Happy Reading . . .
***
Hari sudah mulai gelap, namun sudah sejak kembali dari kebun tadi Alison sudah menunggu kedatangan pria itu di depan rumahnya. Ia hanya ingin menjelaskan perbuatan bodohnya yang bisa saja semakin membuat pria itu tidak suka atau bahkan sampai membencinya.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan Alison bisa melihat kedatangan pria itu. Setelah bangkit dari duduknya, Alison langsung menghampiri pria itu. Rasa tidak sabar saat ia menunggu yang ia rasakan tadi, langsung tergantikan dengan perasaan gugup saat ia sudah menghentikan langkah pria itu dan berdiri tepat di hadapannya.
Kalimat-kalimat penjelasan yang sudah ia rancang sedemikian rupa saat ia sedang menunggu pria itu tadi, langsung berantakan dan hilang setelah ia berhadapan dengannya.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan datar.
'Sial!' Kata-kata itulah yang justru memenuhi pikiran Alison disaat wanita itu tidak bisa membuka mulut dan mengeluarkan suaranya untuk menjelaskan kejadian yang tidak disangka-sangka tersebut.
"Apa sekarang kau sudah menjadi bisu atau tidak bisa mendengar?" tanya pria itu lagi dengan kalimat tajamnya.
"Hhmm... ak-aku. Aku hanya ingin..."
"Ingin apa?"
"Ingin ... bertanya apakah aku boleh menginap di tempatmu lagi sampai aku menemukan cara agar aku bisa pulang?" ujar Alison dengan begitu cepat.
"Terserah kau saja," balas pria itu dengan singkat dan langsung meninggalkan Alison yang sedang menenangkan diri dari serangan kegugupannya.
"F*ck!" umpat Alison kepada diri sendiri.
Beberapa saat ketika Alison merutuki kebodohan, dari kejauhan ia bisa mendengar suara Gina yang memanggilnya di belakang sana.
"Tuan menyuruhmu untuk makan malam di dalam."
"APA?" balas Alison karena terkejut sekaligus tidak percaya dengan hal yang baru saja ia dengar.
"Ayo, masuklah."
Alison pun melangkahkan kaki dengan sedikit ragu memasuki rumah tersebut. Saat ini ia benar-benar sangat tidak habis pikir dengan pria itu. Baru saja pria itu bersikap acuh dan tidak peduli dengannya.
Tetapi beberapa saat kemudian sikapnya langsung berubah dengan mengajak wanita itu makan malam. Setelah sampai di teras, tangan Alison langsung di tarik Gina untuk memasuki rumah.
"Duduklah. Sebentar lagi masakkanku akan siap," perintah Gina saat mereka sudah berada di meja makan.
Alison mendudukkan diri di kursi meja makan setelah Gina kembali ke dapur. Wanita itu memperhatikan keadaan sekitar dengan canggung. Ia masih belum mengetahui apa maksud dan tujuan dari pria itu.
Ketika Alison sedang meminum segelas air putih di hadapannya untuk menghilangkan rasa gugup, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara dehaman seseorang hingga membuatnya langsung tersedak.
Untung saja ia tidak menyemburkan air yang masih berada di mulutnya hingga bisa saja membuat Alison semakin tidak ada nilai 'plus'-nya di mata pria itu.
Pria itu sudah duduk di kursi seberang dan menatap Alison dengan pandangan serius yang membuat wanita itu langsung semakin merasa tidak nyaman disaat ia juga belum bisa meredakan batuk akibat tersedak air yang diminum.
"Sampai kapan kau akan berada di sini?" tanya pria itu langsung ke intinya.
"Maksud-mu?" balas Alison yang memang tidak mengerti.
"Kau mengatakan jika ingin menginap di sini sampai kau menemukan cara untuk pulang, bukan? Lalu rencana apa yang sudah kau punya?"
"Tidak tahu."
"Aku pun juga semakin yakin dengan kapasitas otakmu itu,". "Lalu, apa maksud dari tindakanmu tadi pagi?" sambungnya setelah terjadi beberapa saat kesunyian di antara mereka.
Tubuh Alison langsung menegang ketika mendengar pertanyaan itu. Bibir dan lidahnya terasa begitu kelu hingga perasaan tidak bisa berbicara kembali menyerangnya.
"Apakah kau jatuh cinta kepadaku?"
" . . . "
"Hey, aku bertanya. Kau jatuh cinta kepadaku?" tanya pria itu yang semakin menatap Alison lekat.
'Apakah sangat terbaca olehnya?' batin Alison sedikit cemas.
"Sebaiknya kau hilangkan pesarasaanmu itu sebelum terlalu jauh dan dalam."
"Kenapa?" pertanyaan bodoh yang meluncur begitu saja dari mulut Alison.
"Karena aku sudah memiliki Tyler. Dan aku harap kau mengerti dengan maksud dari jawaban itu," balas pria itu yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan Alison.
Alison pun hanya bisa terdiam mendengar pernyataan pria itu yang terang-terangan langsung menolaknya. Ia pikir maksud dari pria itu yang mengajaknya untuk makan malam adalah baik. Tetapi nyatanya ia justru semakin terlihat bodoh dan tidak memiliki rasa malu di hadapan pria itu.
Tidak lama kemudian, Alison pun tersadar dari lamunan ketika ia mencium aroma makanan yang sudah berada di hadapannya.
"Ada apa? Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya Gina sambil mengisi ulang air mineral yang hampir habis pada gelas Alison.
"Tidak apa-apa. Hhmm... apakah tidak ada yang makan malam selain aku?" balas Alison saat ia tersadar jika hanya dirinya sendiri yang berada di meja makan itu dengan makanan di hadapannya.
"Tyler sudah makan begitu pun denganku. Kalau Tuan, dia memang tidak terbiasa makan malam."
"Baiklah. Terima kasih atas makanannya, Gina."
"Tentu. Kalau begitu aku tinggal untuk membersihkan dapur dulu."
Setelah Gina menuju dapur, Alison menaruh sendok yang sudah ia pegang. Nafsu makannya langsung hilang ketika mengingat kembali setiap ucapan pria itu yang sudah cukup menyakiti hatinya.
Alison tahu jika pria itu memiliki Tyler yang mungkin saja memang anaknya. Apakah pria itu sudah menikah dan memiliki seorang istri? Tetapi sudah berhari-hari ia tinggal di tempat itu, ia sama sekali tidak melihat keberadaan seorang wanita selain Gina.
Lalu kenapa ucapan pria itu menyatakan jika seakan-akan dirinya sudah dimiliki oleh seseorang? Memikirkan semua hal itu membuat Alison menjadi sakit kepala. Tekad yang ia miliki untuk mendapatkan hati pria itu langsung hancur dengan seketika.
***
Burung-burung di luar sana sudah berkicau menandakan jika hari sudah berganti. Namun, wanita itu hanya menatap langit-langit kamar walau matanya sudah terasa begitu berat. Hanya karena masalah seorang pria yang sudah memporak-porandakan hati dan perasaannya, wanita itu sampai rela tidak tidur karena dirinya sudah begitu dipenuhi akan hal tentang pria itu.
Yang bahkan dengan mantan tunangannya sendiri saja ia tidak pernah merasakan sampai seperti itu. Apakah ia harus sadar diri dan tahu dengan kedudukannya yang hanya sebatas orang asing di kehidupan pria itu?
Jauh-jauh dan banyak resiko yang dikorbankan saat memilih untuk melarikan diri dari kejamnya dunia hiburan, wanita itu justru kembali dihadapi dengan masalah percintaan yang sebenarnya mudah namun terasa begitu rumit.
Lalu, Alison bangun dari tidurannya dan ingin mencari udara segar di luar sana yang mungkin saja dapat menyegarkan pikirannya kembali. Setelah Alison membuka pintu rumah, ia langsung bisa melihat keberadaan Gina yang sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil mengawasi Tyler yang sedang bermain bola. Lalu, Alison pun melangkahkan kaki dan mendudukkan dirinya di samping Gina.
"Selamat pagi, Gina."
"Hallo Alison. Ada apa dengan wajahmu?" tanya Gina saat melihat wajah Alison yang tidak terlihat seperti biasa.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengalami insomnia saja tadi malam."
"Apa ini ada hubungannya dengan Tuan?"
"Ini masih pagi Gina, dan kau sudah mulai menggodaku," rajuk Alison dengan kesal.
"Aku hanya bertanya saja," balas Gina sambil sedikit tertawa.
"O iya. Gina, apakah kau memiliki seorang kenalan yang memiliki kendaraan apapun? Bisakah aku menyewanya untuk mengantarkanku pulang?"
"Kau ingin pulang?"
"Sepertinya itu lebih baik. Aku tidak ingin mendengar Tuan-mu itu mengusir-usirku lagi."
"Hey, Alison. Apakah kau ingin mengetahui satu fakta?"
"Fakta?"
"Iya. Kau, adalah wanita pertama yang Tuan ajak bicara kembali selain diriku. Kau wanita pertama yang diperbolehkan untuk menempati salah satu rumahnya, selain saudara-saudaranya yang datang berkunjung ke sini. Kau terlihat begitu spesial di matanya semenjak..."
"Semenjak apa?" tanya Alison saat Gina menggantungkan kalimatnya.
"Itu bukanlah hak-ku untuk menceritakannya kepadamu. Tetapi jika kau mencintai Tuan, kau harus memperjuangkan itu. Karena peluangmu sangatlah besar, Alison."
"Tetapi bukankah dia sudah memiliki seorang istri?"
"Apa kau langsung percaya begitu saja?"
"Jadi..."
"Tyler! Waktu bermainmu sudah habis sayang," sela Gina dengan teriakannya memanggil bocah laki-laki itu. "Pikirkan kembali rencana kepulanganmu itu, Alison." sambungnya dan langsung meninggalkan Alison dengan Tyler digandengannya.
Itu bukanlah sebuah sinyal, tetapi itu sebuah pemberitahuan jika Alison masih berkesempatan untuk meluluhkan hati pria itu. Tanpa sadar, Alison langsung tersenyum senang. Wajah yang tadi terlihat begitu mengkhawatirkan berubah menjadi cerah kembali.
Kali ini ia tidak akan menyerah. Alison akan memiliki pendirian yang kuat dalam melakukan misi kali ini. Biarkan kali ini pihak wanitalah yang harus berjuang agar cintanya dapat terbalaskan. Karena memang hal itulah yang seharusnya dilakukan oleh semua orang jika cintanya tidak ingin bertepuk sebelah tangan.
***
To be continued . . .