Setelah menikmati hujan yang turun tiba-tiba itu, Iluvia, Lia, serta Dirga segera pergi ke toilet untuk mengeringkan seragam mereka yang basah total.
Sebenarnya ini sudah memasuki jam pelajaran kedua. Tetapi Iluvia, Lia, dan juga Dirga jadi bolos karena seragam mereka masih basah. Tetapi tidak masalah, lagi pula sesekali bolos pelajaran tidak membuat kita menjadi pendosa kan?
Bisa mereka bertiga tebak, seragam Arkan juga masih basah, sama seperti mereka. Namun mereka tidak tahu kemana larinya si Arkan. Tetapi untuk saat ini, Iluvia tidak mau pusingkan hal itu.
Beberapa menit mereka ditoilet, mereka segera pergi ketaman untuk mendapatkan angin sepay-sepoy yang akan membantu proses keringnya baju mereka. Memang mustahil untuk akan kering secepat yang mereka ingin, namun ya apa salahnya mencoba.
Sesampainya ditaman, Iluvia dan Lia duduk dibangku taman. Sedangkan Dirga, dia lagi nyamperin sekumpulan cewek-cewek yang sedang duduk-duduk dilesehan rerumputan dibawah pohon yang ada disudut taman. Tidak tahu mereka siapanya Dirga, pasalnya memang Dirga ini bisa dibilang Playboy. Karena sumpah demi apapun, cewek dia dimana-mana, sob. Benar-benar banyak sekali, bertaburan, luber-luber, tumpah-tumpah.
Iluvia dan Lia sudah pastikan, Dirga sedang menggombali cewek-cewek itu, sampai mereka tersenyum satu persatu. Dasar Dirga, memperjual belikan tampang sekali anak itu.
"Arkan marah gak ya?" ucap Iluvia membuka percakapan.
"Nggak tau juga gue." kata Lia.
"Lagian, mau sampe kapan sih dia itu gak suka hujan? Sampe kapan dia benci sama hujan?" Iluvia berbicara dengan nada tidak suka.
Setelah beberapa menit mereka berasumsi masing-masing tentang mengapa Arkan sebenci itu dengan ciptaan Tuhan nya sendiri, akhirnya Dirga datang mencairkan suasana.
"Ekhem,"
"Udah? Puas? Ngegodain tuh cewek-cewek udah puas?" sahut Lia.
"Mereka yang mau digodain, gue dipaksa." kata Dirga dengan memasang mimik wajah tersiksa batin.
"Najis tau gak, Dir."
"Dir, Arkan marah gak ya?" tanya Iluvia.
"Nggak tau gue, gue udah dari tadi spam chat dia tapi kagak diread." jawab Dirga.
"Lo chat apa?"
"Ya gue tanya, dikelas ada guru nggak. Terus gue tanya lo marah ya. Terus gue tanya cewek gue dikelas gak lagi sama Udin kan. Terus kata gue--"
"Apaan sih ah gak jelas semua yang lo tanyain!" ujar Iluvia geram.
"Yaudah, lo aja yang chat." kata Dirga.
Iluvia memutar bola matanya malas. "Lagian apasih salah hujan sampe sampe dia sebenci itu sama hujan? Apa hujan pernah buat dia jadi hampir meninggal?"
Dirga dan Lia terkejut mendengar ucapan terakhir dari Iluvia. Namun mereka memilih tetap diam saat setelah saling bertatap.
"Gak masalah kalian gak suka sama hujan, tapi minimal kalian gak usah ngebenci. Hujan juga ciptaan Allah, sama kaya kita. Hujan juga bisa ngebuat semua orang yang ada didunia ini bahagia saat kemarau dan saat suasana panas." kata Iluvia.
Lia dan Dirga tidak merespon ucapan Iluvia, mereka hanya fokus mendengar semua ucapan Iluvia yang menurut gadis itu, mereka memang harus mendengar dan segera memberi tahu pada Arkan yang seakan-akan selalu menjadikan hujan sebagai musuhnya.
~~~
Waktnya pulang.
Seluruh warga Taruna Negara sudah berhamburan dari dalam kelas ketempat tujuan masing masing. Begitu pula dengan Iluvia, Lia, Arkan serta Dirga.
Rutinitas mereka setiap pulang sekolah; kumpul sebelum pulang kerumah masing-masing. Namun ada yang beda dengan Arkan sore ini, dia lebih cenderung diam. Padahal biasanya malah kebalikannya, tidak bisa diam. Ada saja hal konyol yang ia lakukan, namun sekarang ia nampak seperti orang yang sedang bad mood.
Mereka berkumpul dikoridor untuk menemani Iluvia menunggu Alga yang belum menjemputnya.
"Kan, lo kenapa diem aja?" Dirga yang rupaya sedari tadi bingung dengan sikap Arkan, akhirnya membuka suara. Baguslah, jadi Iluvia tidak usah repot-repot lagi melakukan hal itu.
"Nggak." kata Arkan.
"Kenapa sih?" kata Lia.
"Nggak kok." katanya lagi pada Lia, lalu tersenyum terpaksa.
Hening beberapa saat. Sampai akhirnya ucapan Arkan memecahkan suasana.
"Ayok ah balik!" kata Arkan berdiri dari duduknya.
"Nunggu Iluvia, Kan." ujar Lia.
"Ngapain sih?" kata Arkan. Nada bicaranya meninggi seperti orang sedang berada didalam amarah.
Dan Iluvia, gadis itu sekarang sedang mencoba menetralkan jantungnya. Ia merasakan sesak yang begitu dalam saat Arkan mengatakan ucapan barusan. Sumpah, Iluvia merasa seperti sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan.
"Yaudah, kalian balik aja duluan." kata Iluvia tanpa melihat kewajah Arkan.
"Yuk lah." ucap Arkan.
Dup!
Seriusan demi apa Arkan ingin meninggalkan Iluvia sendirian menunggu jemputan?
Jahat.
Satu kata itu keluar didalam benak Iluvia. Satu kata itulah yang cocok untuk mendeskripsikan perlakuan Arkan saat ini yang tidak seperti biasanya.
"Yaudah kalian aja duluan, gue disini nunggu Iluvia." ujar Lia.
"Lagian lo ada acara apaan?" kata Dirga ke Arkan.
"Capek." kata Arkan.
"Gue ke toilet dulu." ucap Iluvia, lalu berdiri dan selanjutnya pergi menuju toilet.
Lia yang pasti sudah punya firasat bakalan terjadi kekacauan didalam hati sahabatnya itu, langsung menghampiri Iluvia ketoilet. Sedangkan Arkan dan Dirga segera pergi keparkiran setelah Dirga sempat memberi suara bahwa perlakuannya itu sudah membuat Iluvia menjadi sakit hati.
Iluvia sudah sampai ditoilet dan segera meluapkan emosinya disana. Dan pada saat begini, ia hanya bisa menangis. Dan ingin menjerit, namun tidak mungkin jika posisinya sekarang ia berada ditoilet.
Dan kemudian, Lia datang lalu mendekat ke Iluvia yang sudah menangis tersedu-sedu. Lia tahu sekali sifat sahabatnya ini, ia tidak bisa dikasarin sedikit pun, sifatnya lembut sekali, dan apa apa dimasukkan kehati. Jadi sulit untuk berbicara kepada manusia berspesies seperti Iluvia ini, harus berhati-hati agar ucapan dari lawan bicaranya tidak membuat goresan dihatinya.
"Iluvia, udah ya..." Lia mengelus pundak Iluvia serta menghapus air matanya.
Dengan segera, Iluvia memeluk Lia dengan erat. Lia pun membalas pelukan itu, ia mengelus rambut Iluvia. "Sabar, Luv."
"Sebenci itu dia sama gue, Lia?"
"Arkan cuma lagi kesel, Luv. Dia emang gitu kan? Kita bukan baru kenal sama Arkan. Udah lama banget dan kita sahabatan sama dia." kata Lia.
"Apa salah hujan? Kenapa dia benci banget." kata gue.
"Ngga, cuma mungkin pernah ada kejadian yang Arkan pikir hujan itu penyebabnya." kata Lia.
Dan, ya.
Bener juga.
Bisa jadi.
Ah, Iluvia jadi pusing jika sudah begini.