School Bullies

2203 Words
Lobi sekolah kini dipenuhi siswa yang sedang menunggu dijemput, mereka saling berbincang seru. Siswa lainnya sedang antri untuk mengeluarkan kendaraan masing-masing dari tempat parkir sekolah. Mungkin saat ini, Milia sudah menungguku di dalam mobil bersama Pak Muh.Seingatku Pak Muh parkir di luar sekolah untuk menghindari macet, jadi aku harus jalan beberapa meter. “Lo tau gak, Na? Hari ini lo beneran aneh banget.” Ungkap Danis yang berusaha mengintrogasiku. “Aneh gimana maksud lo?” Tanyaku balik padanya. Apa Danis mencurigai sesuatu dariku? “Lo seperti bukan Luna yang gue kenal deh” Ungkap Danis dengan nada serius dan mengerutkan alisnya. Ia sejak tadi sudah terlihat mencurigaiku. Danis mengenalku sejak kami kelas 1 SMA, maka dengan perubahanku yang mendadak ini, wajar saja bila ia curiga. “Memangnya ada berapa Luna Artamevia di dunia ini? Ada-ada aja lo. Gue ya gue lah” Ku dorong pundaknya untuk mencoba alihkan pikirannya dengan candaan seperti biasa. “Iya sih” Jawabnya singkat namun masih terdengar penuh keraguan. “Sudahlah, lo enggak perlu mikir yang aneh-aneh. Oh iya, gue butuh pertolongan lo, Nis” Aku menghentikan langkah dan menggenggam tangan Danis, yang berarti aku sedang sungguh-sungguh. “Boleh sih, tapi tentu saja ada bayaran yang setimpal dong. Hehe” Danis seperti sudah menduga aku akan meminta tolong padanya. “Tenang saja, Nis. Nanti kalau lo bantuin gue sampai beres, gue pasti traktir lo jajan di Stuckbug” itu merupakan toko favorit Danis hingga 5 tahun ke depan. Tentu saja ia tak mungkin akan menolak tawaranku. “Nah gitu dong! Jangan cuma traktir bakso saja seperti yang dulu-dulu. Terus, lo mau minta tolong apa, Na?” Ungkapnya dengan mata berbinar-binar karena mengharapkan imbalan yang ia suka. “Bantu gue cari seorang cowok tampan di sekolah ini” Kali ini aku pasti akan menemukan pangeran tampanku itu dengan bantuan Danis. Lalu dia tak akan ku lepaskan begitu saja. “Pfft!” Danis mencoba menahan tawanya. Namun sesaat kemudian ia tak dapat mengendalikan tawanya di lobi sekolah hingga beberapa siswa melihat ke arah kami. “Eh-eh. Ngapain lo ketawa?” Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu hingga dia tertawa seperti itu? Akupun menutup mulut Danis agar tidak memalukan kami di depan banyak orang. “Seorang Luna Artamevia minta gue nyarikan cowok? Pfft” Ungkap Danis sambil menahan tawa. “Me-memang kenapa?” Kalau dipikir-pikir lagi, kalimatku tadi sepertinya memang kurang tepat. Jika dipahami secara awam, itu seperti aku minta dicarikan pacar. Padahal selama ini aku selalu menolak berpacaran meskipun yang menembakku punya potensi yang bagus, jadi pantas saja jika Danis menertawakanku. “Sudah ah ketawanya. Gue serius nih, Nis. Gue butuh info tentang satu cowok di sekolah ini. Tapi ingat, ini rahasia kita berdua ya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu.” Aku menegaskan pada Danis agar informasi tentang pria itu tidak bocor. Danis mengangguk sembari tersenyum karena tak percaya melihatku serius minta dicarikan seorang pria. Yang ku pikirkan adalah dari seorang Danis di kehidupanku dulu saja sampai tidak mengenal pria tampan itu di SMA kami. Hal ini berarti pria itu mungkin memang sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai orang kaya. Aku tidak tahu alasan pria itu menyembunyikan identitasnya di sekolah ini tapi aku tak boleh ikut campur atau bahkan mengganggu rencananya. Aku hanya perlu mendukungnya dan mencari celah agar ia bisa menerimaku jadi pacarnya. Atau setidaknya bila kami berdua bisa beraliansi, itu akan menjadikanku lebih mudah untuk menghadapi masa depan yang tak pasti. Aku, seorang Luna Artamevia tidak akan melewatkan pria potensial seperti dia, yang bahkan lebih baik daripada Raul. Pria yang pernah membuatku jatuh hati ketika kuliah, namun akhirnya beralih memusuhiku karena Milia. Aku tak akan menyia-nyiakan masa remaja di kehidupan keduaku ini. Kali ini aku harus mendapat cinta sejatiku. “Ok. Gue paham kalo lo serius. Jadi siapa nama cowok yang lo taksir itu? Dari kelas mana dia?” Tanya Danis yang sudah cukup bisa menenangkan diri. “Gue belum tahu nama dan kelasnya” Jawabku. Karena memang tidak ada informasi apapun yang ku ketahui tentangnya. “Hah!? Terus gimana cara gue untuk mencarinya, Maemunah?” Danis mencubit pipiku karena gemas telah memberikan tugas yang terkesan ambigu itu. “Aduh! Tunggu, gue tahu ciri-cirinya. Jadi kalau kami bertemu, pasti gue segera tahu kalau itu dia” Jelasku, sambil melepas cubitan di pipiku. “Haah.” Danis menggelengkan kepala dan mendesah. “Karena ini permintaan dari bestie gue satu-satunya, gue pasti bantu lo semampu gue” “Nah gitu dong! Terimakasih ya bestie” Aku mengangkat tangan ke udara, kemudian Danis menyambutnya dengan tepukan. “Ok. Jadi seperti apa ciri-ciri cowok itu?” Tanya Danis serius. “Hmm. Dia tampan, gagah, kaya raya dan ramah. Oh iya hidungnya mancung dan kulitnya juga putih” Ya kurasa itu semua sudah mencerminkan si pangeran hatiku itu, “Ohh. Sepertinnya tipe cowok yang sempurna. Tipe pangeran impian dari negeri dongeng enggak sih?” Danis menatap ke langit-langit seraya memikirkan siapa kira-kira orang yang ku maksud. “Yups. Bener banget” balasku spontan. “Oke. Ku rasa gue ada beberapa kandidat. Besok deh, gue ke kantor OSIS, disana ada data siswa sekolah ini. Gue coba membawakan beberapa foto yang sesuai deskripsi lo tadi” Jawab Danis dengan percaya diri menggunakan kekuasan yang dimilikinya. Yes! Mungkin aku akan dapat bertemu dengan pangeranku lebih cepat daripada yang ku perkirakan. Ini merupakan berita baik. “Wah~ makasih banyak, Nis. Lo memang bestie gue selamanya” Aku memeluk sahabat buntalku itu dengan erat. “Iya-iya. Tapi jangan lupa traktirannya” Ucap Danis yang pasrah ku peluk dari belakang. “Siap. Tenang aja. Gue gak akan lupa janji kita. Hehe” Aku tak akan menyia-nyiakan persahabatan kami ini. Sejak dulu, aku memang tak salah pilih teman. Danis merupakan sahabatku yang terbaik. “Kayaknya gue udah dijemput bapak.” Danis melepaskan diri dari pelukanku. “Dah ya. Gue duluan, Na. Sampai jumpa besok Senin!” Danis berlari menuju gerbang sekolah, menemui bapaknya yang menjemput dari kantor menggunakan motor. “Sip. Hati-hati di jalan, Nis” Aku melambaikan tangan, kemudian ia balas lambaian tangan juga ketika pergi. Kini aku sendirian, tak ada yang perlu ku lakukan di sekolah lagi. Ini berarti sudah waktunya aku pulang, menuju medan perang bernama keluarga. Aku menyusuri lobi kemudian keluar sekolah ke tempat biasanya Pak Muh memarkirkan mobil. Namun di gang yang tak jauh dari sekolah, aku mendengar suara segerombolan pria dan ada juga suara pukulan disertai keluhan, sepertinya sedang ada perkelahian disana. Kejadian seperti itu tergolong biasa, kasus bernama bullying atau perundungan di area sekolah. Ini bukan pertama kalinya aku mengetahui hal ini, namun biasanya aku tak mau ikut campur masalah orang lain. Karena bisa jadi, nantinya aku menjadi target bully mereka. Kasus bullying memang tidak mudah diatasi, perlu kerjasama banyak pihak termasuk sekolah dan orangtua serta siswa itu sendiri. Akupun berjalan melewati gang itu, sekelebat bayangan seseorang terjatuh dan dipukuli. Aku menutup mata. “Aaa!” Suara seorang pria yang berteriak kesakitan. Apa tidak ada orang lain yang menghentikan bully itu padahal suaranya terdengar cukup keras dari jalan utama? Jika ini dibiarkan, bisa jadi sang korban meregang nyawa dan menjadi kasus besar di sekolah. Tapi tunggu, di kehidupan pertamaku tidak pernah ada kasus bully yang parah hingga mencoreng nama sekolah sih. Apa aku biarkan saja ya? Kembali terdengar suara pukulan dan tendangan yang mengenai tubuh. Kemudan disertai suara pria yang mengeluh kesakitan lagi. “Aaa! Stop! Aaa!” Langkahku terhenti. Apa aku akan membiarkan hal ini begitu saja? Ini kehidupanku yang kedua, bukankah aku sewajarnya membantu dan berbuat baik pada orang-orang korban tak bersalah di sekitarku? Aku tak mau ada orang tak bersalah yang menjadi korban, seperti halnya kematian Danis di kehidupan pertamaku. Benar, aku Luna Artamevia saat ini sudah bukan yang dulu lagi. Aku tak bisa membiarkannya, bahkan pangeranku yang tak ku kenal saja sampai berani menghadapi pembunuh bayaran demi diriku. Aku menguatkan tekad dan berbalik ke arah gang tadi. Siswa itu masih tergeletak di tanah sambil dipukuli. Ia tidak melawan, tangannya dikunci oleh siswa lain. Kemudian segera ku buka Nutube di HPku dan mencari suara sirine polisi. Selanjutnya ku setel dengan volume sekeras mungkin. Tentu saja hal itu membuat para pelaku bully terkejut. “Saya dengar ada perkelahian disana pak! Ayo kesana!” Ucapku berakting dengan sebaik mungkin. Berhasil! Para pelaku bully itu segera kabur ketakutan, meninggalkan lokasi dan juga korbannya yang sudah tak berdaya itu. Aku berjalan mendekatinya. Pria itu masih tergeletak, pakaiannya penuh debu dan tanah. Ia menutupi wajahnya. “Apa kamu tidak apa-apa?” Tanyaku penasaran. “Apa polisi itu benar-benar datang kesini?” Pria itu duduk di tanah, lalu mengambil kacamatanya yang terjatuh di dekatnya. Wajahnya bengkak, mata dan beberapa lokasi di tubuhnya terlihat lebam keunguan, kemudian hidungnya mengeluarkan darah. Kondisinya benar-benar menyedihkan sekali. Aku menggelengkan kepala. “Tidak, itu hanya suara rekaman yang ku ambil dari Nutube. Tapi itu tidak penting sekarang. Kamu terluka parah, sini aku bantu ke UKS” Aku mengulurkan tanganku padanya tapi dia menangkisnya. “Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuanmu. Kenapa kamu bodoh sekali? Seharusnya kamu tunggu hingga polisi datang saja? Ku ingatkan, lain kali jangan ikut campur dengan masalah seperti ini.” ia berusaha berdiri sendiri meskipun dengan tergopoh-gopoh. Namun karena belum menemukan keseimbangan, ia hampir terjatuh ke samping, maka aku spontan membantu menyanggahnya. Kedua wajah kami sempat bertemu sekilas, lalu ia segera membuang muka. Wajahnya memerah. “Terimakasih. Aku sudah bisa pergi sendiri. Pulanglah” jawabnya ketus untuk mengusirku. “Tunggu, hidungmu berdarah” Aku segera mengambil sapu tangan dari saku dan segera mengusapkannya untuk membersihkan darah di hidungnya yang mancung itu. “Aku bisa sendiri” Ia mengambil saputanganku dan membersihkan sisa darah di hidungnya. Tentu saja saputangan kremku jadi penuh darah. Padahal itu oleh-oleh dari Papa ketika sedang ada peralanan bisnis ke Paris tahun lalu. “Ini aku pinjam dulu. Besok ku kembalikan setelah ku bersihkan” Ia menyimpan saputanganku di saku bajunya. Kemudian pria itu berusaha berdiri tegap dan berjalan pergi meskipun sesekali masih terhuyung-huyung. Kurasa seperti ini saja sudah cukup membantunya kan? Hah. Dasar pria aneh. Gengsinya tinggi sekali. Padahal situasi dia saat ini memang butuh bantuan. Tapi begitulah remaja, lagi pula ini sudah bukan urusanku. Saatnya pulang ke rumah, Milia dan Pak Muh pasti sudah lelah menunggu. Akupun beranjak dari lokasi, namun beberapa langkah kemudian langkahku terhenti lagi. Aku berbalik ke belakang namun pria tadi sudah tidak terlihat. Pria tadi itu siapa ya? Wajahnya tidak asing tapi aku tidak bisa mengingat pernah melihatnya di sekolah. Padahal seragamnya kelas 2 sepertiku, dilihat dari baret di pundaknya itu. Kalau dipikir-pikir lagi sepertinya dikehidupan pertamaku juga pernah ada kejadian mirip seperti ini? Apa ini yang dinamakan Dejavu ya? Ataukah memang pernah terjadi sebelumnya dan berulang dikehidupan keduaku ini? Aku menggelengkan kepala. Ya, masih terlalu banyak hal yang perlu ku rencanakan dan lakukan. Kejadian kecil seperti ini tidak perlu dipikirkan lagi. Aku melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku sampai di samping mobil pribadi keluargaku. Kemudian pintu mobil bagian tengah terbuka, dari dalam mobil terlihat wajah Milia yang sedang kesal. “Lama sekali sih, Luna! Aku sampai hampir tertidur di mobil tahu!” Ia menyilangkan tangannya dan wajahnya menjadi kecut dilihat. Inilah sosok Milia yang sebenarnya, ia jadi seperti itu ketika tidak ada orang luar yang melihatnya. Entah kenapa dikehidupan pertamaku, aku melihat sisi Milia yang seperti ini bisa menganggapnya imut. Mungkin karena sejenis kepribadian Tsundere. Aku menggelengkan kepala atas kebodohanku sendiri di masa lalu. “Cepetan masuk! Aku mau pulang dan tidur siang nih! Ngantuk tahu!” Keluhnya yang bertubi-tubi itu membuatku kesal mendengarnya. “Haah. Ya, aku masuk” Aku duduk di sebelah Milia, kemudian menutup pintu mobil. “Kamu bicarakan apa saja sama Danis kok lama sekali?” Padahal mobil kami saja belum berangkat, aku sudah diintrogasi lebih dulu. Memangnya dia pikir dia itu siapaku? Mau tahu urusan orang saja. “Itu bukan urusanmu.” jawabku ketus. Aku kesal dengan tingkahnya yang sok dekat dan sok penasaran. Aku tahu ia pasti sedang mengumpulkan amunisi informasi untuk menjatuhkanku dihadapan Papa. “Ih, kamu kenapa sih? Hari ini aneh sekali. Tadi di sekolah juga-” Sama seperti keraguan Danis padaku, Milia juga orang yang cukup sensitif dengan orang yang ada di sekitarnya. Untuk kasusku, tentu saja sikapku berubah 180 derajat dikarenakan ini kehidupan keduaku. “Udah Pak Muh, kita langsung pulang saja” aku mengalihkan pembicaraan karena percuma menjawab setiap pertanyaan orang menyebalkan di sampingku ini. “Baik, Non Luna” Jawab pak Muh yang sudah siap berangkat daritadi. Mobil kamipun berangkat. Sepanjang jalan Milia mengoceh dan mengeluh atas beberapa kejadian di sekolah. Tapi aku sudah tak peduli padanya. Yang kupikirkan saat ini adalah akhirnya aku pulang ke rumah lagi. Tapi aku sudah tidak melihatnya sebagai rumah yang nyaman untuk beristirahat dan berbagi kehangatan dengan keluarga. Rumahku saat ini merupakan area perang dimana aku akan menghadapi kelicikan ibu dan saudara tiriku serta ayah kandung yang semakin lama akan semakin tidak mencintai putri kandungnya sendiri. Inilah kenyataan yang akan ku hadapi selama beberapa tahun ke depan. Perjalanan ke rumah kami sebenarnya bisa di tempuh dalam waktu 25 menit. Namun bagiku, terasa lebih dari 2 jam karena sepanjang perjalanan itu aku terpaksa mendengarkan keluhan Milia. Milia bercerita tentang gosip tentang teman-teman yang di sekolah termasuk para fansnya. Beberapa kali, ia meminta pendapatku tentang beberapa siswa yang mendekatinya. Itu karena Milia merupakan tipe selektif terhadap orang-orang terutama memilih yang bisa bermanfaat baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD