Kematian Pertamaku

2214 Words
“Kok Papa lo bisa tega gitu, Na. Bahkan lebih perhatian sama kucing dibandingkan putri kandungnya sendiri.” Danis menggelengkan kepalanya. “Gue enggak habis pikir Papa lo ternyata orangtua yang seperti itu” Danis menyeka air mata yang mulai terkumpul di ujung, wujud ikut merasakan penderitaan yang kualami. Aku sudah menduga reaksi Danis akan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terperangkap jebakan Mama dan Milia, hingga akhirnya aku terusir dari rumahku sendiri. Seandainya waktu itu aku menolak perintah Mama untuk memberi makan Momo. Pemikiran ini percuma saja, aku tak bisa kembali memutar waktu ke masa lalu. Untungnya minggu lalu aku sempat menarik uang tunai dari ATM, meskipun hanya 3 juta. Uang itu tadinya mau ku gunakan untuk membeli pakaian baru, tapi karena situasiku sekarang yang mendesak, maka akan ku gunakan sebagai modal bertahan hidup. Setidaknya dengan uang itu aku bisa hidup beberapa minggu jika berhemat. “Ya, begitulah. Tapi ini tidak sepenuhnya buruk. Gue sekarang tinggal di apartemennya Papa. Oh iya, kemarin gue menemukan cowok perfect di lorong apartemen. Surprise-nya lagi, dia kenal gue sejak SMA!” Ungkapku menggebu-gebu “Serius lo? Temen SMA kita? Siapa? Radit?” Danis yang penasaran terus mengejar pertanyaan demi pertanyaan. “Bukan Radit. Gue enggak kenal dia. Gue juga enggak yakin dia bener temen SMA kita apa bukan. Tapi setau gue enggak ada cowok sesempurna itu waktu kita di SMA” Balasku “Ih gue jadi penasaran nih. Nanti gue maen ke apartemen lo ya, Na. Mungkin saja kita bisa ketemu cowok itu” ucap Danis spontan. “OK, kalau gitu, nanti setelah mata kuliah Pemasaran, kita berangkat ke apartemen gue. Tapi lo harus nginep nemenin gue hari ini, OK?” Aku yakin Danis tidak akan menolak ajakanku untuk menginap. Yes! Setidaknya malam ini aku dapat teman berbincang, daripada hanya sendirian di apartemen. “Gue sih oke aja. Eh tunggu, gue ijin nyokap gue dulu” jawab Danis yang langsung mengeluarkan HP dari saku celananya. Danis jadi menginap di apartemen untuk menemaniku malam ini. Sesekali kami keluar untuk berharap bisa bertemu pria misterius itu di lorong. Namun hingga cukup larut malam, ia tak datang, kami cukup lelah menunggu. “Ini sudah jam 8 malam. Cowok itu masih enggak muncul juga di lorong. Jangan-jangan lo kemarin lagi halu, Na?” Tanya Danis meragukanku. “Mungkin dia ada acara di luar. Ah sudahlah, kita masuk kamar saja yuk. Lelah juga menunggu yang enggak pasti” jawabku pasrah. “Yah, sayang sekali. Padahal gue penasaran dengan cowok dari cerita lo” balas Danis kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak tahu namanya atau kamar dimana ia tinggal. Hanya bisa pasrah, jika memang ini takdir, maka kami pasti akan bertemu lagi lain waktu Kami berduapun lanjut bercanda dan mencari solusi keuanganku. Ini berarti aku harus mencari kerja untuk bisa bertahan hidup. Aku dengan dibantu Danis membuat daftar target yang perlu ku lakukan untuk ke depannya. Tak terasa sekarang sudah pukul 12 malam, kamipun bersiap tidur. “Gue ke WC dulu. Sudah kebelet nih” Ucap Danis yang langsung melesat keluar kamar. “Sana, jangan sampai lo ngompol di kasur gue” Candaku. “Oh iya. Jangan lupa nanti matikan lampu ruang tengah sekalian” titahku sebagai tuan rumah. Tak berapa lama kemudian, setelah keluar dari kamar mandi, Danis mematikan lampu ruang tengah namun kemudian menghentikan langkah di depan kamar tidurku. “Siapa kamu?” ucapnya sambil berjalan ke arah bayangan yang ada di balik gordyn ruang tamu. Dari dalam kamar tidurku terdengar percakapan suara Danis, tapi ia bicara dengan siapa di luar? Seketika terdengar peluru melesat yang suaranya telah diredam. Seseorang menembakkan pistol di apartemenku! “Aaa!” Teriak Danis kesakitan. Aku terkejut dan segera melompat keluar kamar untuk menemuinya.“Danis? Ada apa?” Ku buka pintu kamarku. Disana aku menjumpai Danis sudah tergeletak bersimbah darah hingga membasahi lantai. Sepertinya ada seseorang yang menembakkan peluru tepat di jantungnya sehingga Danis mati seketika. Pelakunya pasti profesional karena bisa menembak tepat di ruangan yang gelap ini. “Aaa! Danis!” Air mataku tak kuasa tergelinang. Danis sudah tak bernyawa. Sahabatku mati di hadapanku. Apa yang terjadi? Aku begitu terkejut hingga sempat melupakan kemungkinan pelakunya masih ada di ruangan ini bersama kami. Terdengar suara tembakan lagi dari belakang gordyn ruang tamu. “Aaa!” kali ini penjahat itu menembakku. Rasanya sakt sekali. Tembakan tersebut mengenai lengan kiriku. Sepertinya memang ada seseorang yang ingin membunuhku, tapi kenapa Danis juga menjadi korban? “Tch! Meleset” Dari suaranya terdengar pria paruh baya. Aku segera lari berlindung di balik sofa tamu, meninggalkan tubuh Danis yang semakin dingin. Rasanya tangan kiriku sakit sekali jika digerakkan, perih dan darahku masih terus mengalir. “Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini pada kami?” Tanyaku tanpa berfikir panjang. Padahal ini berarti aku telah memberitahukan posisiku pada musuh. “Ada yang menginginkanmu mati, sedangkan temanmu tadi hanya kurang beruntung. Salahnya sendiri menemukanku yang sedang bersembunyi” Penjahat itu bercerita seperti sudah sangat yakin bisa membunuhku yang tidak berdaya ini. Ada yang menginginkanku mati? Siapa? Mama? Milia? Atau Papa? Siapa lagi? Penjahat itu bisa masuk rumah tanpa membunyikan alarm pencuri, itu berarti ia memiliki akses kode rahasia ruangan ini yang hanya diketahui oleh keluarga inti kami. “Kini giliranmu menjumpai temanmu di alam sana” Langkahnya terdengar berjalan mendekatiku. Jantungku berdebar sangat kencang! Aku tak punya senjata, sedangkan HP tadi ku tinggal di kamar. Sial! Apa aku akan mati hari ini? Tidak, aku tidak mau mati! Siapapun tolong aku! “Tolong! Tolong aku! Siapapun!” Aku berteriak sambil menahan rasa sakit dari tanganku. Dalam sekejab langkah penjahat itu semakin cepat mendekat “Berisik!” Ia menarik rambutku lalu melemparku ke sofa. “Aaa!” Rasa sakitnya berlipat ganda, darahku masih tak hentinya mengalir hingga membasahi sofa yang tadinya berwarna krem menjadi merah gelap. Aku hampir kehilangan kesadaran melihat darahku sendiri. Namun yang kupikirkan saat ini adalah menyelamatkan diri, keluar menuju lorong. Aku segera mengumpulkan energi dan keberanian untuk menuju pintu keluar. Tentu saja itu tindakan bodoh. Penjahat itu segera menyusulku dan mendorongku hingga terjatuh di lantai. Ia mencekik leherku agar aku tak bisa berteriak minta tolong. Aku melawan sekuat tenaga tapi apa daya, aku hanya seorang wanita lemah yang tak dapat membela diri. Sesak! Aku benar-benar bisa mati kalau terus seperti ini. Cengkeraman pria ini terlalu kuat. Tubuhku mulai lemas dan tidak bisa berfikir jernih. Tapi setidaknya kini aku melihat wajah penjahat itu yang agak samar dikegelapan ruangan. Wajah tipikal penjahat dengan kumis tebalnya, tapi entah mengapa sepertinya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Setelah ia tahu aku mulai lemas kehabisan nafas, ia mengendorkan cekikan di leherku. “Hehe. Badamu boleh juga, bagian tubuhmu ini sudah mulai berkembang” Ternyata penjahat ini juga m***m! Ia pantas mati berkali-kali! Ia meremas bagian tubuhku dengan kasar. Sekali lagi aku mencoba melawan dengan memukulnya, tapi ia menampar wajahku dengan keras. Aku bahkan sempat pingsan tak sadarkan diri selama beberapa detik. Tenaganya sangat kuat, bisa jadi aku kehilangan nyawa saat ditampar olehnya tadi. Ia menarik rambutku lalu menciumi pipiku. Aroma rokok tercium sangat kuat dan memuakkan. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Banyak penyesalan dalam hidupku, kenapa dulu aku tak begini, kenapa tak begitu? Aku juga bahkan belum tahu siapa sosok pria tampan misterius yang ku temui di lorong. Apa aku akan jadi hantu penasaran jika mati malam ini? Siapa sebenarnya si pangeran tampan itu? Tiba-tiba pintu utama terbuka dari luar! Seseorang masuk ke dalam apartemen dan menyalakan alarm pencuri, apakah itu polisi? “Hey! Lepaskan dia!” Ucap pria itu. Apa ini mimpi? Itu pangeran tampan yang baru ku bayangkan tadi! Ia datang menyelamatkanku dari penjahat ini. “Aku sudah menghubungi polisi. Mereka akan datang kesini sebentar lagi.” Ungkapnya sambil menunjukkan HP yang sedang aktif menelpon 119, nomor kepolisian. “Tch! Dasar tikus pengganggu!” Penjahat itu berdiri dengan raut wajah penuh emosi karena merasa terganggu sebelum bisa melampiaskan hasratnya padaku. “Mati kau!” Penjahat itu menarik pelatuk pistolnya lagi Terdengar suara tembakan sebanyak dua kali. Meskipun berusaha menghindar, tembakan itu menembus perutnya hingga darah segar mewarnai pakaian putihnya. Pangeranku tergeletak di lantai! “Tidak!” Teriakku, kemudian dengan sekuat tenaga aku merayap mendekatinya dan meletakkan kepalanya dipangkuanku. Air mataku tak berhenti keluar dari ujung mataku. Selain karena memang seluruh tubuhku terasa sakit, terlebih lagi aku melibatkan nyawa orang lain lagi dalam masalah internal keluargaku. “Kenapa? Kenapa kamu bodoh sekali? Seharusnya kamu tunggu hingga polisi datang saja!” aku terisak, suaraku parau. Tangan lebarnya menyentuh wajahku dengan lembut. Ku lihat ia tersenyum begitu manis. “Itu juga kata-kata yang pertama kali aku ucapkan padamu ketika kita SMA. Aku memang bodoh saat itu dan juga sekarang. Aku tak bisa membiarkan orang yang ku cinta tersiksa. Aku tak bisa…” Ia batuk hingga mengeluarkan darah. “Bodoh! Apa hidupmu tak lebih berharga dari orang lain? Aku bahkan tak mengenalmu. Aku tak mengingatmu ada di dalam hidupku di masa lalu” Ungkapku. “Tak apa. Berada dipangkuanmu seperti ini tidaklah terlalu buruk” Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku dengan tersenyum. “Tidaaakk!” Tangisku. “Baiklah, dramanya sudah selesai. Gara-gara pacarmu itu, polisi akan segera datang kemari. Aku harus segera selesaikan tugasku” Penjahat itu menodongkan ujung pistol di kepalaku. Tapi aku sudah tak peduli. Aku hanya berharap jika diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya, aku akan perjuangkan kehidupanku. Pasti akan ku rubah segala nasib burukku ini. Mama, Milia, Papa, dan orang-orang yang menjatuhkanku hingga pada titik ini. Aku akan membalas kalian! Tanpa ku sadari aku tersenyum dihadapan pistol penjahat itu. “Heh. Dasar gila! Kematian di depan mata, kamu justru tersenyum” Ucapnya merendahkanku. Peluru panas menembus keningku, prosesnya begitu cepat seperti tersetrum listrik yang mengejutkan di otak. Tak sempat melakukan apapun. “Tidurlah untuk selamanya, Tuan Putri” Ucapnya yang mulai samar di telingaku. Aku seharusnya telah mati, tapi kenapa aku masih bisa berfikir? Apakah ini alam setelah kematian? Aku bahkan seperti mendengar suara Danis memanggil namaku. Padahal Danis sudah mati terlebih dahulu. Mungkin aku sudah gila? Tidak, orang yang sudah mati tidak mungkin gila. “...Na. Luna!” Suara Danis semakin jelas terdengar di telingaku. Apa aku bermimpi? “Luna! Bangun!” Tiba-tiba aku tersadar dan membuka mata. Secara spontan aku berdiri, “Ya, ada apa?” Seketika seluruh orang yang ada di ruangan tertawa terbahak-bahak. Kepalaku sedikit pusing karenanya. Apa yang terjadi? Dimana aku? Apa ini surga? Tampaknya bukan. Aku seperti setengah tak sadarkan diri. “Luna Artamevia! Berani sekali kamu tidur saat pelajaran ibu!” Suara melenting seperti kucing tergencet itu tidak asing bagiku. Itu seperti suara Bu Lisa, guru wali kelas ketika aku kelas 2 SMA. Tunggu, situasi ini tidak asing. Aku berada di kelas. Apa aku kembali ke masa lalu? “Keluar sana! Cuci muka bantalmu itu di kamar mandi. Sepertinya nyawamu belum terkumpul sepenuhnya” Benar sekali perkataan beliau. Nyawaku baru saja terlepas dari ragaku dan kini aku kembali ke masa-masa sekolah? Ini kejadian gila! “Luna? Apa kamu tidak apa-apa?” Suara itu juga tidak asing di telingaku. Aku menoleh ke belakang, benar, itu suara musuh bebuyutanku, Milia saudara tiriku..Tapi ketika kami masih di SMA, hubungan kami sangat dekat layaknya saudara kandung. Cuih! Aku sampai tak percaya, ternyata ia bisa berubah 180 derajat jadi memusuhiku dalam 1 tahun mendatang. Aku segera membuang muka, rasanya muak melihat wajah Milia. Meskipun di waktu ini, ia tidak memiliki kesalahan apapun padaku. Tanpa berfikir lama, aku segera melangkah keluar dari kelas. Danis pun ikut keluar menemaniku. “Lo kenapa sih, Na? Tumben bisa ketiduran di tengah pelajaran” Tanya Danis yang penasaran sekaligus khawatir padaku. Ya, inilah sosok Danis sohibku. Aku bisa menemuinya lagi dikehidupanku yang kedua ini. Tanpa berfikir banyak, aku langsung memeluk tubuh gumpalnya itu karena gemas seraya berkaca-kaca. ”Hey, lepasin. Lo kenapa sih hari ini? Aneh banget” Ungkapnya penasaran. Ya, itu respon yang wajar. Di pandangan semua orang, situasiku hari ini lain daripada biasanya. Aku berbeda karena aku tahu bagaimana rajutan takdir masa depan. Tinggal bagaimana caraku memanfaatkan kesempatan keduaku ini. Kesuksesan dan balas dendam ada di tanganku! “Gak apa-apa, gue gemes saja sama lo, Nis” balasku sambil mengusap air mata yang telah terkumpul di ujung mata. “Hiss. Dah, cepat cuci muka lo, terus kita balik ke kelas. Gue enggak mau kita dimarahin Bu Lisa lagi” Titahnya. “Tenang. Bu Lisa enggak bakal lama di sekolah ini.” Ucapku dengan santai. “Maksud lo gimana sih, Na?” tanyanya kebingungan. “Nanti lo tahu sendiri. Sekarang kita ke kantin saja yuk. Perut gue tiba-tiba laper sekali nih.” Aku berusaha mengalihkan perhatian Danis dari kata-kataku yang baru saja keceplosan. Informasi itu memang benar karena dalam 2 bulan lagi, Bu Lisa akan mengundurkan diri dari sekolah. Ia akan menjalani program kehamilan dan harus bedrest selama 6 bulan di rumah sakit. “Lo mengajak gue bolos? Seorang Luna Artamevia sang ranking 3 seantero sekolah?” ucapnya penuh sarkasme padaku yang sejak SMA dikenal kaku dan hanya fokus mengejar prestasi. “Iye… iye… Gue yang traktir deh. OK?” balasku sambil menarik lengannya ke arah kantin sekolah. “Nah kalo itu, gue suka. Yuk cuss ke kantin!” Ucapnya dengan semangat. Ya inilah sosok Danis yang apa adanya. Sahabatku yang di masa depan akan mati sia-sia karena masalah internal di keluargaku. Kali ini aku harus bisa melindunginya. Tidak boleh ada lagi korban dari ketidak adilan di kehidupanku yang kedua ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD