Nickolaus Abraham kecil adalah seorang anak yang ceria, positif dan selalu terlihat bersemangat dalam setiap hal yang dia lakukan.
Terlahir dari rahim seorang wanita, Rachel Sefanya Ananti, istri dari seorang pengusaha di bidang advertising ternama THE STAR of ABRAHAM ADV. , Syarifudin Levi Abraham.
Kehidupan berjalan begitu mudah dan menyenangkan bagi Nicko. Segala keperluannya selalu dapat dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
Begitu juga kehidupan pertemanannya. Di sekolah Nicko selalu menjadi primadona, bukan hanya karena parasnya yang tampan, ceria dan murid berprestasi tetapi juga karena dia selalu terbuka kepada siapa saja yang mau menjadi temannya.
Ya, Nicko bukanlah anak yang manja dan sombong meskipun kondisinya di atas rata - rata dibanding semua teman - temannya. Kedua orang tuanya selalu menekankan dan menanamkan prinsip dasar hidup yang baik bagi putra semata wayang mereka.
***
Saat itu
"Pemirsa, telah terjadi kecelakaan pesawat Eagle Airlines KT 089, tujuan Surabaya, saat hendak transit di Bandar Udara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Di duga pesawat tergelincir. Dari informasi yang berkembang, diketahui dari 126 penumpang, 82 orang dinyatakan meninggal, 36 orang luka berat dan 8 orang luka ringan. Saat ini sedang dalam proses evakuasi korban dan identifikasi. Berikut daftar nama korban yang dinyatakan meninggal ;
1. Yuan Colin ( 37 ) asal Jakarta
2. Serrenita Harla ( 28 ) asal Jakarta
3. Imam Hasan ( 33 ) asal Tangerang
4. Siti Herlina ( 53 ) asal Tangerang
5. Syarifudin Levi Abraham ( 44 ) asal Jakarta
6. Rachel Sefanya Ananti ( 40 ) asal Jakarta
7. ...
8. ...
9. ...
"Ayaaaah, Ibuuuu, tidaak!" Nicko tak sanggup melanjutkan membaca seluruh nama para korban meninggal dalam kecelakaan pesawat itu.
Jantungnya berdegup sangat kencang dan terasa seakan berhenti seketika saat nama kedua orang tuanya masuk dalam daftar nama korban meninggal.
Porak poranda seluruh isi ruangan itu. Amarah dan sedih yang teramat sangat diluapkan oleh Nicko dengan menghancurkan segala perabot rumah tangga, tak terkecuali televisi yang sedang menayangkan berita tentang kecelakaan pesawat yang dialami kedua orang tuanya.
Kedua telapak tangannya yang mengepal terlihat terluka dan berdarah, namun Nicko tak memperdulikannya dan tetap meraung raung, membabi buta menghancurkan segala yang ada di hadapannya sambil terus berteriak memanggil ayah dan ibunya.
Bu Santi tergopoh-gopoh berlari dari arah dapur menghampiri asal hiruk pikuk yang terjadi dan betapa terkejutnya dia saat mendapati tuan mudanya sedang kalap menghancurkan segalanya yang ada di ruangan itu.
Dengan tangan gemetar bu Santi segera mengambil ponsel dari dalam saku bajunya dan segera menghubungi petugas keamanan di rumah keluarga itu.
"Pak Barjo cepat kesini pak!!" Langsung saja bu Santi bersuara dengan panik saat panggilan ponselnya sudah diterima.
"Ada apa bu Santi? Tolong bicara yang jelas."
"Cepetan pak, Mas Nicko kalap!"
Pak Barjo langsung menutup panggilan dan segera berlari ke dalam rumah keluarga Abraham.
"Mas, Mas Nicko, tenang mas." Pak Barjo mendekati Nicko perlahan, berusaha menarik dan memegang salah satu tangan Nicko.
"Pergi kalian! Jangan ganggu aku. Ayahku mati, tau nggak? Ibuku juga mati! Haha.. pintar sekali mereka mengarang cerita." Seperti orang gila Nicko menceracau tak karuan, tidak bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Sorot matanya tajam, liar mencari sesuatu ke segala arah untuk bisa dihancurkan.
Pak Barjo dan bu Santi mendelik seketika, tidak percaya dengan perkataan Nicko tentang orang tuanya.
"Apa? Pak Levi, Bu Anti??" terisak bu Santi, terpukul. Serta merta dia berlari masuk ke dalam kamarnya. Sementara Pak Barjo susah payah menenangkan Nicko.
"Ada apa ribut-ribut?" Seorang pria setengah baya datang dan memandang Nicko dan Pak Barjo heran, tatapan matanya penuh selidik.
"Ah, anu Pak Hendrawan, Mas Nicko bilang kalau pak Levi dan bu Anti meninggal," jawab pak Barjo pelan. Kedua tangannya tetap menahan pergelangan tangan Nicko, mencegahnya untuk berbuat lebih dari yang sudah dilakukannya.
"Apa?" Hendrawan, sahabat dekat ayah Nicko tidak percaya begitu saja. Dengan sigap mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mengetikkan nama orang tua Nicko dalam kolom pencarian berita di Google.
Hendrawan terduduk lemas saat menemukan berita tentang kecelakaan pesawat, dan mereka terlibat dalam kecelakaan itu, bahkan dikabarkan sebagai korban yang meninggal.
Ponselnya dibiarkan terjatuh begitu saja di lantai yang berselimut karpet tebal, dengan motif yang sudah buram karena terkena pecahan kaca meja dan segala perabot hasil emosi Nicko yang tak terbendung.
Tubuhnya terkulai lemas. Kepalanya menunduk, kedua telapak tangannya menutup seluruh wajah yang telah basah karena air mata kesedihan yang runtuh begitu deras dari kedua netranya.
"Lev, Levii, benarkah semua itu?" Serunya lemah diantara suara isakan tangisnya.
Nicko berontak dari genggaman tangan pak Barjo, berlari dan menabrakkan kepalanya ke salah satu dinding ruangan itu. Pak Barjo yang lengah, terkejut dan refleks menyusul gerakan Nicko, memberikan telapak tangan kirinya untuk menahan kepala Nicko agar tidak terbentur dengan keras. Namun gerakan pak Barjo yang lemah tidak sepenuhnya bisa menahan benturan itu. Separuh kepala Nicko masih tetap membentur tembok dengan keras dan melorot jatuh, pingsan seketika. Cairan merah segar menetes dari pelipis sebelah kirinya.
***
"Syukurlah. Lukanya tidak begitu parah di kepalanya. Masih harus observasi lagi karena ada benturan keras. Semoga saja hasilnya baik baik saja." Lukas, dokter pribadi keluarga Abraham menjelaskan. Dihadapannya berdiri pak Hendrawan yang mendengarkan dengan seksama.
"Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada dirinya. Dia sekarang yatim piatu." Suara Hendrawan pelan, seperti tercekat di tenggorokan karena kesedihan yang mendalam.
"Yaah, dia benar-benar sangat shock mengetahui kenyataan itu Pak Hendra. Luka inilah yang sangat sulit untuk disembuhkan." Tertunduk sedih.
"Apakah Anda sudah menghubungi pihak yang bersangkutan? Bagaimana dengan hasil pemeriksaan petugas? Jangan jangan itu pesawat tua yang sudah aus mesinnya," sambung Lukas.
"Sudah. Mereka masih menyelidiki sebab utama kecelakaan itu. Aku rasa ada sesuatu yang membuat pesawat itu tergelincir. Aneh bukan, tidak ada satu pun yang ditemukan di lapangan, hanya ada bekas gesekan roda pesawat. Tidak ada bekas oli, atau apapun yang membuat licin di lokasi. Kondisi cuaca pun sedang baik dan layak untuk penerbangan."
"Ehm, kalau kondisi pesawat sendiri bagaimana pak?"
"Entahlah, aku masih menunggu laporan dari anggotaku."
Lukas mengernyitkan dahinya, "Apakah kira kira ada unsur sabotase? Seingat ku pak Levi pernah cerita kalau beliau bermasalah dengan salah satu koleganya."
Hendrawan hanya mengedikkan kedua bahunya. Jemarinya mengurut urut dahinya yang terasa pening memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.
***
"Sialan! Sakit banget kepalaku." Nicko yang berusaha bangun dari tidurnya serta merta memegang kepalanya. Kedua matanya terpejam, menenangkan diri mencoba menghilangkan sakit kepalanya. Tak berhasil. Diapun kembali berbaring.
"Dimana ini?" Suaranya lemah menahan sakit. Pandangan matanya mengurai seluruh ruangan yang ditempatinya. Terasa asing. Mencari cari di setiap sudut, barangkali ada sesuatu yang bisa dia kenali. Tetap saja nihil.
Pelan dia menoleh ke arah nakas di sebelah kanan tempat tidurnya. Melihat cairan bening di dalam gelas. Penuh dan jernih. Beralas tisu. Di sebelahnya tergeletak rapi sebuah sedotan plastik panjang, bersih karena dikemas apik dengan plastik pembungkus.
Nicko menelan saliva nya. Seketika perasaan kering pun menyiksa tenggorokannya. Haus. Tangan kanannya berusaha menggapai gelas itu, hati hati, takut kalau membuat gelas itu oleng, jatuh dan pecah. Sayang banget kan airnya, mana lagi haus pula.
"Ck, susah bener mau minum aja." Nicko berdecak putus asa.
"Mas Nicko mau minum?" Suara lembut nan merdu memasuki gendang telinganya. Membuatnya berhenti menggapai dan mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Apakah aku di surga? Apakah dia malaikat? Cantik sekali."
Nicko menatap seorang gadis cantik yang berdiri di hadapannya. Menatapnya intens, dari atas ke bawah. Menatap nanar pakaian yang di kenakan gadis itu, dan kemudian menatap ke arah tubuhnya sendiri, berlanjut ke seluruh ruangan.
"Semuanya putih. Malaikat itu juga putih, aku sudah mati."
***