DOOOORRR!
Terdengar suara tembakan dari arah belakang. Pria itu tetap bergeming dan semakin melajukan mobilnya dengan kencang. Riska berteriak ngeri.
Nicko melihat ke belakang. Tembakan itu berasal dari mobil polisi. Seorang petugas mengacungkan pistol ke udara dan berbicara dengan pengeras suara meminta pria misterius itu untuk menghentikan mobilnya.
Nicko bergerak mendekati pria itu dan berteriak keras di telinganya.
"Berhenti! Mereka bilang berhenti! Kau dengar tidak?" gertak Nicko memberanikan diri.
Namun pria itu tetap mengacuhkan teriakan Nicko. Nicko semakin gusar. Ia pun kini berusaha untuk menghalangi pandangan mata pria misterius itu dan berharap pria itu segera, menghentikan mobilnya.
Di sisi lain, sebelumnya, Hendrawan yang mendengar semua yang dialami Nicko dan Riska dari panggilan ponsel yang di lakukan Nicko, langsung waspada dan menghubungi beberapa anak buahnya untuk segera membantu tim penjemput Nicko dan Riska.
Hendrawan mendapat laporan bahwa tim penjemput tidak menemukan Nicko dan Riska di rumah sakit. Dari informasi petugas keamanan mereka sudah di jemput seseorang. Saat melihat rekaman cctv mereka mencatat nomor plat mobil penjemputnya.
Akhirnya mereka bergerak untuk mengejar dan terjadilah tembakan peringatan itu yang kini berbuah tindakan nekat Nicko untuk melawan pria itu meskipun kenyataannya begitu sulit.
Nicko melompati sandaran kursi di depannya lalu duduk di sebelah pria itu. Kakinya berusaha menginjak rem. Namun dihalangi oleh pria itu. Perkelahian pun terjadi. Mobil melaju cepat dengan gerakan zig zag, seolah kehilangan arah.
Riska yang khawatir dengan Nicko yang baru pulih, segera melepas jaketnya dan melilitkan ke leher pria itu lalu ia tarik ke belakang dengan sedikit keras.
Pria itu kesulitan bernapas. Kedua tangannya bergerak menarik jaket yang melilit lehernya. Melihat hal itu Nicko segera memegang setir, mengurangi kecepatan dan menginjak rem dengan susah payah. Namun selalu di halangi oleh kaki pria itu.
Pada akhirnya Nicko membanting setir ke kiri. Mobil menabrak pembatas di sisi kiri jalan membuat mobil itu sedikit berputar berbalik arah dan hampir terbalik lalu berhenti. Pegangan Riska pada jaketnya terlepas. Tubuhnya terpelanting menabrak pintu di sisi kanannya lalu diam tak bergerak.
Nicko terjatuh menindih tubuh pria itu. Mereka sedikit bergulat berebut kemudi. Polisi datang bersama beberapa pengguna jalan yang melihat hal itu dan berusaha untuk membuka pintu mobil secara paksa. Sementara Nicko masih bergulat dengan pria itu di dalam. Nicko sudah terlihat lemah.
Usaha mereka berhasil. Pria itu di tangkap dan segera di interogasi di kantor polisi. Nicko selamat dan Riska yang sedang pingsan segera di larikan ke rumah sakit kepolisian.
***
Raungan sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Sementara banyak orang berkerumun mengelilingi sesuatu di belakang sebuah bangunan gedung hotel bertingkat lima yang terbengkalai.
Beberapa dari mereka ada yang berlari menjauh dengan berteriak histeris. Dan yang lain segera mengabadikan situasi tersebut dengan kamera ponsel.
Saat polisi datang kerumunan tersebut sedikit melonggar, membuka jalan untuk para petugas autopsi dan penyidik. Satu diantara mereka adalah Tomi, anak buah kepercayaan Hendrawan.
"Semuanya mohon menjauh. Kami akan memeriksa seluruh tempat ini. Tolong jangan menyentuh apapun," perintah Tomi dengan memakai pengeras suara.
Saat kerumunan di minta untuk menjauh, terlihat sesosok mayat seorang pria yang terbujur kaku dengan luka di perutnya. Kepala dan wajahnya terluka namun masih bisa dikenali.
Para petugas segera mengambil gambar di TKP dan membuat catatan. Sementara yang lain menyisir seluruh wilayah di sekitar mayat berada. Tak terkecuali seluruh ruang di sepanjang garis lurus tempat mayat berada.
Polisi menemukan sebuah kamar yang terawat dengan sebuah tempat tidur beserta nakas dan satu meja di ujungnya. Terlihat masih baru terpakai.
Sementara kondisi mayat terindikasi bunuh diri dengan luka menganga di perutnya. Di perkirakan sudah sekitar dua jam yang lalu, dengan menjatuhkan diri dari roof top lantai lima setelah menikam perutnya sendiri dengan sebilah belati yang ditemukan tidak jauh dari tubuhnya.
Tidak di temukan data diri korban. Hanya beberapa stel pakaian dan sisa makanan yang tertinggal di kamarnya.
Hendrawan mendapat laporan lengkap dari Tomi dan meminta gambar korban. Setelah di teliti sepertinya ciri-cirinya sama dengan yang di lihat oleh Nicko pada saat teror bom di rumahnya.
Hendrawan menghubungi Nicko yang saat itu berada di rumah sakit kepolisian, untuk memastikan. Nicko sedang menunggu Riska sadar dari pingsannya. Hendrawan mengirim foto korban melalui pesan di aplikasi hijau.
"Apa ciri-cirinya sama dengan orang yang di dalam sketsa papa?" tanya Hendrawan.
"Betul sekali pa. Memang dia orangnya," jawab Nicko.
"Oke. Papa segera konfirmasi kantor pusat. Bagaimana kondisi Riska?"
"Riska baik pa. Cuma shock aja karena tadi orang itu ngebut dan terkejut saat ada suara tembakan dari polisi."
"Hmm.. Kamu jaga Riska dulu. Papa akan urus laporannya. Nanti sore papa pulang."
"Baik pa."
"Oke. Kamu pulang ke asrama Mahesa 1 dulu. Nanti ada petugas yang mengantarmu dan Riska ke sana. Ada beberapa petugas juga yang berjaga. Usahakan kalian tetap di dalam."
"Sepertinya orang ini ada kaitannya dengan mayat itu," gumam Nicko pelan namun tetap di dengar oleh Hendrawan.
"Mungkin saja. Sudahlah biar papa urus semuanya. Kalian jaga diri baik-baik," titah Hendrawan.
Pembicaraan pun selesai. Hendrawan segera menghubungi semua rekannya yang bertugas bersama dirinya di kota itu dan meminta ijin untuk kembali ke kantor pusat menangani masalah mayat tanpa identitas.
Sementara Riska sudah mulai tersadar dari pingsannya. Nicko mendapat beberapa pengarahan dan segera mengemasi barang bawaannya untuk di angkut di mobil kepolisian yang akan mengantar mereka ke asrama Mahesa 1.
***
"Boss, Bon sudah tidak ada. Dia sudah menyelesaikan tugasnya tanpa meninggalkan bukti."
"Kamu yakin?"
"Yakin bos. Kami ada di antara kerumunan dan melihat sendiri para polisi itu tidak mendapatkan bukti apapun. Mayat Bon sudah di evakuasi."
"Bagus. Tapi jangan santai dulu. Awasi lokasi tempat tinggal Bon. Berjagalah jangan sampai mereka mengorek keterangan dari beberapa orang kita disana."
"Siap."
"Bagaimana dengan Mus? Apa dia berhasil membawa anak-anak polisi itu?"
"Gagal bos. Mus saat ini sedang di interogasi di kantor polisi. Dua anak itu pun sudah di amankan."
"Bodoh! Begitu saja tidak bisa. Dasar tidak becus!! Lekas hancurkan mobil Mus. Jangan sampai ada bukti yang mereka temukan!"
"Tapi bos, mobilnya di jaga banyak polisi," jawab anak buahnya ragu dan takut-takut. Ia tidak berani menatap wajah pimpinannya itu.
"Jangan bodoh. Alihkan perhatian mereka dan segera bawa pergi mobilnya!" balas sang bos dengan jengkel. Ia begitu kesal karena anak buahnya itu terlihat begitu lambat berpikir.
"Baik bos."
Mereka pun segera menjalankan tugasnya.
***
HENTIKAN PENYELIDIKAN ATAU NYAWA ANAK-ANAKMU MATI!
Hendrawan terkejut saat menerima pesan ancaman dari nomor tidak di kenal. Berkali - kali Hendrawan berusaha menelepon si pengirim pesan selalu gagal.
"Siapa kau? Dasar pengecut!" jawab Hendrawan membalas pesan itu.
Pesan tidak terbalas dalam waktu yang agak lama. Hendrawan berdecak kesal dan segera berkemas untuk segera kembali ke kantor pusat dan hendak mengunjungi anak - anaknya.
BODOH!! JANGAN MEMANCING EMOSI ATAU MEREKA KAMI CULIK. BUKANKAH MEREKA DI ASRAMA ITU ? HAHHAA.. TUNGGU MAYAT MEREKA DALAM WAKTU DUA JAM KE DEPAN.
JIKA KAU BERJANJI UNTUK MENGHENTIKAN PENYELIDIKAN MAKA MEREKA SELAMAT.