Sejak awal, Milia akan menyeleksi siswa elit atau potensial yang bisa menjadi “teman”nya untuk bergabung dalam geng sedangkan dia sebagai pusatnya. Para siswa elit itu dipilihnya berdasarkan penyeleksian yang cukup ketat, terutama memiliki potensi untuk membuatnya berkuasa dan lebih terkenal. Diantara target Milia yang paling potensial adalah sang Ketua OSIS, namanya Radit.
“Eh tahu enggak, Na? Tadi ketika istirahat kedua, Radit menemuiku di kantin. Terus, tahu gak yang dia lakukan? Dia memberiku coklat Goldqueen berpita merah dong. Itu dihadapan teman-temanku. Sumpah! Jadi gempar seluruh dunia akhirat!” ia bercerita sampai menggebu-gebu. Bahkan terkadang ceritanya dilebih-lebihkan.
Aku sudah bertambah muak mendengar celotehannya tentang pria yang mendekatinya. Tapi memang dikehidupan pertamaku, Radit terus berusaha untuk mendekati dan menembak Milia. Namun, Milia justru memanfaatkannya untuk memenuhi berbagai permintaan yang kadang tidak masuk akal. Ya, pada akhirnya nanti Radit akan bertekuk lutut dihadapan Milia, seperti seorang b***k.
Dulu, semua cerita Milia terdengar sangat menarik walau aku tahu dia melebih-lebihkannya. Sampai pada suatu saat, ia menggunakan kemampuannya dalam membuat cerita itu untuk menjatuhkan nama baikku dan membuat dirinya jadi terkenal seantero sekolah.
Sejak saat itulah, aku menjadi musuh Milia baik di sekolah maupun di rumah. Tapi aku tak punya kekuasaan apapun untuk membela diri. Danispun tak sanggup menolongku bahkan harus meletakkan jabatannya sebagai wakil ketua OSIS demi memihakku.
Di kehidupan keduaku ini, aku tak akan membiarkan Milia mendapat semua yang diinginkannya. Aku akan ambil semuanya hal baik darinya dan akan ku buat ia menyesali perbuatannya padaku dikehidupan pertama. Tunggu saja pembalasanku, Milia.
“Ya. Kalau sudah seperti itu, sepertinya Radit benar-benar menyukaimu dan mungkin akan terus mengejarmu. Lalu bagaimana dengamu, Milia? Apa kamu menyukai Radit?” tanyaku memancingnya. Di satu sisi aku mulai merekam pembicaraan kami ini. Aku yakin ini bisa menjadi senjataku di masa depan untuk melawan Milia.
“Apa kamu bercanda, Na? Aku mana mau sama gajah bengkak begitu. Apalagi mukanya di bawah standar. Dia memang punya jabatan tinggi di sekolah sebagai ketua OSIS tapi orangtuanya miskin, ibunya hanya pencuci baju. Idih kalau dia berani nembak aku, najis deh!” Ucapnya tak berhenti menjelek-jelekkan Radit.
“Lalu, apa nantinya kamu akan menolaknya jika dia beneran nembak untuk jadi pacarmu?” tanyaku lanjutan untuk terus menggali perasaan Milia pada Radit.
“Hmm. Kalau ku tolak, itu berarti aku akan kehilangan seorang b***k. Meskipun dia jelek dan gendut, tapi dia masih berkuasa sebagai ketua OSIS. Jadi mungkin aku akan bermain hard to get padanya sampai ia sudah tidak berguna lagi bagiku” seperti itulah yang dilakukan Milia dikehidupan pertamaku. Baginya, Radit hanya pantas sebagai b***k.
“Aku tidak menyarankanmu mempermainkan hati seseorang seperti itu. Bisa jadi suatu saat kamu dibalas dipermainkan orang lain” Ku katakan itu untuk membuat suatu alibi bahwa aku orang baik yang sudah mengingatkannya untuk tidak berbuat buruk. Ya, aku masih merekamnya di HP sedikit lagi.
“Tenang saja, selama ini tidak ada seorangpun yang berani padaku. Kalaupun nanti ada, pasti para fansku akan mengorbankan diri mereka untuk melindungiku. Aku akan selalu dapat yang kuinginkan” ucapnya dengan penuh percaya diri. Kurasa data rekaman saat ini cukup untuk melawan Milia di masa depan.
Mobil kami akhirnya berhenti, ternyata kami sudah sampai rumah. Milia segera membuka pintu mobil di sebelahnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah. Kelakuannya memang seperti anak kecil, tidak sesuai dengan usianya. Hal itu juga yang dulu membuatku ingin melindunginya sebagai seorang kakak. Padahal itu hanya bagian dari sandiwaranya untuk mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya, termasuk Papa.
Aku keluar dari mobil dan berdiri menatap rumahku. Rumah warisan ibu kandungku. Rumah ini diwariskan padaku berdasarkan surat warisan sebelum beliau meninggal. Seketika bulir bening mengalir dari mata kananku. Aku segera mengusapnya dan menyemangati diriku agar lebih tegar.
Ayo Luna Artamevia! Kamu bukan lagi gadis lemah. Kamu sudah melalui kematian atas kebodohanmu di masa lalu. Ini kesempatan keduamu! Lakukan yang harus kamu lakukan! Jadilah gadis yang kuat.
Aku mengepalkan tangan ke udara seraya mengumpulkan tekadku. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Peperanganku yang sebenarnya akan dimulai dari sini.
Ku buka pintu utama, “Aku pulang!” Ini yang selalu ku katakan setiap kali pulang ke rumah, namun kebiasaan ini hilang setelah aku bertengkar hebat dengan Milia dan semua orang membelanya yang jelas-jelas bersalah daripada aku.
“Selamat datang, Luna. Tadi Mama beli donat ketika di Mall. Mama taruh di meja makan. Kamu sama Milia masing-masing ambil 2 ya, nanti sisanya buat Papa” Ucap Mama dengan nada lembut yang menenangkan.
“Iya. Makasih, Ma” aku masih mencoba menahan diri. Di waktu ini, Mama masih bersikap baik padaku. Bahkan sempat ku persepsikan dia benar-benar sebagai pengganti ibu kandungku. Namun itu semua hanyalah sandiwara seperti halnya Milia.
Keduanya memang pantas dinobatkan sebagai ratu sandiwara. Dulu aku salah satu korbannya, tapi tidak kali ini. Setelah melihat wajah Mama, nafsu makanku hilang seketika. Akupun melewati Milia yang sedang asik menyantap donat di meja makan.
“Kamu enggak makan donat ini, Na?” Tanya Milia yang penasaran karena biasanya aku ikut mengemil bersamanya sepulang sekolah.
“Enggak, aku masih kenyang” Jawabku tanpa menoleh padanya. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar.
“Kalau gitu, jatahmu buat aku ya?” Tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu, Milia langsung mengambil sepasang donat lagi dari kotaknya padahal itu harusnya jatahku. Aku sudah tak peduli dengan hal sepele itu. Aku tinggalkan dia.
Di depan kamarku berdiri sesosok ramah yang rasanya telah lama ku rindukan kehangatannya. Ia tersenyum dan mendekatiku, “Apa nona mau mandi sore? Bibi siapkan sekarang ya-”
Secara reflek, aku memeluknya. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya. Kematian justru bukan lagi menjadi pemisah diantara kami. Kematian justru mempertemukan kami lagi di kehidupan keduaku ini.
“Ada apa, Non Luna?” Tanya Bi Ijah yang terkejut.
“Biarkan Luna peluk Bi Ijah sebentar saja ya” Setidaknya di kehidupan keduaku ini aku juga harus bisa membuat Bi Ijah bahagia. Dia juga merupakan bagian dari keluarga yang menyayangi dan memahamiku.
Bi Ijah menutup mata dan balas memeluk lalu mengusap punggungku. “Non Luna sekarang sudah besar. Sudah seperti putri Bi Ijah sendiri. Jadi kalau ada apa-apa, Non Luna boleh cerita ke Bibi, ya?” Ucapnya dengan sepenuh hati.
“Iya Bi” Balasku singkat.
“Baiklah, Non. Bibi mau siapkan air hangat dulu untuk mandi” lalu kami melepaskan pelukan.
Aku mengangguk dan memegang tangan Bi Ijah. “Terimkasih ya Bi. Selama ini sudah mau merawat Luna. Terimakasih untuk segalanya.”
“Ah, Non Luna ini lagi kenapa sih? Kok seperti sudah bertahun-tahun kita enggak bertemu. Padahal kan baru tadi pagi.” Tanya Bi Ijah penasaran.
“Hehe. Enggak apa-apa kok Bi. Ya sudah Luna ganti baju di kamar dulu.” aku membuka pintu kamarku.
“Iya non, Bibi siapkan kamar mandinya” kami berdua akhirnya berpisah.
“Tumben pulangnya lebih telat daripada biasanya?” Ucap seorang pria dari belakangku. Ternyata ada Kak Rizal, putra pertama Mama, kakak dari Milia. Ia merupakan anak hasil di luar nikah, sehingga ia tidak memiliki hak atas warisan apapun di keluarga.
Ia terkenal playboy m***m dan tiap malam suka ke diskotik. Beberapa kali aku pernah mencium aroma minuman keras dan rokok dari tubuhnya setiap ia pulang larut malam.
“Ya, ada urusan” Jawabku singkat. Kemudian ku tutup pintu kamar. Bagiku, keluarga mereka hanya membawa bencana saja bagi keluargaku.
“Heh!” Iapun pergi kembali ke kamarnya dengan kesal.
Kak Rizal, meskipun tidak banyak berbuat ulah padaku, tapi tahun baru nanti ia akan diusir dari sini, yang berarti tinggal beberapa bulan lagi. Itu karena tanpa disangka, salah seorang mantan pacarnya hamil dan mengadu ke Papa. Tentu saja itu membuat Papa murka dan mengusir Kak Rizal. Sejak saat itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Ia seperti menghilang begitu saja dari hidup kami.
Lega rasanya, sembari membenamkan diri ke dalam bak mandi berisi air hangat yang nyaman, aku memikirkan makna kehidupan keduaku ini. Aku yang seharusnya sudah mati dibunuh, tapi kini bisa hidup dan kembali ke masa 5 tahun lalu.
Inilah waktu ketika semua masih baik-baik saja. Aku tak tahu maksud dari kejadian ini tapi yang jelas, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padaku. Aku juga masih punya tugas untuk mencari tahu sang pembunuhku di kehidupan pertama sekaligus siapa dalang di balik semua ini.
Aku belum tahu motif kenapa aku disingkirkan? Apa mungkin warisan? Tapi bukankah waktu itu Papa dan Mama masih hidup sedangkan aku tak punya harta untuk diwariskan? Inilah misteri yang ingin ku bongkar di kehidupan keduaku ini.
“Luna, cepetan. Gantian, aku juga mau mandi. Kamu di dalam tu ngapain aja sih daritadi?” Tanya Milia yang sudah tidak sabar menungguku.
“Iya sebentar! Sabar dikitlah jadi orang” balasku. Kemudian Milia terdiam, seperti tidak menyangka bisa mendapatkan balasan dingin seperti itu dariku. Biasanya aku selalu mengalah dan memprioritaskan kebutuhan Milia, tapi tidak lagi.
Milia itu sosok yang pantang menyerah demi bisa mendapatkan segala keinginannya. Tentu saja ia menggedor-gedor pintu kamar mandi bahkan dibuat nada dan sambil bernyanyi “Cepetan oy cepetan. Gantian mandinya” ia ulang berkali-kali agar aku merasa bertambah kesal lalu keluar dari kamar mandi. Seperti anak kecil.
Ini mengingatkanku bahwa yang pertama harus ku lakukan di kehidupan keduaku adalah aku harus bisa menguasai rumah ini. Ini penting dilakukan agar di masa depan, aku punya kekuasaan dan tidak terusir dari rumahku sendiri. Untuk bisa melakukan itu, aku harus menguatkan posisiku di rumah ini sebagai putri kandung pewaris Ibu.
Jika di kehidupan pertamaku, aku selalu menolerir dan mengalah pada Milia, maka kali ini aku akan memperjuangkan kebenaran dan hakku. Sudah cukup selama ini aku diminta mengalah pada gadis sok suci dan sok penting itu. Ku akui dia memang cantik, wajar jika banyak pria yang mengejarnya, bahkan menyebutnya sebagai innocent angel.
Itu karena mereka belum tahu bahwa sosok Milia sebenarnya tidak sepolos itu. Ia bermain di balik layar untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkah ia bisa menggunakan berbagai cara tidak terpuji, misalnya menjatuhkan nama baik orang lain. Aku sebagai saudaranya pernah beberapa kali terperangkap olehnya.
Milia yang masih berisik di luar kamar mandi, semakin tidak sabar dalam menggedor pintu kamar mandi, bahkan sampai menarik perhatian orang yang ada di rumah. Dia benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau mengundang masalah, karena itu aku beranjak dari bathtub dan keluar untuk menghadapi Milia.
Ku buka pintu kamar mandi, Milia terlihat begitu kesal. Harusnya aku yang lebih kesal karena waktu mandiku diganggu. “Lama banget sih, Na. Aku kan juga mau mandi”
“Ini kamar mandiku, suka-suka aku dong, mau pakainya berapa lama. Kamu yang hanya menumpang, harusnya sabar menungguku sampai selesai. Gak sopan banget sih!” Ucapku ketus.
“Ka-kamu kok nyalahin aku? Kamar mandiku kan lagi diperbaiki, makanya Papa nyuruh aku pakai kamar mandimu untuk sementara.” Ucap Milia membela diri.
Haah. Menghadapi Milia memang benar-benar menguras energiku. “Dengar MIlia, meskipun alasannya begitu. Bukan berarti aku memberikan kamar mandi untukmu. Kamu disini hanya meminjam, menumpang kamar mandiku. Kamu harusnya mau menunggu hingga aku selesai menggunakannya dulu”
“Ta-tapi aku juga mau mandi.” Matanya mulai berkaca-kaca. Selama ini ia selalu dimanja dan segala keinginannya dituruti, sehingga inilah yang terjadi bila ada orang yang menentang keinginannya.
“Hentikan itu. Kamu sudah 17 tahun, bukan anak kecil lagi. Air mata buayamu tidak ada efeknya padaku” ucapku penuh kekesalan. Milia langsung terkejut seperti berkata, kok dia bisa tahu? Sejak kapan aktingku diketahui olehnya?
“Ada apa ini? Dari luar, Mama dengar seperti ada pertengkaran.” Datanglah si penyihir wanita. Jika ini di kehidupan pertemaku, Mama akan mati-matian membela Milia meskipun ia yang bersalah bahkan akan balik menyalahkanku. Tapi di kehidupan masa ini, Mama masih berusaha “Bersandiwara” sebagai sosok ibu bijaksana yang netral.
“Mamaa!” Milia berlari mendekat lalu memeluk Mamanya. “Luna jahat. Masa Milia gak boleh pakai kamar mandinya padahal tempat Milia kan sedang diperbaiki.” begitulah cara Milia membuat orang salah paham agar orang-orang mau membelanya. Dulu aku sering jatuh ke perangkap Milia dan berakhir selalu disalahkan.
“Luna sayang, kalian ini bersaudara, harusnya kalian bisa berbagi. Pinjamkanlah kamar mandimu sebentar. Mandi kan tidak sampai satu jam.” Ucap Mama.
“Ma, kalau Mama enggak tahu akar masalahnya dari kedua belah pihak, jangan buat kesimpulan sendiri. Siapa yang enggak ngebolehin Milia pakai kamar mandiku? Tentu saja boleh, tetapi dia harus sabar mengantri karena aku pemilik kamar mandi ini. Bukan dengan memaksaku untuk keluar secepatnya. Membuatku sebagai pemilik kamar mandi ini jadi tidak nyaman” balasku membela diri dengan tegas.
Mama berfikir sejenak lalu tersenyum, “Itu benar. Maafkan Mama ya, Luna. Milia sayang, kamu harus menunggu sesuai antrian. Kamu juga gak mau kan kalau diburu-buru di kamar mandimu sendiri?”
“Tapi, Ma.” Keluh Milia.
“Sudah. Jangan diulangi lagi hal sepele ini. Sekarang saatnya kamu mandi dulu. Luna sudah selesai menggunakan kamar mandi kan?” ucap Mama yang secara tidak langsung mengusirku dari kamar mandi.
Menyebalkan. Aku melenggang pergi tanpa memberikan sepatah katapun pada mereka. Mereka sampai bengong melihat perilakuku yang berubah drastis daripada biasanya. Aku tak peduli, inilah aku yang sekarang. Luna Artamevia bukan gadis lemah!