Sayang sekali, aku tetap tak bisa melihat wajah pria itu. Ia menggunakan masker kain berwarna hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya, ditambah dengan kacamata hitam untuk menutupi lebam di matanya.
“Apa-apaan woy!” Ia segera menutupi wajahnya agar tak terlihat olehku. Aku tersenyum. Baru kali ini aku bertemu pria yang semalu-malu kucing begitu. Kelakuannya yang seperti itu imut juga.
“Kamu mengingatkanku pada anak kucing yang seelalu mengeong di kompleks rumahku. Menggemaskan sekali” aku terkekeh melihatnya.
Pria itu terlihat kesal lalu mengambil kembali buku IPA miliknya dari tanganku. Wajahnya sekilas terlihat memerah karena malu.
“Kok bisa menyamakanku dengan seekor anak kucing? Mananya yang mirip anak kucing? Aku ini asli manusia. Sudah ya, yang penting aku sudah kembalikan saputanganmu. Terimakasih. Bye!” Ucapnya sambil pergi menjauhiku.
Aku menggelengkan kepala, “Oh iya. Siapa namamu?” tanyaku dengan sedikit berteriak karena ia sudah hampir jauh dariku.
“Rian” Jawabnya tanpa menoleh. Langkahnya melesat cepat sambil menutup wajahnya dengan buku agar tidak dilihat orang-orang yang sedang lalu lalang. Itu bukannya menghindari perhatian dari orang-orang, ia justru menarik perhatian dengan sikapnya yang out of the box itu.
“Rian ya. Hmm? Aku enggak kenal yang namanya Rian dari kelas IPA dikehidupanku sebelumnya. Apa dia anak pindahan? Ya sudahlah, itu bukan urusanku” Aku memeriksa saputangan tadi, karena sepertinya sedikit aneh, Seingatku kemarin saputangan ini terkena darah, seharusnya tidak mudah dihapus apalagi dalam sehari.
Begitu ku perhatikan memang berbeda. Saputangan ini bukan milikku, ini serupa tapi tak sama. Saputanganku itu pemberian Papa sebagai oleh-oleh ketika ada agenda di Paris. Seingatku di ujung saputangan ini ada bekas coretan bolpoin karena dulu aku iseng. Nah di saputangan yang ku pegang ini benar-benar bersih seperti baru.
Ya, ini pasti saputangan baru. Padahal saputangan macam ini harganya cukup mahal. Apa mungkin dia menggantinya karena rasa bersalah? Ini berarti dia mungkin dari golongan orang ekonomi berada.
Tapi, apa peduliku? Dia bukan siapa-siapaku, dan ia tak pernah hadir dalam memoriku. Dia mungkin hanya sebagai figuran dalam film kehidupanku. Akupun kemudian kembali ke tujuan awal yaitu kantin sekolah.
Sesampainya di kantin, suasananya sangat ramai padat. Tentu saja karena ini waktunya istirahat pertama, jadi banyak siswa yang mendatangi kantin. Ada yang baru sarapan, ada pula yang hanya ngemil atau berbincang satu sama lain. Meskipun demikian, biasanya masih ada kursi yang kosong. Ku pandang sekeliling dengan seksama.
Ada! Meskipun cukup jauh dari pintu masuk, itu tidak masalah. Aku mendekati lokasi itu. Beberapa siswa menggodaku ketika aku melewati mereka, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku bahkan tidak mengenal mereka, beberapa diantaranya ada kakak tingkat juga.
Tiba-tiba terdengar sorak sorai para siswa dari posisi tengah kantin. Semua perhatian pun tertuju kesana, termasuk aku. Karena penasaran, aku coba mendekat. Ternyata karena Radit, ia sekali lagi mencoba menembak Milia untuk jadi pacarnya.
Selama ini, Radit sudah ditolak secara halus kesekian kalinya. Mungkin bisa dikata sesuai pepatah bahwa cinta memang buta. Ia memang pantang menyerah karena meyakini adanya cinta sejati. Sayangnya ia memilih Milia jadi target kekasih hatinya.
Andai saja Radit tahu sosok Milia yang sebenarnya, mungkin ia tidak akan melakukan hal memalukan yang sia-sia seperti itu. Aku menghela nafas panjang. Radit kini bahkan menyampaikan puisi romantis sambil berlutut sambil memegang serangkaian bunga mawar di hadapan Milia yang sedang dalam mode sok polos itu.
Wahai engkau sosok bidadari surgawi
Ku temukan engkau telah turun ke bumi pertiwi
Membangkitkan jiwaku yang lama mati suri
Menyuburkan benih cinta yang kini bersemi
Engkau yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi
Ijinkan aku untuk bisa selalu hadir mendampingi
Dan pilihlah diriku ini kekasih hati
Ya ampun! Apa dia tidak malu mengatakan puisi seperti itu di tempat umum? Dan coba lihat wajah Milia itu, meskipun ia menutupi wajahnya dengan tangan tapi dari samping terlihat bahwa ia tersenyum lebar. Itu ciri senyuman liciknya yang menandakan ia telah berhasil mendapatkan b***k baru.
Milia berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil rangkaian bunga dari tangan Radit. Radit terlihat sumringah. Tentu saja setelah sekian lama usahanya menembak Milia, tetapi selalu pupus harapan. Namun hari ini, entah kenapa ia seperti memiliki harapan yang sangat tinggi untuk diterima menjadi pacar Milia.
“Terimakasih atas bunga dan puisinya. Tapi jawabanku masih sama. Saat ini aku tak butuh pacar. Mungkin di lain kesempatan ya” Milia menepuk pundak Radit dengan lembut. Seketika Radit mengusap air matanya yang berlinang. Ya, meskipun ia sudah menduga hal ini pasti terjadi tetapi rasanya ditolak oleh yang terkasih tetaplah sakit.
Radit berdiri tegap, “Aku tak akan menyerah, Milia. Masih ada hari esok.” Radit melangkah pergi dari kantin, sedangkan teman-teman OSISnya mengelilinginya untuk berusaha menyemangati.
Milia menggelengkan kepala mungkin karena ia tak habis pikir si gendut itu keras kepala sekali dalam berusaha untuk jadi pacarnya. Tapi bagi Milia, kejadian itu bisa menambah popularitasnya di sekolah, jadi bukanlah sesuatu yang terlalu buruk. Apalagi orang yang menembaknya adalah seorang ketua OSIS. Siswa yang paling disegani seantero sekolah.
“Luna!” Milia memanggil namaku sambil melambaikan tangan.
Heh. Seluruh siswa melihat ke arahku. Rencana licik macam apa lagi yang ia pikirkan kali ini. Mungkin ia mau menyombongkan dirinya dihadapan para siswa yang masih memperhatikan situasi tadi. Aku tak mau ikut campur masalah ini. Menyusahkan saja.
Aku pura-pura tidak mendengarnya, kemudian berbalik badan menjauhinya. Namun sisi keras kepala Milia tidak membiarkanku melenggang pergi dengan mudahnya. Ia berlari ke arahku dan langsung menggandeng tanganku agar tidak pergi darinya. Baiklah, akan kuhadapi kamu kali ini, Milia.
“Kamu tidak mendengar panggilanku ya? Jahat sekali” Keluhnya. Semua orang masih memperhatikan kami.
“Ada apa?” tanyaku singkat.
“Aku mau memberimu serangkaian bunga mawar yang harum ini. Cantik sekali kan? Ini, Luna” Milia tersenyum sok polos sambil menyodorkan rangkaina bunga di tangannya padaku. Semua orang yang mendengarnya jadi terkejut.
Yang ditawarkan Milia saat ini merupakan hal tabu. Tidak sopan sekali. Bunga itu pemberian orang yang menyatakan cinta padanya bahkan dihadapan banyak orang. Lalu ia memberikannya padaku begitu saja? Ini juga bisa disalah artikan bahwa Milia ingin menjodohkanku ke Radit setelah mencampakkannya.
Semua orang di kantin mulai ricuh saling berbisik atas kelakuan kontroversi Milia itu. Inilah penyebab aku muak berada di dekatnya yang sedang menggunakan topeng sebagai sosok orang polos. Akupun menolak bunga itu dan melepaskan tangan Milia dari lenganku.
“Kalau menurutmu bunga itu cantik, kamu bisa memilikinya sendiri. Lagi pula bunga itu bermakna spesial dari seseorang kan, Milia?” Tentu saja raut wajah Milia berubah kesal, ia tidak suka ditolak. Ditambah ia memang sudah kesal padaku sejak semalam. Sesaat kemudian Milia kembali tersenyum.
“Tapi aku tidak membutuhkan bunga ini. Menurutku bunga ini cocok denganmu, Luna. Cantik meskipun berduri.” Milia masih bersikeras memberikan bunga itu padaku. Jika ini dikehidupan pertemaku, aku akan kesulitan menolak pemberian Milia apalagi di bawah tekanan banyak pandangan orang-orang di sekitar kami.
Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku padaku yang sudah menjalani kehidupan kedua. Trik semacam ini akan sering dilakukan oleh Milia untuk meningkatkan popularitasnya maupun untuk menjatuhkan pihak lain. Aku bahkan sampai terjebak beberapa kali di kehidupan pertamaku, bahkan hingga dikucilkan seantero sekolah
“Milia” Ucapku dengan penekanan, yang berarti tanda aku sedang serius. Ia langsung terkejut karena sikapku tidak seperti dulu yang selalu menuruti keinginannya. Kali ini aku harus menolaknya meskipun dia sudah berusaha keras bersandiwara seperti ini.
“Apa kamu pernah mendengar yang namanya KARMA? Ketika kamu berbuat baik, maka kebaikan akan mengikutimu pula. TAPI jika kamu berbuat BURUK, maka kamu akan mendapatkan hasil sesuai perbuatanmu itu.” Ku berikan beberapa penekanan agar orang-orang yang mendengarku memahami maksud ucapanku.
“Apa yang mau kamu katakan sebenarnya?” Tanya Milia yang kembali terlihat kesal meskipun masih menahan diri sambil tersenyum.
“Apa kamu mau, barang yang kamu berikan dengan tulus pada seseorang, ternyata justru diberikan pada orang lain? Itu bukan perilaku yang baik, Milia. DEWASALAH” Setelah puas menceramahi Milia, aku pergi meninggalkannya yang kini tak dapat menahan diri dan terlihat kesal. Ia melemparkan rangkaian bunga itu ke orang di sampingnya yang tidak ia kenal.
Seketika itu, para fans Milia segera saling berebut untuk bisa mendapatkan bunga yang telah disentuh olehnya. Setelah kejadian ini, beberapa fans Milia mungkin akan mulai membenciku tapi itu tidak penting. Mereka hanya pemain figuran dalam kehidupanku, bagai teri di lautan luas. Namun disana ada juga orang terlihat kagum dengan ketegasanku yang berani menasehati atas kesalahan Milia.
Aku tidak peduli, bendera perang antara aku dan Milia sudah berkibar sejak semalam. Di kehidupan keduaku ini, aku tak akan membiarkan Milia bertindak seenaknya. Aku yang sekarang bukanlah diriku yang bisa dimanipulasi dengan mudah. Jika ia berani menyerangku, jangan terkejut ketika aku justru melawan balik.
Aku memesan bakso ke ibu kantin langgananku. Kemudian aku duduk di kursi yang kosong sambil menunggu Danis. Beberapa lirikan tajam yang terasa dingin ditujukan padaku. Mungkin mereka bagian dari fans Milia. Aku tak mengenal mereka, dan aku tak peduli dengan ikan teri seperti mereka itu.
Beberapa saat kemudian, gerombolan sekaliber ikan hiu terlihat mendekat. Ini tak pernah terjadi dikehidupanku sebelumnya. Putri dan para dayangnya datang mendekati meja tempatku duduk. Ia lalu berhenti di seberang mejaku.
“Ehm!” salah seorang dayangnya berdehem dengan keras. Itu membuat orang-orang yang ada di mejaku pergi menjauh ketakutan. Itu hal yang wajar, tidak ada seorangpun di sekolah ini yang mau berurusan dengan Putri dan dayangnya.
Kasus terakhir siswa yang bermasalah dengannya, sampai dikeluarkan dari sekolah hanya karena siswa itu tak sengaja menumpahkan es krim coklat ke bajunya. Seketika Putri emosi, siswa tersebut dipukul hingga lebam, kemudian pihak sekolah bukannya melerai tapi justru mengeluarkan siswa itu. Kini tdak ada yang berani pada Putri.
Setelah mejaku sepi kecuali diriku sendiri, Putri duduk berhadapan denganku. Sedangkan para dayangnya duduk di samping. Aku tak tahu apa maksud dari si Pahit Lidah ini, tapi jika dia berani macam-macam denganku, aku tak akan segan melawannya. Putri memberikan kode dengan mengangkat tangannya, kemudian seorang dayangnya segera pergi memesan minuman untuk mereka.
“Ku dengar kamu itu kakak dari Milia” ucapnya singkat. Itu sesuatu yang random. Kami bahkan tidak pernah berbincang sebelumnya. Entah apa maksud pembicaraannya nanti, tapi sepertinya memang terkait Milia.
“Kami tidak memiliki hubungan darah, tapi memang sangat disayangkan, bahwa aku harus menyebutnya saudara” balasku sambil ku akhiri dengan menghela nafas panjang. Rasanya kesal juga, menyebut Milia sebagai saudara padahal kami di masa depan bahkan sudah seperti musuh bebuyutan.
“Oh. Sepertinya kalian tidak seakrab yang dibicarakan orang-orang. Ku dengar kamu bahkan sudah seperti Babysitternya Milia di sekolah” Ucapnya tanpa perasaan. Ya, memang benar bahwa selama ini aku sudah seperti babysitternya, kesana kemari membantu dan melindungi Milia.
Tapi kini aku bukan diriku di masa lampau, jadi aku akan berproses untuk melepaskan diri dari statusku selaku babysitternya Milia. Lagipula usianya saat ini dalam proses menuju dewasa, sudah sepantasnya ia mempertanggungjawabkan keputusan dan perilakunya sendiri.
“Sebenarnya itu masalah pribadi keluargaku. Apa ada masalah dengan hal itu?” Tanyaku. Yang membuatku penasaran, apa urusan Putri dengan Milia, sampai ia harus repot-repot mendekatiku seperti ini.
“Aku tidak suka adikmu itu. Ia seperti boneka tapi aku tahu hatinya bagai iblis. Mirip boneka Anabel di film horor.” ungkapnya.
Pfft. Mendengar hal itu, aku dan beberapa dayangnya spontan menahan tawa. Pernyataan itu menurutku juga tepat dalam menggambarkan Milia. Ia begitu cantik dan terlihat suci di permukaan, tetapi jiwanya sebenarnya iblis.
Berdasarkan kata-kata dari Putri, ini berarti ia tidak menyukai Milia sejak SMA. Tapi anehnya di kehidupan pertamaku, Putri sampai bertekuk lutut dan menjadi pengikut Milia di tahun terakhir kami saat kelas XI yang berarti dalam 4 bulan lagi.
Apakah mungkin terjadi situasi khusus hingga Putri berubah pikiran 180 derajat untuk menjadi “teman” dari Milia? Ini merupakan misteri yang mungkin perlu ku selidiki. Jika aku bisa melucuti pendukung utama Milia, maka ia akan menjadi lebih rentan untuk dilawan.
“Ya, begitulah dia. Tapi tidak semua orang bisa mengetahui sisinya yang seperti itu. Lihat saja fansnya tiap hari selalu bertambah” balasku.
“Itu benar. Aku juga kesal pada sikap para fansnya yang sudah seperti sekte aliran sesat itu” kata-kata Putri yang sudah terucap memang tidak bisa disensor. Padahal kami masih berada di sekolah, dimana tembokpun punya telinga. Ya, seperti inilah sosok Putri si Pahit Lidah yang ku kenal di kehidupan pertamaku. Bagi orang yang ia benci, ucapannya menyakitkan hati dan tak dapat dikontrol.
Beberapa fans Milia yang tak jauh dari meja kami sempat terlihat geram tapi tak berani berbuat apapun untuk membelanya. Tentu saja, itu karena meskipun mereka telah menjadi fans Milia garis keras, bukan berarti mereka akan mati-matian membelanya hingga resiko dikeluarkan dari sekolah.
“Aku tak bisa berbuat apapun mengenai hal itu. Itu pilihan mereka sendiri untuk menjadi fans Milia” Aku masih tak bisa menerawang sebenarnya apa yang diinginkan Putri dariku? Apa mungkin dia berencana menjatuhkan Milia dengan bantuanku? Tapi itu tidak mungkin. Milia hanya sebutir debu di mata Putri yang seorang bangsawan itu.
“Bantu aku menjatuhkan Milia. Dia harus sadar pada posisinya” Ucap Putri.
Eh. Apa Putri bisa membaca pikiranku? Perkembangan takdir macam apa ini? Ini tidak pernah terjadi dikehidupan pertamaku. Apakah ada butterfly effect karena perubahanku di masa ini?