Baikan Lagi

2222 Words
Pagi ini Iluvia sudah siap pergi ke sekolah. Sesudah sarapan, ia pamit dengan Irla untuk berangkat diantar oleh Alga. Alzee -Ayahnya- juga pamit kepada Irla, mau kerja cari uang yang banyak agar bisa mingguan sama isteri tercinta tanpa mengajak kedua anaknya. Sesampainya didepan gerbang Taruna Negara, Iluvia melepas seatbeltnya. "Abang, Iluvia sekolah dulu ya." ucap Iluvia seraya mencium punggung tangan Alga. "Belajar yang bener biar jadi orang." Iya, Alga tidak pernah absen mengatakan ucapan itu setiap pagi. "Iya, siap. Iluvia ga pernah lupa akan itu!" kata Iluvia lalu beranjak membuka pintu mobil, namun Alga memanggilnya. "Kenapa Bang?" Iluvia mengurungkan aksinya. "Luv, inget kata gue kemarin ya. Kalo ada apa-apa bilang ke gue." ucap Alga lalu tersenyum. "Iya, Abang." "Abang sayang Iluvia." Dan selanjutnya adalah kereflekan Iluvia yang tiba-tiba langsung memeluk Alga. Iluvia merasa masih ada cowok yang tidak pernah menyakitinya sama sekali, cowok yang sayang sekali dengannya, cowok yang peduli tinggat dewa dengannya, selain Ayahnya. ~~~ Iluvia berjalan menelusuri koridor yang sudah lumayan ramai, menuju kelas 11 IPS 2 yang ada di lantai 3. Saat dia menaiki anak tangga kelima, ia dikejutkan dengan Arkan yang berada dianak tangga paling atas. Sedang duduk sambil fokus mengutak-ngatik ponselnya. Iluvia terdiam kaku disana, mau balik lagi kebawah, tapi sudah terlanjur. Arkan sudah melihatnya berdiri disitu ternyata. Mau tidak mau, ya Iluvia harus lewat melintasi Arkan. Iluvia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia injak anak tangga ke enam, ke tujuh, ke delapan, dan seterusnya. Ketika jaraknya sudah makin dekat dengan Arkan, Iluvia pikir Arkan akan menyapa dirinya, setidak-tidaknya ya senyum saja lah. Tetapi tidak sesuai harapan, kenyataannya justru Arkan malah tidak melirik Iluvia sedikitpun sama sekali. Miris memang. "Arkan?" Iluvia memberanikan diri untuk menegur Arkan lebih dulu, untuk saat itu ia harus segera membuang gengsinya dulu jauh-jauh. Arkan menoleh kesumber suara, "Eh," katanya seolah baru menyadari kehadiran Iluvia disana. Dusta memang.  "Ngapain?" tanya Iluvia sangat kaku. "Duduk." jawabnya singkat, padat, jelas. "Nunggu siapa?" "Gak nunggu siapa-siapa." katanya lalu berdiri dari duduknya dan menyimpan ponselnya kedalam saku celana abunya. "Gue duluan." kata dia lalu pergi dari hadapan Iluvia. Dan, s**l. Didetik yang bersamaan dengan hilangnya punggung Arkan dari pandangan, Iluvia meneteskan air matanya lirih. "Kalo ada apa-apa, bilang ke gue!" Iluvia langsung teringat dengan ucapan Alga dimobil tadi. "Abang..." sahutnya dalam tangisan. ~~~ Sesampainya dikelas, Iluvia langsung duduk dibangkunya dan merebahkan kepalanya beralaskan dengan tangannya yang dilipat. Iluvia benar-benar tidak memperdulikan keberadaan Lia yang sudah menatapnya bingung. Tidak biasanya sahabatnya itu seperti ini. "Heh, titisan kunti! Apaan dah lu pagi-pagi udah tiduran begitu." kata Lia. "Woi!" "Eh, lo udah belajar?" "Ulangan sejarah!" "Kata anak kelas sebelah sih gampang-gampang soalnya." "Gak tau deh, semoga Pak Johan gak ngasih soal yang beda sama anak kelas sebelah." "Ya, Luv ya?" "Luv?" "Ih dengerin gak sih?!" "Woiiiii!" "Iluviaaaa!!" LIA! BERISIKKK!!! Iluvia bahkan tidak memperdulikan ulangan sejarah yang akan dihadapkannya nanti. mau soalnya susah atau gampang, Iluvia tidak peduli sama sekali. Sekalipun semalam ia sudah belajar dan tidak ada yang keluar sama sekali apa yang ia pelajari, dan akhirnya nilai dia kecil lalu berujung remedial. Dia tidak peduli, sama sekali tidak peduli. Yang ia butuh sekarang bukanlah nilai, bukanlah Pak Johan memberi soal yang sama seperti kelas sebelah, bukanlah Pak Johan memberi soal ulangan yang jumlahnya sedikit, bukanlah Pak Johan memberi soal ulangan yang mudah, bukanlah Pak Johan yang tidak masuk kelas karena sakit atau alasan apapun. Bukan. Tapi yang ia butuh sekarang adalah, Arkan menjadi seperti biasanya. Sudah itu saja, dan Iluvia tidak butuh apa-apa lagi. "Luv, lo nangis?" dan dengan bantuan pendengaran telinga Lia yang cukup tajam, ia berhasil mendengar suara tangisan Iluvia didalam rebahannya. "Heh, lo kenapa lagi?" Lia panik. Iluvia membangunkan kepalanya, menatap Lia dengan lirih. "Ih, kenapa?" kata Lia lalu memegang pundak Iluvia. Iluvia hanya terus menangis. "Hey," Lia menatap Iluvia dalam. Dan selanjutnya adalah, Iluvia memeluk Lia dengan erat. Lia menarik Iluvia kedalam pelukannya lebih dalam lagi, dan lebih tenang. "Gue tuh capek Luv liat lo kerjaannya nangis terus." kata Lia. "Lia, Arkan..." "Kenapa lagi sih?" Iluvia melepaskan pelukannya. Ia menceritakan kejadian tadi. Lia membesarkan kedua matanya. "Serius?" kata Lia. Ilivia mengangguk. "Jujur! Lo ada something kan sama Arkan?" Deg. Mengapa Lia bisa menanyakan hal itu pada Iluvia? Dan Iluvia jadi bingung harus menjawab apa sekarang. Mungkin diam adalah yang terbaik. "Jujur, Luv." Lia menatap tajam Iluvia. "Something apaan sih Lia?" Iluvia berucap, membuang tatapannya dari Lia. "Kenapa lo serapuh ini sih didiemin sama Arkan doang? Padahal kan Arkan cuma sahabat lo. Hanya sekedar sahabat. Toh, kalo pun Arkan gak mau lagi baikan sama lo, masih ada gue, gue sahabat lo. Ada Dirga juga, dia juga sahabat lo. Dan temen-temen lo yang lain? Iya kan? Atau, Abang lo. Dia kan udah kaya sahabat lo sendiri. Jadi ya seharusnya lo nggak serapuh ini dong, seharusnya lo gak secengeng ini dong. Masih banyak kali Luv yang mau temenan sama lo." kata Lia yang menurut Iluvia, Lia mulai curiga kalau Iluvia menyimpan sesuatu dari dirinya. Damn! "Luv?" "Ah, ya?" "Jelasin ke gue!" kata Lia seakan menekan Iluvia agar memberitahu segalanya pada dirinya. Detak jantung Iluvia menjadi tidak normal sekarang. Ia paling tidak bisa didesak seperti ini. Ia lemah jika begini. Sejujurnya Iluvia ingin cerita pada Lia, namun ia bingung harus mulai dari mana. Dan tunggu, jika dia cerita pada Lia, kemungkinannya bakalan menyebar tidak ya gosip-gosip nakal yang memberitakan tentang perasaan Iluvia kesahabatnya sendiri? Tapi tidaklah. Mana mungkin pikir Iluvia, sejauh ini dia menhenal Lia sebagi sahabatnya yang baik, dan Iluvia yakin kalau Lia bisa menjaga rahasianya rapat-rapat. Tapi... bagaimanapun juga, sebaik-baiknya orang baik, ada kalanya dia bisa berubah menjadi... jahat, mungkin. Namun pikiran itu segera Iluvia tepis jauh-jauh. Apa apaan lah masa ia dia memiliki prasangka buruk kepada sahabatnya sendiri. "Lia itu sahabat lo. Cerita dong masalah hati lo sama dia, dia pasti bisa nyimpen rahasia yang lo ceritain. Kalo pun seandainya nanti kalian ribut, gak akan mungkin kok rahasia lo langsung dibongkar gitu aja sama Lia." Dia ingat ucapan Abangnya semalam. Dan oke, dia mencoba menetralnya jantungnya dulu sebentar. "Luv, lo boleh gak cerita sama gue karena mungkin lo gak percaya sama gue. Boleh, Luv. Tapi seenggaknya lo jangan tiba-tiba nangis dan bikin gue pengen tau apa yg terjadi." kata Lia. Nada suaranya persis seperti orang sedang mengucapkan isi hatinya dari yang terdalam. "Gue ini udah lama sahabatan sama lo. Oke, gue gak maksa lo buat cerita ke gue dan supaya lo percaya seratus persen untuk nyeritain suatu rahasia yang besar ke gue. Nggak sama sekali, Luv. Tapi gue mohon, jangan tiba-tiba lo dateng dan nangis seolah banyak masalah yang nimpah lo dan lo meluk gue, nangis dipelukan gue, dan hari-hari lo cuma diisi dengan hal selucu itu." kata Lia lagi. Ngena bukan? Dan, ya. Iluvia merasa sudah gagal menjadi sahabat yang baik untuk Lia. Dia merasa tidak dapat percaya dengan orang yang sudah bersamanya selama ini, dengan orang yang selalu disampingnya dan menemaninya, dengan orang yang bahkan tahu semua keburukan dirinya, dengan orang yang semakan seminum dengannya, dengan orang yang selalu warnai hari bersamanya, dengan orang yang setap harinya duduk disampingnya dan jika tidak bisa menjawab pelajaran bakalan akan segera mencati contekan bersama, dengan orang tahu arti pahit manisnya hidup. Dan Iluvia tidak bisa percaya? Hey, Iluvia! Lia sahabatmu. Lia saja selalu cerita apapun ke Iluvia. Bahkan dia cerita jika kedua orang tuanya sedang ribut karena masalah pekerjaan, dan dia jadi sasarannya untuk kemudian dianggap tidak ada dengan kedua orang tuanya sendiri karena sibuk bertengkar tiada henti. Ya, Iluvia gagal. "Lia?" Lia menatap Iluvia. "Maaf," kata Iluvia lirih. "Kenapa?" "Gue udah keterlaluan ke lo. Gue malah gak percaya sama lo. Maafin gue." Lia kembali megang pundak gue, "Nggak apa-apa, gue ngerti. Sekarang, terserah lo mau cerita atau enggak. Yang lo harus tau, gue bakalan disini terus buat lo." kata Lia lalu tersenyum. "Nggak Lia, gue percaya. Gue mau!" seru Iluvia. "Mau apa?" "Mau cerita." kata gue sambil tersenyum lebar. Lia tersenyum simpul, "Oke, cerita!" kata dia. "Nanti aja, udah mau masuk." "Oke." ~~~ Ulangan harian sejarah pun dimulai. Dan Iluvia mendapat musibah lagi kali ini. Ia tidak bisa menjawab soal-soal sejarah itu. Sumpah, seluruh pikirannya masih melayang ke satu nama; Arkan. Ah, s**t. Lia pun yang biasanya selalu duduk disampingnya, sekarang berpindah tempat kebagian pojok belakang, Pak Johan yang merubah denah duduk muridnya. Memang dasar guru banyak mau! Dan Iluvia jamin seribu persen, dia pasti akan berhadapan dengan remedial yang soalnya akan dua kali lipat lebih banyak dari ini. Dan fix, Iluvia pasrah dengan keadaan. Terserah apa mau guru, kan memang guru itu selalu benar, tiada cela. Tepat pukul 10 pagi, ulangan harian itu selesai. Dan Iluvia hanya mampu menjawab 8 soal dari 20 soal yang ada, itupun ia yakin belum tentu benar semua. Ah, matilah kau Iluvia Belvania! Semua murid dipersilahkan untuk istirahat karena sudah jamnya, lalu Iluvia menghampiri Lia dibangkunya yang sudah dipindahkan untuk sementara itu. "Gimana?" tanya Iluvia setelah berdiri disamping meja Lia. "Cuma tujuh belas soal. Kurang waktunya." jawabnya seraya memasukkan pena kedalam kotak pensil minions nya. "Cuma?!" Iluvia memekik. Lia mengangguk lalu mengerucutkan bibirnya. "Gue remed deh, fix." Lia terkekeh. "Emang lo jawab berapa soal?" "Delapan soal doang. Itu pun gak tau bener atau nggak." "Belajar dong makanya, Luplup!" "Apaan gue belajar kok semalem." "Sas, lo ngerjain berapa soal tadi?" tanya Iluvia pada Saskia yang beranjak pergi dari tempat duduknya yang ada didepan Lia. "Berapa ya?" tanyanya pada diri sendiri. Iluvia masih menunggu jawabannya. "Lima apa enam ya?" katanya lagi. Ilivia masih sabar menunggu. "Apa tujuh? Eh, nggak sampe tujuh deh. Eh tapi..." katanya lagi. Oke, Iluvia masih diam menunggu jawaban Saskia. "Empag deh kayanya." katanya "Eh," dia ngomong lagi. Masih Iluvia diemin. "Gak tau," katanya. "Lupa." lalu pergi. Sumpah, Iluvia ingin sekali menimpuk manusia itu dengan gagang sapu. Ditanya begitu doang, mikirnya pelatat-peletot. Terus jawabannya 'Gak tau, lupa.' lalu pergi tanpa basa-basi. Oh, Gusti. Saskia memang begitu, teman-teman. Dia teman sekelas Iluvia. Saskia itu anak yang santai sekali dalam pelajaran apapun. Apapun. Ya, apapun. Dia tidak pernah terbebani dengan tugas apapun, sekalipun dia belum mengerjakan tugas, dan yang lain sudah mengerjakan, dia tetap santai dan selalu santai. Tidak memikirkan nilai sama, tidak pernah peduli dengan hukuman yang akan melandanya jika ia tidak mengerjakan tugas atau apapun. Saskia itu anak yang kalau datang kesekolah suka terlambat dan seperti orang belum mandi. Eh, ya memang begitu tapi. Mungkin dia mandi, tetapi tidak tahu kenapa, gairah dia itu nihil. Padahal masih pagi, cuy. Saskia itu anak yang kalau pelajaran sedang berlangsung, lalu dia merasa ngantuk, ya dia akan tidur. Walaupun sudah dilempar penghapus dengan guru, ya memang dia bangun sih, iya, karena dia terkejut. Tapi ya habis itu dia tidur lagi. "Ya gimana, saya ngantuk. Ngantuk itu obatnya tidur, kalo laper baru makan." gitu katanya jika disuruh bangun oleh guru. Makanya, buku sakunya sudah penuh dengan point-point amburadul. Hampir semua guru Taruna Negara mengenal Saskia sebagai; Calon penghuni yang akan hidup lama di SMA Taruna Negara. Alias, kemungkinannya ia akan tidak naik kelas lagi. Dan sudah, cukup sekian membahas Saskia. ~~~ Iluvia dan Lia berjalan menuju taman belakang sekolah, Iluvia berniat untuk cerita pada Lia disana. Saat mereka sedang berjalan didepan kelas 12 IPS 4, mereka bertemu dengan Dirga. Dia sedang nongkrong didepan kelas 12 IPS 4 bersama kakak kakak kelas 12. Tetapi mereka tidak melihat Arkan disana, biasanya dimana ada Dirga disitulah ada Arkan. Entahlah. "Mau kemana?" ucap Dirga yang memberhentikan langkah Iluvia dan Lia. "Kepo lu." kata Lia. "Yeh, songong lu!" Dirga mencibir. "Arkan mana?" entah mengapa, pertanyaan itu meluncur dari mulut Iluvia. "Di UKS." jawabnya. "Hah?" "Dia pusing katanya." Iluvia mengernyit, "Kok bisa?" "Gak tau tuh, lebay." kata Dirga. "Kok lo gak temenin?" "Dianya gak mau, katanya udah lo sana, nanti kalo gue ada apa-apa, gue calling." jelas Dirga. "Gue ke UKS ya?" Iluvia menatap Lia. "Iy-- yaudah." kata Lia. Iluvia langsung berlari kecil menuju UKS. Sesampainya di UKS, ia sudah mendapati Arkan sedang tertidur dibrankar UKS. Dia langsung berdiri disamping Arkan, namun sebenarnya ia juga tidak yakin dengan apa yang dia lakukan sekarang. "Arkan..." katanya mencoba meraih tangan Arkan. Tapi, Arkan bangun. Dan Iluvua tak mengerti harus gimana. "Ngapain?" ujar Arkan menatap tajam Iluvia. "Lo sakit?" tanya Iluvia. "Nggak." "Arkan maafin gue ya?" kata Iluvia. "Kenapa?" "Maaf," kata Iluvia lirih "Apaan sih." Arkan justru menjawab ketus. "Arkan, maaf." kata Iluvia, matanya mulai berkaca-kaca. Arkan bangun dari rebahannya. "Nggak apa-apa." kata Arkan lalu tersenyum. "Hah?" Arkan diam. "Lo maafin gue?" tanya Iluvia dengan mata berbinar. "Apaan?" si Arkan malah jutek kembali. "Arkan, gue minta maaf." kata Iluvia mengerucutkan bibirnya. "Iya, Iluvia." katanya sangat lembut. "Bener?" "Enggak." katanya lalu terkekeh kecil. "Arkan, ih!"  "Iya, bawel!" kata Arkan lalu mengacak-acak rambut Iluvia. Ah, demi apapun Iluvia bahagia sekali. Terimakasih, Arkan sudah memaafkan Iluvia. Iluvia senang. Iluvia bahagia. Dan, kebahagiaannya cukup sederhana bukan? "Lo kenapa?" tanya Iluvia. "Sakit nih..." ucap Arkan memegangi kepalanya seolah-olah sedang pusing. "Katanya tadi nggak sakit. Gimana sih!" kata Iluvia mencibir. Dan sudah, yang dia ingingkan hari ini sudah dikabulkan oleh Tuhan. Terimakasih, Tuhan. Iluvia senang walaupun Arkan masih belum bisa menjelaskan mengapa dia bisa benci sekali denga hujan. Tetapi, ia harus bersyukur karena sekarang persahabatannya dengan Arkan sudah kembali utuh. Memang terkadang Iluvia pikir lebih baik seperti ini, terikat dalam zona persahabatan. Dibandingkan dengan Arkan tahu yang sebenarnya, dan hubungannya menjadi tidak baik lalu dia akan jauh dengan Arkan kemudian semuanya akan hancur. Ia tidak mau sekenario hidupnya seburuk itu. Ah, sudah sudah ini bukan jam galau Iluvia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD