'Big Rep. 8'

1296 Words
Happy Reading . . . *** Malam harinya, Alison memilih untuk menikmati malamnya di sebuah kursi panjang tepat di depan rumah kecil yang ia tempati selama ini. Ia menatap bintang-bintang dan bulan yang terlihat sedang bersinar dengan terang di atas sana. Ia ingin menikmati pelarian dirinya yang sudah berjalan selama 2 bulan ini yang juga mulai terasa manfaat pada kesehatan mentalnya. Tidak ada lagi kilatan cahaya yang dulu selalu mengikutinya atau cacian maki yang selalu mengisi kolom komentar media sosial miliknya. Dan Alison cukup senang mendapatkan hal-hal baru seperti itu. Disaat Alison sedang asyik melamun sambil menikmati cerahnya malam itu, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang langsung duduk di sampingnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Archie yang kehadirannya ternyata sudah sedikit mengejutkan wanita itu. "Hai, hanya sedang menikmati malam yang indah ini saja," balas Alison sambil tersenyum. "Kau tidak takut berada di sini sendirian?" Tempat yang memang hanya terdapat beberapa lampu yang tidak terlalu terang itu cukup memberikan kesan sedikit menyeramkan. "Apa di sini ada serigala?" Pria itu sedikit terkekeh mendengar pertanyaan Alison yang terdengar cukup konyol. "Tentu saja tidak. Kau pikir ini hutan?" "Kalau begitu tentu aku tidak takut. Tempat ini cukup menyenangakan karena bisa memberiku ketenangan." "Hey, ak-" "Sebaiknya aku masuk ke dalam," sela Alison yang langsung berdiri dan hendak melangkahkan kakinya. "Tunggu," ujar Archie sambil menahan tangan Alison dan membuat wanita itu menghentikan gerakannya. "Kau ingin pergi?" sambung pria itu. "Aku minta maaf jika kehadiranku bisa begitu mengganggumu. Jadi, aku tidak ingin mengganggumu yang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri." "Tidak, duduklah kembali." "Apa aku tidak mengganggumu?" "Tentu saja tidak. Ayo duduk di sampingku lagi." Alison pun kembali mendudukkan dirinya di tempat yang sama. "Aku ingin minta maaf mengenai masalah tadi siang. Tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti itu kepadamu yang sebenarnya ingin membantuku." "Tidak masalah. Aku mengerti dengan kau yang mungkin sedang tertekan karena masalahmu." "Ya, terima kasih karena kau sudah ingin mengerti." Setelah Alison tersenyum dan menganggukkan kepala, suasana di antara mereka langsung menjadi sunyi. Hanya suara serangga malam yang mengisi beberapa saat kekosongan itu. "Alison, apa yang saat itu membuatmu sampai dikejar oleh banyak orang?" tanya Archie yang langsung menarik perhatian wanita itu. "Orang-orang bodoh yang membuatku bersembunyi di antara rumput-rumput itu?" "Ya." "Hanya karena ulah seorang b******n sialan yang tidak ingin bertanggung jawab saja," balas Alison dengan tawa mirisnya. "Maksudmu?". "Tapi tidak perlu kau jelaskan juga tidak apa," sambung Archie yang sadar jika ia sudah mulai ingin tahu dan hampir melewati batas kehidupan pribadi wanita itu. "Tidak masalah. Akan aku ceritakan, jika kau tidak keberatan." "Aku akan menjadi pendengar yang baik." Setelah Alison menatap mata Archie, wanita itu pun menceritakan bagaimana ia bisa memutuskan untuk melarikan diri dan berakhir di desa kecil itu selama 2 bulan itu. Bukannya Alison ingin menceritakan dengan begitu saja masalah pribadi hidupnya, tetapi ia merasa jika masalah yang sedang ia hadapi bukanlah sebuah aib yang harus ditutup-tutupi. Ia tidak melakukan sebuah kesalahan apapun yang merugikan orang lain, tetapi kebaikan yang ia miliki itu justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menjatuhkannya. "Sama sekali tidak ada penjelasan dari pria itu?" "Jangankan memunculkan dirinya di hadapan publik, mengangkat telepon dariku saja tadi. Dia langsung mematikan nomornya setelah 1 bulan issue panas itu naik ke permukaan." "What a jerk?!" "Ya, aku sangat setuju dengan itu." "Lalu, apa sekarang kau sudah merasa lebih tenang?" "Sebenarnya tujuanku bukanlah ke desa ini. Aku memiliki supir yang memiliki kampung halaman yang katanya tidak jauh dari sini. Tetapi saat di perjalanan kemarin, para Paparazi yang begitu lapar akan berita tentangku itu tidak ada henti-hentinya untuk mengejarku. Dan alhasil, aku memutuskan untuk melarikan diri dan bersembunyi di desa ini. Tetapi aku sangat senang bisa berada di sini. Aku merasa lebih baik karena aku tidak harus menerima banyak komentar jahat yang selalu aku lihat ketika aku saja baru membuka mataku. Aku tidak harus menerima teror dari para pembenci atau bahkan para penggemarku yang kini mungkin saja sudah menjadi para pembenciku yang tidak hanya datang kepadaku, tetapi kepada kedua orangtuaku juga. Aku sangat lelah menghadapi semua hal itu. Dan, mungkin saja ini sudah saatnya aku harus berhenti. Berhenti dari dunia yang sudah memberikan reputasi besar dalam hidupku." "Apa kau merindukan orangtuamu?" "Tentu saja aku sangat merindukan mereka. Tetapi aku yakin mereka akan sangat mengerti dengan keputusanku yang sedang melarikan diri ini. Karena mereka selalu berada di belakangku untuk mendukung semua keinginanku." "Aku tidak menyangka jika masalah yang sedang kau hadapi rupanya begitu berat." "Begitulah rasanya menjadi seorang bintang. Semua mata tertuju padamu. Jika sudah melakukan sedikit saja kesalahan besar, akibatnya akan seperti yang sedang aku rasakan ini." "Alison, bolehkah aku bertanya lagi?" "Tentu." "Apa kau itu benar-benar seorang penyanyi?" Alison yang mendapat pertanyaan seperti itu pun langsung memukul tangan Archie sambil melemparkan protesnya. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu?" Sedangkan Archie yang mendapatkan serangan pukulan-pukulan kecil itu langsung tersenyum dan tertawa kecil. "Hey, aku hanya bertanya saja. Karena selama aku melihatmu di sini, aku sama sekali tidak melihat aura bintang seorang penyanyi ada di dalam dirimu." "Menyebalkan!" seru Alison sedikit kesal. Setelah melemparkan kekesalannya, Alison pun hendak meninggalkan pria itu yang masih setia mentertawakannya. Namun ketika ia baru saja melangkahkan kaki, penerangan yang tidak cukup terang di sana membuat ia tidak berhati-hati ketika melihat jalan sehingga membuat Alison tidak sengaja menginjak batu berukuran sedang di dekat kakinya dan membuat tubuh wanita itu menjadi kehilangan keseimbangan. Melihat Alison yang ingin terjatuh, dengan sigap Archie langsung menarik pinggang wanita itu hingga berakhir dengan Alison yang berada di atas pangkuannya. Berada di atas pangkuan Archie membuat tubuh Alison langsung terasa begitu kaku. Belum lagi dengan mata pria itu yang kini sudah menatap matanya. Membuat Alison sangat ingin mengulang kejadian di kebun apel siang hari itu. Tetapi kali ini ia ingin lebih menjaga dan menahan sikapnya. Alison tidak ingin dengan perlakuan yang bisa dikatakan cukup murahan itu terulang lagi yang bisa saja membuat Archie menjadi merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Namun, kali ini bukanlah Alison yang hendak mengulang kejadian di kebun seperti saat itu. Tetapi pria itu, Archie sudah mendekatkan wajahnya dan menghabiskan jarak di antara mereka secara perlahan yang membuat Alison harus menahan nafasnya beberapa saat. Saat itu pikiran Alison benar-benar kosong, ia tidak bisa berpikir dengan cepat sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa. Beberapa saat ketika wanita itu hanya terdiam, ia pun sudah bisa merasakan hembusan nafas Archie di hidungnya yang menandakan jika tinggal beberapa inchi lagi bibir mereka akan saling bersentuhan. Tetapi lagi, wanita itu harus menahan hal tersebut. Ia ingin moment tersebut benar-benar akan terjadi disaat ia sudah bisa membuat seorang Archie Max Rodriguez, mengungkapkan perasaannya kepada seorang wanita bernama Alison Ruby Quinn. Lalu dengan cepat Alison mendorong kedua pundak pria itu untuk menjauhinya. Dan dengan secepat kilat juga Alison langsung berdiri dari pangkuan Archie. "Aku baru ingat jika aku harus tidur sekarang juga," ujar Alison dengan cepat lalu ia langsung melangkahkan kaki meninggalkan pria itu. "Seriously? Alison!" balas Archie tidak habis pikir sambil melihat kepergian Alison. "Selamat malam, Archie!" teriak Alison yang sudah berada jauh di belakang pria itu. Archie yang mendapatkan reaksi yang sama sekali tidak ia harapkan dari Alison hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun berbeda dengan wanita itu, setelah menutup pintu tersebut. Ia langsung memegang bagian d**a untuk meredam jantungnya yang saat itu juga terasa seperti ingin meledak. Siapa yang akan menyangka hal itu bisa terjadi jika beberapa waktu yang lalu saja pria itu masih bersikap kasar, namun beberapa saat kemudian ia datang untuk meminta maaf dan hampir juga mencium dirinya? Melihat sikap Archie yang dari hari ke hari semakin tidak bisa ditebak membuat Alison menjadi sakit kepala sendiri menghadapinya. Tetapi wanita itu tetap tidak menyerah sampai disitu saja. Ia akan membuat pria itu mengungkapkan perasaannya dan mengatakan 'Aku sangat mencintaimu, Alison.' *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD