Happy Reading. . .
***
Waktu berlalu dengan cukup cepat, hingga tidak terasa jika Alison sudah melarikan diri selama 2 bulan lamanya dan tinggal di rumah kecil milik Archie. Selama beberapa bulan belakangan itu juga Alison sudah tidak menerima perlakuan yang selalu membuat wanita itu menghembuskan nafasnya dengan sabar lagi. Tidak ada lagi pengusiran yang selalu pria itu singgung setiap harinya.
Dan lagi, Alison tidak bisa membaca perasaan dan maksud dari perubahan sikap Archie kepadanya. Tetapi rasa cinta yang wanita itu miliki lebih mengalahkan perasangka yang ia miliki terhadap Archie. Karena saat ini ia sedang menikmati masa-masa dimana Archie sepertinya sudah mulai menerima keberadaan dirinya.
Bahkan hubungan di antara mereka juga semakin terjalin dengan baik. Hal itu tentu saja membuat hati Alison semakin terpikat kepada Archie. Belum lagi perhatian kecil atau hal apapun yang membuat wanita itu merasa senang, pasti akan selalu melumerkan hatinya.
Contohnya seperti saat ini, Archie mengajak Alison untuk ke salah satu kandang hewan ternak domba miliknya untuk memberi makan sekaligus memeriksa keadaan domba-dombanya itu.
"Ayolah, apa kau hanya akan berdiri di sana saja?' tanya Archie kepada Alison yang masih berdiri di luar kandang.
"Apa kau yakin mereka tidak menggigit?" balas Alison sedikit cemas ketika melihat kumpulan domba yang cukup banyak di dalam kandang berbentuk lingkaran besar itu.
"Mereka itu domba, bukan serigala okay?" ujar Archie sambil tertawa kecil.
Lalu, dengan sedikit ragu Alison pun memasuki kandang setinggi lutut itu dengan cara melompatinya.
"Kemarilah."
Archie pun menghampiri Alison ia menarik tangan wanita itu hingga mereka berada di tengah-tengah kandang.
"Apakah kau masih mengingat si kecil satu ini?" tanya Archie setelah ia mengangkat dan menggendong seekor anak domba yang tidak jauh dari kakinya.
"Tentu saja. Karena dia, kita jadi bisa bertemu."
"Apa kau ingin menggendongnya?"
"Aku takut."
"Bagaimana kau bisa takut jika saat itu saja dia sudah berada di dalam mantelmu?"
"Aku terpaksa menyembunyikannya di dalam mantelku untuk meredam suaranya yang hampir membuatku ketahuan dari persembunyianku, okay? Dan lagi pula sekarang dia sudah sedikit besar, jadi mungkin lain kali saja."
"Omong kosong," balas Archie yang langsung menaruh anak domba itu di tangan Alison yang mau tidak mau langsung wanita itu gendong.
"Archie! Apa yang kau lakukan?" teriak Alison disaat mendapatkan hal yang tidak ia duga.
Pria itu pun tertawa disaat melihat tubuh Alison yang langsung menegang seakan tidak bisa digerakkan, tetapi mulut wanita itu masih terus menerus berteriak dan protes kepadanya.
"Ayolah, dia saja terlihat nyaman berada dipelukanmu."
"Archie! Dia memakan rambutku," rengek Alison dengan frustasi disaat ia merasakan rambut panjangnya yang tergerai itu mulai sedikit ditarik-tarik oleh mulut anak domba tersebut.
"Sepertinya aku ingin memeriksa domba disebelah sana terlebih dahulu."
"Archie, jangan tinggalkan aku!"
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bergurau saja kau tahu?" ujar Archie yang merasa tidak tega melihat Alison yang sudah hampir menangis.
Archie pun mengambil anak domba dari tangan Alison lalu meletakkannya ke atas rumput kembali. Dan saat itu juga Alison langsung menyerbu pria itu dengan pukulan-pukulan kecilnya.
"Gurauanmu sama sekali tidak lucu, okay?" balas Alison sambil mengusap air mata ketakutan yang akhirnya terjatuh juga.
"Hey, maafkan aku. Aku tidak tahu jika kau akan begitu ketakutan seperti tadi."
"Tadi aku sangat ketakutan kau tahu?"
"Maafkan aku, okay?" ujar Archie sambil memeluk dan mengelus punggung Alison menenangkan wanita itu.
Archie sedang berusaha untuk menenangkan Alison, tetapi berbeda dengan wanita itu. Ia justru sedang meredam detak jantungnya yang sedang berdegup dengan kencang. Darahnya juga terasa berdesir ketika mendapatkan pelukan dari pria itu. Pelukan pertama yang ia dapatkan setelah berbulan-bulan lamanya ia mencoba meluluhkan hati Archie.
Rasa takut dan sedikit kesal yang ia rasakan tadi, langsung menghilang begitu saja disaat ia mendapatkan pelukan yang terasa begitu nyaman. Kenyamanan yang Alison rasakan hingga tanpa tersadar jika ia juga sudah memeluk tubuh Archie dengan erat.
Wanita itu mulai menutup mata untuk menikmati setiap moment yang harus ia simpan di dalam ingatannya. Moment dimana ia mendapatkan pelukan hangat pertama dari pria yang ia cintai. Pelukan yang mungkin saja akan membawa sinyal akan terbalasnya perasaan wanita itu.
"Apa kau sudah memaafkanku?" tanya Archie tepat di telinga Alison.
Alison pun menganggukkan kepala tanpa melepaskan pelukannya.
"Lalu, sampai kapan kau akan melepaskan pelukanmu ini?"
Ucapan itu langsung menyadarkan Alison dari 'wildest dream' yang lagi-lagi merasuk ke dalam pikirannya. Entah kenapa setiap bersentuhan dengan Archie, wanita itu seakan memiliki khayalan sendiri yang langsung membawanya ke dalam mimpi terliarnya.
Sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah di wajah, akhirnya Alison melepaskan pelukan itu dengan sedikit tidak rela.
"Apakah terlalu nyaman hingga kau seperti tidak rela untuk melepaskannya?" ujar Archie dengan sangat frontal hingga membuat Alison langsung memukul lengan pria itu pelan.
Keduanya pun langsung tertawa kecil layaknya sepasang remaja yang sedang jatuh cinta. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara Gina yang memanggil-manggil Archie.
"Tuan, Tyler menghilang!" adu Gina dengan panik ketika sudah berada tidak jauh dengan mereka.
"Sial! Kau kembali ke rumah bersama Gina," ujar Archie kepada Alison dan dengan cepat pria itu keluar dari kandang domba dan langsung berlari untuk mencari keberadaan Tyler.
Setelah melihat tubuh Archie yang semakin jauh dan menghilang, Alison melangkahkan kaki keluar kandang dan merangkul pundak Gina.
"Hey, semuanya akan baik-baik saja dan Tyler akan segera ditemukan, okay?" ujar Alison mencoba menenangkan wanita itu yang terlihat begitu panik dan sedikit takut.
"Ini bukan pertama kalinya Tyler menghilang. Tuan pasti akan sangat marah ketika ia sudah berhasil menemukan Tyler. Ini semua salahku," balas Gina dengan sangat menyesal.
"Lebih baik kita kembali ke rumah dulu," ajak Alison sambil merangkul lengan Gina, lalu mereka melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah.
Ketika sudah sampai di rumah, Alison menyuruh Gina untuk duduk di ruang tengah selagi ia ingin mengambilkan minum untuk wanita itu.
"Minumlah, kau tidak perlu cemas Gina. Tarik dan hembuskan nafasmu, itu akan membantu." ujar Alison sambil memberikan segelas air mineral lalu ia mendudukkan dirinya di samping Gina.
Setelah Gina meminum air itu, ia pun mengatur nafasnya agar merasa lebih tenang.
"Terima kasih Alison. Kau begitu membantuku."
"Aku senang bisa membantu," balas Alison sambil mengelus punggung Gina dengan perlahan.
Tidak lama saat Alison masih menenangkan Gina, pintu rumah itu terbuka dengan kencang dan datanglah Archie sambil menggandeng Tyler yang sedang menangis dengan keadaan pakaian yang bocah itu kenakan sedikit kotor dan kedua lututnya yang juga terluka.
"Tyler!" seru Gina yang langsung berdiri dan bergegas menghampiri Tyler.
"Bagaimana bisa kau melakukan kecerobohan lagi Gina! Apa kau sudah bosan melakukan tugasmu untuk menjaga Tyler?" ujar Archie dengan begitu marah.
"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar ceroboh dan merasa sangat menyesal.”
"Cepat obati dia!"
Mendengar perintah itu Gina pun langsung mengangkat Tyler ke gendongannya dan bergegas untuk mengobati luka di kedua kaki bocah itu.
Sedangkan Alison hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Sebenarnya ia sangat ingin membantu, tetapi ia tidak berani untuk ikut campur. Ikut campur ke dalam kehidupan pria yang masih sangat buta untuk Alison terka-terka.
Hubungan di antara mereka memang sudah semakin membaik, tetapi bukan berarti wanita itu sudah mengetahui seluruh kehidupan Archie. Karena status Alison pun masih sebagai orang asing di sana.
Disaat Archie melewati Alison dan menaiki tangga menuju lantai atas, wanita itu juga masih terduduk di sofa dan tidak berniat untuk melakukan suatu hal. Hingga tidak lama, Alison mendengar suara barang-barang yang pecah dan dibanting dari lantai atas.
Niat Alison yang awalnya tidak ingin ikut campur pun langsung ingin melibatkan dirinya. Ia ingin membantu Archie walau hanya untuk sekedar menenangkannya yang mungkin saja sedang memiliki masalah dan membutuhkan bantuan.
Lalu Alison memutuskan untuk melangkahkan kaki ke lantai atas. Perlahan demi perlahan ia menaiki anak tangga bersamaan dengan suara barang-barang yang pecah di atas sana semakin terdengar.
Ketika Alison sudah berada di lantai atas, pandangannya langsung tertuju pada lorong di sebelah kiri dimana asal suara berada.Wanita itu melangkah menuju sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung sana. Saat sudah berada di depan pintu tersebut, Alison dapat melihat dari celah yang terbuka dimana ruangan yang ternyata sebuah kamar itu sudah begitu berantakan dengan beberapa barang yang tergeletak dan hancur di atas lantai.
Baru saja Alison ingin menghampiri Archie yang sedang duduk di tepi ranjang dan mengusap wajahnya dengan kasar, langkah wanita itu sudah dihentikan dengan suara Archie yang terdengar begitu dingin dan menusuk.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Archie yang kini sudah menatap Alison yang masih berada di celah pintu tersebut.
"Ak... kau sedang terlihat tidak baik Archie."
"Sebaiknya kau pergi."
"Aku hanya ingin membantumu. Mungkin saja aku bisa sedikit mem-"
"PERGI!" sela Archie berteriak. "Apa kau tidak mengerti kalimat itu?!" sambungnya.
Suara Archie yang terdengar begitu kencang dan kasar itu langsung membungkam mulut Alison. Sambil menghebuskan nafasnya, wanita itu menutup pintu kamar tersebut dengan perlahan.
Alison bisa mengerti jika mungkin saja Archie sedang menghadapi masalah yang cukup menekannya hingga sikap yang tidak pernah pria itu tunjukkan lagi, namun kini kembali ia tunjukkan kepada Alison.
Tetapi apa hanya karena Tyler yang menghilang dan kembali dengan keadaan sedikit terluka membuat Archie sampai mengungkapkan kemarahannya seperti itu?
***
To be continued . . .