Sahabat, Kita Berbeda

529 Words
Setelah pemantapan, aku janjian sama Gigih berangkat ke Jepara besok Rabu sore. Karena kita berdua sama sekali belum tahu medan yang akan disurvei. Kata Gigih, dia sudah minta tolong temannya yang asli Jepara biar bisa kasih tumpangan gratis dua malam. "Kamu tunggu di depan GSG jam 15.30 ya. Aku naik motor. Kamu naik motor juga kan?", tanya Gigih. "Iya aku naik motor sendiri. Baiklah besok jam 15.30 ya.", jawab Leara. POV Leara Habis pemantapan aku langsung ke kampus karena ada kuliah siang. Sholat dululah di mushola. Habis itu makan di kantin. Lagi pengen soto sama mendoan plus teh panas. Seger banget. Eh itu Mita, dari jauh itu anak sudah senyam-senyum macam habis dilamar. "Napa Mit, ada yang bayar utang?", tanya Leara. "Ada deh, pokoknya hari ini aku bahagia.", jawab Mita. "Kalau senyum beda kayak gini pasti ada hubungannya sama cowok. Yakin aku.", ujar Leara. "Hehe...kamu memang beneran sahabatku Leara. Modal senyum aja kamu bisa nebak isi hatiku.", kata Mita sambil masih tertawa bahagia. "Apa sih yang gak aku tau tentang kamu. Bahkan kamu nambah satu kilo bulan inipun aku tau kok.", kata Leara lagi. "Ssttt kalau tentang ini jangan kenceng-kenceng ngomongnya.", seketika ketawa Mita hilang dari peredaran. "Baiklah, terus kenapa kamu hari ini sumringah sekali?", tanya Leara. "Aku ada kegiatan naik tingkat taekwondo besok Sabtu dan Ahad. Pastinya aku bakalan ketemu Pangeranku.", kata Mita. "Kemarin aku ajak survei, bilang gak bisa, mau pulang kampung, kangen orang tua. Giliran mau ketemu Pangeran Kodok, gak jadi pulang. Padahal aku beneran gak ada temen sama sekali. Gak ada satupun yang aku kenal di kegiatan survei besok. Tapi berhubung besok kamu gak jadi pulang karena kamu lebih memilih ketemu Pangeran Kodokmu itu, apa boleh buat. Sebagai sahabat sejati, aku doakan kamu bahagia.", kata Leara. "Nah gitu dong. Terima kasih banyak atas dukunganmu, Leara. Aku aminkan doa baikmu. Kalau bisa ditambah lagi doanya. Semoga aku berjodoh dengan Pangeran Kodok.", jawab Mita dengan penuh harap. "Woi, udah mau jam satu. Ayok masuk lab.", kata Leara. "Tambahin dulu doamu buatku Leara. Siapa tau ada malaikat lewat terus ikut mengaminkan.", kata Mita semangat. "Iya-iya aku doakan Mita dan Pangeran Kodok berjodoh dan menikah dan punya anak dan hidup bahagia selamanya. Aamiin.", doa Leara. "Aamiin.", teriak Mita bahagia. Beneran kita memang berbeda. Mita dengan mudahnya curhat tentang cowok incerannya. Aku bahkan tak tau mau cerita apa sama Mita. Mita dengan suka hati bilang kalau berat badannya nambah lagi dan tak ada kecemasan sama sekali meskipun badan semakin membulat. Kalau aku, belum nambah aja udah gak PD apalagi nambah. Kalau Mita dapat nilai BC aja udah bersyukur gak remidi, kalau aku dapat BC aja udah nangis bombai di pojokan kamar kos sambil meratapi betapa bodohnya aku, kenapa aku lupa rumusnya tadi, kenapa aku gak teliti waktu proses menghitung. Apa ini yang namanya sahabat saling melengkapi. Aku cemas, Mita bahagia. Aku pemikir, dia bodo amat. Persamaannya kita berdua sama-sama anak bungsu. Tapi kita berdua sama-sama merasa bukan anak manja yang katanya jadi ciri khas kebanyakan anak bungsu. Apa benar kita gak manja, atau hanya persangkaan kami aja, tapi sebenarnya kami adalah anak manja. Ah sudahlah. Tapi beneran aneh chemistry pertemanan sama Mita. Mungkin ini yang bikin kita jadi sahabat kepompong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD