Tinggalah bersama kami

1031 Words
"Nicko, kamu bisa mendengar suara paman?" Hendrawan mendekatkan wajahnya ke telinga Nicko. Baru saja dia melihat ada sedikit gerakan di kedua kelopak mata Nicko. "Hmmm ..." Hanya bergumam pelan. Setelah itu diam lagi, tidak bergerak. "Masih belum sepenuhnya siuman rupanya." Hendrawan menghela nafas kasar dan kembali menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya bersidekap di depan dadanya. Menatap sendu wajah Nicko. Sudah sekitar satu minggu Nicko tidak sadarkan diri. Menurut Lukas, akibat benturan waktu itu ada kemungkinan sekali waktu Nicko akan kehilangan sedikit ingatannya, terlebih hal hal yang menyakitkan. Biarpun secara fisik Nicko terlihat baik baik saja, namun tidak demikian dengan hati dan otaknya. Kejadian itu telah menimbulkan trauma yang sangat besar dalam diri Nicko. Maka dari itu Lukas menyarankan agar mereka menjauhkan Nicko dari hal hal yang bisa membuat ingatan suramnya kembali mengganggu kondisinya. "Masih pingsan pa?" Seorang gadis bertanya dari arah pintu kamar. Memutus lamunan Hendrawan. Gadis itu berjalan pelan, segelas teh hangat dan semangkuk bubur berderet rapi di atas nampan yang di bawa olehnya. Setelah sampai di dekat Nicko, gadis itu menaruhnya di atas nakas di sisi kanan pembaringan. "Iya, masih. Bukannya tadi kamu bilang kalau dia sudah sadar dan mencoba untuk mengambil minum? Kenapa bisa begini Riska?" "Yaa mana aku tahu lah, Pa. Tadi itu pas aku masuk mau ganti minumnya aku lihat jelas kok kalau dia udah bangun, malah mengulurkan tangannya mau ambil minuman di atas nakas," jawab Riska. Putri tunggal Hendrawan yang masih mengenyam pendidikan di tingkat SMU. Selisih dua tahun dengan Nicko yang lebih tua darinya. "Kok bisa tiba-tiba pingsan lagi?" "Entahlah. Tadi sih Mas Nicko kaget pas aku datang. Abis itu ngelihatin terus baju yang ku pakai Pa, trus lihat bajunya sendiri juga. Kayak orang bingung." "Kenapa dengan baju kalian?" Riska menggeleng pelan. Kemudian menatap pakaian yang dikenakan Nicko. Dan bercermin untuk melihat pakaiannya sendiri. Dahinya berkerut, memikirkan apa kira kira yang menjadi sebab Nicko pingsan lagi. "Oh iya Pa, tadi aku sempat dengar Mas Nicko menggumamkan sesuatu sebelum pingsan." "Bagaimana?" Hendrawan ingin tahu. "Sesuatu yang serba putih, terus aku mati." Riska mengingat ingat apa yang sempat dia dengar tadi dari mulut Nicko. Sunyi. Tiba tiba Hendrawan tergelak, menggelengkan kepala sambil menatap Nicko dengan geli. Riska hanya menatap ayahnya dengan penuh tanya. Kedua alisnya terangkat. Kebiasaan yang sering dia lakukan ketika ingin bertanya dan menunggu penjelasan. "Apakah dia berhalusinasi akibat benturan waktu itu?" "Mungkin. Tapi kemungkinan besar dia sedang berfikir kalau dirinya sudah mati." Tertawa pelan sembari sedikit mengernyit merasa prihatin dengan Nicko. "Kok bisa?" "Coba perhatikan lagi pakaianmu, lihatlah juga yang dikenakan Nicko. Termasuk juga seluruh ruangan ini." Riska mengikuti petunjuk ayahnya. Menelusuri setiap jengkal kamar itu. Nah itu dia! Saat itu juga Riska memahami maksud ayahnya. Tatanan dan dinding kamar itu hampir seluruhnya di d******i oleh warna putih. Begitu juga dengan pakaian yang mereka kenakan. "Yaelah, pantesan tadi aku dibilang malaikat sama mas Nicko pa. Ternyata ini sebabnya." Riska tertawa tertahan. Memandang Nicko dengan penuh iba. *** Hari berganti hari. Kondisi Nicko pun semakin membaik. Nicko sedang memainkan game online di ponselnya ketika tiba tiba terdengar pekikan kecil di depan pintu kamarnya. Bergegas dia pun berusaha bangun dan berjalan tertatih mendatangi arah suara itu. Didapatinya Riska sedang berjongkok di depannya, mengambil sesuatu dari lantai kemudian bangkit berdiri. "Auuch!" Terlambat, Nicko tidak bisa menghindari benturan kepala Riska di dagunya. Ia pun meringis menahan sakit sembari melirik gadis itu. "Aduh! Eh, maaf Mas, tidak sengaja." "Lain kali hati-hati. Lihat dulu ada orang apa tidak di sekitarmu," sahut Nicko sedikit kaku. Tubuhnya bersandar pada kusen pintu kamar. Tangannya memegangi dagu. Meringis kesakitan. "Keras juga tuh kepala. Itu batu apa arca? Huh! Untung dia cantik," umpatnya dalam hati. "Aku sudah minta maaf. Tulus loh. Lagian kenapa juga pake jongkok di atas kepalaku?" protes Riska. "Aku tadi cuma mau lihat apa yang kamu ambil." "Ih, kepo amat sih!" judesnya. Nicko hanya melotot ke arah Riska. Setelah itu masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Riska sendirian. Hancur pertahanannya karena perkataan Riska kepadanya memang benar. Dia sangat ingin tahu benda apa itu, sampai membuat Riska memekik seperti tadi. "Eh, dasar. Mirip jailangkung. Datang tak di jemput, pergi tak di antar, wew!" Riska bergidik dan berlalu pergi. Lupa dengan tujuan awal untuk datang ke kamar Nicko. Ia pun melenggang dengan gaya bak seorang ratu yang berjalan di istananya. "Duh! Sampai lupa." Riska menepuk dahi, teringat sesuatu lalu berjalan kembali ke arah kamar Nicko. "Ehm, Mas, dipanggil Papa. Ditunggu di ruang tengah," serunya saat tiba di depan kamar Nicko. Hanya memunculkan sedikit wajahnya di ambang pintu. "Oke. Sebentar aku kesana." *** "Tidak paman. Biarkan aku tinggal di rumahku." "Kamu sama siapa di sana Nicko?" "Sama Bu Santi dan Pak Barjo." Hendrawan menghela nafas panjang. "Mereka sudah tidak bekerja di sana lagi, Nak. Ada sesuatu hal yang membuat Bu Santi harus pulang. Begitu juga Barjo. Anaknya sakit keras, dia harus pulang dan menemani anak istrinya di kampung," jelas Hendrawan yang sangat merasa keberatan jika Nicko pulang kembali ke rumahnya. "Ya sudah Paman, aku sendirian saja. Toh aku sudah dewasa. Sudah mau lulus SMA. Aku bisa kok belajar urus diri sendiri." "Jangan. Ehm, maksud paman, ada baiknya kalau kamu tinggal disini saja dulu. Kami tidak keberatan kok. Bahkan Riska menyuruh paman untuk meminta kepadamu, maukah kamu jika diangkat sebagai kakak nya?" "Riska? Paman tidak bohong?" Entah kenapa saat mendengar nama itu ada sedikit rasa bahagia. Desiran halus terasa di dalam dadanya. Jantungnya pun tiba-tiba berdegup kencang. Nicko bingung sendiri dengan keadaan hatinya saat itu. "Benar, Mas," sahut Riska yang baru keluar dari kamarnya. Ia pun melangkah menghampiri Nicko. "Tolong, tinggalah disini, bantu aku jaga Papa," pinta Riska dengan tatapan memohon. Hendrawan tersenyum menghampiri Riska. Merangkul pundaknya dan berkata, "Yang ada papa lah yang minta bantuan Nicko buat jaga kamu, putri cantikku Leyna Marriska." Nicko tertegun memandang keduanya. Semacam ada sesuatu yang berkelebat di hatinya. Seperti di sayat sembilu. Ngilu. Dan seolah merasakan kerinduan yang dalam. Entah merindukan apa, diapun tak mengerti. Matanya berkaca kaca melihat kedekatan mereka berdua. "Maukah kamu jadi anakku, Nicko?" pandangan Hendrawan memohon ke arah Nicko. Membuat pemuda itu seketika menatap nanar padanya. "Lupakan masa lalu. Bukalah lembaran baru hidupmu dan tinggallah selamanya bersama kami," sambungnya. Kini Nicko tertunduk membisu. Buliran bening luruh satu persatu dari kedua netranya, membasahi ujung jari kakinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD