Happy Reading . . .
***
Di dalam ruang tengah, wanita itu terlihat sedang mengolesi krim luka memar pada sisi luka kedua lutut Tyler dengan perlahan di sebuah sofa. Keesokkan hari setelah mengalami luka, kedua lutut bocah itu baru terlihat begitu memar walaupun lukanya sudah terlihat sedikit membaik.
"Apakah terasa sakit?"
Tyler menganggukkan kepala sambil menahan rasa sakitnya.
"Memangnya apa yang membuatmu bisa sampai terluka seperti ini?"
Mendengar pertanyaan seperti itu Tyler hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Katakan saja, aku tidak akan memarahimu."
"Kemarin aku menemukan sarang burung yang terjatuh di bawah pohon. Aku ingin mengembalikan sarang itu ke atas pohon karena ada beberapa telur di dalamnya. Tetapi sangat ingin turun, aku terjatuh karena tidak berhati-hati."
"Kau anak yang sangat pemberani Tyler," ujar Alison sambil mengelus kepala bocah itu setelah tersentuh mendengar alasan ia bisa terluka seperti itu. "Yang kau lakukan itu sudah benar, tetapi lain kali kau harus berhati-hati okay? Jika kau mengalami kesulitan, kau bisa meminta bantuan kepada Gina atau kepadaku sekalipun," sambung wanita itu.
Alison pun tersenyum saat melihat Tyler menganggukkan kepala menandakan jika ia mengerti dengan ucapannya tadi. Dengan begitu berhati-hati dan dengan sabarnya wanita itu mengobati bocah kecil yang bukanlah anaknya. Tetapi Alison sudah memperlakukan Tyler seperti seorang Ibu kepada darah dagingnya sendiri. Bahkan ia mencium kedua lutut Tyler dengan kasih sayang sebagai sentuhan terakhirnya.
"Sudah selesai," seru Alison setelah ia mengobati luka Tyler. "Jangan terlalu banyak bergerak agar lukamu bisa cepat sembuh, okay?"
"Tetapi aku ingin bermain."
"Kalau begitu kita main di sini saja. Memangnya kau ingin bermain apa?"
"Tidak tahu," balas Tyler dengan lemah.
"Hhmm... apa kau mempunyai robot?"
"Tidak."
"Mobil remote control?"
Tyler menggelengkan kepala sambil menampilkan wajah bingung dengan mainan yang Alison sebutkan tadi.
"Lego?"
"Lego itu apa?" tanya Tyler kembali.
"Jadi kau tidak memiliki mainan sama sekali?"
"Aku memiliki bola," balas Tyler dengan polos.
"Tetapi tidak dengan keadaan kakimu yang sedang seperti ini, Tyler."
Alison menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal karena bingung harus mengajak Tyler bermain apa. Semua mainan anak-anak yang ia sebutkan tadi tidak ada yang bocah itu miliki, membuat wanita itu merasa kasihan sekaligus bingung.
Bagaimana bisa bocah seusianya itu sama sekali tidak memiliki mainan disaat seharusnya banyak mainan yang ia miliki sudah bisa memenuhi satu ruangan? Apakah Archie tidak pernah membelikan mainan untuk anaknya itu?
Seandainya saja ada toko mainan di sekitar sana, sudah Alison pastikan jika ia akan membawa Tyler ke sana dan membelikan mainan untuk bocah itu sebanyak mungkin.
Lalu, disaat Alison sedang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, ia pun dikejutkan dengan suara Gina yang membangunkan wanita itu dari lamunannya.
"Kenapa kalian hanya saling terdiam?" tanya Gina sambil menaruh sepiring kukis di atas meja tepat di hadapan mereka.
"Tidak. Tyler mengatakan ingin bermain, tetapi dia sama sekali tidak memiliki mainan. Jadi aku sedang berpikir permainan apa yang cocok disaat kakinya sedang seperti ini."
"Ya, dia memang sama sekali tidak memiliki mainan," balas Gina sambil mendudukkan diri di samping Alison.
"Lalu apa yang kalian lakukan setiap harinya?"
"Terkadang aku menceritakan cerita anak untuknya. Atau terkadang aku mengajarinya cara menulis dan membaca. Dan selebihnya aku hanya menemani Tyler bermain sendiri saja."
Alison semakin merasa kasihan dengan Tyler. Alison bisa mengetahui jika sebenarnya Tyler belum merasakan kebahagiaan masa kecil dimana seharusnya ia sudah mendapatkannya.
"Apa kau memiliki beberapa kertas? Yang sudah terpakai pun lebih baik," ujar Alison ketika ia sudah mendapatkan ide permainan.
"Sepertinya ada beberapa. Akan aku ambilkan," balas Gina sambil berdiri untuk mengambil permintaan Alison.
"Aku ingat pada saat pertemuan pertama kita kau sedang berada didekat saluran air untuk mengambil pesawat kertas, bukan?" tanya Alison kepada Tyler. "Dan sekarang apa kau ingin membuatnya lagi? Ditambah dengan perahu, burung kertas, lalu-"
"Aku mau!" sela Tyler dengan sangat bersemangat.
"Okay. Kita buat sekarang juga."
Tidak lama setelah Gina kembali dengan membawa beberapa kertas, Alison pun memperlihatkan sekaligus mengajarkan cara membuatnya kepada Tyler.
Bocah itu langsung berteriak dengan senang disaat ia sudah bisa membuat burung kertas pertamanya. Alison dan Gina yang melihat kebahagiaan kecil Tyler itu juga ikut tersenyum dan tertawa.
"Kau sudah membawa banyak perubahan pada keluarga ini, Alison. Terima kasih atas semuanya," ujar Gina yang membuat Alison menengokkan kepalanya dan menatap wajah wanita hampir setengah baya itu.
"Tidak perlu berterima kasih Gina, karena aku tidak hal melakukan apapun."
"Tetapi aku bisa melihatnya, Alison. Kau bisa membuat Tyler merasa bahagia dengan hal kecil seperti ini. Dan dengan Tuan pun juga demikian, kau sudah bisa membuatnya sedikit tertawa kembali,". "Dan, belakangan ini aku juga bisa melihat jika kau sudah mulai dekat dengan Tuan," sambung Gina yang mulai menggoda Alison.
"Ohh... Gina, ayolah. Jangan mulai menggodaku," rengek Alison yang merasa sedikit malu.
"Aku tidak menggoda, aku hanya menilainya Alison. Bukankah itu hal yang bagus untukmu?"
"Ya, belakangan ini sifatnya juga sudah mulai berubah kepadaku."
"Aku senang kau ingin mendengarkan ucapanku untuk menunda kepergianmu saat itu."
"Tapi aku merasa sedikit salah dengan perasaanku ini?"
"Kau jatuh cinta dengan Tuan, bukan? Lalu untuk apa kau merasa bersalah dengan perasaanmu itu?"
"Ya, aku akui jika aku memang mencintainya. Tetapi aku harus tahu apakah perasaanku ini salah atau tidak? Dan... kau mengerti dengan maksud ucapanku, bukan?"
"Aku sudah berkerja dengan Tuan sebelum Tyler hadir di dunia ini. Aku pun juga sudah tahu besar-kecil, banyak-sedikitnya hal tentang kehidupan keluarga ini. Termasuk dengan Tuan. Tetapi aku tidak bisa menceritakannya begitu saja karena itu bukanlah hak-ku. Aku harap kau mengerti akan itu. Yang bisa aku katakan hanyalah peluangmu untuk mendapatkan hati Tuan sangatlah besar, Alison. Jadi jangan cepat menyerah, okay?"
"Ya. Terima kasih atas dukunganmu, Gina. Bagiku kau sudah seperti orangtua sendiri," balas Alison sambil memeluk Gina di sampingnya.
"Senang bisa mengenalmu, Alison. Kau memang wanita yang sangat baik."
"Gina, aku ingin bertanya. Hhmm... tetapi tidak jadi," ujar Alison sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah Gina yang langsung mengurungkan niat untuk mempertanyakan hal yang membuat dirinya begitu bertanya-tanya.
"Bertanya apa?"
"Tidak apa-apa."
"Ayolah, wajahmu terlihat begitu bertanya-tanya.”
"Tapi pertanyaan ini mungkin sedikit sensitif dan terdengar tidak pantas."
"Tanyakan saja."
"Tadi kau mengatakan jika sudah bekerja dengan Archie sejak Tyler belum hadir di dunia ini. Hhmm... lalu apa Tyler bukanlah anaknya?" tanya Alison dengan sedikit berbisik kepada Gina.
Ia tidak ingin bocah yang sedang berkreasi di sebelahnya sampai mendengar pertanyaannya itu.
"Apa yang membuatmu sampai berpikiran seperti itu?"
"Aku melihat Tyler tidak memiliki kesamaan dengan Archie. Dan sikap Archie yang tidak menunjukkan seharusnya sikap sebagai seorang Daddy kepada Tyler."
"Rupanya kau bisa melihat itu. Tetapi Tuan tidak pernah bertindak kasar dan bermain fisik kepada Tyler, dia hanya bersikap tegas saja kepadanya."
"Jadi... itu benar?"
"Jika kau ingin tahu, sebaiknya kau bertanya sendiri kepada Tuan. Itu lebih baik dari pada kau harus mendengarnya dari orang lain, Alison."
"Kau benar. Maaf jika aku sudah banyak ingin tahu, Gina."
"Tidak masalah. Aku mengerti dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang sedang menyerang dirimu. Itu tandanya kau benar-benar peduli dengan keluarga ini."
"Gina, bolehkah aku bermain pesawat ini di luar?" timpal Tyler yang kini sudah mengangkat beberapa pesawat kertas yang ia buat sendiri.
"Tentu. Alison akan menemanimu," balas Gina. "Mungkin saja ini jalanmu untuk mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan itu," sambungnya.
Setelah Gina memberikan kode kepada Alison, wanita itu pun langsung menyetujui usul dari Gina.
"Baiklah, ayo kita bermain!" seru Alison sambil mengangkat Tyler ke gendongannya.
Setelah membawa Tyler ke luar rumah, Alison mendudukkan bocah itu di anak tangga tepat di depan rumah lalu ia juga duduk di sampingnya.
"Apakah kau mau berlomba? Siapa yang bisa menerbangkan pesawatnya dan terakhir kali terjatuh, itu yang akan menjadi pemenangnya."
"Iya, ayo kita berlomba!" balas Tyler sangat bersemangat.
"Baiklah. Kita persiapkan terlebih dahulu pesawatnya,". "Kau sudah siap?"
"Sudah!"
"Dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!"
Pada hitungan ketiga, kedua orang itu langsung meluncurkan pesawat kertas tersebut. Terutama dengan Tyler, bocah itu terlihat begitu bersemangat dan bahagia ketika pesawatnyalah yang ternyata menang.
Alison sengaja menerbangkan pesawatnya dengan sembarang arah karena ia ingin membiarkan Tyler menjadi pemenangnya. Ia ingin membuat bocah kecil yang terlihat tidak cukup bahagia di masa kecilnya itu, setidaknya bisa merasakan hal tersebut walaupun dengan hal sederhana saja.
Setelah mengetahui jika pesawatnya yang menang, Tyler pun mengajak Alison untuk berlomba lagi. Bocah itu seakan lupa jika kedua kakinya sedang terluka, karena rasa senang yang kali ini ia rasakan sudah menjadi obat untuk lukanya itu.
Dan dari kejauhan, seorang pria sedang memperhatikan dua orang yang sedang bersenang-senang dengan mainan sederhana tersebut yang ternyata juga mampu membuatnya ikut tersenyum.
***
To be continued . . .