Hari ini Nicko sudah diperbolehkan pulang setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu saja kabar itu di sambut dengan gembira oleh Nicko maupun Riska.
Mereka segera berkemas dan memanggil taksi online untuk mengantar pulang. Namun belum juga Riska memencet tombol pesan tiba-tiba ponselnya berbunyi menampilkan nama ayahnya di layar.
"Yes pap?" Riska menjawab panggilan dengan ceria seolah sudah menunggu ayahnya menghubungi.
"Nicko sudah boleh pulang. Tunggu di rumah sakit, kalian pulang bersama beberapa rekan papa," jelas Hendrawan.
"Loh, aku mau pesen taksi online pa.. Nggak usah dijemput," tolak Riska, karena memang ia baru saja memesannya.
"Riska.., diluar sana masih berbahaya. Bagaimana kalau misal kalian di hadang waktu di jalan..? Masmu itu baru saja sembuh, masa mau kau suruh berkelahi lagi?" jelas Hendrawan sabar.
Sengaja membahasakan mas kepada Riska karena keluarga mereka berasal dari Jawa Timur. Asli wong Jowo biarpun Nicko adalah keturunan Belanda, tapi tetap saja, kebiasaan dan tradisi hidupnya masih mengikuti adat istiadat Jawa.
"Eum ya udah deh pa. Aku batalin aja taksinya." Riska membuka kembali aplikasi ojek online lalu memeriksa pesanannya dan membatalkan pesanan setelah sebelumnya meminta maaf pada sang driver. Sejujurnya ia sangat tidak enak jika harus membatalkan pesanan, tapi mau bagaimana lagi, kondisinya masih tidak memungkinkan.
"Oke. Kamu tunggu saja di ruangan Nicko. Mereka akan menjemputmu disana." titah Hendrawan yang tidak bisa menjemput mereka pulang di karenakan sedang bertugas ke luar kota.
Beberapa saat pun telah berlalu namun jemputan yang ditunggu-tunggu belum juga tiba membuat keduanya seketika resah dan gelisah.
Riska mondar mandir keluar masuk pintu melihat kalau-kalau ada anak buah papanya yang datang. Sementara Nicko hanya diam memperhatikan Riska. Namun hingga kini pun orang yang mereka tunggu masih saja belum terlihat.
"Mas, kita tunggu di lobby aja gimana?" tawar Riska tidak sabar.
"Disini saja ris. Papa tadi bilang gitu kan? Takutnya ntar orang suruhan papa bingung kalau kita nggak ada disini," balas Nicko dengan jawaban yang masuk akal, membuat Riska terdiam memikirkannya.
Riska hanya berdecak kesal setelahnya. Raut wajahnya berubah muram karena sudah bosan berlama-lama di ruangan itu.
"Kalau gitu diluar aja deh, di bangku tunggu." ucap Riska memohon. Sepertinya dia sudah tidak mampu menahan rasa bosannya di dalam kamar.
Melihat raut muka Riska yang kesal Nicko pun luluh dan akhirnya menuruti kemauan Riska.
"Udah. Duduk yang tenang disini. Jangan mondar mandir aku pusing melihatnya." ujar Nicko sesaat setelah mereka duduk di depan kamarnya. Kedua tangannya sibuk mengatur barang bawaan di samping bangku duduk.
Riska tersenyum sembari membantu Nicko. Sesekali gadis itu iseng menggoda Nicko dengan tujuan agar Nicko tersenyum atau tertawa, karena sejak tadi pria itu terlihat diam saja.
"Nicko..?" seorang laki-laki tiba-tiba datang menepuk pundak Nicko dari belakang.
Nicko terperangah menatap orang itu. Namun tiba-tiba Nicko terdiam, merasakan nyeri di kepalanya. Wajah yang tadinya cerah kini memucat. Kedua tangannya bergerak perlahan memegangi kepalanya.
Terlintas bayangan masa lalunya berkelebat begitu saja, berganti-ganti dan berurutan sampai akhirnya dia teringat tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.
Tubuh Nicko limbung. Nyeri yang sangat hebat melanda kepalanya. Tidak di dengarnya suara teriakan dua orang yang ada di dekatnya. Pada akhirnya tubuhnya pun ambruk begitu saja bertumpukan pada kedua lututnya. Kedua tangannya meremas erat di kedua sisi kepalanya.
"Mas! Dokter, dokter..tolong!" Riska berteriak panik.
Pemuda yang berdiri di sebelahnya dengan sigap mengangkat tubuh Nicko dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Riska berlari mencari dokter.
"Ach! Kepalaku.." Nicko meringkuk di atas pembaringan sambil tetap meremas kepalanya kuat-kuat.
"Tenanglah Nick. Dokter akan segera kesini." ucap pemuda itu sambil menutupkan selimut ke badan Nicko. Menatapnya cemas.
"Tolong tunggu di luar, biar saya periksa kondisinya." Lukas datang bersama seorang perawat di sampingnya.
Riska dan pria itu beranjak keluar lalu duduk dengan gelisah. Terpancar jelas rona kecemasan pada raut muka pemuda itu.
"Kamu siapa?" tanya Riska pelan sambil menatap pemuda itu.
"Aku teman Nicko. Sahabatnya." jawabnya singkat. "Rangga." lanjutnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Riska.
"Oh.., Riska," Riska menyambutnya dengan ramah.
"Maaf, aku sudah membuatnya terkejut sampai sakit kepala seperti itu," sesal Rangga.
"Tidak masalah. Kondisi mas Nicko memang begitu. Beberapa bulan yang lalu dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya yang membuatnya shock dan sempat ingin bunuh diri dengan membenturkan kepalanya. Hasilnya seperti ini, mas Nicko kehilangan beberapa memory terutama ingatan yang menyakitkan," jelas Riska panjang lebar.
"Iya. Aku melihat kabar om dan tante di televisi waktu itu. Tapi aku belum bisa mengunjungi Nicko karena masih di Batam," lirihnya dengan rona muka sedih.
"Kalian teman satu sekolah?"
"Dulunya iya. Tapi saat kenaikan kelas tiga aku mendadak pindah ke Singapura karena ayahku berpindah tugas disana."
Riska mengangguk mendengar cerita Rangga. Mereka pun kembali terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing
Pintu kamar terbuka dari dalam. Dokter Lukas keluar bersama perawat dan menatap Riska dengan tersenyum.
"Tidak ada masalah yang berarti. Dan sepertinya ingatan Nicko perlahan sudah pulih." jelas Lukas.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu dok. Terima kasih." Riska sampai melompat kegirangan mendengar kabar baik itu.
"Tapi ingat, jangan terlalu dipaksakan untuk mengingat semuanya. Biarkan mengalir begitu saja. Karena kondisi fisiknya masih lemah."
"Baik dok. Saya akan mengawasinya." Riska mengangguk sopan.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu. Sudah boleh pulang ya.. Banyak istirahat di rumah." ucapnya sembari melenggang pergi dari tempat itu.
Riska tersenyum bahagia dan langsung menghambur masuk memeluk Nicko yang duduk di pinggiran tempat tidur. Nicko tersenyum menyambutnya.
Rangga mengikuti di belakang Riska. Menatap Nicko ragu dan melangkahkan kakinya mendekati mereka.
"Hai bro! Bagaimana kabarmu? Curang kamu pergi ga bilang-bilang. Tiba-tiba pindah aja jauh ke Singapura." sambut Nicko sambil menatap rindu sahabatnya.
"Aku baik bro. Maaf aku tadi mengejutkanmu," sesal Rangga.
"Ah tidak masalah, kepalaku memang sudah nyeri sebelumnya," jawab Nicko sembari tersenyum.
Nicko melepaskan pelukan Riska dengan lembut lalu menghampiri Rangga, memeluknya dengan erat.
Rangga tersenyum lega dan membalas pelukan Nicko. Sementara Riska kembali duduk di luar.
"Oh iya, kamu kesini ngapain, ada yang sakit? Om dan tante gimana kabarnya?" berondong Nicko membuat Rangga pun tertawa mendengarnya.
"Papa mama baik. Mereka masih di Singapura. Aku mau menjenguk kakakku yang abis lahiran dan kebetulan melihatmu."
"Kak Hesti lahiran..?Kapan nikahnya?"
"Tiga bulan setelah kami pindah ke Singapura." jawab Rangga sambil tersenyum.
Merekapun saling bercerita melepas rindu. Rangga adalah teman dekat Nicko, sahabat terbaik yang selalu membantu dan menemani Nicko di saat-saat yang sulit.
Sementara itu Riska berkali-kali melihat arlojinya. Sudah hampir satu jam orang suruhan ayahnya masih belum juga datang menjemput. Riska menghembuskan nafas kesal.
Akhirnya dia pun mengambil ponsel dan menghubungi ayahnya namun tidak tersambung. Riska berdecak semakin kesal.
"Benar ini ruangan tempat pasien atas nama Tuan Nicko?"
Tiba-tiba seorang pria tinggi, bertubuh tegap mendatanginya dan menanyakan tentang Nicko. Pria itu memakai jaket kulit hitam, celana kain berwarna coklat, memakai topi hitam dan masker yang menutupi bagian bawah wajahnya.
Pria itu datang sendirian. Riska yang mengira pria itu adalah suruhan ayahnya langsung mengiyakan dan mengajaknya masuk.
"Mas, dia sudah datang. Ayo lekas berkemas dan pulang biar bisa lanjut istirahat di rumah."
"Oh.., baiklah. Rangga, lanjut di rumah saja ya ngobrolnya. Kami sudah di jemput." Nicko tersenyum dan kembali memeluk Rangga.
"Oke. Kalau kak Hesti sudah bisa ditinggal nanti aku ke rumahmu."
"Baiklah. Kami pergi dulu ya.." Riska langsung memotong dan menggamit lengan Nicko mengajaknya segera pulang. Kalau mereka di biarin ngobrol terus bakal setahun ga kelar. Batin Riska.
Pria itu hanya diam menatap mereka bertiga. Namun saat Nicko dan Riska berjalan melewatinya diapun akhirnya mengikuti. Rangga mengekor di belakangnya.
Saat berada di persimpangan koridor rumah sakit Rangga berpamitan dan langsung berbelok ke arah yang berbeda sementara Nicko, Riska dan pria itu tetap berjalan ke arah pintu keluar.
"Kalian tunggu di depan lobby. Saya ambil mobil dulu," titah pria itu dengan suaranya yang berat.
"Iya pak," jawab Riska singkat.
Nicko memandang kepergian pria itu. Jauh di sudut hatinya sedikit curiga dengan penampilannya. Biarpun perawakan pria itu mirip anggota polisi namun entah kenapa hati Nicko sangsi.
Dan lagi sejak awal pria itu lebih banyak diam dan terkesan menutupi wajahnya agar tidak di kenali. Nicko paham memang dalam kondisi tertentu ada kalanya mereka menutupi identitas. Tapi biasanya tidak seperti ini.
Tak lama kemudian pria itu datang mengendarai mobil dan melajukannya pelan, saat tiba di depan lobby mobil itu menepi, dia hanya diam dan menunggu tanpa bicara. Sesekali matanya melirik spion dan menoleh ke belakang.
Nicko diam memperhatikannya sekilas. Dia pun segera memasukkan semua bawaan ke dalam bagasi. Riska cuek dan masuk ke dalam mobil. Setelah selesai Nicko menyusul Riska duduk di belakang
Pria itu langsung melajukan mobilnya dengan cepat seolah ingin agar cepat pergi dari rumah sakit itu. Nicko semakin curiga dan ikut melihat ke arah belakang. "Tidak ada apa-apa," batinnya.
Nicko pelan-pelan mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor kontak Hendrawan. Menulis sesuatu pada pesan lalu menekan tombol panggilan. Tanpa mematikan panggilan, ponsel itu di masukkan ke dalam saku bajunya.
Terdengar sangat pelan jawaban dari Hendrawan. Berhalo-halo lalu kemudian diam saat mendengar Nicko berdehem. Deheman kode seperti yang biasa mereka lakukan saat sedang berlatih kepekaan di rumah.
"Pak, maaf, siapa nama Anda? Dan siapa yang memerintahkan untuk menjemput kami..?" tanya Nicko hati-hati.
Riska menatap Nicko di sebelahya dengan heran. "Bukannya sudah tahu kalau papa yang mengirimnya?" batin Riska.
Pria itu diam saja seperti tidak mendengar pertanyaan Nicko.
"Pak! Anda tidak mendengar saya?" tanya Nicko lebih keras.
Pria itu tetap diam lalu tiba-tiba melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju arah yang berbeda dan sangat jauh dari rumah Riska.
"Stop!! Anda siapa sebenarnya? Dan ini bukan jalan ke rumah kami." teriak Nicko panik saat melihat wajah Riska memucat, ketakutan.
"Diam! Jangan berisik!" teriak pria itu tak kalah keras dengan suara Nicko.
Tiba-tiba terdengar letusan yang sangat keras, hingga mengejutkan semua orang.