Laras menghela napas panjang melihat tubuh Masayu terlentang di atas sofa ruang tamu. Pemandangan yang tidak seharusnya dilihat Laras sepulang kerja.
Mendengar bunyi langkah kaki, Masayu sedikit menoleh namun kembali ke posisi awal karena melihat Laras. Dia mulai fokus pada ponselnya, lagi.
Laraspun tidak menyapa kakak kandungnya, dan segera bergegas masuk ke ruang keluarga. Disana terlihat sang Ibu duduk di meja makan, yang letaknya tidak jauh dari ruang keluarga.
Laras mengerutkan kening. Ibu memperlihatkan wajah sedih meskipun menundukkan kepala.
"Ada apa, Bu?" Laras meletakkan tas di atas meja makan. Sesekali Laras melirik meja makan yang kosong tanpa piring-piring berisi makanan untuk mengisi perut.
"Ah, kamu udah pulang ya, Nak?" Ibu berusaha sekuat tenaga mengembangkan senyum, tapi tetap saja raut sedih begitu kentara dari pengelihatan Laras. "Maaf, Nak. Ibu belum masak. Ibu buatin mie instan ya?"
Laras sedikit terkejut, akhirnya berusaha bersikap biasa.
"Kenapa belum masak, Bu? Terus Ibu dan Mbak makan apa seharian?" Laras menaikkan sebelah alis, penasaran apa yang sedang terjadi.
"Nak, bagaimana kalau Ibu bekerja jadi ART? Ibu masih kuat kok." Ibu mengabaikan pertanyaan Laras dengan santai. Terdapat harapan baginya agar Laras menyetujui permintaan Ibu. "Usia Ibu masih 55 tahun, belum tua, kan?" Ibu mengakhiri senyum tipis, ingin membuat Laras ikut tersenyum juga. Namun, Laras diam mematung.
"Untuk apa?" Tanya Laras singkat. Mungkin jawabannya terdengar kesal, karena semua ini pasti karena Masayu. "Apa gaji pensiun Ayah 3 juta dan tambahan dari aku kurang, Bu?"
"Kurang banget, Nak. Sekarang juga bahan pokok makanan naik semua, belum lagi kebutuhan lainnya." Ibu menjelaskan dengan nada hati-hati. Selesai berkata, Ibu menyangga kepala menggunakan sebelah tangan.
"Gimana kalau Ibu jualan makanan aja. Nanti Laras cari pinjaman uang buat modal jualan."
"Tapi, Nak. Jangan cari pinjaman lagi."
"Hah, lagi?" Laras mempertajam sorot mata. Laras sendiri belum pernah meminjam uang kepada siapapun sampai sekarang. Kecuali, Ibu sendiri yang melakukan hal itu.
"Maksud, Ibu." Ibu berhenti sebentar. Lalu, terdengar hembusan napas panjang keluar dari mulutnya. "Ibu sudah meminjam 30 juta sama Budemu buat Masayu."
"Masayu?" Laras berdiri tegak. "Untuk apa? Lalu, Ibu membayarnya pakai apa, Bu?"
"Pakai gaji Ibu, dipotong 500 ribu setiap bulan." Ibu tidak berani menatap Laras, bagi Ibu Laras merupakan tulang punggung keluarga.
Meskipun gajinya lumayan besar, dia selalu menyisihkan setengah gaji untuk diberikan kepada Ibu.
"Bu...." Laras setengah berteriak, namun berhasil menahan amarah.
"Untuk apa 30 juta? Untuk beli apa?" Tanya Laras, meninggikan suara.
"Entah, Masayu enggak cerita apa-apa sama Ibu." Ibu mendekati Laras, mengusap punggung anaknya itu berulang kali
Laras memijat pelipis, sambil menengadahkan kepala ke atas.
"Udah, enggak usah marah-marah sama dia." Ibu melihat tubuh Laras bergerak, dia tahu kalau Laras akan mencari keberadaan Masayu. Namun, Ibu berhasil menghentikan dengan menahan bahu Laras.
"Kenapa Ibu selalu manjain Masayu? Sedangkan sama aku? Ibu enggak kasian sama aku? Setiap hari harus lembur biar aku bisa ngasih jatah bulanan sama Ibu? Sebenernya aku capek kalau harus lembur, tapi aku cuma pengen bahagiain Ibu." Laras memutar tubuh, membelakangi Ibu. "Aku enggak pernah perhitungan sama Ibu, kecuali sama Masayu." Tambah Laras sebelum meninggalkan Ibu di ruang makan.
***
Laras masih melihat posisi Masayu sama saat dia pulang kerja, bahkan dia lebih fokus dengan ponsel daripada suara-suara yang bersumber di dalam sana. Keterlaluan memang seorang Masayu.
"Buat apa uang 30 juta yang pinjem dari Bude?" Tanya Laras setengah membentak, lalu dia melempar bantal tepat ke wajah Masayu. Bahkan lemparan itu mengenai ponsel Masayu hingga jatuh di lantai.
Masayu menegakkan tubuh, lalu membungkuk sebentar untuk meraih ponsel. Melihat layar ponsel setengah retak, Masayu melempar tatapan tajam pada Laras.
"Harga ponsel ini melebihi gaji bulananmu, apa bisa kamu ganti rugi?" Masayu menggertak Laras.
"Jadi, uang yang dipinjam dari Bude cuma buat beli barang-barang mahal?" Laras mengernyit. "Kamu tu cuma beban keluarga, paham enggak sih?"
"Beban?" Tanya Masayu. Dia mulai tidak terima akan kalimat yang terucap oleh Laras. Cekatan, dia mendekati Laras dan melempar ponsel yang ia genggam ke wajah Laras. "Kamu barusan ngelempar bantal ke wajahku, jadi aku bisa melakukan lebih dari itu."
"Terus?" Tantang Laras, kedua tangan terlipat di depan d**a. Laras tidak sadar akan luka di pelipis akibat lemparan ponsel. "Seorang seperti kamu, bisa apa? Kerjaanmu bahkan cuma makan tidur. Makan aja maunya yang enak. Enggak tahu diri."
"Kamu yang enggak tahu diri. Dimana rasa hormatmu sama kakakmu?" Masayu mendorong bahu Laras kasar, hingga terpental. "Kamu kurang ajar!" Masayu berteriak sekuat tenaga, mirip seseorang yang sedang kesakitan.
Laras menghela napas panjang. Seperti biasa, Ibu tidak pernah melibatkan diri dalam perdebatan ini. Ibu tidak ingin ikut campur, demi ketenangan hati. Yang dilakukan Ibu masuk ke dalam kamar, mendengar musik dari radio tua miliknya.
"Sampai kapan kamu merepotkan Ibu? Jadi beban Ibu terus? Ibu enggak selamanya hidup terus." Laras mengambil ponsel milik Masayu.
"Bisa diem enggak sih!" Masayu menutup kedua telinga, sambil berteriak-teriak. Senjata yang dimiliki Masayu mulai ia keluarkan agar Laras menghentikan perdebatan.
"Dasar gila!" Laras mengumpat, berbalik arah untuk pergi ke kamar.
***
Laras duduk sendiri sambil menatapi foto keluarga. Ada Ayah, Ibu, Laras, dan Masayu. Senyum bahagia terpancar di masing-masing wajah mereka. Begitu juga Laras yang sedang memandangi lembaran kertas itu.
Bagus, calon TL di tempat kerja Laras tiba-tiba muncul, langsung mengambil tempat tepat di depan Laras. Dia menatap Laras tidak berkedip. Menikmati karya Tuhan paling indah, yang pernah ia temui selama hidup. Bagus sungguh terpesona akan kecantikan Laras.
Dia tidak peduli orang-orang menatap dengan pandangan menghina pada Bagus, toh tidak mengenali.
Bibirnya semakin tertarik lebar memperhatikan setiap sudut pada wajah Laras, terlalu sempurna.
"Eh, Bagus?" Panggil seseorang, membuat Bagus berhenti menatap Laras. "Kamu lagi apa sih?"
"Lia?" Bagus mengulum senyum, menggaruk kepala yang tidak gatal. "Lagi duduk disini aja."
"Nanti langsung masuk ke HRD aja." Perintah Lia, SPV perusahaan tempat Laras bekerja.
Bagus mengangguk paham, kembali menatap Laras.
Laras yang melirik ke arah Bagus masih menetapkan fokus ke sana sampai sekarang. Meniatkan hati Bagus untuk mengajak berkenalan karena sedari kemarin dia ingin melakukan hal itu.
"Hai?" Sapa Bagus. Senyum terpampang dan tangan mengulur ke Laras. "Namaku Bagus."
Laras sedikit terlena akan ketampanan yang dimiliki Bagus. Meskipun posisi duduk, Laras dapat mengetahui kalau pria di depannya itu memiliki tubuh yang tinggi. Hidungnya juga mancung ditambah kulit yang putih.
Laras yang memiliki kulit bersih dan putih sempat tidak percaya diri setelah melihat Bagus. Cekatan, dia menggeleng kepala untuk menghilangkan perasaan itu.
"Namaku Laras." Laras tidak membalas uluran tangan dan tanpa senyum.
"Kamu sudah lama bekerja disini?" Tanya Bagus, memulai percakapan.
Laras mulai tidak nyaman. Kening berkerut, dengan tatapan tajam.
"Ya." Sahutnya singkat. Lalu, dia berdiri untuk pergi ke loker.
Bagus hanya tersenyum tipis.