"Mas. Mas Nicko!" tegur Riska.
Riska menarik salah satu tangannya dalam genggaman Nicko lalu mengibas-ngibaskannya di depan kedua mata Nicko yang memerah dan menatapnya dengan pandangan kosong, rona merah terlihat memenuhi wajah Nicko.
Gerakan tangan Riska seketika membuyarkan lamunan Nicko dan angan-angan mesumnya bersama Riska. Namun ia tetap bergeming di tempatnya dan masih menatap lekat kedua mata gadis itu
"Mas, sadar mas!" Riska menggoyangkan pundak Nicko dengan pelan sambil menahan senyum, melihat Nicko yang saat itu sedang bengong menatapnya.
Nicko masih tetap saja terdiam. Kesadarannya masih belum pulih sepenuhnya. Namun dalam hatinya menyadari gerakan tangan Riska yang menggugah ilusi sekejapnya.
"Mas. Heloo." Riska masih gigih memanggil Nicko.
"E-eh iya Ris? Ada apa?" polos Nicko, perlahan kesadarannya kembali ke dunia nyata. Refleks ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas Nicko dari tadi diam mulu, sesekali manggil-manggil aku Riska, Riska, tapi terus diem lagi. Ada apa sih?" jelas Riska yang merasa penasaran.
Nicko tergagap setelah kesadarannya benar-benar pulih. Semburat merah muncul lagi memenuhi wajahnya yang putih. Apa yang sudah ku lakukan tadi? Bodohnya diriku. Ia pun menepuk prlan dahinya.
Riska diam memperhatikan reaksi Nicko yang membuatnya heran. Sementara dirinya sendiri sedang sibuk menenangkan desiran hatinya yang dari tadi berontak akibat tatapan Nicko yang seperti itu kepadanya.
"M-maaf Riska." Nicko segera melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Riska yang terlihat sedikit memerah.
Riska hanya tersenyum. Melirik arlojinya "Ayo mas ke dalam, sudah waktunya makan siang." Tidak ingin membuat Nicko merasa malu akhirnya dia memecah canggung diantara mereka dengan mengajaknya makan.
Nicko mengangguk dan tersenyum melihat Riska yang sudah berdiri dan berlalu meninggalkannya ke arah dalam. Ia memperhatikan setiap gerakan Riska dan menggeleng malu setelah menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan.
Konyol! Bodoh! Apa yang sudah ku lakukan? Nicko sudahlah.. Buang angan-anganmu. Dia amanat dari orang yang sudah menolong dan merawatmu. Dan bukankah dia adikmu?" suara hati Nicko memperingatkan.
Nicko menghembuskan nafas kasar. Berusaha melepas kegelisahan hatinya. Niatnya untuk menjadi teman curhat Riska urung sudah akibat lamunan mesumnya tadi.
Diapun segera berdiri dan beranjak pergi menyusul Riska. Sementara dalam hatinya bingung mencari alasan untuk menutupi rasa malunya. Paling tidak ia harus sudah siap dengan semua pertanyaan yang mungkin Riska ajukan saat makan nanti.
Sementara tidak jauh dari tempat itu, tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan tingkah laku muda mudi itu sudah agak lama. Sejak Nicko mengendap-endap memperhatikan Riska lalu duduk di sebelahnya. Bahkan sampai saat kedua wajah mereka berdekatan saling beradu pandang.
"Hmmm. Sepertinya aku bisa tenang menitipkan Riska padanya. Semoga suatu saat mereka bersatu, seperti keinginan kami dulu untuk menjodohkan mereka." gumamnya sembari tersenyum.
Sang pemilik sepasang mata itu tersenyum dari balik tirai jendela kamarnya, tidak jauh dari taman. Tempat Riska dan Nicko berada. Berkali-kali ia mengembuskan napas panjang dan mengangguk, teringat akan janjinya di masa lalu bersama seseorang.
***
Riska merapikan meja makan dan meletakkan nasi beserta lauk pauk di atasnya. Tak lupa dia pun mengambil beberapa perlengkapan makan untuknya dan Nicko.
Nicko berjalan masuk ke ruang makan dengan diam. Masih merasa malu akibat ulahnya tadi. Jantungnya berdegup kencang, mempersiapkan diri.
Sementara Riska seketika berdebar melihat kedatangan Nicko. Entah kenapa sejak saat mereka saling menatap beberapa saat yang lalu hatinya seperti merasa bertaut. Namun merasa sangsi karena menganggap bahwa Nicko adalah kakaknya. Tidak pantas jika ada perasaan yang lain dalam hatinya.
Kesunyian menemani saat mereka makan berdua. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar sesekali. Seperti alunan musik yang terputus-putus. Masing-masing sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri saat mengingat insiden kecil di taman. Meskipun hanya tatapan mata saja rupanya sudah cukup membuat hati keduanya terbakar.
Tidak seperti biasanya ketika canda tawa selalu menghiasi semua kegiatan mereka. Kini semua seakan hilang. Lenyap di telan kesunyian.
Mereka sibuk dengan suasana hati masing-masing tanpa menyadari kehadiran seseorang yang sudah berdiri menatap mereka berdua. Kedua tangannya bersidekap. Senyumnya merekah, merasakan suasana canggung diantara mereka.
"Boleh papa bergabung dengan kalian?" suara baritonnya memecah kesunyian. Membuat keduanya seketika terlonjak kaget dan langsung menghentikan suapannya.
"Oh, eh, papa." Riska langsung beranjak dan mengambilkan piring dan sendok untuk ayahnya.
Nicko mengangguk dan tersenyum. Lalu melanjutkan makannya. Dalam hatinya berharap semoga ayah angkatnya itu tidak melihat kelakuan bodohnya tadi di taman.
"Papa sudah pulang?" Riska tersenyum seraya menyiduk nasi dan menambah lauk untuk ayahnya.
"Sudah agak tadi. Kebetulan papa hanya menggantikan jadwal piket teman papa sebentar. Begitu dia datang papa langsung pulang." jawab Hendrawan, ayah Riska.
Riska menuangkan air minum untuk ayahnya. "Papa katanya besok libur, apa kita jadi pergi?"
"Pergi kemana?" sahut Nicko." Memangnya kamu besok libur Ris?"
Riska menatap Nicko heran dan menahan tawanya. Sementara Hendrawan hanya tertawa pelan.
"Mas, besok kan hari minggu. Memang mau ngapain di sekolah?"
Nicko seketika menepuk dahinya. Bagaimana dia bisa sampai lupa jika besok adalah hari minggu. Dan hari ini pun mereka tidak berangkat ke sekolah karena hari Sabtu.
"Aku lupa." ujarnya pelan menahan malu.
Riska hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Nicko yang terasa aneh hari ini. Namun ia tetap menahan tawanya demi menjaga perasaan Nicko yang saat itu kedapatan mencuri pandang padanya. Seolah ketakutan akan sesuatu.
"Besok papa ada kasus yang harus ditangani. Mungkin lain kali saja kita perginya. Maafkan papa ya." sesal ayah Riska sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Yaaah, kasus lagi kasus lagi. Kapan papa bisa tenang di rumah atau refreshing gitu menikmati liburan." gumam Riska pelan namun di dengar oleh ayahnya dan juga Nicko yang langsung menatapnya iba.
Riska melanjutkan makannya dengan cemberut. Jelas sekali kekecewaan terlihat dari raut mukanya saat itu.
"Papa janji akan gantikan saat libur yang berikutnya. Kita akan pergi kemanapun kamu mau." ucap ayah Riska berusaha membujuk anak satu-satunya itu.
"Besok kamu bisa pergi dulu berdua sama Nicko." lanjutnya.
"Nggak seru." jawab Riska semakin cemberut.
Nicko hanya diam memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu. Sementara jauh dalam sudut hatinya sangat merindukan kedua orang tuanya yang sampai saat ini dirinya masih lupa bahwa mereka sudah tiada.
"Nicko, kapan acara kelulusanmu ?" Hendrawan berganti arah pembicaraan dengan Nicko.
"Dua minggu lagi pa." jawab Nicko sembari mengambil air putih dalam gelas di samping kanan piringnya lalu meminumnya sebagai penutup makan siang setelah sebelumnya dia menghabiskan sebuah pisang.
"Nanti papa akan datang bersama Riska."
"Hari apa itu? Semoga tidak berbarengan dengan acara di kelasku." sanggah Riska sembari menoleh ke belakang menatap kalender yang terpajang di tembok belakang tempat duduknya.
"Hari Sabtu." jawab Nicko singkat.
"Oh, syukurlah. Acara kelasku hari kamis sebelumnya."
Hendrawan tersenyum menatap suasana canggung yang tercipta diantara keduanya. Dia pernah muda dan bisa merasakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hati mereka.
"Kenapa kalian begitu kaku begini? Padahal biasanya selalu ribut. Papa saja sampai jengah mendengar kalian."
Nicko dan Riska hanya tertunduk malu.
"Apa kalian lupa kalau dulu kalian sangat akrab. Di saat papa sedang pergi bekerja ke luar kota kamu selalu menjaga Riska dengan baik. Kalian selalu bersama seperti tidak bisa di pisahkan."
Kedua netra Riska membola mendengar perkataan ayahnya. "Benarkah?"
Nicko tertegun. Berusaha mengingat semua hal tentang dirinya di masa lalu.
"Kamu ingat saat Joko menarik rambutmu dengan keras waktu itu Ris? Dan Nicko lah yang akhirnya maju untuk membelamu, sampai-sampai dia terluka akibat di keroyok Joko dan teman-temannya." jelas Hendrawan panjang lebar.
"Saat itu cuma Nicko lah satu-satunya yang bisa menghibur dan mengembalikan semangatmu saat kamu sedang sedih. Hanya suara Nicko yang bisa sampai ke dalam telingamu." lanjutnya sembari tertawa.
Riska tersenyum mengingatnya. "Papa kok ingat saja kejadian seperti itu. Aku aja sudah lupa."
"Dan kamu Nicko, apa kamu tidak ingat saat Riska membersihkan semua lukamu dan rela seharian penuh tidak makan dan tidur demi menunggumu sampai pulih dari sakitmu?"
Ya, sejak kecil Nicko dan Riska selalu bersama. Mereka saling menautkan kedua jari kelingking mereka untuk mengucap janji setia untuk tetap menjaga persahabatan sampai tua kelak.
Riska tersenyum geli mengingat semuanya. Sedangkan Nicko sedikit pusing. Sekelebat bayangan masa kecilnya bersama Riska lewat begitu saja dan membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri.
Tanpa sengaja Riska menangkap perubahan ekspresi wajah Nicko.
"Kamu kenapa mas? Pusing?" dilihatnya Nicko meringis dengan kedua tangan yang memegang erat kepalanya.
Hendrawan langsung bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Nicko.
"Sudah. Jangan di paksa mengingat semuanya lagi. Maafkan papa tadi keceplosan begitu saja mengingatkan kalian dengan masa lalu." Hendrawan memegang kedua sisi pundak Nicko dengan lembut.
"Istirahatlah di kamar mas." Riska menyarankan, khawatir dengan kondisi Nicko yang terlihat begitu pucat.
Hendrawan menarik tubuh Nicko perlahan dan memapahnya berjalan menuju kamar Nicko.
Riska segera membersihkan meja makan dan mencuci semua yang kotor.
Ada apa dengan mas Nicko, apakah ingatannya perlahan pulih? dalam hatinya bertanya-tanya.
"Aku baik-baik saja kok pa. Biasanya cuma pusing sebentar setelah itu hilang. Bentar lagi pasti hilang pusingnya." kata Nicko menenangkan Hendrawan yang menatapnya khawatir. Sesaat setelah mereka sampai ke kamar Nicko.
"Jangan di sepelekan. Jika pusingnya terlampau sering, tidak ada salahnya kamu periksa ke dokter. Kamu bisa bilang sama papa atau Riska." ucap Hendrawan dengan sabar.
"Sudahlah pa. Jangan terlalu khawatir."
"Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
"Makasih pa. Tapi aku baik-baik saja kok, beneran." ujar Nicko meyakinkan ayah angkatnya.
Riska berjalan menghampiri mereka. Kedua Netranya tidak lepas memandang ke arah Nicko. Pucatnya sudah berangsur menghilang.
"Kamu tidur saja mas. Biar lebih enakan."
"Iya Ris."
Hendrawan diam. Memikirkan sesuatu. Terbersit dalam benaknya untuk menghubungi dokter Lukas yang menangani Nicko waktu itu untuk menanyakan kondisi Nicko yang sering mengalami pusing akhir - akhir ini.
Disaat mereka sedang berdiam di kamar Nicko tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah depan.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras. Suara gaduh di luar di susul dengan suara ledakan kedua yang mengagetkan mereka.
Hendrawan dan Riska segera berlari keluar mencari asal dan penyebab suara ledakan itu.
Dengan susah payah Nicko berusaha berdiri dan berlari menyusul mereka.
"Siapa di luar?" teriak Hendrawan lantang. Memeriksa kondisi di depan rumahnya. Tangan kanannya menggenggam sebuah pistol kecil yang selalu dibawanya.
Riska menunduk dan menemukan pecahan bagian bawah botol berwarna coklat gelap di antara timbunan dedaunan di taman depan rumahnya.
"Pa, ini apa?"
" Stop! Jangan di pegang!" Hendrawan berlari menghampiri putrinya dan mencegah Riska yang hendak mengambil pecahan botol itu.
Nicko yang baru sampai langsung menghambur ke arah Riska.
"Ini bekas bom molotov!! Kurang ajar! Berani-beraninya mereka!" teriak Hendrawan geram. Hidungnya mencium aroma alkohol dan bensin dari sekitar pecahan itu di temukan.
Nicko terperanjat kaget begitu juga Riska yang langsung menatap wajah ayahnya yang begitu merah menahan amarah.
Selama ayahnya bekerja di kepolisian sebagai perwira tinggi, tidak pernah sekalipun hal itu terjadi dalam hidup mereka. Dan baru kali ini mereka mengalaminya.
Kini terdengar suara daun bergesekan engan keras.
Nicko menoleh ke arah semak-semak di luar pagar rumah Hendrawan dan melihat bayangan sosok seorang pria di sana. Terlihat gerak geriknya sangat mencurigakan.
Dengan sigap Nicko berlari dan mencoba untuk menangkap sosok itu yang berusaha untuk pergi melarikan diri.
Sementara di luar sudah banyak orang berkerumun melihat ke dalam halaman rumah Hendrawan.
Mereka bertanya-tanya karena mendengar suara ledakan. Hendrawan berusaha menenangkan mereka dengan menjawab sekenanya dan mengatakan untuk mencari sebab kenapa bom itu di lempar ke rumahnya.
Sosok itu berlari kencang dan terjatuh seketika secara tidak sengaja kakinya terantuk batu.
Kesempatan itu di manfaatkan Nicko dengan baik. Dengan sigap Nicko mencekal pergelangan tangan orang itu dan memelintirnya bermaksud untuk menariknya ke arah belakang tubuh pria itu.
Namun sayang pria itu lebih cepat bergerak dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Nicko yang dengan cepat berkelit menghindar.
Kaki kanan Nicko menekuk dan menghantam keras perut pria itu dengan tumitnya. Pria itu terjerembab ke belakang. Mulutnya memuntahkan cairan merah akibat hantaman tumit Nicko.
"Kurang ajar!" umpatnya seraya maju dan melayangkan tendangan ke d**a Nicko.
Perkelahian pun tidak dapat di hindarkan. Fisik Nicko yang masih lemah terlihat kewalahan menerima pukulan demi pukulan dari pria itu.
Nicko kalah tenaga dan fisik. Pria itu bertubuh tinggi dan tegap. Terlihat masih sanggup untuk melayangkan puluhan pukulan lagi ke arah Nicko yang terlihat semakin lemah dan tidak sanggup melawannya.
Dari kejauhan Hendrawan yang melihat kondisi Nicko berteriak dengan lantang dan menembakkan pistolnya ke udara lalu mempercepat larinya untuk segera membantu Nicko yang terlihat tidak berdaya.
Nicko menatap langit dengan nanar. Kepalan tangan pria itu berhasil mendaratkan pukulan telak di sisi kanan kepalanya. Membuatnya langsung terpelanting dan jatuh terlentang di atas tanah. Darah segar mengucur deras dari mulut dan pelipis kanannya. Wajahnya lebam membiru.
Apakah ini akhir hidupku? kata hatinya di sela nafasnya yang putus-putus.
***