Happy Reading . . .
***
Alison mengangkat tinggi-tinggi ponselnya berharap agar bisa mendapatkan jaringan sinyal. Tetapi hal itu tidak membuahkan hasil ketika ia sampai berkorban naik ke atap rumah untuk mendapatkan satu titik jaringan saja. Dan ditambah lagi dengan hari yang sudah malam membuat usaha wanita itu semakin terasa sia-sia.
Itu semua ia lakukan agar Alison dapat menghubungi Albert dan supirnya itu bisa segera menjemputnya. Ia lelah mendengar pria itu yang selalu mengusir-usirnya.
"Apakah sudah dapat jaringan?" tanya pria itu yang sedang memegangi tangga di bawah sana.
"Tidak. Baterai ponselku habis dan sekarang sudah mati," balas Alison sedikit berteriak di atas atap.
"Kau punya charger-nya, bukan?"
"Itu dia."
"Apa?"
"Aku lupa membawanya."
"Arghh..." geram pria itu dengan kesal sambil menendang kaki tangga hingga jatuh ke tanah. Untung saja Alison sudah terlebih dahulu duduk di atas atap sehingga tidak membuat wanita itu terjatuh.
"Hey, bagaimana caranya aku turun?" protesnya.
"Tidak tahu. Kau pikir saja sendiri!" seru pria itu dan langsung meninggalkan Alison yang masih berada di atas atap rumah.
"Aku tidak bisa turun! Hey, tolong aku." teriak Alison dengan panik.
Wanita itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung bagaimana caranya ia turun. Pria itu benar-benar tega dengannya. Entah seberapa besar ketidaksukaan yang ia miliki hingga membuatnya selalu bersikap menyebalkan kepada Alison.
"Hello... adakah seseorang di bawah sana?" ujar Alison sambil memperhatikan keadaan di bawah yang tidak ada siapa-siapa.
Melihat tangga portable yang tergeletak di tanah itu, membuat Alison ingin melompat saja dari atap rumah itu. Namun ia lebih sayang dengan kakinya yang baru saja terasa pulih setelah tadi pagi tersandung kaki meja.
"Hello... adakah seseorang yang bisa membantuku? Siapapun?" ujar Alison lagi dengan lemah.
Sudah cukup lama ia terduduk di atas sana dan wanita itu hanya bisa berpasrah saja. Jika tidak ada yang menolongnya, mau tidak mau ia harus rela tidur di atas atap rumah itu.
Dan, tidak lama kemudian. Pria itu pun datang kembali dan langsung menaruh tangga yang jatuh pada posisi semula.
"Turun! Kau tidak ingin menemani tikus-tikus di atas sana, bukan?"
Melihat tangga yang sudah ditaruh diposisi semula, Alison pun segera turun dengan perlahan. Dan ketika Alison sudah berada di bawah, ia langsung melangkahkan kaki menuju rumah kecil yang berada di belakang.
"Hey, tidak ada ucapan terima kasih? Aku hanya bergurau saja, kau tahu?" ucap pria itu saat melihat Alison yang pergi begitu saja.
"Gurauanmu tidak lucu!" teriak Alison dengan kesal dan tetap melangkahkan kakinya.
Pria itu pun tersenyum ketika melihat tingkah Alison yang sedang kesal dengannya. Ia sadar setelah bertemu dengan wanita itu, entah kenapa sisi kejenakaan dirinya yang sudah lama menghilang bersamaan dengan masa lalu yang begitu kelam pun muncul kembali.
***
Keesokkan harinya, Alison terbangun dengan perasaan yang cukup berbeda dari kemarin. Karena kali ini ia tidak dibangunkan dengan suara ketukan pintu atau kalimat pengusiran bernada tajam yang selalu pria itu lontarkan kepadanya.
Wanita itu melangkahkan kaki keluar dari rumah kecil tersebut hendak menghirup udara pagi yang sepertinya terasa begitu segar untuk dinikmati. Dan benar saja, ketika ia baru keluar dari rumah udara segar pun langsung menyapu wajah dan tubuh Alison.
Udara yang begitu segar dengan suara kicauan burung khas pagi hari, membuat mood Alison langsung melonjak penuh. Suasana yang belum pernah dan baru kali ini ia rasakan sejak ia dilahirkan di dunia ini.
Saat Alison sedang memperhatikan birunya langit di atas, ia pun mendengar suara seseorang yang sedang berlari dari kejauhan. Dan senyuman Alison langsung terbit saat melihat Tyler-lah yang ternyata sedang berlari.
"Hallo, selamat pagi." sapa Alison ketika bocah itu sedang lewat di depannya.
"Hallo."
"Nama-mu Tyler, bukan?"
Bocah kecil itu menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Kau ingin ke mana?"
"Aku ingin mengambil bola itu," balasnya sambil menunjuk sebuah bola kaki yang berada tidak jauh darinya.
"Kau ingin bermain bola? Dengan siapa?"
"Sendiri."
"Tidak ada yang menemani?"
Tyler pun menggelengkan kepala dengan pelan.
"Bagaimana kalau aku temani? Aku juga ingin bermain bola denganmu," tawar Alison.
"Benarkah?" tanya Tyler yang langsung bersemangat.
"Iya. Ayo kita bermain bola bersama!"
Dengan cepat Tyler mengambil bola tersebut dan menghampiri Alison yang sedang melangkahkan kaki menuju tanah berumput yang berada tepat di depan rumah kecil tersebut. Sebenarnya Alison sama sekali tidak bisa dan tidak mengerti dengan permainan bola.
Tetapi entah kenapa, sejak pertama kali ia bertemu dengan Tyler. Setiap melihat bocah itu, ia begitu tertarik dan selalu merasa ingin mengajak Tyler bermain.
Begitu juga dengan Tyler, ia selalu terlihat begitu senang saat bermain dengan Alison. Cukup lama mereka bermain bola walau hanya saling mengoper-oper saja, tidak lama datanglah Gina sambil memanggil Tyler. Permainan bola yang terasa cukup menyenangkan itu pun langsung terhenti.
"Tyler, kau harus makan dulu, okay?" ujar Gina saat ia melihat bocah yang sudah begitu berkeringat dan nafas yang terengah-engah.
"Hallo, kau Gina bukan? Perkenalkan aku Alison," sapa wanita itu saat Gina berada di sampingnya.
"Hallo, Alison. Maaf jika Tyler selalu merepotkanmu?"
"Tidak masalah. Aku senang bisa bermain bersama dengannya," balas Alison sambil mengelus puncak kepala bocah yang sudah memeluk tubuh Gina.
"O iya, ini beberapa pakaian ganti yang Tuan perintahkan untuk diberikan kepadamu," ujar Gina sambil memberikan setumpuk pakaian yang ia bawa tadi kepada Alison.
"Terima kasih."
"Setelah kau selesai membersihkan diri nanti, kau bisa ikut makan bersama Tyler. Aku akan menyiapkan makanan untukmu."
"Tidak perlu merepotkan seperti itu, Gina."
"Tidak apa. Kau juga merasa lapar setelah menemani Tyler bermain, bukan?"
"Baiklah."
"Aku tunggu, okay?"
Setelah itu Alison pun segera membersihkan tubuh agar ia bisa segera mengisi perutnya. Tidak dapat dipungkiri lagi saat bermain bersama Tyler tadi perutnya pun sebenarnya sudah meminta untuk segera diisi.
Kali ini Alison tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Setelah ia selesai dan mengganti pakaian, ia pun melangkahkan kaki menuju rumah utama yang berada di bagian depan.
Tidak lama Alison mengetuk pintu, Gina pun datang dan menyuruhnya masuk untuk bergabung dengan Tyler di meja makan selagi ia akan menyiapkan makanan.
"Kau sudah bisa makan sendiri, Tyler?" tanya Alison setelah ia mendudukkan diri di samping bocah yang sedang menikmati makanannya itu.
"Aku harus bisa makan sendiri."
"Kau sungguh anak yang pintar," ujar wanita itu sambil mengelus puncak kepala Tyler dengan sayang.
Setelah memperhatikan Tyler yang sedang makan, ia pun memperhatikan kondisi isi rumah tersebut. Rumah yang cukup sederhana namun terasa sangat nyaman. Campuran gaya minimalis dan natural, membuat rumah itu semakin terasa sejuk walau tanpa alat pendingin elektronik apapun.
"Kau sedang mencari siapa? Tenang saja, biasanya Tuan akan lama jika ia sudah berada di kebun," ujar Gina menyadarkan Alison sambil menaruh sepiring makanan di hadapan wanita itu.
"Ti-tidak. Aku hanya sedang memperhatikan rumah ini yang terasa begitu nyaman." balas Alison sambil mulai menyendokkan makanannya.
"Tentu saja, karena Tuan sendiri yang merancang rumah ini."
Merancang? Sebenarnya hal apa yang pria itu tekuni? Jika sebelumnya saja Gina sudah mengatakan kalau Tuannya itu sedang berada di kebun? Perasaan penasaran Alison akan pria itu pun semakin terasa menjadi-jadi.
Ia sangat ingin tahu tentang pria yang sudah membuat perasaannya menjadi tidak karuan seperti itu. Dan, ditambah lagi ia juga ingin tahu apa hubungan yang dimiliki Tyler dan pria itu?
Setelah menghabiskan makanannya, Alison menyusul Gina yang sedang berada di dapur.
"Terima kasih atas makanannya, Gina. Rasa masakkanmu itu sudah sama seperti chef-chef hebat di luar sana."
"Kau begitu menyanjungku, Alison." balas Gina sambil tertawa kecil.
"Aku bersungguh-sungguh, Gina."
Gina semakin tersenyum mendengar pujian dari Alison.
"Gina, dimanakah letak kebun yang kau bicarakan tadi?" tanya Alison.
"Kau ingin menyusul Tuan?"
"Iy-, tentu saja tidak! Aku hanya sedang ingin mencari suasana baru. Sudah berhari-hari aku di sini tetapi aku masih belum mengenali daerah sekitar sini," bantah Alison.
"Seperti itu?"
Alison pun menganggukkan kepalanya cepat.
"Kebunnya berada tepat di depan rumah ini. Jika kau ingin menemui Tuan, kau bisa mencari di bagian dalam lahan kebun," ujar Gina yang sedikit menggoda Alison.
"Aku tidak ingin menemuinya, okay? Aku sudah cukup bosan melihat wajahnya yang menyebalkan itu," keluh wanita itu.
"Benarkah?" balas Gina yang semakin menggoda Alison dengan nada bicaranya.
"Sampai jumpa, Gina!" seru Alison yang langsung meninggalkan wanita itu.
Lalu, ia melangkahkan kaki menuju lahan kebun yang dimaksudkan oleh Gina tadi. Setelah berada di dalam kebun yang tertanam pohon-pohon apel, Alison pun mencari keberadaan seseorang yang sebenarnya memang ingin ia temui.
Ketika ia sudah menelusuri hingga bagian dalam lahan, dari kejauhan Alison bisa melihat sesosok pria dengan t-shirt hitam ketat yang mencetak bentuk tubuh sempurna pria itu.
"Apa kau tidak ingin memberikan apel itu kepadaku?" tanya Alison saat ia sudah menghampiri dan memperhatikan pria yang sedang disibukkan dengan sebuah apel di tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" balasnya acuh dan tetap melakukan kegiatannya itu.
"Aku bosan jika harus berada di dalam rumah terus. Lagi pula, aku juga ingin melihat-lihat desa ini."
"Kau sudah tidak marah lagi denganku?" tanyanya yang langsung mengingatkan wanita itu kepada kejadian semalam.
"Aku tidak ingin membahasnya lagi," balas Alison yang tiba-tiba saja merasa kesal kembali ketika mengingat hal tersebut.
"Sebaiknya kau pu-" ucapan pria itu langsung terhenti saat melihat Alison.
"Ada apa?" tanya Alison yang merasa bingung karena pria itu tiba-tiba saja menghentikan ucapannya.
"Jangan bergerak!" perintahnya sambil menghampiri Alison.
"Me-memangnya ada apa?"
"Aku bilang jangan bergerak."
Tubuh Alison langsung menegang ketika pria itu sudah berada di hadapannya dengan jarak yang cukup sempit di antara mereka.
"Ada ulat di bahumu," ujar pria itu sambil memetik daun di dekatnya dan hendak menyingkirkan ulat tersebut.
"Apa?" balas Alison dengan perasaan takut mulai menyerang dirinya.
"Diam atau kau akan terkena bulunya yang akan membuatmu gatal-gatal?"
"Cepat singkirkan!"
"Ulatnya cukup besar dan aku juga harus berhati-hati."
"Aku mohon singkirkan!" ujar Alison yang sudah menutup mata dan menahan jeritan yang juga sudah sangat ingin ia teriakkan.
Setelah berhasil mengambil ulat tersebut dengan daun yang ia ambil tadi, pria itu membuangnya ke tanah dan langsung ia injak.
"Sudah."
"Benarkah?"
"Tidak! Di punggungmu rupanya lebih banyak."
Ucapan pria itu langsung membuat Alison berteriak sekencang-kencangnya hingga ia melompat dan memeluk erat tubuh pria di hadapannya. Sedangkan pria itu dengan sigap langsung menahan b****g Alison hingga tanpa sadar jika ia sedang menggendong tubuh wanita itu.
"Cepat singkirkan semua ulatnya!"
"Hey, aku hanya bergurau. Okay?"
"Apa?"
"Tidak ada ulat di punggungmu. Aku hanya bergurau saja."
"Benarkah?"
Alison langsung bisa bernafas dengan lega. Ia pun mengatur nafasnya yang terasa begitu memburu karena rasa takut yang baru saja ia rasakan. Tidak lama kemudian, Alison sudah bisa menenangkan dirinya.
Tetapi tidak dengan jantungnya, yang masih berdetak dengan cepat. Itu semua karena ia sedang menghirup aroma tubuh pria itu pada lehernya. Campuran sedikit bau keringat dan wangi parfume yang begitu 'manly', membuat Alison merasa dimabuk kepayang.
Ia tidak peduli lagi dengan detakan cepat jantungnya yang mungkin akan pria itu rasakan juga. Yang ia pedulikan hanyalah rasa senang dan bahagia karena saat ini tubuhnya sedang berada di dekapan seorang pria yang juga tidak berniat untuk menurunkan tubuh Alison.
Dengan perlahan Alison mengendurkan pelukannya hingga ia berhadapan dan menatap mata pria itu. Lagi dan selalu, mata biru laut yang membuat Alison terpesona akannya.
Disaat ia sedang menatap mata itu, entah dari mana keberanian yang Alison dapatkan hingga ia menghabiskan jarak di antara mereka. Alison mendekatkan wajah hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Setelah memiringkan sedikit kepala, Alison langsung menempelkan bibirnya pada bibir pria itu dengan menutup mata. Dengan perlahan, ia mengecup bibir pria itu dengan bibir basahnya hingga terdengar suara kecupan di antara mereka yang cukup nyaring.
Ia memang terpikat dengannya, tetapi proses yang ia jalani hingga dengan beraninya ia mencium pria itu terasa begitu cepat sekali. Bahkan baru dalam hitungan 3 hari mereka bertemu dan wanita itu juga tidak menyangka jika ia akan melakukan hal yang ia sendiri tidak rencanakan.
Namun ketika sudah beberapa kali Alison berusaha menggigit lembut bibir pria itu agar dapat membuka mulut dan ciumannya itu dapat terbalasakan, justru usaha wanita itu hanyalah terasa sia-sia. Pria itu tidak membalas ciuman Alison dan terkesan hanya menutup bibirnya rapat-rapat.
Rasa kecewa pun semakin wanita itu rasakan ketika tiba-tiba saja tubuhnya diturunkan hingga bibirnya yang masih menyatu itu terlepas.
"Sebaiknya kau kembali ke rumah. Kebun ini sedang diserang oleh hama ulat," ujar pria itu dengan acuh dan langsung melanjutkan pekerjaannya kembali seperti baru saja tidak terjadi hal apa-apa.
Alison hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan, karena ia baru saja menelan rasa kekecewaan dari penolakan yang diperlihatkan secara terang-terangan oleh pria itu. Ia tahu dengan hal yang ia lakukan itu justru membuat dirinya terkesan bodoh, sekaligus mempermalukan dirinya sendiri.
Tetapi di dalam dirinya, Alison sudah bertekad untuk menakhlukan hati pria itu. Alison begitu terpikat sampai sudah merasa jatuh cinta dengannya. Ia ingin menakhlukan hati pria itu, sampai pria yang ia cintai juga merasakan hal yang apa ia rasakan. Walaupun Alison sebenarnya juga belum mengetahui masa lalu pria itu yang terasa begitu menyakitkan.
***
To be continued . . .