Menyusun Strategi

2203 Words
Kamar mandiku terdiri dari 2 lapis pintu, begitu aku keluar dari ruang ganti, meninggalkan Mama dan Milia, ternyata ada seseorang yang sudah menungguku daritadi. “Menarik sekali. Baru kali ini ada yang berani menentang Milia selain aku” Ternyata Kak Rizal yang berdiri di depan pintu luar. Ia tersenyum puas. “Kak Rizal tahu sendiri sifat Milia seperti apa. Dia harus disadarkan bahwa dunia tetap berputar meskipun tanpa dirinya” balasku. “Pfft! Itu benar.” Ia tertawa kecil. “Kamu jadi berbeda dari biasanya. Apa hari ini terjadi sesuatu di sekolah? Kamu bisa cerita apapun pada kakakmu satu-satunya ini” Ucapnya sok akrab. Aku tak tahu apa maksud di balik ucapannya, tapi aku tak mau terlibat lebih jauh dengannya. “Itu bukan urusanmu, permisi” Aku melangkah pergi menuju kamarku di sebelah kamar mandi. “Hoo~ Baru kali ini kamu berhasil membuatku penasaran” Kak Rizal juga bukan orang yang mudah menyerah. Ia tipe orang yang akan mempertahankan apa yang menarik perhatiannya hingga ia merasa bosan lalu meninggalkannya tanpa ada rasa bersalah. Aku yakin lain kali ia akan kembali menanyaiku karena rasa penasarannya itu belum terjawab. Aku merebahkan tubuhku yang lelah ini di kasur yang empuk. Ku tatap langit-langit kamar lalu ku tutup mata sejenak. Menghadapi orang-orang itu memang melelahkan. Kemudian terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar. Apa itu Kak Rizal tadi? “Non, Bi Ijah buatkan teh madu hangat” Ternyata itu Bi Ijah. Ia masih tetap perhatian padaku seperti biasanya. “Ya, masuk saja, Bi. Pintunya enggak Luna kunci kok” titahku. Bi Ijah masuk kamar dengan membawa nampan berisi teko dan cangkir elegan berwarna putih bergaris keemasan. Ia meletakkan nampan itu di meja sebelah kasurku. “Kelihatannya Non Luna kecapaian. Bi Ijah pijit kakinya ya?” Bi Ijah mendekat dan duduk di pinggir kasur. “Bi Ijah, apa enggak capek pijetin Luna, kan sudah kerja seharian ini?” Tanyaku setelah melihat tubuh Bi Ijah yang kerempeng dan lemah itu. “Enggak apa-apa, Non. Bi Ijah sudah biasa kok. Dari dulu Bi Ijah kan kuat” Ia tersenyum dan menunjukkan otot lengannya yang mungil itu. Kupikir bagaimana bisa orang sekecil dan selemah ini mengatakan dirinya kuat? “Kalau gitu boleh deh Bi. Sudah lama Luna enggak dipijat sama Bi Ijah” aku mengubah posisi jadi duduk bersandarkan kepala dipan dan bantal. “Ya, kalau besok-besok Non Luna merasa lemas atau capai, bilang Bi Ijah aja. Nanti Bi Ijah pijat dengan senang hati.” Ungkapnya sambil mulai memijat kakiku. “Okey Bi. Terimakasih ya” Aku menikmati dipijit lembut oleh Bi Ijah. Sesekali memang terasa geli, namun lama kelamaan rasanya otot-otot kakiku mulai terasa rileks. Aku masih melanjutkan menyusun strategi untuk menghadapi dan mengalahkan Milia dengan menuliskannya pada buku diary. “Apa Non Luna lagi bertengkar sama Non MIlia?” Tanya Bi Ijah tiba-tiba. Ia terdengar penasaran. “Memangnya kenapa Bi?” Tanyaku balik. Aku menutup buku diary, lalu menatap Bi Ijah yang masih memijat kakiku. “Tadi sepertinya Non Milia merajuk sama Nyonya Nanik. Terus Bibi diminta buatkan s**u coklat hangat untuk menenangkan Non Milia. Bibi dengar itu karena masalah kamar mandi” Bi Ijah menghela nafas. Ia tahu itu hanya hal sepele tapi Milia melebih-lebihkannya hanya untuk mendapat perhatian dari orang lain. “Dia yang mulai duluan, Bi. Dia megganggu Me Time Luna saat di kamar mandi. Itupun bukan bertengkar tetapi menasehati agar dia tahu mana yang benar dan salah jika dilakukan” Paparku. Tentu saja Bi Ijah akan lebih membelaku meskipun aku tidak mengatakan apapun, tapi ini kurasa diperlukan sekarang. “Ooh. Jadi begitu. Menurut Bi Ijah, memang Non Milia masih perlu banyak belajar dari Non Luna. Selama ini Non Luna selalu sabar menghadapinya, tapi kali ini mau menasehati. Semoga Non Milia bisa berubah jadi lebih baik di masa depan ya, Non” Ungkapnya dari hati yang terdalam. Bi Ijah dari dulu selalu ingin keluarga kami menjadi keluarga yang utuh dan saling mendukung satu sama lain. “Semoga saja ya Bi…” aku hanya bisa berharap. Namun itu tidak mudah, karena aku tahu bagaimana masa depan Milia yang akan menjadi sosok villaines. Ia akan menjadi sosok yang menyebalkan dan merusak banyak orang, bahkan ada beberapa yang depresi hingga masuk rumah sakit jiwa. Setelah Bi Ijah selesai memijit kakiku, iapun pamit keluar kamar. Kemudian aku menyelesaikan semua tugas rumah yang diberikan guru hari ini. Mengerjakannya cukup mudah, tak butuh waktu lama karena aku sudah pernah melakukannya. Sebelum istirahat, aku membuka catatan kecil yang ku tulis saat pelajaran terakhir tadi. Catatan itu berisi beberapa hal penting yang perlu kulakukan untuk menjadi sukses di kehidupan keduaku ini. Aku akan menggunakan pengetahuanku di masa depan untuk dapat meraihnya. Ada tiga tugas utama tertulis disana. Tugas-tugas ini sangat penting untuk dilakukan demi meraih kesuksesan sekaligus menghancurkan Milia dan keluarganya. Tunggu saja pembalasanku, wahai kalian orang-orang jahat. Aku pasti akan membalaskan dendamku berkali-kali lipat. Ada 3 langkah rumusan yang kubuat untuk meraih kesuksesan di kehidupan keduaku ini. Semua itu ku tulis berdasarkan kejadian yang ada di masa depan. Dalam hal ini aku akan merubah masa depanku agar sesuai dengan keinginanku, sehingga tidak ada penyesalan lagi. Langkah pertama yaitu, selamatkan keluargaku dari masalah ekonomi. Itu terdengar simpel namun bebannya sangat luar biasa berat. Papa sebagai pengusaha yang sukses, akan mengalami kegagalan dalam bisnis hingga hampir bangkrut pada beberapa bulan ke depan. Itu karena kesalahan berinvestasi pada perusahaan teman Mama yang kurang kompeten. Aku sangat mengingatnya, ketika Papa hampir bangkrut namun ia justru disalahkan karena tidak becus membantu teman Mama. Keterpurukan itu terjadi hingga pada suatu titik, Papa harus menandatangani kontrak perjanjian dengan Mama. Kontrak itu menyatakan bahwa Mama akan membantu perekonomian keluarga dengan uang warisan keluarganya namun Papa harus menuruti semua keinginan Mama. Ku namakan itu sebagai Kontrak Iblis. Kontrak tersebut menjadi awal dari perubahan drastis pada diri Papa. Aku harus mencegah dan merubah keadaan tersebut. Ini tugasku yang kembali ke masa lalu, yaitu untuk memperbaiki kondisi keluarga kami. Aku tidak boleh tinggal diam. Di kehidupan pertamaku, aku mengambil kuliah jurusan Manajemen bahkan fokusku pada investasi bisnis. Akan kugunakan pengetahuan yang ku miliki untuk bisa mandiri dalam hal ekonomi sejak muda. Sehingga bila Papa tetap bangkrut, maka aku akan bisa membantunya agar tidak perlu bergantung pada nenek sihir itu. Jika bisa, jangan sampai Papa berinvestasi pada teman Mama yang tidak kompeten itu. Masa depan Papa dan keluarga kami ini harus ku lindungi, setidaknya sampai 2 tahun mendatang. Yaitu ketika teman Papa yang pulang dari Arab, memberikan tawaran investasi sangat besar hingga kami menjadi jauh lebih kaya daripada sebelumnya. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar rumah. Itu tandanya Papa telah pulang dari tempat kerja. Ini sebenarnya sudah cukup larut malam. Ada aturan di rumah kami untuk selalu menyempatkan makan malam bersama. Oleh karena itu, daritadi tidak ada yang berani makan malam meskipun sudah kelaparan. Aku keluar kamar untuk menyambut Papa. Masa ini merupakan masa genting perusahaan Papa. Sebenarnya, tanda-tanda kebangkrutan sudah muncul namun Papa menyembunyikannya dari kami. Ia bersikap seperti semua masih dalam kendali padahal perusahaan sudah mengalami kerugian dalam beberapa waktu terakhir. “Papaaa! Kenapa baru pulang pa?” Milia berlari menemui Papa di ruang tamu. Ia daritadi sudah menahan rasa laparnya. “Papa belikan pesanan Milia?” “Tentu saja Papa tidak akan menolak keinginan putri cantik Papa. Ini Papa belikan Steak Wagyu dan salmon. Ayo kita makan malam bersama” Ucap Papa sambil tersenyum lebar. “Asyiik! Terimakasih Pa! Milia Love Papa” Milia dengan sumringah, segera merampas plastik berisi makanan dari tangan Papa dan membawanya ke ruang makan. “Milia, jangan lari-larian kayak anak kecil gitu. Dasar.” Keluh Mama. “Papa sudah belikan pesanan Milia, kalau pesanan Mama gimana Pa?” Ucap Mama manja. Ugh, menjijikkan. Aku tak tahu alasan Papa mau menikahi wanita itu. Papa mendekati Mama dengan menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. “Tara! Ini Papa belikan spesial buat Mama tercinta!” Papa menunjukkan sebuah kotak kecil berisi kalung emas 24 karat seberat 15 gram ditambah bingkisan tas merek Dior yang berharga 35 juta. Mama langsung merampasnya dari tangan Papa. “Aww, Papa. Terimakasih, Mama sayang deh sama Papa. Muah!” Menjijikkan, matanya berbinar-binar melihat kemewahan yang didapatkannya. Ia bahkan tidak memandang Papa yang ada di hadapannya sedikitpun. Muak sekali aku melihat tingkahnya. Satu kata “Boros”. Ini yang menjadikan keluarga kami semakin terpuruk. Papa menyembunyikan kenyataan bahwa perusahaannya mulai bangkrut, ditambah keluarga Mama yang semuanya konsumtif. Hal itu tentu saja akan memperparah semuanya. Oleh karena itu, aku harus cepat bergerak menentukan langkah sebelum semuanya terlambat. Giliranku mendekati Papa. Ia tersenyum padaku. Sudah lama aku tak melihat senyum Papa seperti ini di kehidupan pertamaku. “Selamat datang, Pa. Papa kelihatan lelah. Apa semuanya baik-baik saja di kantor?” Tanyaku berakting polos. “Semua baik-baik saja, Luna sayang. Papa masih bisa mengendalikan semuanya di kantor. Kamu tenang saja” Itu bohong. Setiap kali Papa berbohong alis kanannya terangkat sedikit. Ini ku ketahui dikehidupan pertamaku. Aku tahu Papa sedang tidak baik-baik saja. Ada kantong mata hitam tanda kelelahan di wajahnya. “Ooh. Baiklah. Luna kira kenapa, karena akhir-akhir ini Papa pulangnya sampai selarut ini” Tanyaku pada pria yang akan mengusirku dari rumah ini 5 tahun yang akan datang. “Ya, begitulah. Namanya perusahaan ada untung rugi silih berganti, tidak ada yang tahu. Tapi tenang saja, semua baik-baik saja. Haha. Sekarang kita makan malam dulu” jawab Papa penuh keyakinan tapi menghindari pandangan seperti ada yang ingin ia tutupi. Aku tahu ia hanya ingin agar putrinya tidak terlalu khawatir pada hal itu. Tapi aku berbeda dari “mereka” yang hanya mengambil manfaat dari Papa. Aku ingin Papa tidak terjerumus jebakan si nenek sihir Nanik itu lagi di kehidupan keduaku. Kami berdua berjalan bersama ke ruang makan. Kami berkumpul di ruang makan, kemudian Kak Rizal turun dari kamar dan ikut makan bersama kami. Jika dilihat oleh orang awam, keluarga kami termasuk keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Namun sebenarnya situasi kami sudah seperti berada di tepi jurang. Tinggal menunggu waktu yang mendorong kami pada kebangkrutan dan perpecahan. “Pa, Luna kan belum pernah minta sesuatu yang mahal seperti Wagyu atau emas, atau barang bermerek yang bernilai jutaan.” Ungkapku di tengah-tengah makan malam. Seketika Milia dan Mama tersedak. Mereka merasa tersinggung dengan kata-kataku tapi tetap diam menungguku selesai berbicara, sedangkan Kak Rizal terkekeh kecil. “Hoo~ Benar juga. Selama ini kamu sudah jadi putri Papa yang perhatian dan paham situasi. Jadi, Luna mau dibelikan apa?” Papa tersenyum tetapi sedikit pucat. Mungkin Papa khawatir jika aku terpengaruh Mama dan Milia lalu meminta hal lain yang bernilai fantastis. “Luna mau coba belajar berinvestasi, Pa. Luna butuh modal” Ya, inilah yang ku butuhkan saat ini. Meskipun uang sakuku tiap bulan bisa ku tabung 1 juta perbulan, namun itu belum cukup untuk rencana besarku. Aku butuh dukungan finansial dari Papa sebelum ia bangkrut. Papa terkejut mendengar permintaanku, tapi kemudian ia tersenyum padaku. “Luna, kamu ini masih kelas 2 SMA. Apalagi kamu ini perempuan, gimana kalau nanti investasinya justru rugi? Di zaman sekarang ini, enggak mudah cari uang.” Ucap Mama dengan segala nasehat bijaknya. Apa dia tidak berkaca pada dirinya sendiri kalau dia justru sudah menghabiskan uang Papa bahkan lebih dari ratusan juta sejak pernikahan mereka untuk hal yang tak penting? “Iya, Luna, masa kamu tega sama Papa yang sudah bekerja keras gitu? Kan kasihan Papa” Milia gunakan akting memelasnya di depan kami. Tapi itu tak lagi berpengaruh padaku. Milia dan Mama sama saja sudah seperti parasit di dalam keluarga kami. Tapi hingga saat ini Papa belum bersuara. “Bagaimana menurut Papa?” aku tak peduli pendapat kedua orang itu. Yang ku perlukan hanya persetujuan Papa sebagai kepala keluarga. Titahnya adalah absolut di keluarga kami. “Ehem! Ini pertama kalinya Luna meminta sesuatu ke Papa. Akan Papa pertimbangkan.” Ungkap Papa. “Tapi Pa-” Ucapan Mama dihentikan dengan tanda dari Papa. Papa kembali tersenyum padaku. “Saat Papa muda juga memulai usaha ketika masih SMA. Kamu memang putriku, rasanya seperti melihat diri Papa di masa lalu. Jadi, berapa modal yang kamu butuhkan, Luna?” Tanya Papa to the point. “Untuk saat ini, Luna rasa 50 juta sudah cukup, Pa” Ini modal awal, jika aku minta lebih dari ini, aku yakin kedua setan wanita di sampingku akan bersuara lantang dan Papa juga kemungkinan menolaknya. Terang saja Papa mengangguk, “Baik, besok Papa akan transfer 50 juta ke rekeningmu. Papa percaya padamu, Luna. Belajarlah dan dapatkan pengalaman sebanyak mungkin dari investasi pertamamu ini” Sukses! Rencanaku berjalan dengan mulus. “Terimakasih, Pa. Luna enggak akan mengecewakan Papa” “Pa! Milia juga mau. Masa cuma Luna yang dikasih uang segitu? Itu enggak adil” ucapnya. Gadis ini memang tidak tahu malu. Ia terlihat belum dewasa secara mental. Jika diberi modal investasi, bisa dipastikan gagal. Tentu saja Papa menggelengkan kepala.”Papa lihat dari sikapmu selama ini, kamu belum cukup siap, Milia” Milia langsung merajuk, “Papa enggak adil!” Iapun melesat pergi ke kamarnya hingga membanting pintu. Dia benar-benar tidak sopan dan masih ke kanak-kanakan. “Lihatlah! Menunjukkan ledakan emosi seperti itu tidak cocok sebagai seorang pengusaha. Dia masih belum siap” Lanjut Papa sambil menghela nafas panjang setelah melihat tingkah Milia padahal sudah berusia 17 tahun. Dalam hal ini, aku sukses mengurangi poin Milia di mata Papa. Mama menggelengkan kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD