"Apa- apaan ini ? " Tanya Tia dengan nada tinggi
" Iya itu terlihat jelas tulisannya kan " jawab Julian dengan nada tidak kalah tinggi.
Digta yang di luar sempat kaget dengan pembicaraan kedua pasangan di dalam
" Aku gak tau apa-apa, tiba-tiba kamu berubah, pergi tanpa pamit, dan setelah seminggu aku menunggu kamu, aku dapat entah kertas apa ini" ucap Tia meneteskan air mata
Julian hanya diam menatap Tia.
"Jawab Julian aku salah dimana ?" Tanya Tia lagi dengan terisak
" Aku ingin kembali dengan Dia" jawab Julian menunduk
" Dia maksud kamu Dia Melda Ariyani " tanya Tia menelisik.
Flashback on
"Sayang" panggil seorang wanita sambil berlari
Julian menoleh sambil tersenyum, terlihat seorang gadis pujaan hati Berlari ke arah dirinya.
"Lama ya nunggu aku" tanya wanita tersebut
" Gak kok, aku juga baru sampe" jawab Julian
Ya, sang gadis pujaan hati itu adalah Melda Ariyani, gadis berumur 20 tahun bertubuh bak model, dengan rambut panjang terurai, gadis yang sangat di cintai Julian, cinta pertamanya.
Julian masuk ke dalam mobil sedan terbaru, yang dia beli hasil komisi jual tanah.
" Gimana mobil ini ? Pilihan kamu lho" tanya Julian semangat
"Kamu paling oke banget deh sayang, paling mengerti aku" ucap Melda sambil mengecup bibir Julian.
" Oke sekarang mau jalan-jalan kemana ? " Tanya Julian lagi
"Makan aja yuk, ada warung bakso enak di daerah kamu" ajak Melda
"Siap tuan putri' jawab Julian makin semangat.
Mereka pasangan yang cukup lama menjalin kasih, dari Melda lulus SMA, sudah menjalin kasih dengan Julian yang notabene dari kalangan keluarga berada, Melda pun juga sama dari kalangan keluarga berada, kedua keluarga pun saling bersilahturahmi dengan baik.
Jangan di tanya hubungan mereka sejauh apa, Melda pernah rela dan sepakat menggugurkan kandungannya karena ketidak siapan Julian dan melda sendiri. Julian dan melda benar-benar pasangan di mabuk cinta hingga Julian pun rela melakukan apapun demi membahagiakan Melda.
Tahun ke 5 jalinan hubungan mereka, Julian harus rela untuk pertama kali long distance relationship atau LDR dengan Melda Melda yang di kota B sedangkan Julian di kota J.
Mulai timbul percikan-percikan pertengkaran karna ke tidak siapan saling jauh di antara mereka.
Hingga suatu hari Julian ingin memberikan kejutan kepada Melda, merasa bersalah karena telah LDR, sampai di kota B, Julian langsung ke rumah Melda dengan mobil pilihan Melda.
Saat itu sudah malam Julian sampai di rumah Melda, rencana Julian, ingin mengajak Melda menginap di vila biasa mereka menginap untuk menebus hari-hari kosong tanpa bersama. Dering pertama dering kedua dan seterusnya tidak ada jawaban, hingga beberapa kali di telepon tidak ada jawaban, Julian berpikir mungkin Melda sedang tidur. Dan ada rencana lain yang dirinya rencanakan untuk menyenangkan sang pujaan hati.
Saat ingi keluar mobil, terlihat mobil paj*** sport berhenti depan rumah, awalnya Julian tidak memperdulikan, setelah melihat sang pujaan hati keluar bersama laki-laki lain, masih berpikir positif bahwa hanya teman, tapi setelah di perhatikan sang pujaan hati mencium mesra si lelaki itu, kepalan tangan memucat menahan amarah. Setelah kepergian laki-laki tersebut, segera Julian keluar dari mobil dan menghampiri.
Melda kaget setengah mati melihat keberadaan Julian,
"Kaget ya aku disini" tanya Julian sedikit marah
"Sayang kok kamu gak kabarin aku " tanya Melda kembali.
"Enak ya, habis jalan-jalan mengisi kekosongan hati dengan pengkhianatan" ucap Julian to the point menampakkan kekeselan.
"Sayang bisa aku jelasin" jawab Melda panik.
"Kita PUTUS , gak aku sangka kami bakal sejauh ini dalam hubungan yang selama ini kita jaga" tegas Julian sambil berlalu meninggalkan Melda.
Melda mengejar Julian, tapi Julian acuh terhadap Melda, tak menoleh Sedikit pun mengingat pengkhianatan Melda.
Julian langsung kembali ke kota J, rasa luka sangat dalam akan pengkhianatan sang pujaan hati. Julian berusaha bijak dengan luka di hatinya, dirinya tak ingin lukanya merusak masa depannya.
Julian kembali menata hidup dan perasaannya. Benar-benar melupakan sang pujaan hati dan sang cinta pertama. Setahun di lalui dengan terseok-seok menata hidup dan perasaannya.
Hingga suatu hari Saat berbelanja di toko swalayan, Julian tertarik dengan pelayan penjaga buah-buahan, dengan badan mungil menurut ukuran matanya dan terlihat sangat friendly saat bersama teman-teman sesama pekerja.
Julian mulai sedikit membuka hati, dan mencoba menata hatinya dengan lembaran baru
Flashback off
"Iya Dia, Dia yang dulu pernah kita bahas saat sebelum menikah" jawab Julian tak mau mengalah.
Sambil mengusap air matanya " bila kamu belum selesai dengan perasaan kamu, setidaknya jangan menyakiti aku seperti ini" jawab Tia makin menangis.
Julian yang tak tega melihat keadaan Tia, merasa sangat bersalah, saat Julian ingin memeluk, Tia menepis dan menghindar
"Pergi, sudah cukup semua jawaban kamu" ucap Tia sambil menunjuk pintu keluar.
Julian menghembuskan nafasnya berat sambil berjalan keluar rumah. Terkejut Julian ketika melihat Digta berada di depan rumahnya. Julian tertunduk dan pergi begitu saja tanpa basa-basi terhadap Digta.
Digta yang mendengar semuanya ada rasa sedih senang kecewa sakit hati bercampur entah apa yang dia rasakan, yang di pikiran dia hanya keadaan Tia.
Digta yang mencoba memberanikan diri masuk ke rumah yang selama ini segan untuk masuk rumah Tia, melihat keadaan Tia duduk menangis kembali di sisi Kasur sambil memegang map putih besar. Segera Digta memeluk Tia, dan Tia merespon pelukan Digta.
Di seberang sana terlihat Julian pun menangis di dalam mobil impiannya bersama Tia, dia memimpikan membahagiakan Tia sekian tahun, Ketika dia sudah mulai berhasil ingin membahagiakan istri dan anaknya karna kebodohannya dia melepaskan kebahagiaannya. Mengingat bahagia bertiga Makin membuat Julian terisak.
Flashback on.
3 bulan lalu
Julian di perintah mengawasi kota B, setelah 4 tahun ke tidak inginan menginjakkan kakinya di kota kelahirannya. Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun Julian pun memaksakan diri berkunjung ke rumah orang tuanya, itupun karena perintah Tia, yang selalu ingin Julian tetap berbakti kepada orang tuanya, walau ibunya tidak merestui pernikahan mereka.
Sampai di gerbang penjaga rumah mengenal Julian, sampai Terburu-buru membuka gerbangnya.
" Den sudah lama tidak pulang, sehat den"tanya penjaga rumah.
"Baik mang, mamang sehat ?" Tanya Julian ramah
" Sehat den saya"jawab kembali penjaga rumahnya.
"Mama papa ada mang ?" Tanya Digta kembali.
Saat ingin menjawab pertanyaan Julian, mamanya Julian berlari ke arahnya.
"Ganteng mama" panggil mama Julian.
Julian balas pelukan mama dan Salim tangan mamanya. "Mama sehat ?" Tanya Julian
Tanpa menjawab Julian di tarik mamanya ke dalam rumah, dan kebetulan ada papanya juga.
"Papa Julian pulang" ucap mamanya kepada papanya yang kebetulan melihat keberadaan Julian.
Julian langsung Salim tangan papanya lalu memeluk papanya
"Jefri sama Tialina sehat" tanya papa Julian senyum
"Alhamdulillah baik pa" jawab Julian
"Papa ngapain sih nanya perempuan gak berguna" ucap mama Julian menghina
" Kamu tuh gak berubah ya, bagaimanapun Tia adalah pilihan Julian, kamu juga harus lihat perubahan Julian setelah menikah dan pergi meninggalkan fasilitas yang kita beri" ucap papa Julian meninggi.
Mama Julian hanya tertunduk diam makin benci dengan Tia, karna merasa Julian menjadi anak pemberontak.
"Mama udah ya, Julian kesini karna di suruh Tia juga, kebetulan Julian ada kerjaan di kota B, sekalian Julian mampir, dan kalian dapat salam dari Tia tadi" ucap Julian panjang lebar.
Papanya hanya membalas senyuman, berbeda dengan mamanya, yang masih ketus ketika membahas tentang Tia.
Seharian Julian Berada di rumah orang tuanya, melihat kamarnya, masih rapi dan juga wangi. Melihat-lihat seluruh tempat di rumahnya, cukup rindu dengan segalanya di rumah orang tuanya. Saat sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil berchat ria dengan Tia, mamanya membuka suara
"Jul, kamu nginep disini kan ? " Tanya mamanya
"Oh gak ma, Julian dapet fasilitas tinggal di hotel yang di rekomendasikan perusahaan, kenapa ma ?" Tanya Julian sambil menaruh handphone nya di kantongnya.
" Hotel mana ?" Tanya mamanya lagi.
" Hotel di daerah c ma, nama hotelnya Julian lupa" jawab Julian sambil memakan cemilan yang di bawa mamanya.
"Kamu masih ingat Melda ? Mantan kamu itu" tanya mamanya antusias
"Ehm iya inget ma, kenapa ma ?" Jawab Julian santai
"Tahun lalu dia cerai dengan suaminya, katanya suaminya suka KDRT, ngeri banget " cerita mama Julian antusias
"Namanya rumah tangga ma, ada suka dukanya, Julian bisa kerja di perusahaan sekarang juga berkat doa Tia dan Jefri ma" ucap Julian mengalihkan pembicaraan
" Inget Julian, sampe kapanpun mama gak akan mengakui Tia sebagai apapun di rumah ini, kamu tau itu sejak awal " ucap mama Julian kesal.
" Ma udah ada Jefri, Jefri udah 3 tahun, " ucap Julian yang tak kalah kesal
"Oke.. mama akan coba menerima Jefri, tapi tidak dengan Tia" tekan mama Julian sambil meninggalkan Julian.
Julian memijit keningnya yang pusing karna pembicaraan antara mamanya yang sangat keras kepala.
Tak terasa sudah sore Julian di rumah orang tuanya, tiba-tiba ada tamu yang tak di duga Julian, Melda mantan kekasih Julian.
Ketika Melda datang mamanya sangat antusias menerima kedatangan Melda, Julian mencurigai keberadaan Melda karena rencana mamanya. Julian buru-buru pamit, karena dia tidak ingin berurusan dengan Melda.
Saat akan pulang, mamanya Julian menahan Julian agar bisa berbicara dengan Melda, tapi Julian tolak secara halus, tiba-tiba Melda menawarkan untuk mengantar Julian Pulang ke hotel. Julian berusaha menolaknya tapi mamanya yang bersikeras untuk tetap melihat kedekatan antara Melda dan Julian.
Di mobil Julian lebih banyak diam, Melda begitu antusias bercerita, dan mulai mengenang kedekatan mereka dahulu. Julian lebih banyak diam dan tidak Banyak menanggapi cerita masa lalu hubungan mereka, karna sejujurnya hati dan cinta Julian hanya untuk Tia istrinya.
Melihat Julian diam dan tak banyak merespon, Melda mulai menyelidik.
"Istrimu gak kamu ajak Jul" tanya Melda
"Aku kan kerja, istriku kerja, jadi buat apa dia ikut ? Aku juga cuma seminggu kok disini" jawab Julian
" Lama ya, gak takut kamu istrimu selingkuh di tinggal lama" tanya Melda terkekeh.
"Istriku itu bukan tipe suka mencari kesenangan saat ada kekosongan" sindir Julian kesal.
Melda merasa tersindir dan akhirnya dirinya mengakhiri pembicaraannya dengan Julian. Tepat juga mereka sampai di hotel tempat Julian menginap.
Ketika Julian meninggalkan Melda dengan sedikit basa basi, ada tatapan jahat di dalam otak Melda.