Episode 2

1904 Words
Aku masih mengingat segalanya...       Hari ini aku memutuskan untuk pulang mengunjungi rumah orang tua ku. Sudah hampir satu bulan aku tidak bertemu mamah dan papah. Aku Mencoba menelpon tetangga yang sekaligus teman baik ku,Mira. Benar saja, mira langsung antusias ketika mendengar aku akan datang ke rumah orang tuaku. Aku adalah anak semata wayang, sehingga aku merasa wajib untuk memberi tahu mira setiap kali aku akan pulang ke rumah supaya aku tidak akan merasa kesepian. Mira akan menemaniku selama aku disana.       Sesampai nya di rumah, Mira sudah menungguku dan langsung mengajak ku keluar untuk mengantar nya menjemput pacar mira di depan gank rumah kami. Akupun menerima ajakan nya.       "Raffi...." Mira menyapa sambil menghampiri mereka.       "Mira.." ucap raffi sambil tersenyum dan kemudian mereka bersalaman. "Oiyah kenalin ini temen aku yang udah aku anggap seperti kakak ku sendiri.       "Andri.." ucap laki-laki yang di anggap seperti kakak oleh Raffi, sambil tersenyum dan bersalaman dengan mira.       "Oh iyah, kenalin juga ini temen aku, clarisha. ucap Mira " dia juga udah seperti saudaraku sendiri hehehe..!!"       Aku pun mengenalkan diri dan bersalaman dengan Raffi dan Andri kemudian kami mengajak mereka untuk melanjutkan ngobrol di rumah ku dan mereka pun menerima ajakan aku dan mira. Kami segera berjalan santai menuju ke rumah. Mira berjalan bergandengan dengan raffi dan membiarkan aku berada di belakang bersama Andri. Awalnya memang terasa canggung, tapi andri mulai mengajak ku bicara sehingga suasana nya menjadi lebih baik. Aku sangat menyukai bau pafrum yang Andri Pakai di jaket levis nya, membuat aku ingin tetap dekat untuk terus mencium wangi nya.       Sesampainya di rumah, kami duduk di teras depan sambil menikmati suasana malam dengan penuh bintang. mira dan raffi tetap memilih untuk mengobrol berduaan saja. Aku dan Andri pun mulai mengobrol banyak dan kami mulai banyak bercanda. Aku merasa begitu nyaman di dekatnya dan merasa ada sesuatu di dalam hatiku ketika andri menatap mataku kemudian bertanya       "Risha, apa kamu udah punya pacar ?" Perasaan berdebar-debar di dalam d**a, jantung yg tiba-tiba berdetak semakin kencang. Perasaan apa ini ? Apa aku sedang jatuh cinta ??       "Belum, memang nya kenapa ?" Jawabku dan langsung memalingkan wajahku dari tatapan nya yang tajam. Tak lama raffi mengajak andri untuk pulang.       "Boleh gak aku minta nomor telpon kamu?" tanya andri sambil memberikan smartphone nya kepdaku dan aku pun mengangguk sambil meraih smartphone nya memasukan nomor telpon ku ke dalam kontak smartphone nya.       Keesokan harinya aku menerima pesan whatshap dan ternyata itu dari andri "Lagi apa, risha..?" aku tersenyum membaca pesan itu seakan ada perasaan bahagia dalam hatiku "seperti biasa, jam segini aku lagi kerja" aku mejawab pesan nya ketika toko sedang sepi "semangat ya... Gimana kalo pulang nya aku jemput?" aku mulai membayangkan aku di bonceng oleh motor RX-King nya pasti akan sangat menyenangkan, tapi tempat kost ku kan deket dari tempat ku bekerja aku fikir itu tidak perlu. "gak usah makasih, aku kan udah cerita kemaren kalo aku ngekost dan tempat kost ku gak jauh dari tempat aku kerja" "iya sih, cuman aku pengen ketemu aja hhe, gpp ya aku jemput, biar aku bisa mampir ke tempat kost kamu" aku fikir aku akan setuju karna entah mengapa aku pun ingin bertemu dengan nya. "yaudah oke, ini udah jam 2. Aku pulang 1 jam lagi.       Baru saja keluar dari toko, aku melihat andri tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku menghampirinya dengan membalas senyumnya lalu menaiki motornya.       "Maaf ya tempat kost ku kecil, maklum ini yang paling murah" aku merasa malu ketika andri masuk ke dalam kost ku yg sempit dan berantakan.       "Gak apa-apa, kenapa harus minta maaf..?" jawab andri sambil tersenyum. Andri bahkan duduk di ranjang tempat tidurku karna disini tak ada kursi untuk kami mengobrol santai. Tiba-tiba andri meraih tangan ku dan menggenggam nya erat "risha, seriusan kamu belum punya pacar?" tanya andri sambil menanatap ku dan ini adalah tatapan yang sama seperti semalam yang lagi-lagi membuat hatiku berdebar-debar. "Secara kamu kan cantik, masa sih jomlo" lanjut andri mulai sedikit menggombal       "Sebenernya aku baru putus, mantan pacarku kasir juga, dia karyawan di minimarket yg gak jauh dari toko giant jaya. Aku fikir ini gak penting untuk dibahas" jawabku sambil melepaskan tangan nya yang sedang menggenggam tanganku.       "Aduh sorry rish, aku gak ada maksud buat ngingetin kamu ke mantan kamu. Sebener nya aku cuman pengen mastiin aja kamu beneran gak ada yg punya" ucap andri menyesal "sebenernya aku pengen bilang kalau aku suka sama kamu.." aku langsung terdiam dengan setengah kaget.       Tampa sadar aku membalas tatapan matanya dan tiba-tiba andri semakin mendekatkan kepalanya ke arah kepalaku. Aku menutup mataku dan dia mulai mencium bibirku, perlahan memainkan lidahnya. Tampa sadar aku menikmati ciuman itu. Andri semakin mengeratkan pelukan nya dan kedua tangan nya terus mengelus-ngelus punggung ku. Semakin membuatku hatiku berdebar-debar.       Tangan kanan nya mulai meraba ke daerah d**a. Aku semakin tak kuasa menahan desahan, aku terhanyut oleh nafsu. Tampa aku sadari Andri membuka kancing bajuku satu persatu hingga ternyata sudah terbuka semuanya dan bibir andri mulai menciumi leher hingga kemudian menepi di dadaku tepatnya sebelah kanan. Lidah nya mulai menjilati area p****g hingga beberapa kali aku kelepasan mendesah-desah.       Sungguh aku terlalu jauh hanyut ke dasar nafsu yang dalam. Entah apa yang merasukiku, entah laki-laki ini memiliki jimat apa hingga membuat aku kehilangan akal sehatku dan begitu saja membiarkan tubuhku di jilat hingga tangan nya berhasil memasuki celana dalam ku.. Kali ini aku ingin menghindar, tapi dia tak melepaskan nya. Kini dia sudah berhasil melepaskan semua pakaian di tubuhku. Kemudian aku mendorongnya hingga terjatuh dari ranjang dan langsung menutupi tubuhku dengan selimut.       "Maaf ndri, aku rasa ini terlalu berlebihan" ucapku masih dengan nafas yg tak beraturan, namun andri malah membuka baju serta celana nya dan mulai menghampiriku. Andri kembali mencium bibirku dan lagi-lagi menjilati leher dan d**a dengan tangan yang tak berhenti meraba-raba ke bagian tubuh ku yg sensitif. "Udah cukup, ndri. Kita udah terlalu jauh" ucapku masih berusaha menyingkirkan nya dari tubuhku, tapi dia terlalu berat dan tenaga nya begitu kuat hingga akhirnya dia berhasil menyetubuhiku sepenuhnya.       Aku masih terbaring lemas di atas ranjang  sedangkan andri sedang bersiap-siap. Awalnya aku fikir dengan hanya ciuman takkan terjadi hal yang sejauh ini. Andri menghampiriku, mengusap rambutku lalu mencium dahiku       "Aku sayang sama kamu..!!" seru andri. Masih mengelus rambut ku. "Biarkan semua ini jadi penguat ikatan cinta kita. Aku akan terus menjaga kamu.." andri kembali mengecup keningku membuatku merasa lebih tenang dan bahagia. Aku merasa aku akan memiliki dia selamanya.       Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, ternyata tampa sengaja aku teringat kembali kenangan aku dan andri hingga aku hanyut sedalam ini. aku mulai menghapus air mataku dan mulai membukakan pintu. "Kenapa baru dateng sih.?" tanyaku sambil mempersilahkan temanku masuk "hari ini dia datang lagi ke toko"       "Aku baru pulang kerja langsung buru-buru kesini" jawab seorang laki-laki yang masih mengenakan pakaian kerja berwarna putih dengan celana berwarna hitam. "Siapa yang datang ke toko? Andri ??" lanjutnya sambil membuka jas kemudia duduk di kursi yang berada di sebelahku.       "Iya.."jawabku tampa sadar meneteskan air mata. "Panji, tolong bawa aku ke dukun atau ke org pinter atau kemana kek yang bisa bikin aku lupain andri" aku memohon sambil menggoyangkan tangan panji.       "Aku gak bisa liat kamu kaya gini, rish." panji mulai merasa terpukul melihat keadaanku yang berantakan. " kamu harus yakin terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu bisa melakukan itu sendiri dan aku yakin kamu bisa." aku menangis dan panji memeluk ku, berusaha menenangkanku.       "Aku panggil kamu kesini supaya bisa nganterin aku ke suatu tempat yang katanya dia org pinter" ucap ku kekeuh. Panji mengusap wajah dan rambut nya. Dia duduk bersandar dengan tatapan nya yang mengarah ke atap.       "Yaudah ayo" Setelah beberapa saat panji terdiam, akhirnya panji bersedia mengantarku. Aku dan panji segera bergegas pergi ke tempat dimana orang pintar itu berada. Kami mengikuti alamat yang tertulis di selembar kertas yang ku dapat dari seorang pelanggan toko yang tak sengaja mendengarku curhat pada teman kerjaku kemudian pelanggan toko itu merecomendasikan aku untuk pergi ke sebuah tempat yg sudah dia tulis alamatnya di dalam selembar kertas kemudian memberikan kertas itu kepadaku.       Aku tidak mungkin bisa pergi sendiri, aku selalu mengandalkan panji untuk menemaniku. Panji adalah sahabat terbaik dalam hidup ku, dia yang selalu membantuku tampa pamrih. Dia sudah seperti saudara bagiku.       Setelah 2 jam di perjalanan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Aku memandang ke sekeliling tempat itu. Sebuah rumah yang jika di luar nampak seperti gubuk, di kelilingi pohon tua dan disini sangat sepi. Aku mulai sedikit ragu, aku fikir rumah orang pintar akan selalu ramai oleh orang-orang seperti aku yang ingin meminta bantuan, namun bahkan aku belum melihat satu orang pun di tempat ini.       "Coba di cek lagi alamat nya bener gak sih?" Tanya panji yang sepertinya panji pun merasa ragu       "Di alamat yang tertulis sih bener disini, coba aja kita masuk yuk.." jawabku dengan mulai melangkah menuju sebuah rumah yang hanya satu-nya berada di tempat ini. Rumah itu bahkan tak memiliki pintu, hanya menggunakan tirai kerang saja. Unik sih, tapi ini terlalu aneh dan menyeramkan bagiku. Aku megucapkan salam sambil membuka tirai itu dan memberanikan masuk.       "Sepi amat ya..!! Ucap panji sambil menoleh kekanan dan kekiri "jangan-jangan gak ada penghuninya.." tiba-tiba aku mendengar suara seorang nenek-nenek       "Itu barusan aku denger ada orang deh di dalem,, ucap ku sambil menepuk-nepuk pundak panji. "Mungkin orang yang punya rumah ada di bagian depan rumah dan mungkin ini bagian belakang nya iya gak sih ?"       Baru beberapa langkah kami masuk tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh seorang nenek-nenek yg tiba-tiba keluar dari lorong. Sontak aku dan panji berteriak ketakutan namun tak berani berlari. Seorang nenek-nenek berkulit hitam, dengan kornea matanya yang berwarna putih seperti orang buta, seluruh rambutnya putih uban dan bajunya berwarna hitam. Memakai tongkat, tersenyum kepada kami dan terlihat nenek itu sudah tak memiliki gigi.       Perlahan kami mulai berhenti menjerit ketika nenek itu mulai terlihat berjalan menghampiri kami. Nenek itu sudah begitu tua tapi punggung nya tidak bongkok. Kini dia terlihat seperti manusia hingga aku dan panji menghirup nafas dan membuang nya dengan sangat lega. Akhirnya perjalanan kami mungkin tidak akan sia-sia.       "Nama saya Samantha" Ucap nenek tua itu dan langsung mempersilahkan kami duduk di alas tikar. Aku masih ragu untuk bertanya & meminta tolong kepadanya.       "Ada masalah apa, cu?" akhirnya nenek samantha memulai nya dengan bertanya       "Saya ingin melupakan mantan pacar saya nek" jawabku dengan ragu dan malu. "saya ingin menyembuhkan luka hati yang di buat oleh mantan pacar saya" tiba-tiba nenek itu tertawa mendengar jawaban dariku. Membuatku bingung dan sedikit kesal.       "Anakku nu gelis, bager, soleh" nenek tua itupun mulai nampak serius dengan mengucapkan pujian dalam bahasa sunda. "Obat hati itu ada di gusti allah, di pinta dengan cara melaksanakan shalat lima waktu, mintalah kepada allah dengan cara berdoa. Insa allah paten.." mendengar itu aku merasa kecewa karna tidak mendaptakan apapun selain ceramah seorang nenek.       "Jadi nenek gak bisa bantu apa-apa nih?" aku mendesah kecewa. "Pantesan aja disini sepi" aku mengehela nafas. Aku melihat nenek itu mulai berubah. Padangan nya mulai terlihat menyeramkan, menatapku dengan tajam. "Maaf, nek.."ucapku sambil melihat nenek itu dengan sedikit takut. "Jika tadi kata-kata saya menyinggung nenek" belum selesai bicara tiba-tiba nenek samantha sudah memotong ucapanku.       "Ada yang berbeda di dalam mimpimu, cu." ucap nenek masih dengan tatapan tajam. "Ini Keterlaluan.. Nyawa mu dalam bahaya, sekarang usiamu sudah 20 tahun. Yang di selamatkan kakek mu dulu sekarang akan jadi incaran nya" aku mengerutkan dahi, ku fikir itu tak masuk akal. Merasa tidak mendapatkan jawaban yang di harapkan, aku dan panji pun segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu tampa mempedulikan perkataan nenek samntha yang tidak nyambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD