Pesan Terakhir?

1128 Words
"Sial! Mereka memata-matai Nicko dan Riska," seru Hendrawan kesal sesaat setelah membaca pesan yang berisi ancaman dari nomor tidak di kenal. "Jangan-jangan justru ada mata-mata dari orangku, Ck! Aku harus cepat sampai kesana," gumam Hendrawan cemas. Ia lalu mencari nomor kontak seseorang yang ia kenal untuk membantunya. Hendrawan segera menyimpan nomor asing itu dan mengirimkan kepada seseorang untuk di selidiki pemiliknya. Meskipun mungkin sangat sulit, mengingat bisa saja pemiliknya menggunakan data kependudukan palsu atau memakai data milik orang lain. *** Beberapa waktu kemudian. "Kita pulang ke asrama." jelas Nicko singkat setelah Riska siuman dari pingsannya. "Kenapa kesana?" Riska terlihat kebingungan. "Kondisinya masih belum aman. Ada yang mengincar keselamatanku. Atau mungkin juga kita," jelas Nicko dengan suara pelan seolah takut ada yang ikut mendengarkan. "Kenapa sih mas, apa papa dan kamu punya musuh?" tanya Riska polos. "Entahlah. Papa kan polisi dan sering menangani kasus-kasus besar. Mungkin ada di antara mereka yang dendam sama papa," jawab Nicko pelan sembari bersiap untuk pergi ke asrama. Tetapi mereka masih menunggu petugas yang sudah di tentukan. Riska menghela nafas kesal lalu menatap penuh protes ke arah Nicko. "Aku bosan kalau kayak gini terus. Harus sembunyi kesana, kemari. Capek," keluhnya. "Ris.., papa sudah pernah berpesan bukan, resiko pekerjaan papa itu besar. Bahkan kita harus siap sewaktu-waktu kalau misal papa sampai gugur saat bertugas," lirih Nicko sembari merengkuh pundak Riska. Memberi kekuatan. Riska pun menangis, entah apa yang ada di dalam benaknya saat itu. "Jangan bicara seperti itu dong mas," protes Riska. Seketika ia merasa sedih saat mendengarnya. Nicko menyadari kesalahannya lalu dengan cepat meminta maaf walaupun tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan fakta yang sebenarnya pada Riska agar mereka berdua siap dengan hal buruk yang terjadi sewaktu-waktu. Kalau boleh jujur Riska ingin sekali rasanya bilang ke papanya kalau lebih baik berhenti saja dari pekerjaannya. Namun hatinya enggan untuk mengatakannya karena melihat Hendrawan yang begitu mencintai pekerjaannya. Riska tidak tega jika akhirnya ayahnya itu menuruti kemauannya karena terpaksa dan berujung penyesalan atau kesedihan. Tidak, ia tidak bisa melakukannya. "Mari silahkan. Kita berangkat sekarang." seorang petugas datang untuk menjemput Nicko dan Riska. "Baik pak." *** "Mereka sebentar lagi dalam perjalanan ke asrama bos. Apa selanjutnya?" Seorang pria yang selalu berdiri di seberang jalan kantor polisi terlihat sedang melapor melalui panggilan ponselnya. Penampilannya lusuh, sementara di dekatnya selalu ada motor yang di parkir. Seolah olah dirinya adalah tukang ojek. Tentu saja wajahnya memakai jambang dan kumis palsu. "Ikuti saja dulu. Perhatikan baik-baik dimana tempat mereka dan jam-jam berkunjung." "Siap bos!" "Sam, satu lagi, jangan gegabah. Tunggu aba - aba sebelum bertindak!" lanjut sang bos. "Oke bos!" Pria yang di panggil Sam itu pun segera menyimpan ponselnya dan bersiap untuk mengikuti rombongan. Terlihat rombongan yang menghantar Nicko bergerak meninggalkan tempat. Pria itu memastikan jika Nicko dan Riska ada di dalamnya. Setelah merasa yakin akhirnya dia pun mengikuti mereka dengan perlahan, tentu saja dengan jarak yang agak berjauhan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Baru saja mereka hilang dari pandangan terlihat Hendrawan datang dengan tergesa-gesa. Memarkir mobilnya begitu saja di pinggir jalan raya dan segera berlari masuk. "Apakah mereka sudah pergi ke asrama?" Seorang petugas yang berjaga terkejut dengan kedatangannya dan langsung berdiri memberi hormat. "Siap pak! Mereka baru saja berangkat sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu." jawabnya tegas sembari melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. "Berapa anggota yang ikut?" cecar Hendrawan. "Siap! Dua petugas di mobil dan delapan petugas masing-masing dua orang menggunakan motor, mengikuti di belakang." jawab petugas itu dengan penuh keyakinan. "Oke. Terima kasih." "Siap!" Hendrawan kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas mengejar rombongan Nicko dan Riska. Ditengah perjalanan terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Tanpa menepikan mobil Hendrawan langsung membuka pesan itu. "BAGAIMANA? CUKUP WAKTUNYA UNTUK BERFIKIR? JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU. AKU BISA SAJA SAAT INI JUGA MELENYAPKAN MEREKA YANG SUDAH HAMPIR SAMPAI DI ASRAMA!" "Kurang ajar!" desisnya setelah membaca pesan itu." Langkahi dulu mayatku sebelum menyentuh mereka," geramnya. Ia pun lalu menambah laju mobil kesayangannya itu dengan perasaan was-was. Rombongan Nicko dan Riska sudah hampir memasuki gerbang asrama ketika tiba-tiba segerombolan orang memakai penutup kepala datang dan melempari mobil itu dengan batu. Beberapa orang di antaranya menghadang dan berdiri di tengah-tengah pintu gerbang. Asrama sedang sepi. Hanya terlihat sekitar lima orang saja yang berjaga. Karena masih bertugas mengirim paket bantuan ke korban bencana alam. Sore hari mereka pulang dan kembali bertugas. Petugas dalam rombongan yang mengendarai motor segera merangsek ke arah pintu gerbang dan mengusir gerombolan orang tak di kenal itu. "Kalian diam disini saja jangan keluar," titah sang sopir pemimpin rombongan yang menghantar Nicko dan Riska. Dia dan juga rekannya segera keluar dari mobil dan ikut melerai keributan sembari kedua tangannya menutup kepala menghindari lemparan batu. Sam yang berada di belakang rombongan bersembunyi. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah gerombolan itu termasuk anggotanya atau bukan. Seorang diantara gerombolan itu berteriak memberi aba-aba untuk maju. Sam yang merasa itu adalah aba-aba yang di maksud oleh bosnya pun segera ikut maju dan ikut menyerang asrama. Namun dia tak memperhatikan bahwa penampilannya berbeda dari yang lain. Dirinya hanya memakai masker dan topi tanpa menutup kepala dengan penuh seperti yang lain. Nicko melihat Sam. Karena hanya dia yang berbeda. Sedangkan Riska hanya meringkuk bersembunyi, ketakutan. "Hentikan!" DOORRR! Tembakan peringatan di bunyikan. Terlihat Hendrawan keluar dari dalam mobilnya dan segera mendekati mobil Nicko dan Riska. "Nicko, kamu bisa menyetir bukan? Cepat bawa Riska ke kantor pusat. Papa akan tangani keributan ini. Di sini sudah tidak aman." Nicko hendak bertanya namun diurungkannya melihat kondisi yang semakin semrawut akibat ulah gerombolan itu. Dia hanya mengangguk dan segera berpindah ke kursi depan. "Papa titip Riska. Jaga dia baik-baik. Ada catatan di meja dan brankas papa. Jaga itu juga. Suatu saat kamu akan paham. Maafkan papa tidak bisa menemani kalian," ucap Hendrawan dengan mata yang berkaca - kaca. Seolah itu adalah pesan terakhir. Nicko dan Riska sama-sama tercekat mendengar hal itu. "Papa mau kemana?" teriak Riska cemas. Bulir air matanya jatuh tak terbendung. Entahlah hatinya merasa sangat sedih saat itu. Begitu juga dengan Nicko. Hendrawan tidak menjawab hanya memandang Riska dan Nicko bergantian dengan tatapan sedih. "Cepat pergi sebelum kondisi semakin kacau. Nicko kamu harus hati-hati. Papa sudah sampaikan ke rekan papa untuk menjaga kalian di kantor pusat." "Iya pa. Papa hati-hati ya!" teriak Nicko sembari melajukan mobilnya menjauhi kekacauan. "Nicko!" teriak Hendrawan sambil berlari menyusul. "Tugas Berat! Ingat kata itu baik-baik!" ujarnya kemudian saat sudah di dekat Nicko. Riska yang tak kuasa menahan sedihnya langsung saja membuka jendela lebar-lebar dan melingkarkan tangannya ke leher Hendrawan. "Riska sayang papa," lirih gadis itu. "Papa juga nak. Jaga diri baik-baik ya. Papa minta maaf." Hendrawan segera melepas tangan Riska dan meminta Nicko untuk segera pergi. Sepanjang perjalanan Nicko tak henti bertanya-tanya. Hatinya merasa sedih seolah akan kehilangan. Air matanya luruh saat melihat Riska yang menangis tersedu-sedu. Bukankah kami hanya berpisah sesaat? Kenapa kami merasa begitu sedih begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD