Karena Hujan

1263 Words
Iluvia meneguk s**u terakhirnya untuk sarapan pagi ini. Bergegas pergi ke sekolah karena hari ini adalah hari senin dan dia harus melaksanakan upacara. Sejujurnya ia malas sekali untuk itu, ia sudah bosan karena setiap senin harus berdiri ditengah lapangan selama kurang lebih 2 jam, dan harus panas-panasan. Kadang jika dia sudah kelewat lelah karena berdiri terlalu lama, Iluvia akan pura-pura pingsan agar dapat pertolongan dari anggota ekskul PMR untuk membawanya ke UKS, dengan begitu ia bisa tidur-tiduran dengan leluasa disana. Iluvia pergi kesekolah diantar oleh Alga, lalu Alga baru pergi ke kampusnya. Jika pulang sekolah, Iluvia bisa dijemput oleh Alga lagi karena dia juga pulang kuliah atau naik kendaraan berbayar jika Alga tidak bisa jemput, atau sama teman-temannya jika mereka berkenan. ~~~ Sesudah Alga memberhentikan mobilnya didepan gerbang SMA Taruna Negara, Iluvia segera turun seusai ia mencium punggung tangan sang Abang dan setelah Alga mengucapkan kata-kata rutin setiap Iluvia melakukan hal itu; Belajar yang bener biar jadi orang. Okelah Alga, Iluvia siap melaksanakan ucapanmu! Iluvia berjalan menelusuri koridor sekolah yang sudah ramai, semua murid memakai atribut yang lengkap karena takut disuruh maju ke mimbar pidato untuk menjelaskan mengapa dia bisa sampai tidak memakai atribut. "Ketinggalan bu," "Kenapa gak sekalian kepala kamu aja yang ketinggalan." Ya, kira-kira begitulah ucapan guru jika ada murid yang tidak memakai atribut. Nyelekit. Guru itu memang notabenya selalu benar. Pukul 7 lewat 15 menit, upacara bendera merah putih pun dimulai. Iluvia berada dibarisan ke dua dari yang terakhir, karena memang dia yang memiliki postur tubuh yang cukup tinggi. Sedangkan partnernya disekolah, yaitu Aulia yang dipanggil Lia, baris didepan Iluvia. "Capek ah, gue sakit ya." kata Iluvia ke Lia agak memekik karena sekarang sedang menyanyikan lagu kebangsaan lagu Indonesia Raya. "Senin kemarin lo udah pura-pura sakit ya woy. Gue lah sekarang, gantian!" kata Lia yang wajahnya sudah penuh dengan keringat. "Ah gue ah, gue mau pingsan beneran ini loh." kata gue ngerengek ke Lia. Memang iya, Iluvia merasa lemas sekali sekarang. Ntah mengapa, padahal tadi sudah sarapan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya. "Berdua aja deh yok." kata Lia. "Yaudah gue dulu," kata Iluvia, lalu dia berpura-pura hampir ingin jatuh pingsan. "Eh eh eh, woy PMR! Iluvia mau pingsan nih!" kata Lia dengan nada yang super duper panik. "Iya Kak, iya." kata salah satu anak PMR kelas 10. Beberapa anggota ekskul PMR langsung pada sibuk membawa Iluvia ke UKS. Dan Alhamdulillah, akhirnya. Oh iya, Iluvia melakukan hal ini tidak setiap hari senin ya! Dan bukannya gadis itu bermaksud untuk tidak menghargai para Pahlawan yang sudah mati-matian memperjuangkan Indonesia sampai Indonesia merdeka begini, lalu dia tinggal hanya mengikuti upacara rutin setiap senin saja dia masih susah untuk melaksanakan dan tertibnya, bukan seperti itu ya. Tetapi dia hanya lelah saja gitu loh, dan Iluvia yakin sembilan puluh persen-- kalian juga pasti pernah kan melakukan yang sama sepertinya sekarang? Atau bahkan lebih parah dengan cara bolos atau menyumput saat jam upacara. Iya kan? Ngaku saja, tidak apa-apa, jujur lebih baik. Iluvia sudah direbahkan dibrankar UKS, diberi minyak angin serta air putih dan roti. "Istirahat dulu," kata Suster cantik UKS. "Iya Sus, makasih." kata Iluvia bernada lemah, lalu ia memoleskan minyak angin ke telapak tangannya dan mencium aroma hangatnya. Iluvia suka dengan bau minyak angin. 15 menit kemudian, Lia datang dibawa kedua anggota PMR. Dan bertepatan dengan itu, Iluvia menahan tawanya agar tidak pecah saat itu. Ia melihat Lia yang sedang memegangi perutnya, ia pura-pura sakit perut untuk alasan kali ini. "Ini minum obatnya dulu," ucap Suster lalu memberi obat sakit perut serta air meneral. "Iy-- iya Sus, makasih." kata Lia setelah merebahkan badannya disamping Iluvia. Setelah suster pergi meninggalkan Iluvia dan Lia, mereka berdua segera bertatap, lalu tawa keduanya pecah didetik bersamaan. Setelah upacara selesai, Iluvia dan Lia pun keluar dari ruangan UKS menuju ke kelas mereka, yaitu kelas 11 IPA 2. Sesudah sampai dikelas, mereka duduk dibangku yang bersebelahan. ~~~ 4 jam pelajaran Matematika akhirnya tersudahi oleh bel istirahat yang seluruh murid 11 IPA 2 sangat berterimakasih sekali untuk siapapun guru piket hari ini yang sudah memencetkan bel istirahat, bunyi bel itu seolah menyelamatkan mereka semua dari penjelasan rumus dari Pak Yusuf si guru yang jika menjelaskan materi tidak pernah pelan-pelan, selalu terburu-buru seperti dikejar anjing. Membuat muridnya menjadi gagal paham tentang apa yang sudah ia jelaskan sampai mulutnya berbusa. Iluvia dan Lia bergegas keluar dari kelas yang bagai neraka itu jika sedang ada Pak Yusuf didalamnya. Mereka berjalan menuju kantin yang letaknya dilantai dasar sekolahnya. Sesudah sampai, mereka langsung mengampiri 2 bocah yang sedari tadi sudah menunggu mereka, yaitu Arkan dan Dirga. "Udah lama nunggu?" kata Lia ke mereka. "Nggak, kita juga barusan." kata Arkan sambil membenarkan jambulnya. Duh, Arkan lo ganteng parah. Mereka pun berbincang bincang sambil menikmati jajan kantin. Beberapa menit mereka berada disana, tanpa mereka duga ternyata hujan turun agak deras. Dan itulah hujan, suka memberi kejutan. Iluvia langsung berdiri dari bangku kantin, "Gue mau hujanan!" katanya kepada teman-temannya. "Apaan sih lo, ntar lo sakit!" kata Arkan dengan nada tinggi. "Apaan sih, hujan ga buat sakit kali. Itu mah karena orang-orang aja yang terlalu lemah." ujar Iluvia. Dan kemudian, gadis itu langsung berlari menuju lapangan. Lia, Arkan, serta Dirga menyusul Iluvia agar tidak usah melakukan hal konyol itu disekolah untuk keberkian kalinya. "Iluvia!" Dan sepertinya mereka bertiga kalah cepat dengan langkah Iluvia. Gadis itu sudah sampai dilapangan, dan langsung menikmati segarnya hujan. "Luv, udah gila ya lo!" pekik Arkan dengan geram. Dan ya bodo amat pikir Iluvia. Ia tak memperdulikan itu sama sekali. Dia malah merentangkan kedus tangannya sekarang, berputar-putar ria. Semua pasang mata murid Taruna Negara menyaksikan Iluvia yang menurit mereka gadis itu seperti sedang sakit jiwa, ditengah lapangan menari-nari menikmati hujan. Namun sekali lagi, Iluvia tidak peduli. Selagi dia bahagia, ya bodo bodo amat. "Sini dong! Ah, cemen!" jerit Iluvia kepada teman-temannya yang berdiri dikoridor. Arkan berlari kearah Iluvia, menghampirinya untuk membawanya pergi dari rintikan hujan itu. "Lo apaan sih! Ayok, nanti lo bisa sakit!" kata Arkan yang juga sekarang jadi ikutan basah. Bukannya mendengar omongan Arkan, ia malah memegang kedua tangan pria itu, dan mengajaknya berputar-putar. "Hujan itu asik! Lo juga bisa belajar banyak dari hujan. Jadi kalo hujan turun, jangan di sia-siain. Kita harus nikmatin!" jerit Iluvia lalu tersenyum lebar. "Ayok!" kata Arkan tetap menarik tangan Iluvia. "Apaan sih, lo aja sana!" Iluvia melepaskan tangan Arkan. "Luv, bentar lagi masuk!" kata Arkan. "Gakpapa deh, bolos pelajaran sekali juga gak akan buat kita jadi gak naik kelas." katanya lalu senyum dan merentangkan tangan lagi. Tiba-tiba, Lia dan Dirga juga ikutan hujanan. "Asik woi!" seru keduanya dan sekarang ikut merentangkan kedua tangan serta berputar ria. Arkan merasa tidak ada pendukung sekarang. Ia langsung lari dari lapangan, meninggalkan ketiga temannya yang sedang menikmati turunnya hujan. Ya, begitu. Arkan memang tidak menyukai hujan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Iluvia, si gadis pengagum hujan. Padahal harus diketahui, Iluvia sudah jatuh hati dengan Arkan dari pertama mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS), mereka satu kelas gugus waktu itu. Dan sekarang Arkan telah menjadi sahabatnya, itu seperti semua harapannya pupus untuk menjadi yang lebih dari sekedar sahabat. Iluvia mencoba biasa saja kalau didepan Arkan, kalau sedang bersama Arkan. Bahkan Arkan saja tidak pernah tahu jika Iluvia menyimpan perasaan lebih ke dia. Iluvia tidak ingin persahabatannya yang sudah dijalin selama 2 tahun menjadi hancur lebur. Lia serta Dirga pun tidak mengetahui hal ini. Menurutnya, mereka tidak perlu tahu, nanti malah menjadi rumit. Jadi, hanya Iluvia dan Tuhan saja yang tahu. Abangnya pun tidak ia beri tahu, jika dia sampai tahu, bisa-bisa setiap hari ia meledek adiknya itu. Hm, jadi ya sudah Iluvia lebih memilih friendzone saja dengan Arkan. Dan sudah, begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD