Dijodohkan

1314 Words
"Nicko!" teriak Hendrawan sekencang-kencangnya. Hendrawan mempercepat larinya. Namun pria itu berhasil lolos dan menghilang dari hadapannya. Meninggalkan Nicko yang terluka, terbaring lemah di atas tanah. "Sial! Dia menghilang." Hendrawan mengumpat kecewa. Ia pun memindai semua tempat dan belokan yang terjangkau oleh pandangan matanya. Dengan cepat dia menghubungi anggotanya untuk meminta bantuan dan memanggil ambulans untuk membawa Nicko ke rumah sakit. "Mas Nicko!" Riska yang baru sampai tersentak melihat kondisi kakak angkatnya yang begitu memprihatinkan. "Tenanglah Riska. Ambulans dalam perjalanan kesini." ucap Hendrawan menenangkan putrinya. Buliran air mata lolos begitu saja dari kedua mata Riska. Entah kenapa hatinya begitu hancur saat melihat kondisi Nicko yang seperti itu. Tangannya bergerak mengambil tissu dari dalam saku bajunya dan membersihkan sedikit darah dari ujung bibir Nicko dengan lemah lembut. Tubuhnya lemas. Hatinya perih melihat kondisi Nicko. Tangisnya semakin menjadi membuat Hendrawan kewalahan untuk menenangkannya. Beberapa orang yang melintas membantu Hendrawan untuk mengangkat tubuh Nicko lalu menepikannya ke tempat yang lebih aman dan rindang. Mereka pun berkerumun ikut menjaganya sekaligus menunggu keterangan, ada apa sebenarnya yang terjadi. Tak dapat di pungkiri mereka semua merasa penasaran. Mereka masih tetap berdiam disitu hingga beberapa saat lamanya menemani Hendrawan dan Riska. Ada beberapa yang melihat kejadiannya namun tidak berani melerai. Mereka ragu untuk memihak siapa yang benar dan salah. Tak berapa lama terdengar sirine mobil kepolisian dan ambulans yang datang bersamaan. Salah seorang anggota Hendrawan menghampirinya, memberi hormat dan bersiap menerima perintah. Sementara yang lain mengangkat tubuh Nicko dan membaringkannya diatas brankar yang sudah di siapkan oleh petugas kesehatan lalu memasukkannya ke alam mobil ambulans. Ambulans itu melaju cepat membelah jalanan kota yang begitu padat di akhir minggu. Riska duduk di samping Nicko. Menemaninya dengan air mata yang terus menerus berderai, membasahi wajahnya. "Periksa di rumah! Catat semua dan laporkan kepadaku setelahnya. Jangan sampai ada yang terlewat. Aku akan menyusul anakku ke rumah sakit." titah Hendrawan pada semua anggotanya "Siap!" jawab mereka serempak. "Aku percayakan semua penyelidikannya padamu. Ajak beberapa orang untuk membantu. Aku curiga mereka komplotan yang sedang kita selidiki selama ini." Hendrawan menunjuk salah seorang yang terlihat memimpin pasukan itu. "Siap!" Salah seorang anggota kepercayaannya itu pun langsung memanggil dua orang rekannya. Memberikan intruksi dan bersiap untuk beranjak ke rumah Hendrawan. Tempat Kejadian Perkara. "Tom. Satu lagi, jika orang-orang bertanya tentang bom itu, bilang saja itu tindakan orang iseng yang tidak bertanggung jawab dan sekarang masih dalam pengejaran." imbuhnya kepada Tomi anggota kepercayaannya yang baru saja di tunjuk untuk memimpin pemeriksaan kasus itu. "Siap! Saya segera ke TKP sekarang." Tomi memberi hormat dan segera berpamitan. Ia pun segera meluncur cepat setelah memberikan intruksi pada beberapa rekannya. Hendrawan mengangguk dan masuk ke dalam mobil polisi salah satu anggotanya yang lain. "Kita berangkat sekarang!" titahnya kepada sang sopir. "Siap!" Mobil itupun melaju dengan cepat dengan membunyikan sirine. Setiap pengemudi di depannya segera menepi saat melihat dan mendengar sirine itu memberikan keleluasaan jalan bagi mereka untuk lewat. *** "Bagaimana kondisinya?" tanya Hendrawan tidak sabar. "Syukurlah kondisinya tidak begitu buruk. Meskipun lemah ternyata dia begitu kuat. Lihatlah saat ini pun dia sudah sadar." jawab dokter Lukas yang menangani Nicko. "Syukurlah. Biar aku lihat kondisinya." "Eits. Jangan dulu. Kami masih harus membersihkan semua lukanya. Beberapa luka sudah kami jahit. Tinggal luka memar di dadanya yang masih harus kami tangani. Tolong jangan di ganggu dulu." jelas dokter itu menahan langkah Hendrawan. "Lukas, jangan menghalangiku atau." "Atau apa? Jangan mentang-mentang Anda petinggi di kepolisian maka seenaknya mengancamku." sahut Lukas sambil tertawa ringan. "Sudahlah.. Dia baik-baik saja. Tenangkan diri Anda. Ada aku disini." lanjut Lukas. Dokter yang merawat Nicko . Hendrawan menghela nafas berat. Hatinya kalut memikirkan semua kemungkinan yang terjadi. Ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Nicko, ia pun sangat berharap bahwa lukanya tidak begitu mempengaruhi ingatannya yang masih belum sepenuhnya pulih. "Bukankah dia Riska? Pak, hiburlah dia, gadis itu terlihat begitu shock melihat kondisi Nicko." bisik Lukas sambil memperhatikan Riska yang tertunduk sedih di atas kursi tunggu di depan IGD. Tersadar dari lupanya Hendrawan pun langsung bergegas menghampiri putrinya. "Riska, Nicko sudah sadar. Dia baik-baik saja. " ucapnya lembut. Kedua tangannya memegang pundak Riska. Riska menghela nafas. Mengatur emosinya. Ia pun mengangkat wajahnya menatap sang ayah. "Aku ingin melihat kondisinya pa. Boleh aku masuk kesana?" pintanya sambil masih sesekali terisak. "Sebentar lagi kita lihat kesana. Mereka masih membersihkan luka-lukanya." jawab Hendrawan sabar. "Kenapa? Kenapa pa? Apa papa mempunyai musuh sampai harus di teror bom seperti itu." tanya Riska gusar. "Papa tidak tahu ris. Anggota papa sedang menyelidikinya saat ini." Mereka terdiam hanyut dalam pemikiran masing-masing. "Aku tidak tahu aku akan bagaimana jika mas Nicko kenapa-napa." lirih Riska. Mendengar hal itu Hendrawan berjongkok dan berlutut di depan Riska. Menatap wajah nya dengan intens. "Apakah kamu menyukainya?" tanya Hendrawan dengan lembut dan hati-hati. Sebagai seorang ayah dia sangat mengenal bagaimana Riska dan semua sifatnya. Riska terdiam. Hatinya pun ragu untuk mengakui. Selama ini memang ada perhatian khusus dari hatinya untuk Nicko. Namun selalu terhalang dengan kenyataan bahwa Nicko adalah kakaknya. Meskipun hanya kakak angkat. Hendrawan mengerti dengan diamnya Riska. Perlahan di tariknya kedua tangan Riska, menggenggamnya lembut. "Lihat papa nak." pintanya." Tolong jujur sama papa, apakah kamu menyukai Nicko?" Riska tergugu melihat sikap ayahnya. Jantungnya berdegup kencang. Haruskah dia ungkapkan semua isi hatinya saat ini? "Riska." panggil ayahnya pelan. "Ayah tidak keberatan jika kamu menyukainya." ujar Hendrawan memancing reaksi Riska. Dan benar saja, seketika ekspresi wajah Riska memerah. Kedua netranya menatap Hendrawan bertanya-tanya. "Apa yang ingin kamu tanyakan pada papa? katakanlah." Semburat merah memenuhi wajah Riska saat ayahnya mengetahui kebenaran isi hatinya. "A-aku bingung pa." "Kenapa? Apa karena Nicko kakakmu?" tebak Hendrawan yang langsung pada intinya. Riska mengangguk pelan. Hendrawan tersenyum sembari bangkit berdiri dan duduk di sebelah putrinya. "Riska. Sekali lagi papa bilang, papa tidak keberatan jika kamu menyukai Nicko." "Benarkah? Meskipun dia kakakku pa?" "Papa serius. Toh dia cuma kakak angkatmu. Tidak ada hubungan darah di antara kalian. Lagi pula kami dulu sudah berencana untuk menjodohkan kalian." "Kami? Menjodohkan?" "Iya. Pak Revi, ayah Nicko adalah sahabat baik papa. Kami dulu sempat bercanda dan berencana untuk menjodohkan kamu dan Nicko." Riska tertunduk malu mendengar kenyataan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan indah saat dirinya tersenyum. Entahlah, hatinya begitu senang mendengarnya. "Papa akan tanya Nicko, apa dia sama denganmu." lanjutnya sambil memeluk bahu Riska dengan tangan kirinya. "Jangan pa. Biar semuanya berjalan dan mengalir apa adanya dulu. Aku takut jika ternyata mas Nicko tidak mempunyai perasaan yang sama denganku." Riska mencegah ayahnya untuk berbuat lebih lanjut. "Jika memang kami berjodoh suatu saat nanti pasti kami akan bersatu dengan sendirinya. Lagi pula kami masih sekolah pa.. Biar aku lanjutkan dulu sampai selesai kuliah kelak." Hendrawan tertawa pelan mendengar perkataan putrinya yang sudah berpikiran dewasa itu. Tangannya mengusap lembut kepala Riska. "Baiklah kalau itu maumu. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai berlebihan sama Nicko. Ingat, kalian masih belum waktunya untuk..." "Pak Hendra, Nicko sudah bisa di jenguk." Belum sempat Hendrawan menyelesaikan nasehatnya, Lukas datang dan mengajaknya untuk melihat kondisi Nicko. "Oke. Terima kasih Lukas." Hendrawan beranjak dari duduknya dan berjalan ke IGD untuk melihat Nicko. Riska menyusul di belakangnya. "Pa." Riska menarik tangan Hendrawan. Mengajaknya berhenti. "Ada apa?" "Tolong rahasiakan masalah ini sama mas Nicko. Jangan sampai dia tahu ya pa." pintanya dengan wajah memelas bersemu merah menahan malu. Hendrawan tersenyum gemas melihat raut muka putrinya. "Rahasiamu aman bersama papa. Yang penting kamu harus jaga diri." ucap Hendrawan berpesan pada Riska yang menatapnya dengan penuh terima kasih. *** "Bagaimana kondisimu?" Hendrawan tersenyum menghampiri Nicko. Sementara Riska hanya diam menatapnya di samping sebelah kiri pembaringan Nicko. Nicko tersenyum dipaksakan. Kedua netranya menatap Hendrawan dengan pandangan menyesal. "Maafkan aku pa. Aku tidak bisa menangkapnya." katanya lirih. Menahan sakit di ujung bibirnya yang baru saja di jahit lukanya. "Sssssttt..! Tenanglah. Tidak usah memikirkan itu dulu." Hendrawan mencegah Nicko untuk banyak bicara karena luka di bibirnya. Masih terlihat lebam di wajah Nicko. Ketampanannya hilang tertutup oleh luka-lukanya. "Aku masih ingat wajahnya pa. Wajah pelakunya." Nicko masih memaksakan diri untuk bicara sebelum dia lupa untuk menyampaikannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD