Akhir hidup yang tak terbayangkan

1667 Words
"Aku masih ingat wajah orang yang menyerangku." ulang Nicko lemah. Riska bergerak mendekat dan mengelus tangan Nicko. "Sudahlah mas, bicaranya nanti saja setelah jahitan itu kering." ucapnya perlahan. Berharap Nicko bisa menunda keinginannya. "Aku takut nanti lupa menyampaikannya setelah aku tertidur." Hendrawan menghela nafas dengan wajah khawatir lalu menekan tombol memanggil seorang perawat. "Ada yang bisa saya bantu Tuan..?" tanya seorang perawat sembari berjalan masuk mendekati Nicko. "Boleh saya minta selembar kertas dan pinjam alat tulisnya sus?" tanya Hendrawan pada perawat itu. " Baik, sebentar saya ambilkan dulu. Ada lagi yang lain..?" memastikan. Hendrawan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tanda sudah cukup itu saja permintaannya. Perawat itu beranjak pergi untuk mengambilkan semua yang diminta Hendrawan. Tak lama kemudian dia pun kembali dan menyerahkan selembar kertas dan alat tulis kepada Hendrawan. Hendrawan mengangguk seraya menerimanya. "Terima kasih," ucapnya yang di jawab dengan anggukan kepala oleh perawat itu dan berpamitan untuk kembali ke ruangannya. "Jelaskan dengan perlahan perihal orang itu. " Hendrawan bersiap dengan lembaran kertas dan alat tulisnya, menatap Nicko dengan sabar. "Tubuhnya tinggi tegap, berkulit gelap, hidung mancung dan ada tahi lalat di dagunya." "Bagaimana dengan potongan rambutnya?" Hendrawan menggambar sketsa mengikuti penjelasan dari Nicko. Selain sebagai perwira tinggi di kepolisian, Hendrawan juga mahir menggambar sketsa wajah dan postur tubuh orang yang di curigai sebagai pelaku kejahatan. "Mmm.., rambutnya sedikit gondrong dan di ambil sedikit, di ikat di bagian belakang kepala." "Kira-kira seperti ini?" Hendrawan menunjukkan sketsa gambarnya di hadapan Nicko setelah menggoreskan pena menggambar sketsa rambut pria itu. "Betul pa, hanya kurang panjang sedikit rambut yang tergerai di depan wajahnya." "Oke. Seperti ini?" "Betul. Sudah hampir mirip." Riska memperhatikan interaksi kedua lelaki kesayangannya dengan intens. Sesekali di mendekat dan melihat sketsa yang sudah di gambarkan oleh ayahnya. "Apakah dia memakai jaket kulit warna hitam?" tanya Hendrawan lebih lanjut. Mencoba mengingat saat dia melihatnya dari kejauhan. "Hoodie. Berwarna hijau gelap. Bukan jaket kulit. Celana jeans belel dan memakai sepatu kets putih." "Oke sudah papa buat sketsanya. Tinggal melaporkan ke Tomi agar di selidiki lebih lanjut." Hendrawan menyimpan sketsanya dalam amplop, jadi satu dengan hasil foto rontgen Nicko setelah itu memasukkannya ke dalam laci nakas di samping pembaringan Nicko. "Oh iya pa, ada satu lagi. Di permukaan lengan kirinya ada bekas luka memanjang seperti bentuk kelabang. Berwarna coklat kemerahan. Aku sempat melihatnya karena dia menggulung kedua ujung lengan hoodienya keatas." Hendrawan mengambil lagi amplop itu, mengambil sketsa dan menggambarkan bekas luka itu terpisah dari gambar intinya lalu langsung menunjukkannya ke hadapan Nicko. "Betul begitu bentuknya. Tapi tidak sepanjang itu, kira-kira sekitar lima centi-an saja." jelas Nicko. Sesekali wajahnya meringis dan memucat menahan sakit di bibirnya saat dipakai untuk berbicara. Riska menatapnya iba. Tangannya menggapai ke atas nakas, mengambil air putih di dalam gelas dan mendekatkan ke bibir Nicko. "Minum dulu mas." ucapnya lembut sembari mengarahkan ujung sedotan ke dalam mulut Nicko. Nicko patuh dan meminum airnya sembari menatap Riska dengan penuh terima kasih. Tak urung hatinya berdesir saat melihat senyum lembut di bibir gadis itu untuknya. Keduanya saling menatap beberapa saat. Terlihat sedikit semburat merah dari wajah Riska yang bening. Hatinya pun berdebar tak karuan. Entahlah. Kejadian itu tak lepas dari perhatian Hendrawan yang pura - pura menunduk saat kedua remaja itu menoleh ke arahnya. "Kalau begitu papa berangkat dulu ke kantor. Papa mau urus laporan kejadian tadi. Nanti biar Tomi kesini mengambil sketsanya." Hendrawan merasa jengah berada diantara mereka. "Kenapa nggak dibawa sekalian ke kantor pa?" tanya Riska heran. Bukankah mereka biasanya bertemu di kantor. "Tomi hari ini memeriksa rumah kita. Setelah itu ada tugas luar. Papa sudah sampaikan kalau selesai di rumah bisa ambil sketsanya disini." Riska mengangguk memahami penjelasan ayahnya. Nicko terdiam bingung. Ujung sedotan masih menempel di mulutnya sedangkan air minumnya sudah habis. Riska masih tetap memegang dan menempelkannya di bibir Nicko. "Apa masmu itu mau kau suruh untuk mengunyah dan menghabiskan gelasnya juga ris..?" ujar Hendrawan menggoda Riska saat melihat kebingungan Nicko yang menatap nanar ke ujung sedotan yang kini hampir masuk ke lubang hidungnya. "Eh..oh.. maaf mas.." ucap Riska lirih. Riska yang salah tingkah malah membuat ujung sedotan itu lolos masuk ke dalam hidung Nicko. Hendrawan tertawa melihatnya. Sambil menggeleng dia pun melangkah pergi dari tempat itu. *** Di suatu tempat, lebih tepatnya di sebuah bangunan tersembunyi, "Bos, serangan awal sudah di jalankan." "Bagus. Akan ku transfer upahmu." suara seorang pria terdengar menjawab. "Siap bos." "Jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini." sang bos memperingatkan. "Uhm.. M-maaf bos saya tadi ketahuan. Salah satu anaknya mengejar dan kami sempat berkelahi. Ayahnya yang polisi itu juga mengejar dan hampir saja saya tertangkap kalau saya tidak cepat memukul telak anak itu dan pergi menghilang." ujarnya sembari menyeringai. Merasa bangga karena dirinya berhasil lolos. "Bodoh! Kenapa sampai ketahuan?? Akan ku potong upahmu! Dasar tengik! Apa tidak kau periksa dulu sebelumnya hah?" "Sudah bos. Rumah itu terlihat sepi. Tapi ternyata mereka ada di dalam." "Sial! Apa anak itu melihatmu?" "I-iya bos." jawabnya takut. "Dasar.. Sekalinya g****k ya tetap g****k! Jangan mimpi menerima upahmu. Bon, kau sudah melakukan kesalahan besar!" pria itu menghentikan sebentar bicaranya. Terdengar seperti menenggak minuman dengan gusar. "Pertama kau tidak memeriksa dengan benar kondisi rumah itu. Kedua kau ceroboh tidak memakai penutup wajah agar tidak di kenali dan yang ketiga, kau memukul anak itu yang jelas - jelas akan menimbulkan masalah baru bagi kita. Kau dengar itu hah?" lanjutnya dengan geram. "M-maaf bos." lirih Bon merasa bodoh dan menyesal. "Bicara maaf memang mudah. Kau hanya tinggal menggerakkan sedikit lidahmu mengucap maaf dan menunduk saja sudah bisa. Tapi apa kau sanggup menghadapi jika suatu saat kau tertangkap?" tanya pria itu dengan nada yang penuh penekanan. Membuat posisi Bon menjadi semakin tersudut. "Kau paham kan apa resikonya jika ketahuan polisi dan bagaimana seharusnya jika melakukan kesalahan besar?" "Paham bos." jawabnya lemas. "Maka lakukan lah ! Untuk urusan yang di belakangmu biar aku yang menanggungnya. Kirim melalui aplikasi chatting, alamat dan nomor rekening yang lain." titahnya. Setelah itu sunyi. Panggilan sudah di tutup. Dan perintah sudah di sampaikan. Tinggalah si Bon yang termenung sendiri menyadari kesalahannya. Dengan perlahan dia mengambil sebuah buku di atas meja dan merobek kasar bagian depannya yang kotor dengan coretan, menyambar sebuah alat tulis lalu terduduk lemas bersandarkan dinding. Seumur hidupnya yang di warnai dengan kekerasan tidak pernah sekalipun dia merasakan kesedihan yang dalam seperti saat ini. Dalam benaknya terbayang senyum manja istri dan kedua anaknya yang masih balita. Ya, Bon adalah seorang ayah dari dua anak kembar yang tiga tahun yang lalu lahir dari rahim istri tercintanya. Tidak pernah terbayangkan jika semua akan berakhir saat ini. Dalam hatinya sangat menyesal karena jarang sekali dia bersama dengan anak dan istrinya. Dalam satu bulan terhitung hanya satu atau dua kali saja dia datang mengunjungi mereka. Bahkan lebih seringnya dia tidak pulang. Dan untuk masalah kebutuhan hidup mereka, dia selalu mentransfer sebagian besar gajinya. Bon tidak bodoh. Dia membuat dua nomor rekening untuknya sendiri. Untuk berjaga - jaga jika suatu saat aksinya ketahuan polisi. Dan ternyata saat itu adalah saat ini. Satu diantaranya memakai nama seorang teman yang bersedia. Temannya orang baik - baik yang tidak mengetahui sama sekali apa pekerjaan Bon sesungguhnya. Tapi dia percaya dengan Bon. Nomor rekening itu digunakannya untuk menabung dari sebagian kecil upahnya selama hampir delapan tahun menjadi anak buah bosnya. Bon terkesiap saat menyadari pipinya basah oleh air matanya yang telah lolos begitu saja. Seumur hidupnya baru kali ini dia menangis. Bahkan saat anaknya lahir pun dia tidak menangis seperti kebanyakan pria - pria yang lain yang merasa bahagia saat anaknya lahir, tapi Bon tidak, meskipun jauh di sudut hatinya sangat bahagia. Bon bukanlah orang cengeng dan lemah. Tapi saat ini dirinya benar - benar tidak berdaya. Dia telah melakukan kesalahan besar dan harus segera menghapus jejaknya. Sesuai perjanjian yang telah dia tanda tangani delapan tahun yang lalu saat diterima. Bon mengesah nafas kasar. Air matanya luruh dengan deras. Tidak pernah terbayangkan akhirnya menjadi seperti ini. Di buku itu Bon menorehkan banyak cerita. Permintaan maaf berkali - kali menghiasi tulisannya yang panjang. Tak ketinggalan banyak tulisan pesan dan perasaan cintanya untuk istri dan kedua anaknya. Di ujung tulisannya, Bon menambah sebuah nomor rekening. Istrinya harus mengetahui dan akan meneruskan hidup dengan uang yang ada dalam rekening itu, yang selanjutnya akan di isi oleh bosnya. "Jangan mencariku. Hiduplah dengan tenang dan bahagia bersama anak-anak kita. Ajari mereka kebaikan." Bon menutup buku itu dan menyelipkan sebuah buku tabungan beserta kartu ATM di dalamnya. Lalu membungkusnya dengan plastik dan menyimpan di dalam amplop besar. Dia teringat sesuatu dan mengambil ponsel dari saku celananya. "Tolong kesini sebentar. Dan sampaikan titipan untuk istriku. Jangan meninggalkan jejak setelahnya." Bon menutup pembicaraan dari ponselnya. Setelah itu dia mengemas seluruh catatan yang ada di dalam ruangan itu. Membersihkan dan membawa semua ke halaman belakang untuk di bakar. Bon menghilangkan semua bukti keterkaitannya dengan bosnya. Hanya itu satu-satunya cara agar anak dan istrinya bisa tetap menerima uang dari majikannya untuk biaya hidup. Seseorang datang mengambil amplop, titipan untuk istri Bon dan berlalu dengan cepat. Bon memperhatikannya sebentar lalu mengambil sebuah senjata tajam berukuran sedang dalam laci nakas di sebelah tempat tidurnya. Tanpa berfikir panjang Bon berlari ke halaman belakang dan berdiri di ujungnya. Menatap nanar ke bawah dari lantai lima tempatnya berada saat ini. Senjata tajam itu dia hujamkan keras ke arah perutnya sendiri. Tanpa pikir panjang ia pun lalu melompat dari lantai lima. Bon jatuh dengan luka menganga di perutnya. Tidak tahu bagaimana dengan nasib sekujur tubuhnya yang lain. Siapapun yang melihatnya tidak akan mampu mengenali sosoknya. Wajah dan tubuhnya sudah tidak sempurna lagi. Kenyataan pahit telah mengoyaknya tanpa perasaan. Beban tanggung jawab besar yang harus ia pikul telah ia tunaikan. Tidak ada lagi seseorang yang sering di panggil dengan nama Bon. Tidak ada lagi sosok Bon yang selama ini adalah seorang manusia biasa, sosok seorang ayah dari seorang bocah kecil yang adalah buah cintanya dengan sang istri. Tidak ada lagi senyum di wajahnya yang selama ini menghiasi kehidupannya bersama keluarga kecilnya. Semuanya telah lenyap seketika. Bon telah kehilangan ruh pengisi raganya. Perjuangan hidup seorang Bon telah diputuskan untuk usai. Perjalanannya sudah berakhir. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD