Mama tidak bisa berbuat apapun untuk menyangkal pernyataan Papa. Ia hanya bisa meremas erat tissue di tangannya. Kemudian Mama memberikan kode tatapan tajam ke Kak Rizal di seberangnya. Ia yang selama ini netralpun jadi angkat bicara.
“Bisnis apa yang rencananya akan kamu investasikan, Na?” Tanya Kak Rizal. Kak Rizal merupakan mahasiswa jurusan Ekonomi Bisnis, jadi ia setidaknya mampu sedikit memahami tentang bisnis juga. Meskipun dari nilai kuliahnya, ia termasuk mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma) tiap semester.
Meskipun nilai di kuliahnya termasuk sangat buruk tapi keahlian Kak Rizal ada pada kemampuan negosiasi dan jaringan sosialnya yang luas. Ditambah parasnya yang termasuk di atas rata-rata, membuatnya cukup terkenal di kalangan wanita. Bila bukan karena masalah dengan wanita, aku yakin potensi Kak Rizal akan melejit di masa depan.
“Pernahkah mendengar tentang perusahaan Hanggoro Group?” Balasku dengan pertanyaan balik padanya.
“Hoo~ Perusahaan manufaktur kecil yang berfokus pada pakaian tradisional namun memiliki potensi pasar internasional ya. Bagus juga pilihanmu” Aku tidak terkejut jika Kak Rizal tahu tentang perusahaan kecil itu karena memang potensinya sangat besar di masa depan. Mama justru bengong, ia tak mengira putranya sendiri justru mendukung saudara tirinya.
“Sepertinya kamu sudah melakukan analisa pasar ya, Luna?” Tanya Papa yang terdengar bangga.
Aku mengangguk, “Sedikit. Luna masih tahap belajar melihat peluang pasar”
“Tapi ku dengar perusahaan itu diambang kebrangkrutan karena perselisihan internal setelah kepala keluarganya meninggal 6 bulan lalu. Apa itu tidak terlalu beresiko untuk investasi pertamamu?” Ungkap Kak Rizal. Ia sampai tahu sedetail itu, sepertinya Kak Rizal juga memiliki jalur informasi tentang targetku ini juga.
“Aku punya informan yang ku percaya. Berdasarkan margin pasar dan keuangan pada perusahaan tersebut yang masih bertahan meskipun diterjang masalah internal. Potensinya akan luar biasa di masa depan. Jadi, Kak Rizal tidak perlu mengkhawatirkanku” Papa dan Kak Rizal terlihat kagum dengan pernyataan dan sikapku yang penuh percaya diri.
Bagaimana tidak, aku sudah tahu bagaimana hasil akhir di masa depan. Perusahaan ini akan melejit dengan keuntungan milyaran hingga trilyunan dalam beberapa bulan nanti setelah pewaris sah menaiki kursi jabatan. Jika aku membeli sahamnya yang sedang anjlok sekarang, aku akan bisa menikmati hasilnya yang manis itu di masa depan..
“Tunggu! Bagaimana kamu bisa yakin kalau informanmu itu bisa dipercaya? Bagaimana kalau kamu melakukan kesalahan? 50 juta itu bukan jumlah yang sedikit” Kali ini nenek sihir ini mencoba merusak suasana. Tapi Papa dan Kak Rizal menghela nafas, kami yang bergerak di bidang bisnis memang harus berani mengambil resiko.
“Ya, begitulah yang namanya bisnis. Biarkan Luna mendapat pengalaman dari ini. Masalah modalnya, Papa masih ada tabungan. Mama tidak perlu khawatir.” Ungkap Papa membelaku.
“Aku juga akan coba percaya pada informanmu. Aku akan ikut menanamkan modal di perusahaan itu” Ucap Kak Rizal dengan senyuman seorang pebisnis. Ia seperti mampu melihat peluang, dan aku menjadi pemicunya untuk melangkah. Tidak masalah bagiku untuk menambah aliansi dengannya selama dia tidak menjadi musuhku.
“Hah~ Aku dari dulu memang tak paham bisnis. Terserah kalian saja. Aku selesai makan. Kepalaku pusing. Aku mau kembali ke kamar dahulu. Kalian lanjutkan saja obrolan kalian” Mama pergi ke kamar sambil memegang kepalanya. Ia bukan tipe orang yang bisa banyak berfikir. Ia hanya bisa menghabiskan uang dari Papa saja.
Berikutnya, kami bertiga melanjutkan perbincangan mengenai bisnis. Kini Papa melihatku bukan hanya sebagai remaja kelas 2 SMA tapi juga memiliki pemikiran dewasa layaknya mahasiswa kritis. Papa terlihat bangga, ditambah Kak Rizal yang baru pertama kali ini memperlihatkan potensinya dalam pemikiran bisnis.
Malam itu kami sudah mengeluarkan berbagai ide dan pemikiran terkait bisnis. Meskipun begitu, Papa masih belum mau menceritakan tentang kebangkrutan perusahaannya. Ya, mungkin masih belum saatnya. Mungkin nanti setelah aku berhasil dalam pertaruhan investasi ini. Ku harap, masa depan tidak banyak berubah, sehingga aku bisa memanfaatkan pengetahuanku.
Mentari pagi menyinari separuh kamarku, menyilaukan pandanganku hingga aku terbangun. Ternyata tidurku terlalu nyenyak, ini sudah pukul 06.30. Aku bangkit dari kasur dan menyiapkan seragam hari ini. Kemudian ketika aku masuk ke kamar mandi, masih ada sisa uap, yang berarti Milia baru saja selesai mandi disana.
Yah, aku tak peduli. Setelah mandi dan berganti seragam sekolah, ku dengar suara ketukan pintu kamarku dari luar. “Non Luna, sarapannya sudah siap.” Ternyata Bi Ijah.
“Baik Bi. Sebentar lagi Luna turun.” Balasku
Suasana sarapan di ruang makan kali ini sedikit berbeda. Milia dan Mama masih terlihat kesal. Sedangkan Papa dan Kak Rizal tersenyum menantiku dari tadi.
“Akhirnya kamu turun juga! Lama banget sih? Aku sudah lapar daritadi” keluh Milia. Aku tak peduli pada keluhannya itu. Akupun langsung duduk di kursiku. Papa memimpin doa dan kamipun sarapan bersama. Kali ini Kak Rizal terlihat rapi, padahal biasanya masih acak-acakan atau tidak ikut sarapan bersama.
“Tumben rapi, kak. Mau kemana pagi ini?” Tanyaku basa-basi sambil menyantap masakan hangat buatan Bi Ijah.
“Kuliah” jawabnya singkat. Itu saja sudah membuat tiga orang disana terkejut. Mama bahkan sempat tersedak. Mereka tidak menyangka jawaban itu keluar dari bibir Kak Rizal yang selama ini, kami saja kesulitan untuk mengingatkannya agar menyelesaikan kuliah. Ini merupakan perubahan yang baik darinya.
“Hmm. Sepertinya kamu satu-satunya yang enggak terkejut, Na” ungkapnya.
“Memangnya kenapa aku harus terkejut? Itukan sudah kewajibanmu sebagai mahasiswa.” Aku melanjutkan makan dengan santainya. Ya, aku masih tak terlalu peduli dengan Kak Rizal. Dalam beberapa bulan ke depan, ia akan diusir dari rumah karena menghamili anak orang. Jadi aku tak perlu ikut campur dengan hidupnya.
“Haha. Kamu benar sekali. Ini memang tanggung jawabku.” Kak Rizal melanjutkan makan sambil tersenyum. Sedangkan Papa dan lainnya masih bengong dengan percakapan kami yang tak biasa ini.
Selesai sarapan, Aku dan Milia diantar oleh Pak Muh ke sekolah. Di dalam mobil, Milia yang sejak awal bermuka masampun memberiku peringatan keras.
“Jangan sampai nanti di sekolah, kamu mengumumkan ke teman-teman kalau dapat modal 50 juta dari Papa! Aku enggak mau harga diriku jatuh karena hanya kamu yang diberi modal oleh Papa. Benar-benar pilih kasih.” Ucapnya dengan serius.
Hello…Milia Zulkarnaen. Yang kamu maksud itu Papa kandungku, tentu saja akan sangat wajar bila ia lebih memperhatikanku daripada kamu. Lagi pula aku memintanya dengan adil setara dengan uang yang sudah kamu habiskan untuk membeli barang-barang mewah.
Aku juga bisa membuktikan ke Papa perihal kesiapanku dalam menggunakan modal itu. Tapi tentu saja tidak perlu ada orang yang tahu masalah ini. Keuntungan ini akan ku ambil hanya untukku sendiri.
Aku menghela nafas panjang, “Ya, aku tidak akan bicara mengenai hal ini pada siapapun. Kamu juga sebaiknya jangan cerita ke geng atau fansmu yang lain”
Milia justru terkejut tak menyangka kata-katanya akan dibalikkan seperti itu. Ia menyilangkan tangannya dan membuang muka.“Ya, baiklah. Tidak ada untungnya juga aku menceritakan hal ini pada teman-temanku”
Jalanan di Jakarta memang cukup macet tapi kami bisa tiba di sekolah tepat waktu. Begitu Milia turun dari mobil, ia merubah wajahnya menjadi sok imut dan polos. Menjijikkan. Tetap saja fans ada yang menyukai sisi Milia yang seperti itu.
“Apa kamu enggak lelah berpura-pura terus seperti itu?” Tanyaku spontan.
“Itu tidak ada urusannya denganmu. Aku duluan. Sampai jumpa di kelas” Ucapnya. Ia kemudian dikerumuni beberapa adik kelas yang memuja kecantikannya. Kemudian mereka mengiringinya hingga depan kelas kami. Perjalanan Milia ke kelas sudah seperti iringan tuan putri dari negeri dongeng.
Menurutku ini sedikit berlebihan, sudah seperti sekte atau aliran sesat saja. Entah ilmu hitam apa yang dimiliki Milia, sampai mereka sudah seperti budaknya saja.
Begitu aku masuk ke dalam kelas, Danis melambaikan tangan padaku. “Luna!” Senyumnya lebar sekali, sepertinya ada hal baik yang menimpanya.
“Yo. Lo kelihatan bahagia banget hari ini? Ada apa?” aku duduk di sebelah Danis.
“Hehe. Apa iya kelihatan?” Ia menempelkan tangannya di pipi. Ini anak sok imut sekali. Danis yang seperti ini biasanya kalau mau menceritakan ada pria tampan yang disukainya. Ah, kalau tidak salah di waktu-waktu ini sudah mulai perkenalan calon kakak iparnya yang bekerja sebagai model tampan bagai artis itu.
“Tahu enggak, Na. Kemarin malam ada cowok yang tampan sekali, main ke rumahku. Ganteng abis! Sudah mirip artis-artis papan atas gitu” Ungkapnya dengan berbinar-binar seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Di kehidupan pertamaku, Danis bahkan sempat menyatakan cinta pada calon kakak iparnya itu dan tentu saja ditolak hingga ia merasa depresi. Saat itu ia tidak menceritakan padaku bahwa yang dia maksud adalah calon kakak iparnya. Aku benar-benar full support agar Danis berani menembak duluan pria yang disukainya itu. Namun setelah tahu kebenarannya, aku menyesal telah mendukung hubungan mereka.
Aku menggelengkan kepala, “Lo itu bestie gue, Nis. Gue enggak pingin lihat lo sakit hati lagi” Aku menepuk pundaknya.
“Ih, lo jahat banget sih, Na. Sampai enggak pingin lihat temennya bahagia, setidaknya support doa kek” Danis menyingkirkan tanganku dari pundaknya lalu membuang muka dariku. Danis menjadi kesal karena tidak didukung olehku.
Maafkan aku, Nis. Aku tak bisa membiarkanmu memiliki harapan semu yang akan membuatmu terluka di masa depan.
“Nis, dari sikap lo, gue tahu lo pasti suka sekali sama cowok itu. Tapi lo harus paham apa status lo di mata dia. Jangan melangkahi garis yang sudah ada, atau nanti akhirnya lo hanya akan mendapat penyesalan” Ungkapku sebijak mungkin agar ia tidak terlalu sakit hati.
“...sebentar. Kok lo sampai membicarakan tentang status kami? Jangan-jangan lo tahu cowok yang gue maksud, Na?” ungkap Danis dengan sedikit terkejut.
“Nis, ada pepatah tembokpun punya telinga. Aku tahu darimana, itu tidak penting.. Gue mau bilang kalau gue bakalan support lo untuk hal yang benar. Kecuali yang ini ya. Gue yakin dalam hati nurani lo juga pasti gak bakal setuju, ya kan?” sanggahku.
“Jadi menurutmu gitu ya? Hati nurani gue…dari kemarin memang seperti enggak tenang dan berontak gitu. Tapi cowok itu beneran tampan sekali, Na. Gue harus lakukan apa terhadap perasaan ini?” Ucap Danis yang kini terlihat bingung.
“Nanti kita bisa cari penggantinya. Nah yang penting, gue harap pasangan lo bisa buat lo bahagia. Gue pasti support, Nis” Di kehidupanku yang sebelumnya, bahkan hingga 5 tahun dari sekarang, Danis masih belum mendapatkan pasangan. Itu karena ia selalu membandingkan semua cowok yang mendekatinya dengan kakak iparnya yang menurutnya sempurna itu.
“Haah~ Gue kadang enggak paham sama diri gue sendiri. Dari dulu gue selalu memimpikan pangeran tampan melamarku dan memperlakukanku bagai tuan putri. Tapi aku tahu itu hanya sebatas impian belaka.” Danis terlihat murung. Namun ini hal yang perlu ku lakukan sebagai sahabatnya.
“Terimakasih, Na. Lo udah menyadarkan gue dari jurang cinta terlarang” Ucapnya.
“Lo bicara apa sih. Gue kan bestie lo. Sudah tugas gue menyelamatkan lo sebelum terpuruk lebih jauh” ku cubit pipi gembulnya itu.
“Aduh” Keluhnya.
“Nah. Bagaimana kalau lo mulai diet dan tunjukkan pesona lo yang selama ini tertutup lemak” Candaku. Tapi memang benar, ku akui bahwa Danis memiliki potensi sebagai gadis yang sangat cantik setelah berhasil diet dan menjaga porsi tubuh. Menurutku ia memiliki potensi sebagai model papan atas.
“Huff~ Gue enggak yakin bisa diet, Na. Lihat nih, lemaknya sudah numpuk di perut dan leher gue.” Danis mencubit leher dan pinggangnya yang melar karena lemak itu.
“Tenang aja, gue temenin lo diet. Gue akan buat lo glow up dari sekarang. Jadi nantinya banyak cowok ganteng yang bakal deketin lo. Terus lo tinggal pilih salah satunya deh” Ku berikan jempol pada Danis, iapun menyambutnya.
Danis tersenyum, “Kalau bisa dapat dua, kenapa harus satu? Haha” kemudian kami tertawa bersama.
“Bisa aja lu, Nis. Kenapa enggak sekalian tiga saja? Haha” balasku bercanda dengannya.
Bel masuk telah berbunyi, kelas sebentar lagi dimulai. Hari ini pelajarannya cukup santai, sehingga tak terasa waktu berlalu begitu saja. Bel tanda istirahat pertama berdering nyaring di seluruh penjuru sekolah. Para siswa keluar kelas untuk bersantai melepas penat, sebagian besar pergi ke kantin.
“Haah~ Ke kantin yuk, Nis” Ajakku padanya, tapi Danis langsung berdiri.
“Lo duluan aja, Na. Gue mau ke OSIS dulu. Nanti gue cari beberapa data cowok potensial di sekolah kita yang lo taksir.” Ucap Danis.
Aku hanya memberikan kode jempol padanya. Ku apresiasi kinerjanya memang cepat, kemudian ia melesat keluar kelas. Selanjutnya aku berjalan ke kantin sendirian, sedangkan Milia sudah pergi terlebih dulu dengan gengnya. Dalam perjalananku, tiba-tiba sesuatu mengusikku hingga aku menghentikan langkah.
“Sstt! Sini” Seorang siswa pria kerempeng namun tinggi memanggilku. Ia berdiri di ujung lorong sambil menutup wajahnya dengan buku IPA yang lebar itu. Aku tak tahu siapa itu, tapi sepertinya dia sengaja menungguku dari tadi.
“Siapa lu?” tanyaku dingin. Pria ini tidak tahu sopan santun, seorang anak gadis dihentikan di tengah jalan tanpa memanggil nama. Tentu saja aku kesal, apa dia kira aku gadis murahan?
Tiba-tiba pria itu menyodorkan saputangan yang biasanya ku bawa. Oh, jadi pria ini korban bully yang kemarin ku tolong. Tapi kenapa ia tidak berbicara sepatah katapun. Kemarin aku belum sempat melihat wajahnya karena banyaknya luka lebam dan bengkak.
Akupun mengambil saputanganku darinya, “Apa kamu sudah tidak apa-apa? Kemarin lukamu sepertinya cukup parah”
Pria itu hanya diam saja disana. Lalu dengan niat bercanda, aku merampas buku yang menutupi agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia terkejut karena gerakanku tiba-tiba. Aku berhasil mengambil buku itu dan bisa melihat wajahnya.