Hasrat Terpendam

1705 Words
Nicko menghentikan langkahnya. Terlihat sosok perempuan tengah duduk membelakanginya. Memeluk kedua lututnya. Sesekali jari tangan kanannya menulis sesuatu di atas tanah berdebu di hadapannya. "Riska? Sedang apa dia sendirian disitu?" Nicko sedikit memajukan kakinya. Menelusup diantara dedaunan di salah satu sudut taman belakang rumah. Sedikit mendekat ke arah perempuan itu dan memperhatikan setiap gerak geriknya. "Apa dia menangis?" Nicko menajamkan penglihatannya untuk memastikan. Karena khawatir Nicko pun berjalan mendekati Riska. "Butuh teman? Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikiranmu." Nicko berjalan mendekat dan duduk di sebelah Riska. Riska terperanjat kaget melihat kehadiran Nicko. Ekspresi wajahnya menunjukkan ke engganannya untuk di dekati. Gadis itu pun sedikit beringsut menjauh dari Nicko. "Aku mau sendiri mas." lirihnya. "Ada masalah di sekolah? Dengan temanmu? Atau lagi berantem sama pacarmu?" Nicko coba menebak. "Bukan urusanmu!" jawab Riska. Merasa risih dengan semua pertanyaan Nicko. Nicko hanya diam memperhatikan sikap Riska. Andai saja.... Dalam hatinya mulai membayangkan banyak hal dan berandai-andai. "Ris, aku siap jadi teman curhatmu. Bukankah aku sekarang adalah kakakmu? Ayo ceritakan masalahmu, Siapa tahu aku bisa bantu." Nicko memulai aksinya. "Iisshh! pergi sana. Aku pengen sendiri." Riska mendorong tubuh Nicko untuk menjauhinya. Nicko hanya diam, menghela nafas panjang dan memperhatikan wajah Riska dengan intens. Entah kenapa jauh di sudut hatinya terasa perih. Seolah bisa merasakan kesedihan Riska. "Kamu tahu Riska. Aku merasa tidak berguna selama ini. Aku hanya luntang lantung, kesana kemari kadang rebahan, main ponsel. Tidak banyak yang bisa ku lakukan di tempat ini." keluh Nicko. " Oh ya udah sana cari kegiatan, cuci baju kek, setrika, masak, jemur baju, bersih-bersih rumah." potong Riska dengan tawa lebar tapi hatinya setengah dongkol. Lah kok malah curhat. Batinnya. "Emangnya aku ini bik Yem yang sedang viral di sinetron-sinetron itu?!" Nicko menjitak gemas kepala Riska. "Aduh! Lagian, pake acara gabut. Gak guna. Apalah.. Nikmati aja kali apapun kondisinya. Toh kami juga gak keberatan. Disini juga rumahmu mas." "Bukan begitu maksudku." "Lha..terus?" "Eumm, aku hanya merasa kalau aku ini seorang.." "Kapiten? Mempunyai pedang panjang?" olok Riska menggoda. "Kalau berjalan prok.prok..prok.. Dasar kamu ini." gemas menjitak lagi kepala Riska. "Jangan ah mas, ini kan kepala, bukan daun pintu yang suka di ketok-ketok." menepis tangan Nicko yang masih ingin melancarkan serangannya sambil tertawa geli, berhasil menggoda Nicko. Sejenak lupa dengan masalahnya. "Tuuhh kaan. Kamu bisa tertawa akhirnya." Nicko tertawa pelan. "Apa an sih." tak urung Riska pun tersenyum simpul dibuatnya. "Tuh tuuuh, lihat. Sudah muncul lesung pipitnya. Jadi gemes." sembari mencubit pipi Riska dengan gemas. "Jangan. Iihh! Jangan sentuh aku." menepis tangan Nicko. Tak puas hanya satu tangan, sebelah tangan Nicko yang lain ikut bergerak mencubit pipi Riska. Tak urung Riska pun memekik pelan. Kesal dengan perbuatan Nicko dan akhirnya berhasil memegang kedua pergelangan tangan Nicko. Menahannya kuat-kuat agar tidak usil lagi. Kedua matanya melebar dan menatap tajam Nicko. Saling tarik menarik pun terjadi di antara mereka. Masing-masing tak ada yang mau mengalah. Hingga tanpa sengaja dahi Nicko membentur hidung Riska. Mereka pun tercekat, dan tetap diam dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat lamanya. "Eh, maaf, maaf." refleks Nicko memegang hidung Riska. Bersamaan ketika tangan Riska pun bergerak memegang hidungnya yang ngilu. Nicko menahan senyum saat melihat ekspresi wajah Riska yang meringis menahan sakit. Gelenyar aneh terasa saat tangan mereka bersentuhan. Bak di sengat tawon, mungkin lebih tepatnya seperti terkena aliran listrik secara tiba-tiba, yang lebih berasa. Semburat merah pun mewarnai kedua pipi Riska. Begitu juga dengan wajah Nicko. Namun mereka enggan untuk berpaling. Hening. Tanpa sengaja mereka saling menatap lama. Desiran halus terasa di hati keduanya. Ada pendar-pendar rasa terpancar dari dua pasang netra kedua remaja itu. Seketika hawa panas menyelimuti tempat itu. "Aku tidak tahu apa yang ku rasakan ini. Yang aku tahu, dari sejak pertama melihatnya, dia sudah memporak porandakan hatiku, bagaikan angin p****g beliung yang berputar-putar begitu cepat menerjang segala yang ada di hadapannya. Begitupun dirinya." Suara batin Nicko, berlomba dengan debaran jantungnya yang begitu keras. "Apa yang terjadi? Kenapa hatiku bergetar karena sentuhannya. Ah, kenapa juga sudut hatiku rasanya sakit, Dan, ah, debaran ini, kenapa tidak mau berhenti. Mata itu, sepertinya sudah melumpuhkan aku terlebih hatiku." Batin mereka sama-sama berkecamuk. Bisa di bilang adegan yang mereka jalani saat ini sudah sama persis dengan adegan di dalam sebuah lakon atau film-film romansa remaja masa kini. Jarak mereka begitu dekat. Netra mereka begitu lekat menatap satu sama lain. Seolah ada perekat yang membuat mereka sulit untuk melepaskan. "Riska." Nicko mengucapkan nama itu perlahan. Penuh perasaan. Seakan terhipnotis, Riska semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nicko. Masih menggenggam kedua pergelangan tangan Nicko. Wajah mereka semakin dekat. Hanya berjarak sekian centi. Berubah menjadi sekian mili. Lebih dekat. Hidung mereka saling menempel. Bertukar hembusan nafas yang terasa semakin panas. Gejolak hati Nicko semakin menderu. Bibirnya gemetar mencium pelan bibir gadis di hadapannya. Seakan takut akan rusak jika di sentuhnya. Riska hanya diam, merasakan ciuman Nicko. Netranya terpejam, meresapi. Perasaannya berkecamuk antara bingung, sedih dan bahagia. Nicko semakin mendekatkan dirinya. Genggaman tangan Riska melemah di kedua pergelangan tangannya. Kesempatan itu dipakainya untuk menggapai ceruk leher belakang Riska. Menariknya agar semakin mendekat padanya. Bibir mereka masih bertaut. Nicko diam sesaat. Mengatur nafasnya yang menderu. Kembali mencium bibir Riska dengan lembut. Memagut penuh perasaan. Melumat dan sedikit menggigit ujung bibir itu. "Hhmm." Riska mendesah pelan. Menikmati sentuhan bibir Nicko. Kedua tangannya menggapai pundak Nicko. Memeluknya erat. Tubuh Nicko bergetar. Merasakan pelukan Riska. Bulu tubuhnya meremang. Ciuman itu semakin panas. Bibir Riska sedikit terbuka, terengah-engah. Nicko tetap memagut. Sesekali lidahnya memasuki rongga mulut Riska. Bermain-main di rahangnya dan menggigit pelan ujung lidah Riska. Riska memekik pelan seraya membalas dengan mengulum lidah Nicko. Menghisap dan menggigit pelan ujungnya. Menimbulkan suara kecipak saling bertukar saliva. Nicko melumat bibir Riska dengan rakusnya. Gejolak jiwa mudanya memburu. Ditariknya tubuh Riska ke atas pangkuannya. Memeluk tubuh Riska dari belakang. Ciuman yang sempat terputus berlanjut lagi. Semakin panas. Lumatan dan pagutan semakin gencar. Tubuh Riska merosot turun. Tangan Nicko bergerak menelusuri tubuh indah Riska sambil tetap melumat bibir Riska dari belakang. Darahnya mendidih ketika ujung jarinya menyentuh bagian sensitif tubuh Riska yang disambut lenguhan tertahan di bibir Riska. "Mas Nicko." bisiknya sedikit terengah saat tangan Nicko meraba bagian bawah tubuhnya. Mengelusnya pelan. Dan berlanjut ke arah atas, sampai di ujung bukit kembar yang membusung. Meremasnya perlahan yang langsung membuat tubuh Riska menggelinjang. Ciuman panjang itu terhenti. Mata mereka saling menatap sayu. Merah menahan nafsu. Sementara tangan Nicko merambat, mencari ujung kaos ketat yang di kenakan Riska. Terus merambat ke dalam, di balik baju dan merayap ke atas. Meremas perlahan. Tangannya gemetar, karena belum pernah melakukan dan merasakan sebelumnya dengan gadis lain. Mata Riska terpejam menikmati sentuhan demi sentuhan. Bagian belakang tubuhnya merasakan ada sesuatu yang keras menekan tubuh belakangnya. Semakin membuat jantungnya berdesir, berdegup kencang. "Aahh!" Riska tak kuasa menahan gejolak saat kedua tangan Nicko berhasil masuk di balik penutup d**a yang dia kenakan. Meremas, memutar dan memilin ujungnya. Tubuh Riska menggeliat. Memancing milik Nicko yang semakin keras dan sesak. Ditariknya tubuh Riska untuk semakin merapat padanya. Kedua tangannya kembali meremas kedua bukit kembar yang membusung itu. Riska yang merasakan sedikit sakit di dadanya segera melepaskan kait yang menghubungkan ujung pengikat penutup dadanya. Melingkarkan tangan di bahu Nicko lalu meraih wajah Nicko melumat dengan rakus bibirnya. Keduanya saling b******u dengan liar. Gejolak hati sudah semakin tak terkendali. Nicko mengangkat tubuh Riska, membuatnya berdiri dan menyandarkan pada pilar penyangga rumah. Menekan dengan tubuhnya. Bibir Riska sedikit bengkak akibat ulah Nicko. Nicko terpana melihat d**a Riska yang sedikit tertutup bra yang berantakan. Bukit kembar itu begitu indah. Seolah melambai ke arahnya memohon untuk di sentuh. Riska hanya diam pasrah. Memandang Nicko dengan tatapan memohon. Nicko kembali mencium Riska, mendorong tubuh Riska dengan tubuhnya. Tanganya menyibak rok pendek yang dikenakan Riska. Mengangkat dan menahannya. Sementara tangan Nicko yang lain berusaha melepas ikat pinggang dan menurunkan retsleting celananya. Menurunkannya sedikit dan menempelkan miliknya yang masih tertutup ke milik Riska. Membuat gerakan menggesek perlahan dan berirama. Seolah menikmati setiap gesekan demi gesekan. Riska semakin mendesah diantara lumatan bibir Nicko. Tubuh Nicko yang lebih tinggi dari Riska sedikit melengkung turun. Dengan masih menggerakkan area bawahnya, Nicko menciumi bilah d**a Riska.Tangan kanannya meremas di salah satu sisi. Menurunkan ciumannya dan melumat puncak yang menegang. Menghisap nikmat. Bergantian kanan dan kiri sambil tetap meremas. Riska semakin terbawa suasana. Secara naluri tangannya bergerak meraba milik Nicko yang mengeras. Memasukkan tangannya di balik kain penutupnya dan memegang sesuatu yang keras itu lalu mengeluarkan dari tempatnya. Mengelusnya perlahan hingga membuat Nicko melenguh nikmat, ia pun melalukan hal yang sama pada Riska dan menempelkan miliknya disana. Riska memekik tertahan dan membeku seketika. Menyadari sesuatu. " Mm, mas Sudah. Jangan dilanjutkan." katanya terengah-engah. Bibirnya basah dan sedikit bengkak. Nicko masih tetap menjalankan aksinya. "Mas. Tolong. Hentikan." Riska memohon. Mendorong bahu Nicko agar menjauh dari tubuhnya. Nicko terhenyak dan menghentikan gerakannya. Tersadar akan perbuatannya. "Maafkan aku Riska. Aku, aku kelepasan." sesal Nicko. "Aku juga minta maaf mas. Tak sepatutnya kita begini." membenahi pakaiannya. "Maaf Riska. Maaf aku tidak bisa menahan hasratku, aku mencintaimu dan telah mengingkari janjiku untuk menjadi kakakmu." Riska hanya diam. Butiran bening luruh perlahan dari kedua netranya. "Kamu marah? Tersinggung?" Riska menggeleng perlahan. "Kamu menyesal?" Tetap menggeleng lemah. "Aku juga mencintaimu mas." ucap Riska dalam isaknya. Nicko menarik tubuh Riska. Memeluknya erat dan mencium kening Riska dengan lembut. Mengusap kepala Riska dengan penuh perasaan. "Tapi Riska." "Kenapa mas?" mengangkat kepalanya dari d**a Nicko. "Ini, punyaku masih begini. Sakit." menunjuk dengan kepalanya ke arah bawah. "Ah, terus gimana dong?" Riska bertanya jengah. Dilihatnya milik Nicko memang masih berdiri tegak. "Bisa tolong bantu aku?" "Gimana?" "Entah gimana caranya agar isinya bisa keluar." kata Nicko malu-malu. Riska yang polos segera membalikkan badan Nicko. Memeluknya dari belakang dan mendorong Nicko ke arah selokan kecil di pinggir taman itu. Dalam pikirannya perkataan Nicko tentang isi yang harus keluar itu adalah semacam buang air. Riska membantu memegang perkakas milik Nicko, mengelusnya sambil mendesis seperti yang pernah dilihatnya saat seorang ibu membantu anaknya untuk pipis. Nicko tertawa geli melihat ulah Riska. Meskipun sebenarnya dia tergoda dengan gerakan Riska. Dia pun menunduk. Memegang tangan Riska dan mengarahkannya untuk bergerak perlahan, memancing miliknya agar segera mengeluarkan segala isi yang ingin ia muntahkan. "Sambil dipijit ya." bisik Nicko menahan nikmat yang tak terbendung hingga akhirnya cairan itu keluar dari sumbernya. Nicko menghela nafas lega. "Terima kasih sayang." membalikkan tubuhnya dan mencium kening Riska penuh perasaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD