Ketus

1054 Words
Laras tidak menyangka kalau Bagus mengikuti ke loker. Saat Laras melihat Bagus berjalan di ujung sana, dengan cepat Laras memutar arah agar tidak saling bertemu. Wajahnya panik, entah alasan apa harus bersikap seperti itu. Tanpa disadari, kening Laras menabrak pintu loker yang terbuka saat membalikkan tubuh. Dalam hitungan detik, darah segar mengalir dari sana. Mungkin kening Laras tidak akan separah ini kalau tidak terlempar ponsel Masayu kemarin. Laras mengusap kening, melirik anak baru yang duduk di bangku, meninggalkan pintu loker terbuka begitu saja. "Tolong ditutup lagi pintunya." Ketus Laras, seraya melemparkan tatapan maut. Menyiutkan nyali anak baru itu. "Kamu enggak apa-apa?" Tanya Bagus, sudah berdiri di belakang Laras. Terpaksa Laras memutar tubuh, menghadap Bagus dengan wajah tersipu malu. Bagus melotot, bola mata hampir keluar saat melihat kening Laras berdarah. Gerakan sigap, menarik pergelangan tangan Laras menuju ke UKS, tidak jauh dari ruang loker. Laras pasrah daripada harus berdiri di tempat ini menahan malu dengan anak baru tadi. Padahal, ini kesalahan dia sendiri. Kenapa harus menghindar dari Bagus. Yang pada akhirnya, Laras dipertemukan dengan Bagus lagi. "Ah, memalukan." Laras berkata dengan suara berbisik. "Memalukan?" Bagus mendengar ucapan Laras, seraya menoleh pada Laras. Sontak, Laras ternganga dan membekap mulut sendiri. Kemudian, dia menggelengkan kepala beberapa kali untuk menjawab kalimat Bagus. "Sini, duduk sini." Bagus mendudukkan Laras di sebuah kursi yang sudah disiapkan di ruang itu. Laras hanya pasrah, mengikuti perintah pria yang belum ia kenal sama sekali. "Sebentar, aku ambilkan kotak obat." Laras diam mematung, kedua bola mata hanya bergerak mengikuti tubuh Bagus. "Sepertinya ini luka lama, karena sudah ada yang mengering." Ucap Bagus, wajahnya hampir bersentuhan dengan wajah Laras. Laras menahan napas, lalu dia mendorong kening Bagus dengan telunjuk secara kasar. "Maafkan aku, terlalu lancang." Tambah Bagus, sudah menjaga jarak. Tangannya mulai aktif mengambil kain kassa, alkohol, dan obat luka. "Ini sedikit perih ya." Laras mengangguk, dia melirik tangan Bagus saat menuangkan alkohol di kassa, lalu mengusapkannya ke kening Laras. Laras mendesah pelan. Tangannya hampir saja menyentuh keningnya kalau saja Bagus tidak menahan gerakan itu. Sejurus kemudian, mereka saling bersentuhan. Laras sadar, bahkan Bagus juga sadar. Tidak perlu menunggu waktu lama, Laras membuang kasar tangannya sendiri, menaruh di atas pangkuan. Sorot matanya masih fokus ke arah wajah Bagus. Disana terlihat rasa tidak suka Laras terhadap Bagus. Anehnya, Laras tidak bisa mengelak, melawan perlakuan Bagus terhadapnya. "Permisi." Akhirnya, setelah berusaha menyadarkan diri Laras bergegas menegakkan tubuh. Sialnya, Bagus menahan pergelangan tangan Laras. "Aku harus pergi. Kamu tidak berhak menahanku." "Tunggu." Bagus mempertahankan cengkraman tangannya. Dengan kasar, Laras menangkis tangan kekar Bagus. Bagus masih tetap pada senyum yang semakin melebar. Senyum yang mengartikan seakan dia bisa meluluhkan hati Laras suatu hari nanti. Akhirnya, dia membiarkan Laras keluar dari UKS. *** Hafid melihat Laras menuju ruang loker. Dia juga mengamati kening Laras yang terluka. Cekatan, Hafid segera memanggil Laras agar menghentikan langkah. "Laras?" Panggilnya. Laras tidak menoleh. Terpikir oleh Laras kalau yang memanggilnya itu Bagus. Suara Hafid terlupakan begitu saja di dalam memori Laras akibat kekesalan yang melanda dirinya. "Hei, Laras?" Hafid sudah menghadang langkah Laras. Sekejap Laras terkejut, dia masih mengira kalau Hafid itu Bagus. Wajahnya cemberut. "Ada apa?" Tanya Laras polos. "Kamu kenapa, Laras?" Hafid menggoyangkan bahu Laras beberapa kali hingga perempuan pujaannya itu segera sadar. "Keningmu juga kenapa? Kamu habis jatuh dimana?" "Ya ampun, Mas Hafid." Laras memijat pelipis yang tidak terluka sambil mengerjapkan kelopak mata. "Maaf, aku pikir kamu orang tadi." "Siapa yang kamu maksud? Apa dia jahat sama kamu?" Hafid mengerutkan kening. Tidak perlu jawaban Laras, Hafid menggandeng Laras untuk membawanya ke UKS, lagi. Laras masih pasrah. Hal yang sama, seperti yang dilakukan saat bersama Bagus tadi. Laras menghela napas saat mengetahui kalau Hafid membawa ke UKS. Bukan karena soal itu, tapi ternyata Bagus masih berada di dalam sana. Lantas, Laras membuang wajah kesal. Sedangkan Bagus, tersenyum puas seakan memenangkan suatu perlombaan. "Hei, bro?" Sapa Hafid, terkejut melihat Bagus ada di dalam. "Kamu sakit? Terus kok kamu ada di kantor?" "Aku baik-baik aja. Ada keperluan bentar, jadi disuruh kesini sama HRD." "Oh, gitu ya." Hafid menggaruk pelipis dengan telunjuk. "Eh, permisi. Aku ambil ini ya." Hafid sedikit bingung, obat merah dan botol alkoh berada di tangan Bagus sedangkan dia dalam keadaan sehat. "Oh, silakan." Bagus menyodorkan barang-barang itu kepada Hafid. Anehnya, Bagus tidak merasa cemburu melihat kedatangan Laras bersama Hafid. "Kamu duduk sini ya." Hafid mendudukkan Laras di kursi. Laras mengangguk paham, menurut saja. Tanpa menunggu lama, Hafid mengobati luka Laras tanpa melontarkan pertanyaan. Setelah semua beres, Hafid mulai penasaran dengan apa yang terjadi. "Kamu kenapa?" Tanya Hafid. "Kamu jatuh ya, kok bisa parah gini?" Laras menoleh sebentar ke arah Bagus dengan tatapan mematikan. Lalu, kembali fokus pada Hafid. "Kemarin dilempar sama Masayu pakai ponsel." Sahut Laras degan kesal. Hafid menggelengkan kepala, seperti memaklumi hubungan mereka berdua. Tentu saja Hafid sudah mengetahui tentang permasalahan Laras dengan Masayu. Karena hubungan mereka sudah semakin dekat. Bagus menghentikan senyum mendengar jawaban Laras. Baru kali ini dia sedikit cemburu kepada wanita yang belum lama dikenal. Bagus juga bisa membaca hubungan yang terjadi diantara Laras dan Hafid, mereka belum berpacaran. Tapi mendengar penuturan Laras baru saja sungguh membuat hati Bagus teriris. Kenapa Laras tidak menceritakan kejadian yang menimpanya tadi saat bersama Bagus. Kenapa Laras menyembunyikan dari Hafid. "Yasudah, yang penting kamu sehat kan?" Hafid mengusap rambut Laras sambil tersenyum. Laras hanya menganggukkan kepala. "Bukankan kalian terlalu frontal?" Tanya Bagus, mulai lancang, lagi, melontarkan pertanyaan itu. Hafid terkejut, mulai sadar akan keberadaan Bagus yang belum pergi. Masih dibelakangnya. Dia kemudian memutar tubuh sambil cengengesan. "Disini masih banyak yang lebih mesra daripada kita. Ada yang suap-suapan juga." Jelas Hafid tanpa rasa bersalah. "Tapi tetap aja itu enggak pantas dilakukan di kantor." Bagus mulai meninggi, namun terlukis senyum menghina di wajah. Laras menaikkan sudut bibir, sambil berdiri. Kedua tangan terlipat di depan d**a. "Urusan Anda apa ya? Anda siapa? Yang kita lakukan masih dibatas wajar." Suara Laras ketus, lebih ketus dari sebelumnya. Hafid mengelus bahu Laras, berniat menahan amarah tapi tidak berhasil. "Saya ingatkan ya, jangan mengganggu dan mencampuri urusan orang lain. Dan jangan lupa mengaca, sudah baikkah Anda?" "Ini temenku, Laras. Jangan galak-galak dong." Hafid merayu Laras. Laras mengabaikan Hafid. Bagus melipat kedua tangan juga, menerima sikap Laras yang menantang dirinya. "Apakah Anda merasa terganggu oleh kalimat saya yang benar ini?" "Tentu saja, Anda orang yang sangat sok tahu dan saya membenci Anda." Sahut Laras sebelum meninggalkan Hafid dan Bagus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD