Happy Reading . . .
***
Alison melangkahkan kaki menyusuri jalanan berbatu di depannya menuju sebuah kandang hewan ternak. Setelah wanita itu menyelesaikan makan siang, Gina langsung memberitahukan keberadaan Tuannya itu setelah beberapa kali Alison mengeluh jika sampai siang hari ia belum melihat keberadaan pria itu.
Setelah Gina seperti memberikan sedikit petunjuk jika peluang untuk mendapat pria itu sangatlah besar, saat itu juga Alison juga langsung terang-terangan menunjukkan perasaannya bahkan di depan Gina sekalipun kepada pria yang ia sendiri saja masih belum mengetahui namanya itu.
Sebenarnya bisa saja ia menanyakan langsung nama pria itu kepada Gina. Tetapi bagi Alison, berkenalan secara langsung dengannya akan membuat kesan spesial tersendiri nantinya.
Sambil membawa makan siang untuk pria itu juga, Alison menghentikan langkah tepat di tepi tanah lapang di mana pria itu juga sedang menungganginya. Perasaan Alison terasa membara saat melihat pesona yang pria itu miliki semakin terpancar seribu kali lipat disaat dengan gagah dan lihainya ia menunggangi kuda berwarna hitam itu.
Senyuman Alison pun semakin melebar saat pria itu melihat keberadaannya dan menghampiri Alison dengan kuda yang ia tunggangi.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku membawakan makan siang untukmu," balas Alison sambil mengangkat kotak makan yang ia bawa tadi.
"Aku bisa pulang sendiri dan aku bukanlah anak kecil yang perlu kau bawakan kotak makan seperti itu," ujar pria itu dengan sangat ketus hingga membuat senyuman Alison sedikit menghilang.
"Aku hanya ingin memastikan jika kau tidak terlambat makan."
"Terserah!" seru pria itu sambil meninggalkan Alison menuju kandang kuda yang berada di samping tanah lapang itu.
"Hey, aku akan menunggu di sini untuk menemanimu makan siang!" teriak Alison dengan cukup kencang.
Melihat pria itu sudah menghilang di balik kandang kuda, Alison memilih untuk melangkahkan kaki menuju pohon besar yang cukup rindang tidak jauh darinya. Lalu wanita itu mendudukkan dirinya di tanah berumput dengan terlindungi pohon di atasnya.
Alison harus lebih banyak lagi menarik nafasnya dengan sabar saat menghadapi sifat pria itu yang terkadang menyebalkan. Sebenarnya Alison tidak perlu mengejar-ngejar seorang pria yang belum tentu menginginkannya juga. Tetapi lubuk hatinya mengatakan jika pria yang sedang ia perjuangkan itu berbeda.
Pria itu tidak sama seperti pria-pria lain di luar sana, termasuk mantan tunangannya. Tidak ada kata menyerah bagi Alison. Ia harus bisa mendapatkan hati pria itu sebelum peluang yang sangat besar itu hilang dan membuatnya menjadi menyesal.
Cukup lama Alison menunggu di bawah pohon dengan makanan yang mulai terasa dingin, tetapi ia juga belum melihat pria itu keluar dari kandang kuda tersebut. Hingga kedua kakinya terasa sedikit gatal karena adanya semut-semut di rumput yang ia duduki itu.
Namun tidak lama ketika Alison sedang melihat awan yang tiba-tiba saja mendung, ia pun terkejut karena pria itu datang dan langsung duduk di hadapannya. Lalu, ia mengambil kotak makan yang sengaja Alison pegang agar makanannya tidak terkena semut-semut itu.
"Makanannya sudah dingin," ujar Alison sambil memperhatikan pria itu yang sedang membuka kotak makan.
"Maka dari itu kau tidak perlu membawakan makanan untukku layaknya anak kecil seperti ini," balasnya acuh dan hendak memakan makanan itu namun sudah ditahan oleh Alison terlebih dahulu.
"Kalau begitu tidak perlu kau makan. Aku lebih rela memberikannya kepada semut-semut kelaparan yang sudah menggigiti kakiku sejak tadi."
Dengan cepat Alison merebut kotak makan tersebut dan langsung menutupnya. Ketika Alison hendak berdiri, tangannya langsung ditahan hingga membuat gerakan wanita itu terhenti.
"Aku harus memeriksa pasangan kuda yang aku tunggangi tadi karena dia sedang sakit," jelas pria itu.
Suara itu, rasanya langsung dengan seketika melumpuhkan seluruh indera tubuh Alison. Suara yang terdengar begitu lembut seakan memberikan penjelasan agar dirinya tidak perlu marah dengan pria itu.
"Apa sekarang aku sudah boleh makan?"
Seperti sedang terhipnotis, Alison pun menganggukkan kepala dan memberikan kotak makan tersebut kembali sambil terus menatap pria di hadapannya.
"Tadi kau mengatakan jika memiliki sepasang kuda, bukan?" tanya Alison yang mengalihkan situasi di mana ia masih begitu terpaku dengan pria itu.
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin melihatnya. Dan, bisakah kau mengajarkanku menunggangi kuda itu?"
"Apa kau tuli? Aku sudah mengatakan jika kuda itu sedang sakit, bukan?" seru pria itu dengan sedikit bernada tinggi.
Wajah Alison langsung cemberut ketika ia harus menerima jawaban pedas lagi. Jawaban pedas yang kali ini terdengar cukup kasar. Lalu ia memilih untuk mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.
"Tidak perlu marah. Setelah ini aku akan mengajakmu untuk melihatnya. Kau puas?"
Mendengar ajakkan tersebut wanita itu masih tetap mengalihkan pandangan dan mendiaminya. Jika saja pria itu tidak membuatnya terus menerus merasa kesal, sudah dipastikan Alison akan langsung berteriak kegirangan.
"Kau marah denganku?" tanya pria itu sambil berusaha menatap wajah Alison. "Hey, aku sedang berbicara denganmu," sambungnya.
"Kau sudah selesai makan, bukan? Kalau begitu aku pulang dulu," ujar Alison sambil mengambil kotak makan yang sudah kosong itu.
Setelah itu ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan pria yang merasa bingung dengan sikap Alison yang kali ini tidak terkesan agresif seperti biasanya.
"Hey, kau benar-benar marah denganku?" teriaknya kepada Alison yang sudah pergi.
Melihat Alison yang benar-benar pergi, tanpa berpikir panjang lagi pria itu pun bergegas mengejar Alison.
"Hey, berhenti okay?" ujar pria itu ketika sudah berhasil mengejar Alison dan berdiri di hadapan wanita itu untuk menghalangi jalannya.
"Ada apa?" tanya Alison datar.
"Kau... huh... apa kau-"
"Hey, ambil nafas dulu," sela Alison saat mendengar nafas pria itu yang begitu terengah-engah sehabis berlari.
Pria itu pun menarik dan menghembuskan dengan perlahan beberapa kali hingga nafasnya terasa lebih baik.
"Kau ingin ke mana?"
"Menjauh darimu agar kau tidak merasa terganggu lagi dengan keberadaanku."
"Kau benar-benar marah denganku?"
"Kenapa aku harus marah? Aku sudah biasa mendengar setiap ucapan sarkastikmu itu kepadaku."
"Okay. Maaf jika aku sudah membuatmu selalu merasa kesal," ujar pria itu yang sadar dan merasa bersalah karena ucapannya tadi memang sedikit kasar.
"Apa?" tanya Alison dengan tidak percaya.
Dan, tanpa di duga pria itu melakukan hal yang cukup membuat Alison terkejut karena kedua tangannya kini sudah digenggam dan ia sedang ditatap dengan pandangan yang terasa menembus hingga hatinya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu selalu merasa kesal. Maukah kau memaafkanku?"
Secercah senyuman pun langsung terbit di wajah Alison. Walau hanya permintaan maaf biasa saja, nyatanya bisa membuat rasa amarah dan kesal yang Alison rasakan tadi langsung menghilang begitu saja. Karena wanita itu selalu merasakan jika setiap ucapan manis yang pria itu keluarkan sudah seperti kalimat yang memiliki sihir disetiap katanya.
"Jadi, kau sudah memaafkanku?"
"Aku belum menjawabnya."
"Tetapi senyuman di wajahmu itu sepertinya sudah menjawab permintaan maafku tadi."
"Aku tidak tersenyum!" ujar Alison yang langsung menghilangkan senyuman yang ia sendiri tidak menyadari jika sebenarnya ia sedang tersenyum.
"Lalu kamu tidak ingin memaafkanku?"
"Ada syaratnya."
"Apa?"
"Aku ingin melihat kuda!" rengek wanita itu.
"Hanya itu?"
Alison menganggukkan kepala dengan cepat sebagai jawabannya.
"Baiklah. Ayo kita lihat mereka."
Pria itu pun tidak berniat melepaskan genggaman tangannya dan justru sedikit menarik Alison agar mengikutinya. Senyuman Alison semakin tidak bisa ditahan lagi saat ia merasakan tangan kecilnya sedang berada di dalam genggaman tangan besar pria itu.
Rasa senang yang ia miliki sudah meliputi diri Alison. Bahkan ia lupa jika pria itu pernah mengatakan untuk menghilangkan perasaan cinta yang ia miliki. Tetapi bagaimana Alison bisa menghilangkan perasaannya jika saat ini saja pria itu sudah mulai bersikap manis kepadanya. Perubahan sikap yang juga membuat Alison menjadi bertanya-tanya sendiri.
"Aku akan melihatnya terlebih dahulu. Karena biasanya dia sedikit tidak suka dengan kehadiran orang baru dan cukup asing baginya."
"Baiklah."
Setelah mereka sampai, pria itu terlebih dahulu masuk ke dalam kandang kuda yang sedang sakit seperti yang ia katakan tadi.
Sambil menunggu, Alison pun tertarik untuk menghampiri seekor kuda yang sama seperti yang ditunggangi oleh pria itu tadi. Setelah berada di samping kepala kuda yang setengah keluar dari kandangnya, Alison memberanikan diri untuk mengelus leher kuda tersebut dengan perlahan.
"Hello, siapa namamu tampan?" ujar Alison yang mengajak bicara kuda itu.
Wanita itu tersenyum ketika melihat reaksi kuda yang sedang ia manjakan itu terlihat begitu nyaman.
"Apakah namamu Archie?" tanya Alison ketika melihat sebuah nama tertulis tepat di depan pintu kandang tersebut. "Well, senang bertemu denganmu Archie. Such a cool name. Namamu begitu cocok dengan postur tubuhmu yang begitu gagah ini. Dan ditambah lagi dengan ketampananmu sebagai seekor ku-"
"Kau berbicara dengan siapa?" sela pria itu yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Alison.
"Dengan kudamu."
"Tadi kau memanggil dia siapa?'
"Archie. Namanya Archie, bukan?"
Pria itu pun menahan tawanya yang membuat Alison justru memandangnya dengan bingung.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak. Jika kau ingin tahu, kau itu baru saja memuji pemiliknya, bukan kudanya."
"Pemilik?" tanya Alison yang masih berusaha untuk mencerna perkataan pria itu tadi.
Dan setelah beberapa saat ia berpikir, Alison pun langsung menutup wajah dengan kedua tangan untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang bersemu. Rasa malu karena ia sudah salah menyebutkan nama dan juga secara tidak sadar ia sudah memuji pria itu tepat di hadapan orangnya, membuat Alison ingin menghilang saat itu juga.
"Hey, tidak perlu malu seperti itu. Aku senang mendapat pujian di hadapanku langsung."
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak masalah. Jika kau ingin tahu namanya Stoner dan Archie adalah nama pemiliknya. Kau sudah mengerti?"
Dengan perlahan Alison menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu sekarang kita ke kandang yang satunya," ujar Archie sambil menggengan tangan Alison dan sedikit menariknya.
Setelah memasuki kandang yang berada tepat di sebelahnya, Archie mengajak Alison untuk menghampiri seekor kuda berwarna putih yang sedang tertidur dan memang terlihat sedang sakit.
"Kenapa dia bisa sakit?" tanya Alison sambil mengelus pelan kepala kuda tersebut.
"Dia sedang mengandung."
"Benarkah?" ujar Alison yang cukup terkejut sekaligus senang. "Wow... congratulations- siapa namanya?" sambungnya yang takut salah menyebutkan nama lagi.
"Sejak aku memilikinya dia belum diberikan nama."
"Kenapa? Kau jahat sekali."
"Kalau begitu kau saja yang memberikan nama untuknya."
"Benarkah? Tapi aku takut jika namanya jelek. Dan lagi pula kuda ini juga bukan milikku."
"Tidak apa. Kau bisa memberikan nama apapun untuknya."
"Okay. Aku ingin memberikannya nama... Portia. Menurutku itu nama yang cocok untuk kuda secantik dia. Apakah itu nama yang indah?"
"Stoner dan Portia akan menjadi orangtua yang baik."
"Congratulations Portia. Kau sudah memiliki nama dan kau juga akan menjadi Mommy," ujar Alison sambil semakin mengelus kepala kuda tersebut.
Setelah puas melihat kedua kuda tersebut, Archie mengajak Alison kembali ke rumah karena hari sudah mulai gelap. Selama berjalan kaki menuju rumah, mereka pun sedikit berbincang.
"Apakah kau sudah tahu namaku? Rasanya tidak adil ketika aku sudah mengetahui namamu, tetapi kau belum tahu." tanya Alison yang membuka pembicaraan.
"Alison, bukan? Gina sering menyebutkan nama itu kepadaku."
"Well, senang bisa berkenalan denganmu Archie."
Pria itu pun sedikit tersenyum ketika mendengar ucapan Alison.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tentu."
"Kemanakah sikap menyebalkan yang selalu kau tunjukkan kepadaku?" tanya Alison yang sudah sejak tadi memendam pertanyaan seperti itu.
"Apa kau ingin mendapatkan sikap menyebalkan dariku terus?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu saja."
"Aku hanya ingin mencoba berbaik hati dan menghargai orang yang juga sudah bersikap baik kepadaku."
"Aku senang mendengarnya. Dengan begitu aku tidak perlu merasa kesal lagi dengan setiap perlakuanmu dulu yang tidak pernah menyenangkan itu."
"Aku minta maaf atas setiap perlakuanku yang kurang menyenangkan kepadamu."
"Tidak masalah. Lagi pula aku juga sudah melupakannya."
"Kalau begitu bergabunglah untuk makan malam nanti."
"Apa kau akan..."
Alison langsung menggantungkan kalimatnya disaat tiba-tiba saja ia kembali mengingat ucapan yang pria itu katakan semalam. Ucapan yang seperti langsung menghancurkan harapannya saat itu juga.
Di satu sisi Alison takut jika Archie akan membawa makan malam yang buruk lagi seperti kemarin dan kembali meminta untuk membuang perasaannya jauh-jauh, tetapi di sisi lain ia tidak ingin menghancurkan keinginan Archie tadi yang sepertinya sudah mulai menerima keberadaan Alison.
Dan Alison juga tidak boleh menghancurkan hubungan yang juga sudah mulai berjalan dengan baik di antara mereka. Karena hal tersebut bisa menjadi kesempatan agar perasaan yang wanita itu miliki bisa cepat terbalaskan nantinya.
"Hey, kenapa kau jadi melamun?" ujar Archie sambil menepuk pundak Alison yang langsung menyadarkan wanita itu.
"Hah... kenapa?"
"Tadi aku mengajakmu bergabung untuk makan malam bersama. Tetapi setelah itu kau malah diam dan melamun."
"Benarkah?"
"Jadi, apa kau ingin bergabung?"
"Ya, tentu. Dengan senang hati aku akan bergabung untuk makan malam," balas Alison sambil tersenyum.
Setelah mendapatkan jawaban, Archie mengajak Alison untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti saat wanita itu melamun sejenak.
***
To be continued . . .