Backpacker

1017 Words
POV Leara Dari semalam aku udah packing bawaan buat nginep dua malam di Jepara. Bawa minum botol, roti, alat tulis, baju ganti, handuk, uang saku, P3K, selimut, mukena plus sajadah, sandal. Pinjem ransel Mbak Kos yang pecinta alam biar semua bawaanku muat. Bahkan aku juga bawa sendok, garpu, gelas, termos kecil yang udah diisi air panas, bawa mie kemasan yang tinggal seduh air panas. Sudah beres semua. Waduh, kenapa jadi tinggi banget ranselnya. Ampun, apa aja tadi barang yang udah aku masukkan kedalamnya. Kok jadi banyak banget bawaanku. Padahal kan cuma 2 malam aja nginepnya. Tapi kata mbak kos, lebih baik prepare daripada terlantar. Kan gak tau disana kayak apa. Baiklah, semoga aja memang ada manfaatnya aku bawa barang sebanyak ini. Jangan sampai aku diketawain partnerku, gara-gara aku bawa buntelan segede bukit. Benar saja, besokannya, Rabu sore ketika ketemu di depan GSG teng jam 15.30 itu anak muncul pakai motornya, dengan mata terbelalak dia teriak tanpa aba-aba. "Bawa apaan Neng? Emangnya kamu mau melarikan diri ke Jepara?Kalau marah sama temen kos, gak usah pakai bawa-bawa barang sekos dong.", ujar Gigih. "Enak aja. Ini barang penting semua. Jadi gak bisa aku tinggal. Udahlah, ayok cepet berangkat. Jalanan sore ramai pada bubar kerja.", jawab Leara tanpa basa-basi. "Baiklah. Kamu dah tau jalan kesana kan? Nanti kita ketemu di pertigaan mau belok ke Welahan ya. Aku tunggu disana nanti.", kata Gigih. "Ya aku tahu kok jalannya. Ya dah nanti tunggu disana ya.", jawab Leara. Gini-gini Leara tuh anaknya mandiri. Gak manja. Awal kuliah di Semarang, dia keliling kota sendirian, biar hafal jalan Semarang. Naik bis kota sama angkot, waktu itu belum dibawain motor sama Bapak. Semester 3 udah mulai sibuk kuliah dan kegiatan, baru boleh bawa motor. Dari Pati ke Semarang lewat Pantura. Saingannya bis sama truk. Lama-lama jadi terbiasa. Leara langsung tancap gas menuju Welahan. Jalanan sore udah mulai ramai yang pulang kerja. Bukan bermaksud gaya-gayaan, tapi sesekali ngempot kanan kiri ambil jalan yang kosong. Tapi tetep safety first. Dah sampai pertigaan menuju ke arah Welahan. Leara belok, agak maju depan dikit, Leara berhenti di pinggir jalan ambil tempat yang aman buat parkir. Kok belum ada motor Gigih. Jangan-jangan belum sampai. Sambil nunggu, Leara meluruskan pinggang sambil menggeliat. Lumayan pegel, Alhamdulillah tas ransel besar ini bisa buat sandaran punggung. Minum dululah. Haus. *** Kurang lebih sepuluh menit Leara menunggu. "Wooy lewat mana Neng, cepet banget nyampeknya. Benar-benar pembalap ya. Gak nyangka, Mbaknya dari luar kalem, ternyata bawa motornya ngeri. ", teriak Gigih. "Kirain aku ditinggal. Makanya aku ngebut. Gak taunya malah belum nyampek. Nih minum dulu kalau haus. Aku bawa banyak. Gak usah kuatir, ini gak bekasku kok. Nih kalau gak percaya. Masih ada segelnya.", jawab Leara. Gigih langsung meminumnya dan bilang terima kasih sama Leara. Kayaknya beneran haus. Setelah itu, motor Leara iring-iringan dengan motor Gigih, karena yang tahu tempat menginap malam ini adalah Gigih. Menjelang Maghrib, sampailah mereka di depan sebuah rumah yang sederhana, disambut seorang ibu yang sudah berumur kurang lebih enam puluh tahun. "Assalamualaikum Bu. Maaf ini benar rumah Alin?", tanya Gigih. "Wa'alaikumsalam, benar Nak. Ini yang namanya Nak Gigih ya. Kemarin Alin telpon, katanya ada teman yang mau ikut nginap karena ada kegiatan kampus.", jawab Ibu itu. "Benar Bu, saya Gigih. Dan ini teman satu tim saya namanya Leara, ikut ngerepoti nginap sini juga Bu, kalau boleh.", kata Gigih. "Tentu saja boleh. Lagian Ibu tinggal sendirian, Bapaknya Alin sudah meninggal. Alin juga kadang sebulan sekali baru pulang, katanya sibuk sama kegiatan kuliah. Ayuk masuk, sudah mau gelap ini!", kata Ibunya Alin. Sambil salim sama Ibunya Alin, Gigih dan Leara masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu ngobrol sebentar, sambil bertanya nama Ibunya Alin. Ternyata namanya Ibu Rahmi. Ibu Rahmi asli Jepara tepatnya Welahan. Berarti Alin juga asli Jepara. Pas banget ada dua kamar. Jadi Gigih kamar sendiri. Leara berdua dengan Ibu Rahmi di kamar satunya. Alin anak satu-satunya. Bapaknya dulu pengusaha mebel, meninggal karena sakit. Sekarang Ibu Rahmi yang mengelola. Tapi bengkel mebelnya ndak jadi satu sama tempat tinggalnya. Kalau Gigih asli mana ya. Leara sampai belum sempat tanya. Ah sudahlah gak terlalu urgent. Gigih juga gak tahu Leara asli mana. Leara mohon ijin menunaikan sholat Maghrib kepada Ibu Rahmi. Langsung saja Ibu Rahmi persilakan membawa tas ransel untuk dibawa masuk ke kamar. Alhamdulillah, pengertian banget Ibu Rahmi. Segera Leara ambil wudlu di kamar mandi yang ada di belakang rumah, terpisah dengan rumah induk. Segera masuk kamar untuk melaksanakan sholat. Sayup-sayup terdengar Gigih juga ijin mau sholat Maghrib. Oh berarti dia muslim juga ya, batin Leara. Ibu Rahmi lalu mengajak Gigih dan Leara makan malam bersama. "Seadanya ya. Kalian pasti jarang makan makanan desa kayak gini. Maaf kalau ndak sesuai lidah anak kota.", kata Ibu Rahmi. "Ndak papa kok Bu. Malah kami seneng, Ibu sudah berbaik hati menyediakan makan malam, membolehkan kami menginap. Ini beneran enak kok Bu.", kata Leara. Sayur urap rumput laut plus tempe mendoan. Kalau tempe mendoan mah, makanan umum anak kos. Tapi kalau urap rumput laut baru kali ini Leara makan. Ajaran orang tua Leara, gak boleh bilang gak enak ataupun gak suka sama sajian yang dihidangkan Tuan Rumah ketika kita bertamu. Pokok harus dimakan. Enak atau gak enak. Begitupun kalau ke tempat hajatan. Mau nikahan, khitanan, pengajian, syukuran gak boleh ngomongin soal makanan yang disajikan itu gak enak. Kalau enak baru boleh diomongin. Dari raut muka Gigih, kayaknya dia gak terlalu suka makan sayur. Eh, kenapa tiba-tiba jadi merhatiin dia. Leara sih suka aja urap rumput laut, apalagi ketika Bu Rahmi bilang kalau khasiatnya tu bikin kulit halus, gak kusam dan awet muda. Usai makan, Leara membersihkan piring, merapikan meja makan dan segera mencuci piring dan gelas kotor. Setelah rapi semua, Leara lanjut sholat Isya dan pergi tidur. Leara tak terlalu bermasalah untuk tidur di tempat baru. Apalagi badannya juga pas capek, setelah naik motor dari Semarang ke Jepara. Anak ini memang simpel dan gak neko-neko. Mau AC atau nggak, mau spring bed atau kasur kapuk, mau nginep di hotel atau rumah atau tenda sekalipun hayuk aja. Kalau sekarang backpacker mode on jadi gak usah terlalu resmi, yang penting ada kasur buat tidur, udah bersyukur banget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD