Pengejaran

1036 Words
Penyerangan di asrama sudah bisa teratasi, secara perlahan semua anggota gerombolan penyerang di tangkap satu persatu. Sam kebingungan saat yang ada bersamanya hanya tertinggal lima orang saja. Sam berfikir cepat mencari celah untuk dia bisa melarikan diri. Sedari awal Hendrawan yang sudah melihat Sam hanya diam saja memperhatikannya. Kedua matanya memberi isyarat ke salah satu anggotanya untuk mengikuti pergerakan Sam. Sementara dirinya segera membereskan masalah dengan anggota gerombolan yang lain. Sam berlari cepat melewati lorong di samping asrama lalu melompati pagar. Seorang polisi terlihat mengejarnya namun tertinggal karena gerakan Sam sangat cepat. Hendrawan melihat hal itu dan segera berlari mengambil motor yang di parkir di depan asrama dan langsung tancap gas mengejar Sam. Tak lupa dia berteriak ke anggotanya meminta bantuan untuk segera mengikutinya. Mereka bergerak cepat. Anggota gerombolan yang ternyata adalah polisi yang menyamar segera berlari mengambil kendaraan yang ada dan segera menyusul Hendrawan. * Beberapa waktu sebelumnya. Hendrawan yang mendapat pesan ancaman segera menghubungi Tomi dan merencanakan sebuah strategi untuk menjebak si pengancam. Mereka memutuskan untuk melakukan penyerangan tipuan di asrama. Beberapa anggota di kerahkan dengan memakai baju yang sama plus penutup kepala dengan tujuan agar jika pengancam itu ada di sana pasti segera ketahuan jika dia ikut membaur saat penyerangan. Rencana di jalankan saat mobil sudah mendekati gerbang depan asrama. Dan betul saja saat penyerangan itu terjadi Nicko mengirim pesan padanya. Nicko merasa aneh dengan satu orang yang penampilannya berbeda. Saat tiba di depan asrama Hendrawan memastikan pesan dari Nicko dan melihat Sam ada diantara anak buahnya yang menyamar. Hendrawan mengirim pesan kepada Tomi dan memintanya menunggu di perempatan lampu merah karena yakin jika Sam pasti melarikan diri saat gerombolan berhasil di tangkap. Pada akhirnya terjadilah hal itu. Sam melarikan diri dan kini sedang di kejar oleh Hendrawan yang saat itu tidak memakai seragam dinas. Namun sudah membawa surat tugas lengkap dengan atribut kepolisian yang di simpannya di dalam tas pinggangnya. * "Lebih baik kalian berpencar. Jaga jarak denganku. Aku tidak ingin mereka curiga jika sedang di ikuti," perintah Hendrawan melalui ponsel dengan memakai ear piece di salah satu telinganya. "Siap!"salah seorang anggota menjawab perintahnya dan segera memberi intruksi kepada yang lain untuk menjalankan perintah Hendrawan. Hendrawan menghubungi Tomi melalui deteksi suara, tanpa memencet tombol pada layar ponsel. Karena sedang melajukan motornya dengan kencang. "Tom, lacak sinyal ponselku dan segera susul aku. Umpan sudah mengenai sasaran. Saat ini aku mengejarnya, semoga dia langsung menuju ke induknya," titahnya sembari tetap fokus menatap jalanan. "Siap pak!" Hendrawan terus mengikuti Sam. Sam yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang di ikuti siapapun akhirnya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tujuan utamanya saat itu adalah markas. Dia sudah siap dengan segala resikonya karena usahanya telah gagal dan banyak rekannya yang telah tertangkap polisi. Tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah polisi yang menyamar. Sam telah sampai di sebuah bangunan gedung yang tak terbengkalai. Di bagian tengah tingkat tiga gedung itu dari luar terlihat terawat. Karena di sana ada tangga darurat, berbentuk putaran memanjang. Tidak terlihat berkarat dan seperti sering di gunakan. Sam terlihat sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya. Kepalanya mendongak ke arah bangunan tingkat tiga yang terhubung dengan tangga darurat. Hendrawan menyembunyikan motornya di pagar seberang bangunan itu dan segera berlari mendekati Sam, bersembunyi di belakang tembok bangunan rusak. Tepat di samping kiri Sam. Sam menengok melihat ke sekeliling tempatnya berdiri dan mengangguk memastikan bahwa tidak ada seorang pun disana selain dirinya. Dia pun berjalan menaiki tangga darurat dan mengetuk pintu yang terbuat dari besi. Berbeda dengan pintu-pintu lain yang terbuat dari kayu. Seseorang membuka pintu untuk Sam dan membiarkannya sedikit terbuka. Hendrawan menunggu beberapa saat kemudian mengendap-endap menaiki tangga yang sudah di lewati Sam. Ia melangkah dengan hati-hati, takut jika menimbulkan suara dan memancing kecurigaan mereka. Saat berada di dekat pintu, Hendrawan tidak langsung masuk. Dirinya tetap diam berdiri sambil menajamkan telinganya mendengarkan pembicaraan dari dalam. "Penyerangan? Siapa yang menyuruhmu menyerang asrama?" Suara seorang pria terdengar bertanya dengan suara lantang seolah sedang menahan emosi. "Lho, bukannya bos yang memerintah? Saya tadi melihat aba-aba dari salah satu anggota kita dan langsung ikut menyerang bos." Jelas seseorang yang sepertinya dia adalah Sam. "Bodoh! Aku sama sekali belum memberi perintah. Bahkan aku menunggu kabar darimu apakah kau sudah sampai di asrama mengikuti mereka!" jelasnya sambil tetap berteriak, terdengar sangat marah dan kesal. "M-maaf bos. Saya kira mereka adalah bagian dari kita," sesal anak buahnya yang baru menyadari kesalahannya. "Maaf..maaf, enak saja kau ini! Bagaimana kalau itu jebakan, hah?" gusar sang bos. Sam tidak terdengar menjawab. Suasana menjadi sunyi seketika. Hendrawan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ada beberapa orang di dalam, tak lebih dari enam orang dan salah satunya adalah Sam yang sedang menunduk pasrah di hadapan seorang pria bertubuh tinggi, berambut gondrong dan berkulit sawo matang. Salah satu tangannya memegangi pinggiran meja dan satunya lagi memegang pipa rokok yang kini sedang di hisapnya dengan gusar. Sekilas Hendrawan menangkap sebuah tato di pergelangan tangan bagian dalam salah satu lengannya. Motif tato itu sama dengan yang di gambarkan dalam sketsa waktu itu, seperti yang dikatakan oleh Nicko. Pria itu terlihat begitu mendominasi keadaan dan sering menyuruh-nyuruh anak buahnya untuk mengambilkan minuman keras. Hendrawan langsung paham jika pria itu adalah bosnya. Mungkin dia yang mengirim pesan ancaman itu. Perlahan Hendrawan mengambil ponselnya dan mengambil gambar pria itu yang berdiri berhadapan dengan Sam. Melalui aplikasi pesan Hendrawan mengirim foto itu ke nomor Tomi. Setelah itu menyimpannya lalu membungkus ponselnya dengan saputangan miliknya setelah itu menyembunyikannya di suatu tempat di dekat pintu. "Jadi kau yang mengirimiku pesan dengan ancaman?" gumam Hendrawan pelan. Hendrawan lalu memutuskan untuk nekat, ia memberanikan diri masuk ke dalam dan menghampiri mereka. Seketika semua orang di tempat itu terkesiap dan melihat ke arah Hendrawan. Tidak menyangka bahwa ada orang lain yang mengetahui persembunyian mereka, terlebih dia adalah seorang polisi. Pria itu terlihat geram menatap Hendrawan dan berganti menatap Sam. Kedua matanya menatap nyalang. "Apa kau yang mengajaknya kesini, huh?" "Ti-tidak bos. Saya datang sendiri," jawab Sam semakin ketakutan. "Dia memang tidak mengajakku. Tapi aku berhasil mengikutinya," ujar Hendrawan santai. "Ada apa, kamu kecewa karena akhirnya tempat persembunyian mu kami temukan?" lanjut Hendrawan. Kedua matanya mengamati sekeliling ruangan itu dan mendapati satu kotak senjata yang di simpan di ujung ruangan. Tak urung dirinya pun menelan saliva. Semoga Tomi segera datang membantuku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD