Happy Reading . . .
***
Alison membuka matanya saat ia mendengar beberapa kali suara ketukan pintu di luar sana. Dengan menggerakkan tubuhnya yang sedikit terasa sakit karena rasa lelah yang mendera tubuhnya belum juga hilang dan di tambah lagi ranjang kecil yang ia tempati ternyata begitu tipis, wanita itu pun beranjak bangun untuk membukakan pintu yang masih diketuk dari luar.
Setelah Alison membuka pintu, tanpa adanya sapaan atau apapun. Wanita itu langsung mendapatkan pengusiran yang membuat mood paginya langsung hancur begitu saja.
"Hari sudah pagi dan kau bisa pergi," ujar pria itu dengan singkat dan langsung meninggalkan Alison yang belum membuka matanya dengan sempurna karena rasa kantuk yang masih ia rasakan.
Karena tidak ingin membuat sang pemilik rumah yang sudah acuh itu semakin marah dengannya, Alison pun ingin mengambil tas tangan yang berisi ponsel dan dompet di atas ranjang. Namun ketika Alison baru saja melangkah, kakinya pun menyandung kaki meja kayu yang lapisannya ternyata cukup tebal hingga membuat wanita itu terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup gaduh.
Alison yang tadinya masih merasakan kantuk yang begitu berat langsung membuka matanya dengan maksimal ketika ia merasakan sakit di kakinya. Ia menangis kesakitan hingga membuat pria yang sudah pergi tadi datang kembali menghampirinya.
"Hey, apa yang terjadi?" tanyanya saat melihat Alison yang jatuh tergeletak di sana.
"Kakiku sakit," balas Alison disela tangisannya.
Pria itu pun berlutut di belakang tubuh Alison dan melihat bagian dalam kaki kiri Alison yang terlihat memar.
"Bagaimana kau bisa jatuh seperti ini?"
"Aku tersandung kaki meja,"
"Apakah sangat sakit?"
Alison pun menganggukkan kepala sambil berusaha menghentikan tangisan.
Dan tanpa diduga pria itu langsung mengangkat Alison ke gendongannya, lalu ia mendudukkan wanita itu di atas ranjang.
"Ini hanya memar saja."
"Tapi sangat sakit."
"Akan aku ambilkan obat memar."
Setelah pria itu pergi untuk mengambil obat memar, Alison pun menghapus sisa air matanya dan ia sedikit tersenyum saat mengingat perhatian dan pertolongan yang pria itu berikan kepadanya.
Alison benar-benar tidak bisa membaca sifat pria itu. Terkadang ia bersifat kasar dengan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dan terdengar begitu tajam. Tetapi, terkadang pria itu juga bersikap baik dan sedikit perhatian kepadanya.
Dan justru sifat-sifat seperti itulah yang sebenarnya Alison sukai dari seorang pria. Begitu misterius namun membuatnya semakin ingin tahu tentang pria itu.
Namun ketika Alison sedang melamun dan memikirkan sifat pria misterius itu, ia pun langsung tersadar ketika kakinya yang memar ditekan hingga membuatnya berteriak kesakitan.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apakah kau sudah gila?"
"Bisakah sekali saja kau tidak berbicara kasar kepadaku?" tanya Alison dengan kesal.
"Tidak," balasnya singkat sambil mengobati luka memar di kaki wanita itu.
Alison lebih memilih diam dan menekuk wajahnya selama pria itu mengobati kakinya.
"Sudah."
Setelah pria itu selesai mengobatinya, Alison langsung berdiri dan mengambil tas miliknya.
"Kau ingin ke mana?" tanya pria itu sambil berdiri dan menatap Alison dengan bingung.
"Pergi, sebelum kau mengusirku lagi." balas Alison ketus.
"Dengan kaki seperti ini? Aku ingin tahu seberapa jauh kau bisa berjalan dengan kakimu itu?"
Walaupun tetap berbicara dengan nada kasar, tetapi Alison juga membenarkan ucapan pria itu.
"Duduk!" perintah pria itu sambil mendorong bahu Alison hingga ia kembali duduk di atas ranjang.
Lalu pria itu memberikan sepiring roti isi dan segelas s**u hangat yang ia bawa sekalian saat mengambil obat memar tadi.
"Makanlah. Aku tahu sejak kemarin kau belum makan."
"Kau tidak ingin meracuniku, bukan?" tanya Alison sambil menatap makanan dan minuman yang ada di tangannya.
"Jika kau tidak mau-" balasnya yang ingin mengambil makanan itu namun langsung ditahan oleh Alison.
Dan wanita itu pun langsung melahap roti isi itu dengan lahap. Sejak kemarin perutnya tidak terisi makanan yang membuat wanita itu sangat kelaparan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Alison menghabiskan 2 lapis roti isi dan segelas s**u, wanita itu bersendawa kecil setelah ia menyelesaikan makannya hingga membuat pria yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Terima kasih," ujar Alison sambil memberikan piring dan gelas yang sudah kosong kepada pria itu. "Hey, apa aku boleh meminjam pakaianmu atau siapapun? Yang sudah lama tidak dipakai pun tidak apa-apa. Aku ingin membersihkan tubuh dan mengganti pakaianku," sambungnya.
"Cepatlah sembuh agar kau bisa segera pergi dan tidak menyusahkanku lagi," balas pria itu lagi-lagi dengan begitu ketus dan langsung meninggalkan Alison.
Sudah tidak heran lagi bagi Alison saat melihat sikap acuh pria itu. Tetapi entah kenapa Alison selalu terpesona oleh setiap perlakuannya. Ia seakan lupa jika baru saja ia ditinggalkan oleh Theo. Itu semua karena selama ini ia tidak dicintai dengan tulus sehingga membuat wanita itu juga dengan mudah melupakan masa lalu dan kenangan bersama tunangannya.
Tidak lama kemudian, Alison pun mendengar suara ketukan pintu yang kali ini terdengar begitu pelan dan sopan. Dengan sedikit kesulitan dan menahan rasa sakit, wanita itu melangkahkan kaki untuk membukakan pintu.
"Hallo," sapa seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan dengan ramah kepada Alison.
"Hai," balas Alison dengan tersenyum dan tak kalah ramah.
"Aku diminta untuk mengantarkan pakaian dan peralatan mandi untukmu."
"Ahh... terima kasih," ujar Alison sambil mengambil barang-barang itu. "Lalu, dimanakah aku bisa membersihkan tubuhku?" sambungnya.
"Di sebelah rumah ini ada kamar mandi yang bisa kau pakai."
"Ohh... begitu. Baiklah, sekali lagi terima kasih."
Setelah kepergian wanita itu, Alison pun segera menuju kamar mandi yang dimaksudkan tadi. Ia sudah tidak tahan lagi untuk bisa segera membersihkan dirinya yang sejak kemarin juga belum tersentuh air.
Cukup lama Alison membersihkan tubuhnya karena ia adalah tipe wanita yang senang berlama-lama berada di kamar mandi. Setelah mengenakan t-shirt yang terasa cukup kebesaran di tubuhnya dan celana pendek yang untungnya terasa pas, Alison pun keluar dari kamar mandi dengan langkah tertatih.
Tetapi, ketika dirinya hendak kembali ke rumah tersebut. Ia bisa melihat ada seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar 5 tahunan, sedang tengkurap di dekat saluran air dan hendak mengambil sesuatu.
Alison menegokkan kepala ke kanan dan kiri untuk mencari pendamping anak kecil itu yang ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Hatinya pun langsung tersentuh saat melihat anak kecil yang terlihat sedang kesulitan itu.
"Hallo, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alison sambil menghampirinya.
Anak kecil itu menengokkan kepala ke asal suara dan melihat Alison yang sudah berada di sampingnya.
"Pesawatku jatuh ke sana," balasnya sambil menunjuk sebuah pesawat kertas di dalam saluran yang sudah tidak terbentuk karena terkena air.
Anak yang terlihat begitu menggemaskan karena pipi gembul dan tubuh kecil yang cukup berisi membuat Alison ingin memeluk sekaligus mencubiti pipi bocah itu.
"Sayangnya pesawatmu sudah rusak dan tidak bisa diambil lagi."
Ucapan Alison itu langsung membuat raut wajah anak kecil itu sedih. Merasa tidak tega ketika melihat wajah sedih anak itu, Alison pun berniat untuk menghibur dengan memberikannya mainan baru.
"Tapi aku punya mainan yang lebih bagus dan menarik," ujar Alison yang langsung membuat wajah anak kecil itu senang.
"Apa?" tanyanya dengan sangat antusias.
"Kau tunggu di sini sebentar."
Setelah itu Alison menaruh baju kotor yang ia bawa dengan sembarang, lalu ia melangkahkan kakinya kembali ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa wadah kecil yang ia temukan di dalam kamar mandi berisi campuran air dan sabun.
"Kemarilah," ajak Alison menyuruh anak kecil itu untuk menghampirinya di kursi panjang yang sudah ia duduki. "Apakah kau pernah bermain gelembung?" sambungnya.
"Tidak," balasnya dengan polos.
"Akan aku ajarkan."
Setelah membentuk sebuah batang tanaman yang cukup lentur yang sebelumnya sudah ia petik tadi menjadi lingkaran kecil, Alison pun memasukkan lingkaran tersebut ke dalam cairan sabun yang ia cairkan tadi dan ia langsung meniupnya hingga gelembung pun keluar dari lingkaran itu. Sebuah tepukan tangan kecil langsung terdengar disaat gelembung tersebut terbang lalu meletus.
"Menyenangkan, bukan?" tanya Alison yang langsung dijawab dengan anggukkan dan senyuman cerah yang terbit di wajah anak laki-laki itu. "Apakah kau ingin mencobanya?" sambung Alison.
Alison memberikan alat untuk meniup gelembung tersebut yang langsung disambut dengan gembira. Sambil sesekali mengajarkan cara menggunakannya, Alison pun turut merasa senang saat bermain dengannya.
Wanita itu ikut tersenyum ketika bocah itu sudah sibuk dengan dunia barunya. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Karena 2 orang yang sedang bersenang-senang itu langsung mendengar suara teriakan yang sedang memanggil-manggil nama seseorang.
"Tyler, di mana kau berada?" suara teriakan yang terdengar semakin dekat.
Saat mendengar suara tersebut, anak laki-laki yang sedang asyik bermain tadi langsung menjatuhkan cairan sabun yang ia pegang dan dengan cepat menghampiri Alison lalu ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
Sedangkan Alison yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba itu merasa terkejut sekaligus bingung. Dan tidak lama kemudian datanglah pria menyebalkan yang ternyata berteriak memanggil seseorang.
"Sudah berapa kali ku katakan untuk jangan keluar rumah?!" ujar pria itu ketika ia sudah berada di depan bocah yang ternyata bernama Tyler.
"Hey, tidak perlu bernada tinggi seperti itu kepada anak kecil!" bela Alison.
"Kau jangan ikut campur!". "Gina!" panggil pria itu yang tidak lama kemudian datanglah seorang wanita yang tadi membawakan pakaian dan peralatan mandi untuk Alison.
"Kenapa kau tidak melaksanakan pekerjaanmu dengan benar? Apa perintah dariku belum cukup jelas?"
"Maaf, Tuan. Tadi saya pikir Tyler sedang bermain di ruang tamu saat saya sedang berada di dapur."
"Sekarang cepat bawa Tyler masuk!" perintahnya dengan tegas.
Setelah Gina membujuk Tyler untuk ikut dengannya, tinggal-lah 2 orang yang kini saling berpandangan.
"Kakimu sudah sembuh, bukan? Sebaiknya kau-"
"Iya, aku akan pergi dari sini!" sela Alison dengan sangat kesal.
Namun, ketika Alison sudah bangkit berdiri dan baru saja melangkahkan kaki. Ia pun langsung jatuh terpeleset akibat menginjak tetesan cairan sabun yang tadi ia mainkan hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
Bukan hanya rasa sakit saja yang Alison rasakan, tetapi rasa malu kini lebih mendominasi dirinya ketika melihat pria di hadapannya sedikit tertawa. Situasi tegang yang sempat terasa di antara mereka, langsung terpecahkan saat Alison kembali terjatuh di hadapan pria itu.
"Apakah terjatuh adalah salah satu hobi-mu?"
"Tidak lucu!" seru Alison dengan ketus.
"Begitu saja marah. Ayo, aku bantu," ledek pria itu sambil mengulurkan tangan untuk membantu Alison berdiri.
Tetapi ketika ia hendak melangkahkan kaki menghampiri Alison, pria itu justru menginjak cairan sabun yang Tyler jatuhkan tadi hingga membuatnya ikut terpeleset dan jatuh.
Suara tawa Alison pun langsung meledak saat melihat pria itu yang ikut terjatuh di sampingnya. Wanita itu semakin tidak bisa menahan tawa disaat ia melihat pria itu yang ingin bangkit berdiri namun justru kembali terjatuh karena begitu licinnya lantai yang terkena cairan sabun.
"Kapan kau akan menghentikan tawamu dan membantuku untuk berdiri?" tanyanya menyindir Alison.
"Kau tahu bukan, jika orang jahat itu akan selalu mendapatkan balasannya? Dan kau adalah salah satunya," balas Alison sambil bangun dari posisi telentang menjadi berlutut di samping pria itu.
"Sudah cepat, aku tidak butuh nasihatmu."
Alison pun hendak membantu pria itu untuk berdiri. Tetapi ketika ia sedang menarik tangan pria itu yang terasa cukup licin karena cairan tersebut, membuat tarikan Alison terlepas dan hampir membuatnya terjatuh ke belakang jika tubuh Alison tidak sigap ditarik dan membuat dirinya menindih pria itu.
Tubuh yang berada di atas tubuh keras pria itu membuat Alison seperti tidak bisa bernafas apalagi menggerakkan tubuhnya. Belum lagi ia sibuk meredam detak jantungnya yang langsung berdetak semakin kencang.
Serangan yang ia rasakan itu belum berhenti sampai disitu saja. Mata biru laut yang kini kembali memusatkan pandangan Alison kepada keindahan ciptaan Tuhan, seakan menghentikan waktu yang sedang berputar. Hal yang tidak pernah ia dapat apalagi rasakan dari pria manapun.
"Kenapa ketampananmu ini harus disandingkan dengan sifatmu yang begitu menyebalkan?" tanya Alison tanpa sadar.
"Apa?"
"Hah? Apanya yang apa?"
"Apa maksud dari ucapanmu tadi?"
"Pertanyaanku yang mana?" tanya Alison sedikit bingung.
"Sudahlah, aku tahu kapasitas otakmu itu sangat minim."
"Maksudmu?" protes Alison tidak terima.
"Maksudku, sampai kapan kau akan menindih tubuhku seperti ini?"
Alison yang baru menyadari jika sejak tadi ia mengobrol dengan keadaan menindih pria itu, langsung dengan cepat menyingkirkan tubuhnya dan membiarkan pria itu bangkit berdiri.
Namun kali ini ia tidak membantu Alison untuk berdiri juga. Pria itu justru langsung meninggalkan Alison yang masih terduduk dan memikirkan kejadian yang membuat dirinya merasa berada di antara dunia mimpi dan nyata.
***
To be continued . . .