untuk datang ke rumah, karna Melda sakit di rumah mamanya, Julian berusaha menolak, tapi mamanya terus meyakinkan untuk datang ke rumah, akhirnya Julian mengiyakan permintaan mamanya. Sesampai di rumah mamanya, suasana sepi sekali, mamanya sudah rapi membawa tas. "Lho mama mau kemana ?" Tanya Julian "Mama mau beli obat dulu buat Melda"jawab mamanya sambil berlalu meninggalkan Julian "Lho mama pergi, siapa yang bantu ngurus Melda ?" Tanya Julian sambil berteriak. "Mama sebentar kok, cuma beli obat" jawab mama berteriak Dari arah dapur asisten rumah membawakan minuman untuk Julian. "Den ibu bilang ini minuman buat den Julian" ucap asisten rumah Tanpa berpikir buruk Julian meminum, minuman yang di bawakan asisten rumah. Dari arah kamar ada sepasang mata mengintip untuk menjalankan aksinya. Ya Melda sedang merencanakan hal buruk untuk Julian dan keuntungannya sendiri. Dirinya berjalan ke dapur dan memerintahkan asisten rumah tangga mama Julian untuk membeli beberapa kebutuhan untuk dirinya, asisten rumah tangga awalnya menolak karna tahu majikannya sudah menikah, tidak baik di tinggal sendirian bersama orang yang bukan muhrimnya, tapi Melda meyakinkan Tidak akan terjadi apa-apa. 15 menit setelah kepergian asisten rumah tangga, Melda memanggil mama Julian, salah satu rencananya, Julian celingak celinguk mencari asisten rumah tangganya, tapi tidak ada yang menghampiri Melda, Julian dengan terpaksa menghampiri Melda. Saat sudah sampai di pintu kamar tempat Melda berada, kepala Julian terasa pusing, dan badannya terasa panas, dirinya merasakan seperti demam, tapi dirinya paksa masuk ke kamar Melda berada. Melda yang tertidur di kasur, pura-pura kaget dengan kehadiran Julian. "Lho kok kamu"ucap Melda pura-pura lemas Julian tiba-tiba berhalusinasi melihat Tia di depan matanya, dan merasa b*******h melihat sosok Tia di depannya, dengan senyum licik Melda merespon tindakan Julian, dan mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Tersadar dari tidurnya, merasakan kepala yang pusing Julian sangat kaget melihat dirinya dan Melda berada di kasur Tanpa sehelai pakaian pun, saat ingin beranjak, Melda bangun juga, lebih tepatnya pura-pura bangun. "Apa ini Mel ?"tanya Julian menyelidik "Lho kok tanya aku, kamu kan yang paksa aku melakukan ini"ucap Melda berpura-pura sedih menundukkan kepalanya. Julian pergi begitu saja meninggalkan Melda, Melda yang melihat Julian pergi begitu saja merasa tersakiti, ekspektasi Julian akan sama seperti dahulu, tapi dirinya kecewa dengan rencana nya, sambil memakai pakaiannya Melda menangis sejadi-jadinya. Julian sampai di hotel, terdapat notifikasi chat dari sang istri. Pikiran dia kalut memikirkan segalanya. Akhirnya dirinya tertidur dengan segala pikirannya. Sebulan berlalu setelah kejadian itu, saat bekerja ada telepon masuk dari nomor tidak di kenal. "Halo assalamualaikum" jawab Julian. "Julian ini Melda, aku lagi di jakarta, bisa kita ketemu sebentar ?" Tanya Melda di seberang sana "Aku sibuk mel, next time aja" jawab julian sambil ingin mematikan telepon "Tunggu Jul, ini berhubungan dengan kejadian sebulan lalu" ucap Melda sambil berteriak Jul kembali menaruh di telinganya, firasat nya kemungkinan benar tentang kejadian sebulan lalu. "Oke nanti kamu chat aja dmn mau kita ketemu" ucap Julian sambil menutup teleponnya. Julian menghela nafas berat, memikirkan hal-hal yang akan terjadi. Lalu ada notifikasi chat dari melda. Julian segera menuju lokasi tempat Melda berada. Sesampainya di lokasi pertemuan, Julian sudah melihat Melda berada di pojok restoran yang di pilih Melda. Melda berdiri ingin memeluk, tapi di hindari Julian. "Kenapa" to the point Julian Melda membuka tasnya lalu memberikan sebuah benda yang ada garis 2nya. Julian menghela nafas berat feeling-nya membenarkan. " Kamu tau kan aku sudah beristri dan memiliki 1 anak, aku juga tau apa yang kita lakukan kemarin salah, aku gak mau cari pembenaran di sini" ucap Julian sedikit tegang "Lalu "tanya Melda berharap " Aku bakal tanggung jawab asal 1 syarat" ucap Julian lagi "Apa Jul, aku bakal lakuin apapun agar kamu bersamaku" tanya Melda berharap kembali. "Aku gak ingin ada kehamilan di luar nikah, aku akan selesaikan urusanku dengan istriku, kasih aku waktu 3 bulan untuk menjauh dari istri dan anakku" ucap Julian memerintah "Aku gak bisa ke 2x dengan kamu melakukan ini, ini bayi kita" ucap Melda memelas. " Pertama kita saling cinta dan kita sepakat untuk mentiadakannya, ke dua aku sudah tidak punya rasa apapun terhadap dirimu dan aku gak ingin mencoreng nama keluargaku dan keluargamu hanya karena kebodohan kita, kamu terima persyaratan ku atau aku sama sekali tidak peduli" tegas Julian "Baiklah, tapi aku ingin kita bersama meniadakannya" jawab Melda menunduk, ada rasa luka di dadanya melihat Julian tak lagi sama seperti dahulu, keinginan memiliki dan menebus kesalahan masa lalu hanyalah angan di pikiran Melda. "Baik, tapi jangan telepon ke nomor tadi, aku akan kasih tau nomorku yang lain, sudahi disini, aku akan bayar pesenan kamu, ak pergi, aku masih ada pekerjaan" ucap Julian acuh tak acuh. Julian pergi meninggalkan Melda begitu saja, dia membayar bill di kasir, lalu pergi tanpa menoleh. Di dalam mobil Julian menangis akan kebodohannya, bayang-bayang Tia dan Jeje membuatnya sesak, begitu dalam Julian mencintai keluarga kecilnya, tapi harus dirinya sendiri yang merusak kebahagiaannya. Flashback off Tia melempar map besar yang di berikan Julian. Digta berusaha menenangkan Tia yang terus menangis dan meluapkan amarahnya. "Jahat banget Julian Dig, jahat sama gue" tangis Tia "Sabar Tia.. sabar.." ucap Digta menenangkan " Gue sabar nungguin dia, ternyata balik sama mantannya" marah Tia "Udah..udah.. istighfar" ucap Digta kembali menenangkan. Digta dan Tia saling berpelukan. "Digta kita jalan-jalan yuk" ucap Tia di bahu Digta "Udah tenang ?" Tanya Digta. "Belom, tapi dengan jalan-jalan se enggaknya bisa meringankan beban pikiran gue" ucap Tia kembali. "Mau ajak Jeje gak ?" Tanya Digta " Gue belum sanggup ketemu Jeje Dig, biar aja dulu nanti gue bener-bener tenang kita jalan-jalan bertiga" ucap Tia kembali Ada rasa hangat ketika Tia mengatakan jalan bertiga. "Ya udah aku ambil mobil dulu ya" ucap Digta "Naik motor aja Dig, gw pengen meluk lu terus" ucap Tia malas "Banyak orang yang liat nanti" Digta terkekeh "Gak apa-apalah.. gue udah jadi calon janda ini" ucap Tia membalas kekehan Digta. "Ya udah abis jadi janda nikahnya sama aku ya" ucap Digta Sambil menatap Digta, Tia mencubit pinggang Digta. "Kalo ngomong lu tuh di pikir" ucap tia "Lho gak mau nikah sama orang setampan dan sekaya gue" ucap Digta menyombongkan diri sambil terkekeh "Gue orang biasa janda anak 1, apa kata mama dan keluarga lu, udah tau juga kan kakak lu gue mantan istri Julian nantinya" ucap Tia menghela nafas " Keluarga gue udah tau kok, termasuk mama" ucap Digta santai " Hah maksud lu ?" Tanya Tia terkejut Sambil memeluk " intinya semua adalah berharap kalo pilihan gue gak salah itu aja" jawab Digta tersenyum " udah yuk ke rumah aja, kita naek mobil aja, panas banget kayanya kalo naek motor, kan kalo di mobil kita bisa ajeb-ajeb" canda Digta mempraktekkan omongannya. Tia tertawa " ah lu Dig, bisa aja sih, ya udah cuci muka dulu ya" jawab Tia berlalu ke kamar mandi. Mereka akhirnya berjalan-jalan sesuai permintaan Tia, canda tawa mereka bicarakan, seperti lupa dengan apa yang terjadi dengan Tia, Digta berusaha mengurangi kesedihan Tia. Awan gelap menunjukkan malam sudah tiba, saat Digta pun memarkirkan mobilnya di garasi rumah, terlihat Tia sudah terlelap, seperti lelah dengan hari ini, saat ingin menggendong Tia seperti di angan-angannya Tia terbangun sambil tersenyum. "Mau gendong gue ya kaya di drama-drama biar romantis" terkekeh Tia sambil keluar mobil Digta yang salah tingkah hanya berdiri melihat Tia berjalan keluar. Saat ingin masuk rumah Digta menggandeng tangan Tia. "Udah kaya mau nyebrang pegangan tangan"kekeh tia "Kan kamu udah bukan punya siapa-siapa" ucap Digta membusung kan d**a. "Hehe status gue masih istri sah Julian" ucap Tia terkekeh. Berdiri di hadapan Tia dan mensejajarkan wajah mereka. "Tapi aku udah seperti lelaki simpanan kamu kan" canda Digta sambil mencium kening Tia. " Yang terus mendesah kenikmatan dimanapun kita melakukannya" ucap Digta menggoda. Tia tertawa mendengar ucapan Digta, berpikir benar juga ya, dirinya seperti memiliki pacar simpanan. Mereka pun akhirnya tidur bersama, hubungan terlarang yang mereka jalani terasa tidak menakutkan lagi seperti bayangan Tia. Sedangkan Digta tidak peduli apapun, asal Tia bersamanya. **** Julian kini sedang bersama Melda, memang Julian benar-benar tidak memiliki perasaan apapun. Saat berada di rumah orang tuanya, hanya mamanya yang merasa bahagia, sedangkan papanya hanya diam dan tidak banyak berbicara dengan suasana di kediaman Ajisana. "Wah bahagia mama, akhirnya kamu lepasin perempuan tak berguna itu" senyum mama Julian "Walau gimanapun bagi papa Tia tetap menantu baik papa, kalian semua ini gak punya malu ya ?" Ucap papa Julian meninggi " kalian bahagia di atas penderitaan orang lain, Julian papa mau berbicara sama kamu nanti, setelah kalian semua sudah benar-benar berbahagia dengan keputusan kalian" marah papa Julian meninggalkan ruang tamu Julian, Melda dan mamanya hanya tertunduk mendenganr papa Julian berbicara dengan nada tinggi, ada rasa malu di rasa Melda karena secara tidak langsung papa Julian tidak menganggap keberadaan Melda, yang biasa ramah dengan Melda. Setelah papa Julian meninggalkan ruang tamu, mama Julian menenangkan Julian dan melda. Setelah pembicaraan lumayan lama, Julian menghampiri papanya. "Pa, papa mau bicara dengan Julian" tanya Julian sambil tertunduk " Papa engga habis pikir dengan keputusan kamu Jul, dulu kamu bersikeras menentang mama dan papa untuk menikahi Tialina, kamu meninggalkan segalanya, dan membuktikan ke papa bahwa pilihan kamu baik, tapi apa ini ?" Ucap papa Julian kesal Julian berlutut di depan papanya " maafin Julian pa, Julian tidak ingin seperti ini, Julian juga masih menyayangi Tialina dan Jefri " jawab Julian tertunduk "Lalu apa ini semua yang kamu lakukan ?" Ucap papanya marah. Julian akhirnya menceritakan segalanya, dari awal putus dengan Melda hingga dirinya ingin menikah dengan Melda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD