Kami sampai di kantin, meskipun ini masih waktunya pelajaran, tapi disana ada beberapa orang yang bolos juga seperti kami. Salah satunya ada Putri, seorang siswi “nakal” yang sering berbuat ulah di sekolah tapi tak ada yang berani membantahnya. Hal itu karena ia merupakan anak wakil kepala sekolah, bahkan guru BK pun kesulitan menghadapinya.
Putri merupakan salah satu teman geng Milia di masa depan. Ia juga yang termasuk memberikan sumbangsih berupa contoh dan pemikiran negatif pada Milia. Di masa depan, aku menjulukinya Putri si Pahit Lidah. Namun, di masa ini, aku dan Putri tidak memiliki masalah apapun, hanya sebatas teman angkatan yang tidak terlalu saling kenal.
Aku memesan dua bakso dan es teh pada ibu kantin langganan kami. Kemudian kami duduk di bangku paling pojok yang jauh dari gerombolan para pembolos lainnya.
“Jadi… Apa lo percaya yang namanya memutar waktu ke masa lalu, Nis?” tanyaku dengan penuh misteri pada Danis. Ia terlihat bengong setelah mendengar pertanyaanku yang setengah serius itu.
“Hello…Lo masih nge-halu ya? Bangun woy! Jangan kebanyakan baca novel-novel fantasi kayak gitu. Nanti kalau otak lo bisa penuh harapan liar, terus enggak bisa menghadapi kenyataan di depan mata” Ungkap Danis dengan segenap wejangannya padaku.
Aku tersenyum padanya, karena aku memang mengalaminya sendiri. Sayangnya saat ini tak ada yang bisa menjadi bukti kuat yang menyatakan bahwa aku telah kembali ke 5 tahun yang lalu. Jika ada yang tahu, bisa jadi aku diculik oleh organisasi rahasia dan disiksa dengan berbagai eksperimen berbahaya.
Sayangnya juga, aku hanya kembali untuk 5 tahun di masa lalu. Seandainya masih bisa diberi kesempatan mundur 5 bulan sebelum hari ini, maka aku akan berusaha keras untuk menentang pernikahan Papa dengan Mama tiriku. Sayangnya inilah hari permulaan di kehidupan keduaku, aku tak bisa memutar waktu sekehendakku.
Pada dasarnya situasiku yang kembali ke masa lalu ini sesuatu yang seharusnya tak mungkin terjadi. Mau bagaimanapun, aku harus mensyukuri semuanya dan memanfaatkan pengetahuanku untuk meraih kesuksesan di kehidupan keduaku ini.
Ada satu hal lagi yang masih membuatku penasaran, siapa pria tampan waktu itu? Apa benar ia satu sekolah denganku di SMA ini? Apakah aku bisa menjumpainya di kehidupan keduaku ini?
Ketika aku masih larut dalam pikiranku, pesanan bakso kami tiba. Lalu dengan lahap, aku menghabiskannya dengan cepat. Anehnya lagi, aku masih merasa sangat lapar sehingga memesan semangkok bakso lagi.
“Eh buset. Tumben makan lo lahab banget, Na. Lo enggak takut gendut? Biasanya lo kalau makan kan dikit” ucap Danis yang melihatku dengan pandangan curiga.
“Gue emang lagi laper, Nis.” Memang ini terasa sedikit aneh, baru kali ini perutku merasa sangat lapar. Atau mungkinkah ini efek dari kembali ke masa lalu yang mungkin menghabiskan banyak energi?
Aku dan Danis memutuskan kembali ke kelas setelah aku menghabiskan 3 mangkok bakso. Rasanya perutku masih bisa menampung semangkok lagi, tapi aku menahannya agar bisa menjaga penampilanku yang langsing ini.
Dari arah kelas, kami melihat Milia sedang berdiri seperti orang linglung yang mencari sesuatu. Aku menghentikan langkah, ku perhatikan Milia daritadi menoleh kanan dan kiri, wajahnya tampak ragu-ragu.
“Adikmu tuh, Na! Udah kayak anak ayam kehilangan induknya” Canda Danis. Ia terkekeh sambil menutupi mulutnya.
Candaan itu wajar di masa ini, karena Milia masih tergantung padaku untuk mengajarinya banyak hal tentang hidup di sekolah. Oleh karena itu, ia selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Jika dipikir-pikir lagi, ini seperti tugasku untuk menjadi babysitternya Milia yang baru kali ini tinggal di kota.
Situasi Milia dan Mama tiriku, seperti halnya kata pepatah Jawa “kere munggah bale” dapat diartikan sebagai orang miskin yang tiba-tiba menjadi kaya raya atau status tinggi, namun masih menunjukkan sifat kampungannya. Aku sendiri tak habis pikir, apa yang membuat Papa mau menikahi Mama yang berstatus janda beranak itu?
Pada tahun kami berada di SMA ini, Milia memang masih terlihat polos karena pada dasarnya ia dibesarkan di suatu kampung santri. Dengan wajah polos cantiknya itu, ia bisa dengan mudah memikat hati para pria di sekolah. Mereka seperti terhipnotis untuk mau melindungi kesucian Milia yang bagai sosok malaikat suci di mata mereka.
Cuih! Apa aku barusan berfikir bahwa Milia seperti malaikat suci? Lihat saja nanti, akan ku perlihatkan pada orang-orang, bagaimana kepribadian asli dari Milia Zulkarnaen itu. Aku akan membalas dendam padanya sedikit demi sedikit, hingga kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Tunggu saja kau Milia!
“Ih. Lo kenapa sih, senyumnya kok jahat gitu? Lo lagi ada masalah sama Milia?” tanya Danis yang penasaran melihat senyum licikku.
“Ah. Enggak apa-apa kok. Yuk masuk kelas. Kasihan Bu Lisa, dia pasti sudah mengkhawatirkan kita, sampai minta Milia menjemput kesini” Balasku menghindari pertanyaan dari Danis. Akupun melanjutkan langkah ke kelas, kemudian disusul oleh Danis yang bingung menanggapiku.
Milia melihatku. Kedua pandangan kami bertemu. Ia tersenyum lebar. Rasanya jijik sekali melihat senyum itu, seperti penuh dengan kepura-puraan. Entah kenapa ketika aku di masa ini bisa suka dengan senyum polosnya itu. Mungkin dulu aku juga telah terhipnotis olehnya.
Kini setelah aku tahu bagaimana Milia sebenarnya di masa depan, senyum palsunya itu jadi terlihat menjijikkan. Milia mendekati kami, kemudian tangannya meraihku seraya menggandeng dan mengunciku dengan tubuhnya agar aku tak kabur darinya.
“Kamu kemana aja, Luna? Bu Lisa minta aku memanggilmu kembali ke kelas. Kamu enggak apa-apa kan?” Ucapnya dengan manja. Ia mendekati dan memegang tanganku.
Meskipun masih merasa kesal atas tingkahnya di masa depan, aku tetap berusaha tersenyum padanya. Namun, aku tak bisa menolerir sentuhannya yang sok dekat denganku. Rasanya benar-benar risih. Pikiran dan jiwaku masih diriku dari masa depan, sehingga kebencianku padanya masih pada kategori yang sangat tinggi.
Aku melepaskan gandengan Milia secara perlahan. “Aku enggak apa-apa.” Jawabku ketus.
Danis dan Milia melihatku dengan tatapan tak percaya bahwa yang di depan mereka adalah Luna Artamevia yang mereka kenal. Biasanya aku akan dengan senang hati balas menggandeng tangan Milia dan bersemangat ketika pergi bersamanya. Tapi tidak untuk kali ini, karena sebisa mungkin aku tak ingin dekat dengannya.
Aku harus bermain cantik di kehidupan ini, karena jika kulakukan secara ekstrem untuk menjauhinya atau menentangnya secara nyata, maka bisa jadi aku disebut kakak tiri yang jahat. Ya, semua orang pasti akan lebih membela Milia “The Innocent Angel” atau sang malaikat polos daripada aku yang masih dikenal sebagai “Cold Princess”.
Aku mendapat julukan itu karena menolak dengan dingin ajakan setiap pria yang menembakku dengan alasan ingin fokus selesaikan sekolah. Julukan itu mulai sedikit pudar ketika aku membawa Milia ke sekolah dan akrab dengannya layaknya kakak yang hangat, tapi hal itu akan berakhir disini. Pada titik inilah kelahiran villainess baru di sekolah.
“Haah. Tadi perutku sangat lapar. Jadi, daripada aku sakit perut di kelas, maka dari itu aku makan ke kantin terlebih dahulu sebelum masuk kelas lagi. Iya kan, Danis?”. Aku buat alasan yang cukup bisa dirasionalkan. Danispun mengangguk, ia mengikuti alur cerita yang kubuat ini.
Wajah Milia terlihat seperti masih ragu dengan penjelasanku, tapi ia tak berani bertanya padaku lebih jauh. “Jadi, kamu sudah kenyang kan? Kembali ke kelas yuk, Na” ucapnya sambil sekali lagi mau meraih tanganku.
Namun kali ini aku dengan sigap menghindarinya. “Yuk. Kita pergi, Nis” ku acuhkan Milia dan justru mengajak Danis. Kami langsung berjalan menuju kelas. Orang-orang mungkin melihatnya seperti aku berlaku dingin pada Milia. Aku tak peduli.
Gadis itu nantinya akan menjadi villainess yang lebih kejam dari ini, bahkan mungkin sampai menghilangkan nyawa orang tak bersalah. Meskipun Milia masih bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berbeda terhadapnya, ia tetap mengikuti di belakangku sepertii anak ayam.
Ya, biarlah dia berperilaku seperti itu. Aku akan memanfaatkan sifatnya di masa SMA ini untuk menjatuhkan nama baiknya. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu ku rubah di kehidupan ini. Tugasku sebagai villaines akan dimulai dari sekarang.
Kami bertiga kembali ke kelas Bu Lisa. Ketika pelajaran berlangsung, aku gunakan waktu itu untuk menulis beberapa rencana yang ku perlukan untuk meraih tujuan. Sebelum pelajaran selesai, aku meraih kesimpulan 3 tugas baruku sebagai villaines di kehidupan keduaku ini.
Keuangan, Keluarga dan Kekasih. Ketiga hal itu merupakan senjata terbesar Milia untuk meraih tingkat sosialita dan villainess ssukses di masa depan. Tenang saja, kali ini aku akan mendapatkan semua keuntungan dan nasib baik Milia untuk diriku sendiri.
Tak terasa hari berlalu begitu cepat, bel sekolah kini telah berdering nyaring sebagai tanda pelajaran hari ini usai . Beberapa teman kelas kegirangan atas berakhirnya mata pelajaran yang membosankan itu.
“Baiklah, pelajaran selesai. Tugas untuk minggu depan, kalian kerjakan soal latihan di modul halaman 47” Ucap Bu Lisa sebagai penutup.
“Tidaaaakk” keluh teman-teman di belakang kelas dengan serentak. Aku sempat melupakan bahwa ini masa-masa SMA. Masa para remaja mulai berani mengungkapkan pikiran dan jati dirinya, bahkan beberapa berusaha melepaskan diri dari kekangan sosial.
Masa SMA ya? Hmm, aku memang pernah memiliki beberapa prestasi akademik. Selain hal itu, aku hanya sibuk jadi babysitternya Milia. Kini ku sadari, sebentar saja bersama dirinya itu sama saja membuang-buang waktu remajaku dan tentu saja tidak berfaedah.
Haah. Kenapa di kehidupanku dulu aku melakukan itu? Sia-sia sekali hidupku. Namun, hal itu akan ku ubah dikehidupan ini. Mungkin aku juga akan membuka diri untuk mencari pasangan sebagai teman malam mingguan layaknya remaja lainnya.
Dengan begitu, aku bisa beralasan untuk meninggalkan Milia yang manja dan merepotkan itu. Aku ingat ada beberapa pria yang pernah menembakku, diantaranya pasti ada yang tampan dan potensial untuk dijadikan pacar sementara.
Goblok! Aku berdiri tersentak dari meja. Aku tiba-tiba menyadari ada 1 puzzle yang hilang sejak aku kembali ke masa ini. Pria misterius itu! Pria yang dengan bodohnya memberikan nyawanya pada pembunuh bayaran hanya karena ingin melindungi kesucianku.
Aku masih tidak tahu namanya dan bahkan tidak mengingat kehadiran pria itu di masa SMAku ini. Kalau aku bisa berpacaran dengannya yang kaya raya itu, semua rencanaku akan lebih mulus. Tapi dimana aku bisa mendapatkan informasi yang ku butuhkan?
Tiba-tiba seseorang menarik bajuku dari samping, menyadarkanku yang sejak tadi hanyut dalam pemikiranku sendiri. Ternyata Danis, wajahnya terlihat khawatir dengan perilakuku yang tiba-tiba tadi.
Danis?! Ya Tuhan! Kenapa aku bisa lupa hal ini? Danis ketika di SMA merupakan seorang yang memiliki pengaruh sebagai wakil ketua OSIS di sekolah. Dia punya kuasa untuk bertitah di antara siswa. Mencari seorang pria di antara para siswa di sekolah ini, pasti tidaklah terlalu sulit baginya. Aku memegang pundak sahabatku itu.
“A-ada apa?” Tanya Danis terkejut. Dengan kekuatan dan kekuasaan Danis sebagai “Social Butterfly”, pastinya nanti aku akan mudah mendapatkan informasi tentang pria itu. Tunggu saja, aku pasti akan mendapatkanmu wahai pangeran tampanku yang paling potensial daripada semua pria di sekolah ini.
“Lagi-lagi senyum lo kelihatan menyeramkan, Na” Ucap Danis sembari mengerutkan alisnya.
“E-eh, masa sih? Gue kan dari dulu cantik alami gini. Mana mungkin terlihat seram.” Ku coba mengalihkan pembicaraan.
“Jangan-jangan lo lagi merencanakan suatu kejahatan ya?” Wah ternyata dia bisa membaca pikiran orang lain. Apa jangan-jangan Danis dari keturunan cenayang?
“Lo bicara apa sih? Mana mungkin gue orang jahat?” balasku meyakinkannya. Sayangnya wajah Danis masih terlihat mencurigaiku.
“Huff. Apapun itu, jangan sampai berlebihan. Selama pada batas tertentu, gue akan membantu lo sebisa gue” Inilah yang ku sukai dari Danis! Bahkan sebelum aku minta tolong pun dia sudah menawarkan diri. Ditambah caranya menasehati masih sama seperti yang kuingat di kehidupan sebelumnya. Ini sesuatu yang perlu ku syukuri.
“Hehe. Lo memang bestie gue yang paling jos, Nis” ku peluk Danis yang saat ini masih gembul. Danis akan mulai diet ketat di tahun depan sebelum pernikahan kakaknya, lalu dia akan menjadi glowing bak model ternama.
“Ya-ya-ya. Pulang yuk! Keburu hujan nih, di luar sudah merata mendungnya.” balas Danis yang kemudian berdiri, menenteng tas dan bersiap pulang.
“Siap bos!” candaku.
Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menarik bajuku. Milia! Aku sampai lupa kalau selama ini dia duduk di belakangku.
“Ayo kita pulang, Na” ucap Milia sambil menundukkan wajahnya.
“Kamu duluan saja. Aku ada urusan bentar. Kamu tunggu saja di mobil sama pak Muh” titahku padanya. Raut wajah Milia terlihat kecewa namun ia tetap mengangguk dan meninggalkan kami. Kini tinggal aku dan Danis yang masih di dalam kelas.
“Gue tanya serius nih? Hari ini lo kenapa sih, Na? Lagi bertengkar sama Milia atau gimana?” Tanya Danis yang sudah sangat penasaran.
“Itu enggak perlu lo pikirkan, Nis. Ini masalah gue dan dia. Gue masih bisa mengendalikan situasi ini. Percayakan dendam lo ke gue. Kali ini gue pasti akan ngelindungin lo” Ucapku penuh percaya diri.
“Hah! Lo masih ngelindur, Na? Ngapain gue dendam sama saudara lo itu. Ada-ada saja mimpi lo itu.” ucapnya yang menganggapku bercanda.
“Ya sudah yuk. Mari pulang-marilah pulang~!” ku gandeng tangan Danis sambil bersenandung, kemudian kami keluar kelas bersama. Tenang saja Danis, aku benar-benar akan membalas sakitnya kematian kita berkali lipat pada mereka yang memusuhiku di kehidupanku sebelumnya.