Rajutan Takdir Luna

2135 Words
“Apa kamu tidak apa-apa, nona?” tanya pria gagah itu padaku. Suaranya begitu dalam dan lembut di telinga hingga menyentuh kalbuku. Wajah kami sempat begitu dekat. Meskipun aku tak dapat melihat wajahnya secara utuh, tapi dari bentuk hidung yang mancung dan bibir tipisnya aku yakin dia sangat tampan. Aku jadi tersipu malu sendiri, kemudian pria itu menegakkan tubuhku. “Iya, terimakasih bantuannya” Balasku malu-malu. Aku tak kuasa memandang wajahnya karena jantungku masih berdegub kencang tak karuan. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Lain kali berhati-hatilah di jalan. Jangan melamun lagi ya, Nona.” Ia mengedipkan mata kirinya padaku. Apa ini? Apa dia menggodaku? Pria yang tampan, gagah dan terlihat kaya itu menggodaku? Apa ini yang namanya cinta bersemi di pandangan pertama? Ya Tuhan, terimakasih. Sejenak aku melupakan kemalanganku beberapa waktu yang lalu. Pria itu masuk ke dalam lift dan pergi meninggalkanku sendiri di lorong lantai 5. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Eh, apa ini berarti dia tinggal dalam satu lorong yang sama denganku di apartemen mewah ini? Apakah ini yang namanya takdir? Cinta sejati? Aku kembali jadi tersipu malu sendiri. “Non Luna, sedang apa berdiri di lorong?” tanya Pak Muh yang datang dengan membawa kedua koperku. Akupun jadi tersadar dari lamunanku. “Ehm, enggak apa-apa kok, Pak Muh. Saya menunggu Pak Muh datang. Siapa tahu Pak Muh lupa nomor kamar Papa” balasku menghindari pertanyaannya. Pak Muh melihatku penuh ragu dan penasaran, “Tapi kok wajah Non Luna memerah? Apa non Luna sedang sakit? Perlu Pak Muh panggilkan dokter sekarang?” “Eh? Beneran enggak apa-apa kok, Pak. Daripada kita ngobrol lama-lama di lorong, lebih baik sekarang tolong bawa kopernya ke kamar saja, Pak” Ucapku. Apa benar wajahku terlihat memerah? Bahkan sampai Pak Muh berkomentar seperti itu. Sesampainya kami di dalam kamar apartemen, Pak Muh meletakkan koperku dan pamit untuk kembali ke rumah. “Baiklah Non. Tugas saya sudah selesai. Pak Muh pamit dulu ya. Non Luna, jaga diri baik-baik disini” Kata Pak Muh dengan nada penuh simpati. Aku mengangguk, “Terimakasih atas bantuannya, Pak Muh. Pak Muh juga jaga diri baik-baik ya” Pak Muh sedikit menundukkan kepala lalu keluar kamar. Setelah pintu tertutup, aku merebahkan diri di sofa tamu yang empuk. Ku lihat langit-langit kamar berwarna krem dengan garis melintang berwarna keemasan. Huff. Besok adalah hari baru yang berarti lembaran baru bagiku. Akupun bangkit dari sofa. “Ayo Luna! Semangatt!!” teriakku memotivasi diri. Aku membongkar koper dan segera menata barang-barang. Aku letakkan bingkai foto keluarga kecilku di samping kasur agar aku bisa selalu mengingat masa kehangatan keluarga. Tak terasa sudah hampir tengah malam. Tubuh dan pikiranku sudah cukup lelah, untungnya aku sudah selesai menata semua barang. Kini giliranku rebahan, mengistirahatkan diri di kasur yang empuk. Akupun mulai menutup mata. Tiba-tiba terdengar suara getaran HP, ada yang menelponku tengah malam seperti ini? Siapa gerangan? Dengan malas, ku ambil HP di meja sebelah kasur. Ku lihat ternyata itu telpon dari Tante Bunga! Mataku segera terbuka lebar dan langsung duduk di pinggir dipan. Akupun mengangkat telepon dari Tante. “Halo, Tante, ada apa?” Tanyaku penasaran. Baru kali ini Tante menelpon tengah malam, apakah ada sesuatu yang sangat penting dan tak bisa ditunda hingga besok? “Luna! Apa itu benar? Kamu diusir dari rumahmu sendiri?” Tanya Tante Bunga dengan intonasi cukup tinggi yang berarti ia cukup kesal. “...Iya. Engak apa-apa kok Tante. Enggak perlu khawatir” Balasku. Aku tidak ingin Tante Bunga khawatir padaku. “Apanya yang gapapa!? Itu adalah rumahmu, warisan dari ibu kandungmu! Berani sekali Papamu mengusir anak kandungnya sendiri. Apa-apaan itu!” Teriak Tante Bunga yang semakin kesal. “Sudahlah Tante, masalah ini enggak perlu dibuat runyam. Luna enggak apa-apa. Lagipula Luna sekarang justru jadi lebih tenang di apartemen, sepi dari orang-orang.” Balasku. “...kamu itu terlalu baik dan mudah mengalah seperti ibumu. Ya sudah, kalau itu maumu, jika terjadi sesuatu padamu, segera kabari tante ya. Kamu itu keponakan kesayangan Tante. Tante gak mau terjadi hal-hal buruk padamu. OK Luna?” Kata Tante Bunga yang terdengar sudah mulai mereda kekesalannya. “Iya, Tante, terimakasih. Ngomong-ngomong Tante kok belum tidur jam segini?” Lanjutku. “Enggak apa-apa sih. Tante cuma lagi mikirkan tentang kehidupan” Balasnya. “Idih, sok bijak kali Tenteku satu ini. Haha” candaku. “Haha. Ya sudah, ini larut malam. Sebaiknya kamu istirahat. Yakinlah Luna sayang, semua akan indah pada waktunya. Tante akan selalu mendukungmu” Ucapnya penuh pemaknaan yang mengena dalam jiwaku. Mendengarnya berkata seperti itu, hatiku terasa menjadi lebih tenang, setidaknya ada orang-orang yang masih menyayangiku, Bi Ijah dan Tante Bunga. Sementara mereka saja sudah cukup bagiku. “Iya, Tante” Jawabku. Kemudian Tante Bunga menutup panggilan telponnya. Aku kembali rebahan di kasurku yang empuk itu. Serasa sebagian beban di pundakku telah terangkat, lalu akupun tidur dengan pulas. Malam berlalu, mentari pagi menyinari sudut gordyn yang kurang tertutup rapat. Menyilaukan mataku, memaksaku untuk bangun. Aku duduk di pinggir kasur sambil mengumpulkan nyawa, lalu ku raih HP di samping kasur. Ternyata ini sudah jam 7.15. Hah! Aku kesiangan! Mataku langsung terbelalak dan segera beranjak untuk mandi karena hari ini aku ada jadwal kuliah pagi jam 8. “Aduh jangan sampai terlambat deh. Ini mata kuliahnya Pak Agus yang ketat sekali dalam kedisiplinan. Bisa-bisa nanti aku jadi bahan roasting sekelas kalau terlambat” Mandiku super kilat, yang penting cuci muka, sedikit shampo lalu menyikat gigi, setelah itu semprotkan parfum yang banyak. Mau bagaimana lagi, daripada aku terlambat. Aku berlari di lorong dan segera memasuki lift yang hampir tertutup. “Tunggu! Aku juga mau masuk!” Teriakku tak sabaran. Kemudian pintu lift kembali dibuka oleh orang yang sudah masuk lebih dulu. “Terimakasih” Ucapku sambil terengah-engah. Aku merapikan pakaianku sejenak. “Pff!” suara tawa ejekan dari orang di belakangku. Aku menoleh, tadinya tak ku perhatikan, ternyata itu pria yang semalam. Tapi kali ini, ia tidak menggunakan topeng dan memang benar wajahnya tampan sekali seperti pangeran dari negeri dongeng. Ia sepertinya keturunan blasteran. Aku tersipu dengan senyumnya yang manis sekali. Tiba-tiba ia mendekatiku, ada apa, mau apa dia? Aku spontan menutup mata. “Ada sisa sabun di rambutmu. Udah.” Ucapnya sambil menyingkirkan sisa busa shampo di kepalaku. Alamak! Malunya bukan kepalang! Aku segera menutup wajahku dengan kedua tangan. Bisa-bisanya Luna Artamevia mempermalukan diri dihadapan pria beken seperti ini. Aku seperti ingin menjadi kura-kura dan menyembunyikan kepalaku di dalam cangkang yang kokoh lalu menenggelamkan diri di laut terdalam. Suara pintu lift terbuka. “Ah. Aku turun disini” Pria itu keluar lift dengan berjalan tegap seperti seorang bangsawan. Namun sebelum pintu lift tertutup, pria itu berbalik badan, “Kamu menarik sekali, sama seperti saat kita di SMA dulu, Luna” EH! EEEHHH! Kok dia tahu namaku? Temen SMA? Yang mana? Meskipun aku bukan tipe siswa sosialita di SMA, setidaknya aku bisa ingat wajah teman-teman seangkatanku, dan jelas tak ada yang setampan pria itu di SMA. Apa dia salah orang? Tapi kok dia bisa menyebut namaku dengan benar? Pintu lift terbuka, orang-orang yang mulai masuk lift dari arah lobi, aku tersadar dan segera berlari keluar, menembus gerombolan orang tersebut. Hari ini aku ke kampus menggunakan bis umum. Ini tidak seperti Luna Artamevia pada umumnya yang selalu diantar jemput supir pribadi dengan mobil mewah. Tapi mau bagaimana lagi, inilah kehidupanku yang baru. Mulai sekarang akan kubuktikan bahwa aku bisa mandiri tanpa bantuan Papa. Ini akan menjadi debutku sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab. Tunggu saja! “Kamu Terlambat! Berdiri di lorong kelas selama 10 menit!” ucap Pak Agus dengan kesal sambil menunjuk pintu keluar. Padahal aku hanya terlambat 10 menit gara-gara bisnya tadi sempat mogok di jalan. Hahaha. Teman-teman menertawakanku, beberapa penasaran karena tidak seperti biasanya aku sampai terlambat masuk kelas. Tentu saja itu akan menjadi sumber gosip yang panas hari ini di kampus hingga akhirnya semua terkuak. Seorang anak konglomerat diusir dari rumahnya sendiri. Hah! Bagus sekali, sekarang hidupku bisa jadi penuh warna. Dua jadwal perkuliahan selesai tepat di siang hari. Tubuhku terasa begitu lesu karena tidak sempat sarapan pagi ini. “Perut gue keroncongan nih, Nis. Makan di kantin yuk!” Keluhku sambil memegang perut. “Gue sih oke-oke aja. Tapi lo kenapa sih, Na? Seharian gue lihat lo lemes banget. Lo lagi sakit, apa gimana?” Tanya Danis sambil memeriksa dahiku. “Ish. Gue gak apa-apa. Cuma laper doang. Gue enggak sarapan hari ini. Udah yuk, cepetan ke kantin” Keluhku seraya menarik tangan Danis, kemudian keluar kelas. “Tumben tuan putri belum sarapan” Candanya. “Iya. Pagi ini gue bangun kesiangan. Lupa nyalain alarm semalam” Balasku. “Emangnya lo enggak dibangunin sama Bi Ijah?” Tanyanya penasaran. “Enggak. Nanti gue ceritain. Sekarang lo gak usah banyak bicara. Temeni gue ke kantin aja” Lama-lama kesal juga. Aku yang sedang dalam keadaan lemas kelaparan seperti ini, Danis justru banyak bertanya. Danis merupakan sahabatku sejak SMA. Ia satu-satunya yang paling dekat dan paling memahamiku. Ia juga sudah beberapa kali menginap di rumahku, oleh karena itu, ia juga paham kondisi keluargaku. Danis telah menjadi teman curhat setiaku selama ini. Meskipun ia terkadang tidak mampu memberikan solusi atas masalahku, namun menurutku ia pendengar yang baik. Tak berapa lama, kamipun tiba di kantin kampus. Begitu aku dan Danis masuk ruangan, serasa banyak mata mengarah padaku. Ini tidak seperti biasanya. Pandangan-pandangan tajam itu terasa sangat dingin seperti menyayat tubuhku. Ada apa ini? “Eh, Na. Elo ngrasa ada yang aneh enggak sih? Kok kayaknya orang-orang pada melihat ke arah kita daritadi” Ternyata bukan hanya perasaanku saja, bahkan Danispun menduga ada sesuatu yang aneh terjadi disini. “Ya mana gue tahu. Kita berdua kan bersamaan masuk kantin. Udahlah, kita cuekin saja mereka. Anggap saja kita ini artis dan mereka adalah fans kita. Lambaikanlah tanganmu pada mereka. Haha” Aku cekikikan lalu kembali ke antrian yang sejak tadi mengular di depanku. “Huu! Dasar sok artis lu” Canda Danis sambil menepuk pundakku. Tiba-tiba dari samping, Milia datang bersama pacar dan gengnya. “Akhirnya lo datang juga. Gue kira lo gak bakalan berani datang ke kantin lagi, Luna Artamevia” Suaranya terdengar sombong hingga membuatku muak. Kali ini ulah apa lagi yang ia lakukan bahkan sampai membawa seluruh geng pengikutnya. Rasanya kesal apalagi perutku sudah keroncongan seperti meminta tumbal daritadi. Ingin sekali aku meninju wajah sombongnya Milia. “Gue tadi ada kuliah. Memangnya ada urusan apa lo sama gue?” Jawabku ketus tanpa menatap Milia dan gengnya. “Jaga bicaramu ke pacarku! Kasar sekali sih jadi cewek. Memang benar kata Milia, kamu bukanlah orang yang beradab.” Kata Raul, senior kami sekaligus wakil ketua BEM Fakultas. Kata-kata tajamnya itu begitu menyakitkan, padahal selama ini aku tidak ada masalah dengannya. Aku membalas dengan tatapan tajam pada Raul. “Sudah kuduga, sebaiknya kita jangan dekat-dekat dengannya, Milia” Raul maju diantara aku dan Milia. Ia bak pangeran yang sedang melindungi tuan putri dari seorang penjahat. Rasanya begitu kesal padahal dulu di mataku, Kak Raul terlihat keren. Kini ia sudah berubah seperti penjilat untuk menyenangkan pacarnya, yaitu Milia. Aku akui memang sempat jatuh cinta padanya di semester awal karena menurutku ia tampan, gagah dan perhatian. Hubungan kami baik-baik saja sampai ia memilih Milia jadi pacarnya, kemudian ia tiba-tiba berubah memusihiku. “Sudahlah Raul, kasihan dia, sekarang sudah jatuh miskin. Sudah tidak ada yang bisa ia sombongkan dihadapan kita” Ucap Milia. Miskin? Aku penasaran dengan ucapannya itu, “Apa maksudmu?” “Ohh, apa kamu lupa? Kamu itu sudah diusir dari rumah dan tadi pagi tabunganmu dibekukan oleh Papa. Kamu sudah tidak punya apa-apa lagi. Dasar orang miskin baru! OMB! Haha” Milia sengaja meninggikan suaranya agar seluruh orang di kantin mendengarnya. Tentu saja aku terkejut, masa iya, Papa benar-benar tega memblokir tabunganku? “Bicara apa kamu? Mana mungkin Luna diusir dari rumahnya sendiri?” Balas Danis maju membelaku. “Sepertinya lo belum diberi tahu ya. Dia itu psikopat pembunuh! Kucing kesayangan mamaku diracuni olehnya. Kasihan sekali. Aku tidak tahu siapa lagi korban selanjutnya. Bisa jadi aku atau kamu” Milia menunjuk Danis. Danis langsung naik pitam dan mau meninju Milia. Ia memang tidak suka ketika aku, sahabatnya, dihina dan direndahkan seperti itu apalagi di depan banyak orang, namun Raul segera menepis pukulan Danis. “Dasar kalian berdua memang orang bar-bar. Lebih baik kita menjauh dari mereka jika tidak ingin tertular. Ayo kita ke kafe Stuckbug di samping kampus saja. Aku yang traktir” Raul merangkul Milia dan mengajaknya keluar dari kantin. Milia terlihat begitu puas setelah melempar bom informasi yang bisa menjatuhkan harga diriku di kampus. Pasti nantinya akan ada julukan baru untukku, Orang Miskin Baru (OMB), Psikopat, putri yang terusir, dan lain sebagainya. Dari kantin kampus ini memang dengan mudah informasi akan tersebar menjadi gosip yang bahkan bisa melebih-lebihkan. “Apa yang dikatakan Milia tadi itu benar, Na?” tanya Danis dengan penuh perhatian. “Kita makan dulu, nanti gue cerita” balasku dengan lesu. Akupun menceritakan kejadian semalam. Danis terlihat seperti tidak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD