Saat Alga sudah sampai didepan gerbang Taruna Negara, ia segera mengirim pesan ke Adiknya itu untuk segera menemuinya. Dan tidak perlu menunggu lama, akhirnya Iluvia sudah datang dan segera memasuki mobilnya.
Alga segera menyalakan mesin mobilnya, lalu tancap gas. Menelusuri jalan yang agak becek akibat sisa hujan tadi.
Alga mungkin heran melihat Iluvia yang sedari tadi hanya diam tak bersuara, padahal biasanya adiknya itu berbicara tanpa henti, bahkan saat tidak diminta untuk bicarapun.
Alga terfokus pada seragam Iluvia yang memang sudah kucal, "Baju lo kaya udah dipake seminggu gitu?"
"Iya, tadi abis hujanan." jawab Iluvia seadanya.
"Astaga." kata Alga lalu terkekeh.
Hening sebentar.
"Lo kenapa?" tanya Alga lagi.
Iluvia melirik Alga sebentar. "Kenapa apanya?" lalu pandangannya kembali lurus kedepan.
"Diem mulu."
"Perasaan Abang doang."
"Nggak ah, biasanya lo ngoceh terus sampe gua bosen." kata Alga.
Iluvia hanya diam, tidak merespon.
"Biasanya lo minta puterin lagu-lagu asik lo itu." kata Alga lagi.
Namun Iluvia masih tak kunjung membuka suara.
"Biasanya lo bikin snapgram didalem mobil ini sampe titik-titik kaya Awkarin."
Oke, masih Iluvia liatin. Belum dia menoyor kepala abang kandungnya sendiri itu.
"Biasanya lo sok-sokan jadi youtubers, ngevlog ga jelas."
Dan oke, Iluvia geram. "Gue ribut salah, gue diem salah. Mau lo apaan sih Bang?"
Dan selanjutnya, adalah tawa Alga yang pecah.
Memang dasar, abang macam apa dia itu.
~~~
Hari sudah malam, setelah selesai belajar materi pelajaran sejarah untuk ulangan harian besok, Iluvia merebahkan tubuhnya dan menghembuskan napas lega.
Jujur, ia masih memikirkan Arkan sedari tadi. Perlakuan Arkan kepada dirinya tadi sore itu mampu mengukir sedikit luka dihatinya.
Bayangkan saja, bagaimana perasaan kalian ketika orang yang kalian suka malah berprilaku seperti musuh. Terlebih jika biasanya orang itu bersikap baik kepada kalian. Cobalah bayangkan, dan Iluvia berada diposisi itu sekarang.
Ponsel Iluvia sedari tadi berbunyi banyak, menandakan ada banyak pesan yang masuk. Tangan Iluvia menyusuri nakas yang ada disampir tempat tidurnya, meraih ponselnya lalu menghidupkan layar ponselnya.
Ia mengecek pesan grup line yang isinya Lia, Arkan, Dirga, dan dirinya.
ketjeh team
Lia:
woihhhh
sepi amat dah
Arkan:
hai
Dirga:
hai(2)
Lia:
asik abang abang gtg keluar
Arkan:
ceneng ga dede emeysshh
Lia:
cenenk dund
Dirga:
lia alay, billy beralih
Lia:
anjir
jgn dong
jahat amat doa lu ga
Arkan:
AAMIINNN
Lia:
si orgil malah ngaminin
jaad
hiks :(
Dirga:
NAJES
Arkan:
Dirga:
ilupiah mana nehhh
@Iluvia keluar u!
Lia:
palinh jg bljr, u know lah iluv gmn
*paling
Arkan:
ga bsk jmpt gua ya
Dirga:
mw bet u
Arkan:
otong lagi dimodif
biar nambah ketjeh
kayak tuannya
Dirga:
g,tq.
Arkan:
anjir lu jaad
Lia:
chat pribadi aja bs ga si lu pd
LUV KELUAR DONG TEMENIN GUE
NTR GUE DIJAHATIN KL SENDIRIAN
:(
Senyum Iluvia mengembang saat ia sudah membaca seluruh bacotan ketiga sahabatnya digrup ini, dengan segera ia mengetikkan sesuatu dikolom chat.
Iluvia:
alo
sori incess baru nongol
Lalu kirim!
Dan sudah, ia sekarang sedang menunggu balasan dari teman-temannya. Senyumnya mengembang lagi saat bunyi notifikasi grup itu memberisikan ponselnya kembali.
Lia:
YEAAYYY!!!
SAYANGGG DEH @Iluvia
Dirga:
kmn ae lu
Tetapi... Mengapa yang membalas hanya Lia dan Dirga? Padahal ia lihat disamping bubble chat yang baru ia kirim ada tulisan read 3. Itu artinya Arkan juga membaca pesan darinya, namun-- tidak meresponnya. Bahkan saat Dirga mengirimkan pesan menanyakan keberadaan dirinya, hanya Lia yang menjawab, sedangkan Arkan malah mengalihkan pembicaraan.
Dan oke. Sudah cukup jelas, Arkan masih marah.
Iluvia tidak berniat gabung didalam obrolan asik grup itu, ia memilih untuk me-non aktifkan ponselnya saja dan menyimpannya dilaci nakas. Ia beranjak untuk kebalkon kamarnya, dan duduk dikursi santai yang berada disana.
Seluruh pikirannya tertuju pada Arkan.
Arkan, lo kenapa sih?
Iluvia tahu jawaban dari semua pertanyaan yang ada didalam otaknya. Dan jawabannya hanya satu, yaitu; Arkan tidak suka hujan, dan Arkan membenci siapapun manusia yang membagus-baguskan hujan pada dirinya.
"Ekhem,"
Deheman itu membuat Iluvia menoleh kesamping kanan, lalu tersenyum lebar kearah sipemilik suara.
"Abang."
Alga mendekati Iluvia dan berdiri menghadapnya, bokongnya menyender ditralis balkon.
"Galau?"
Pertanyaan itu membuat Iluvia melunturkan lengkungan dibibirnya. "Sehari gak sok tau, bisa gak?" ujarnya sinis.
"Ya elah, sama Abang sendiri masih aja tertutup. Gak asik banget deh lu jadi adik." ucap Alga lalu memutar balik badannya, menaikkan tangannya ditralis yang terasa dingin, memandang pemandangan lampu-lampu rumah tetangga.
"Gue bukan orang baru dikehidupan lo, Luv. Gue tau lo dari lahir, gue tau lo gimana. Dan dari raut wajah lo kali ini, gak ada alasan lo buat bilang kalo lo nggak ada apa-apa sekarang." kata Alga.
Iluvia memandang lurus kedepan, ia tak kuat jika sudah diskakmat begini dengan Alga. Alga itu bagaikan cenayang jika disaat seperti ini.
"Cerita sama gue atau lo akan tetap diam pada masalah lo ini," Alga memutar lagi badannya menghadap Iluvia.
Iluvia mendonggakkan kepalanya keatas untuk ia tatap mata elang milik abangnya itu.
Lalu sedetik kemudian, adalah air mata.
Alga berjongkok, mengelus puncak kepala Iluvia. "Abang gak mau Iluvia itu kenapa-napa. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan untuk berbagi cerita."
Iluvia memeluk Alga dengan erat, dan Alga menarik Iluvia kedalam pelukannya lebih dalam lagi.
Iluvia sangat bersyukur, memiliki seorang Kakak laki-laki yang sangat menyayangi dirinya dan selalu menjaga dia dimanapun dan kapanpun.
Iluvia bersyukur, memiliki Abang yang selalu peduli dengannya, Abang yang selalu ingin tau apa mau Adiknya, Abang yang selalu baik dan ramah pada saatnya, Abang yang selalu memberinya kejutan kecil namun mampu membuatnya bahagia 7 hari 7 malam.
Iluvia bersyukur, memiliki Abang yang selalu mementingkan Adiknya dibandingkan dirinya sendiri, Abang yang tidak pernah absen untuk meledekinya.
Abang yang selalu ada. Abang yang pengertian.
Dan Iluvia rasa keberadaan Alga dihidupnya sudah cukup membuatnya bahagia sampai ke ubun-ubun. Bahagia jiwa raga.
Alga melepaskan pelukannya, menghapus air mata Iluvia lalu memegang kedua pipi chubby adiknya. "Cerita, Luv."
"Gue males Bang ceritanya." ujar Iluvia melepaskan tangan Alga dari pipinya.
"Lo udah nangis-nangis gini, ya lo harus cerita. Gak ada males malesan." Alga duduk dilantai lesehan balkon, memandang adiknya yang sedang duduk dikursi santai itu.
Iluvia menghela napas panjang. "Bang,"
"Ya?"
"Ceritain dong, gimana cara Abang perjuangin Kak Clara yang dulunya sahabat Abang." kata Iluvia seperti anak kecil yanh sedang merengek minta didongengkan sebelum tidur.
Alga menghela napas berat, "Oke deh oke, gue ceritain. Tapi janji ya setelah gue cerita, lo juga harus cerita, lo harus bilang ke gue kenapa lo nangis-nangis gak jelas gini."
"Oke, deal." kata Iluvia lalu tersenyum manis.
Alga tersenyum lalu, "Jadi gini..." katanya membuka cerita zaman baheula miliknya.
"Gue udah lama banget kan tuh naksir sama Clara, terus pas kelas sebelas gue mulai ada niatan buat nyatain perasaan. Awalnya gue ragu buat nyatain perasaan gue ke Clara, ragu banget. Gue takut kalo perasaan gue ke Clara itu salah. Gue takut malahan bisa bikin persahabatan gue sama dia berantakan. Sampe akhirnya gue mutusin untuk cerita ke si Ami, Oji sama Rangga kalo gue itu udah suka sama Clara dari kelas 10. Gue seneng banget karena ternyata Ami, Oji sama Rangga ngeyakinin gue, kata mereka kalo kalian emang bisa bersatu kenapa engga. Terus gue mulai merasa gue banyak pendukung untuk nembak Clara. Terus pas tanggal 8 Agustus tahun 2014, gue ngeberaniin diri untuk nembak Clara."
Iluvia memandang Alga dengan seksama. Ia cukup menjadi pendengar yang baik. "Terus?"
"Gue gemeteran banget deh megang tangan Clara waktu itu. Baru kali itu tuh gue sedegdegan itu tatapan sama Clara. Oh iya, untung nih ya waktu gue suka sama Clara, dia masih jomblo. Dulu pernah, pas kelas 10 dia suka sama kakak kelas, namanya Bimo. Ganteng banget emang orangnya, tapi tetep gantengan gue." Alga terkekeh sebentar, lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Clara suka sama dia, dan cerita ke gue, Ami, Oji sama Rangga. Sumpah. Nyakit banget gue, Luv. Gua sih nyoba untuk biasa aja dan gausah bete ke Clara. Karena ya kenyataannya, Clara memang bukan siapa-siapa gue. Jadi ya gitu deh. Nah udah ya, selepas dari situ. Akhirnya gue sama Clara jadian. Dia nerima gue. Gue bener-bener gak nyangka. Kata Clara, dia suka sama gue dari kelas sebelas semester awal. Katanya karena gue perhatian banget sama dia pas studycamp."
"Ternyata, banyak ya Bang kenangan Abang sama kak Clara." kata Iluvia lalu tersenyum.
"Iyalah, masih banyak lagi. Tapi capek gue cerita mulu. Gantian dong!" kata Alga.
Iluvia terdiam. Rasanya malas sekali untuk dia menceritakan kejadian hari ini.
"Nah kan, curang. Lo gak mau cerita. Gue sampe berbusa cerita itu demi lo, supaya lo cerita."
"Ih emosi gitu ngomongnya. Males ah," kata Iluvia pura-pura ngambek.
"Yaudah. Adik gue yang cantik kaya bidadari, cerita dong. Abang gamau liat Adik Abang sedih. Nanti Abang beliin apa aja deh." kata Alga lalu mengacak-acak rambut Iluvia.
Romantis amat sih Bang, ah jiji gue.
"Yaudeh iye, gue cerita nih ya." kata Iluvia setelah terkekeh.
"Iya dong, harus!"
"Abang,"
"Iya?"
"Abang tau Arkan?" tanya Iluvia menatap Alga dalam.
"Iya, tau. Temen lo kan?"
"Hm, iya Bang, temen. Sama deh halnya kaya Abang sama Kak Clara dulu." kata Iluvia.
"Hah?"
Iluvia terdiam, menatap Alga dengan penuh arti.
"Lo-- suka sama Arkan?" ucap Alga yang akhirnya nalar.
"Nah kan lo ketauan!" seru Alga tersenyum tipis.
"Terus kenapa? Lo ditangisin sama dia?" kata Alga setelah Iluvia menatapnya dengan malu-malu.
"Jadi ceritanya....."
Iluvia pun mulai meceritakan semuanya. Benar-benar semuanya. Semua yang Iluvia alami tadi, dari mulai dia hujanan sampai dia nangis di toilet dan ditemani si Lia.
"Arkan bener-bener gak peka gitu?" kata Alga menaikkan sebelah alisnya.
Iluvia menggeleng seraya mengerucutkan bibirnya.
"Lo gak cerita ke si Lia?"
Iluvia menggeleng lagi.
"Harusnya lo cerita, Luv. Lia itu sahabat lo. Cerita dong masalah hati lo sama dia, dia pasti bisa nyimpen rahasia yang lo ceritain. Kalo pun seandainya nanti kalian ribut, gak akan mungkin kok rahasia lo langsung dibongkar gitu aja sama Lia. Sekarang gini, lo mau terus-terusan kaya gini? Friendzone kaya gini? Iya? Mau sampe kapan? Hati orang ada kadarluarsanya juga, Luv. Suatu saat nanti, lo juga pasti bakalan nyatain perasaan lo. Bukan nyatain sebagaimana biasanya cowok lakuin ke cewek alias nembak. Bukan. Lo cewe. Kodrat lo ya tetep; dikejer, bukan ngejer. Jadi maksud gue, suatu saat nanti semuanya itu pasti bakalan ketauan. Entah dari mulut lo sendiri atau dari sumber lain yang bukan lo."
"Iluvia juga takut bang. Sama kaya abang dulu. Iluvia takut kalo rasa Iluvia ini salah. Salah dan bakalan ngerusak semuanya." ucap Iluvia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Luv, mau sampe kapan lo takut? Lo juga harus kelarin urusan hati lo. Terus kalo lo nggak dapet kepastian dari Arkan gini, lo mau apa? Lo bisa apa kalo suatu saat Arkan suka sama orang lain, Arkan pacaran sama orang lain, dan lo bakalan rapuh parah. Gue udah pernah ngerasain waktu Clara suka sama Bimo." kata Alga. Ia sangat antusias dalam memberi arahan untuk sang adik tercintanya.
"Luv,"
Iluvia menatap Alga.
"Semua orang punya masalah cinta. Dan menurut gue, tipe-tipe masalah hatibkaya lo ini deh yang paling ribet. Suka sama sahabat sendiri. Yeah, gue udah pernah ngalamin. Gue yakin, lo bisa ngelarin masalah ini. Lo cerita ke Lia, dengan begitu lo bisa tau respon Lia gimana. Gue yakin pasti Lia respect banget sama cerita lo nanti. Terus, lo pasti bisa ngerasain, ada pendukung. Pendukung yang tetep disamping lo buat semua ending yang lo terima nanti, pendukung yang bisa ngasih masukan tanpa maksa apa mau lo, tanpa maksa semua keputusan lo. Kalo lo pendem sendiri kaya gini, lo yakin bisa bertahan sama sikon yang kaya gini-gini aja? Kalo gue sih nggak yakin ya. Apalagi gue tau banget lo gimana, dikasarin dikit aja ga bisa. Kaya tadi, padahal Arkan cuma begitu, lo nangis tersedu-sedu. Drama banget hidup lu, Luv!"
Ya, begitulah Alga. Memberi pendapat, masukan, dan dukungan yang top markotop sekali menurut adiknya. Namun, tak lupa juga melontarkan kalimat-kalimat yang menghujat diakhir ucapannya; "Drama banget hidup lu, Luv!" sumpah kalimat itu merusak suasana sekali.
"Woy, lo dengerin gak si?!" kata Alga yang melihat respon Iluvia yang hanya bengong.
"Hah? Hm-- iya iya, ya denger lah."
"Yaudah sekarang lo tidur gih, udah malem. Gak usah lebay, gini doang galau."
Alga berdiri dari duduknya, mengelus puncak kepala Iluvia dan kemudian menciumnya juga sebelum ia pergi dari sana untuk menonton siaran langsung acara bola di TV.
Makasih, Abang! Iluvia sayang sama Abang.
Iluvia beranjak dari duduknya, lalu masuk lagi kedalam kamarnya setelah menutup pintu.
Merebahkan badannya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga bagian d**a. Iluvia memeluk guling kecintaannya, lalu memejamkan kedua matanya setelah selesai berdoa.
Gue harap besok akan berjalan seperti biasa, nggak ada apa-apa.