Iluvia dan Arkan seolah telah dihipnotis oleh hujan. Mereka hujanan hampir 20 menitan, karena memang hujannya deras tapi tak terlalu deras, pas sekali untuk dinikmati kesegarannya.
Setelah hujan benar-benar berhenti, nereka langsung bergegas segera pergi dari tempat itu dengan seragam yang basah.
Diperjalanan, Iluvia masih betah dengan memeluk tubuh Arkan yang sedang fokus menyetir. Memang sumpah sih, Iluvia kedinginan betul kali ini, namun dia gengsi jika bilang pada Arkan, nanti bisa-bisa Arkan meledekinya karena ternyata Iluvia itu memang bisa kedinginan juga. Ya iyalah namanya juga manusyah biyasyah.
"Turun, Luv."
Oh, sudah sampai.
Iluvia melepaskan pelukannya dengan sedikit terkejut dan kikuk, lalu turun dari boncengannya. "Eh?"
Tapi tunggu... Sejak kapan rumah Iluvia berubah menjadi kedai bakso?
Iluvia mengernyit. "Kok kesini?"
Arkan menurunkan standar motornya untuk menopang berat motor ninja kesayangannya itu, lalu ia melepas helm full face nya dan turun kemudian.
Arkan memegang pergelangan tangan Iluvia "Ayuk." katanya lalu membawa masuk Iluvia kedalam pelukannya, eh salah-- kedalam kedai bakso itu maksudnya.
Mereka duduk disalah satu tempat yang ada didalam kedai itu lalu memanggil Abang tukang baksonya.
"Baksonya dua porsi ya Bang, teh hangatnya juga dua." kata Arkan setelah lelaki paruh baya itu sudah berada disamping meja mereka.
"Oke siap!" kata si Abang bakso.
"Kan, kita ngap--"
"Urusan tugas lo, biar gue yang tanggung jawab, biar gue yang bilang ke Pak Yusuf kalo nanti dia nanya. Nah, sekarang lo mendingan makan bakso terus minum teh hangat dulu biar nggak masuk angin." kata Arkan lalu mengelus puncak kepala Iluvia.
"O-- ke."
Iluvia benar-benar schok, parah. Arkan sepeduli itu dengannya? Demi apapun, ini bagaikan mimpi.
Abang bakso kembali datang dengan membawakan satu nampan yang berisikan dua porsi bakso dan dua gelas teh hangat.
"Dimakan." kata Arkan.
Mereka menyeruput teh hangat itu.
"Maaf ya udah ajak lo main hujanan." kata Arkan.
"Gakpapa dong, gue malah suka." kata Iluvia.
Lalu Arkan tersenyum.
"Kan,"
"Iya?"
"Tadi lo mau cerita apaan disekolah?" tanya Iluvia.
Sudahlah. Dia sudah siap menerima semua kosekuensinya, walaupun pahit pasti nantinya, namun dia akan berusaha untuk kuat. Lagian menurunya, ketika ia sudah menetapkan hatinya untuk jatuh ke seseorang, ia juga harus siap untuk patah hati, bahkan untuk sepatah-patahnya.
"Nanti aja deh." jawabnya.
"Loh kenapa?"
"Ya nanti aja. Soalnya ceritanya lumayan panjang sih. Sekarang, abis selesai makan nih bakso kita buruan deh kerumah lo ngambil tugasnya, terus kita kesekolah lagi deh." kata Arkan.
"Oke deh." kata Iluvua yang meski bingung nanti dirumah mau ngapain, ngambil apa, dan bilang apa ke Irla. Ah, pusing jika dipikirkan.
Setelah selesai makan bakso, dan menghangatkan tubuh dengan teh hangat, Iluvia dan Arkan segera bergegas pergi dari kedai itu. Mereka pergi menelusuri jalan raya yang masih ada sisa hujan tadi.
Iluvia bahagia sekali hari ini, parah. Iluvia bisa memeluk Arkan dimotor berkali-kali. Gadis itu senang sekali, walaupun ia tahu bahwa sehabis ini ia bakalan rapuh, karena Arkan akan cerita tentang perasaannya ke cewek yang menjadi ceritanya nanti.
Tapi, yasudahlah. Kembali lagi kebagian kosekuensinya tadi. Lalu, nikmati saja dulu kebahagiaan saat ini.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai dihalaman rumah Iluvia. Setelah turun dari motor, mereka berjalan ke pintu depan dan memencet bel karena pintu rumah dikunci. Beberapa detik kemudian, Irla membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Bun."
"Assalamualaikum, Tante."
Mereka mencium punggung tangan Irla.
"Waalaikumsalam. Loh? Kalian? Kok pulang? Pulang cepat?" tanya Irla.
"Enggak Bun. Iluvia mau ngambil tugas matematika Iluvia yang ketinggalan." kata Iluvia.
Irla memperhatikan Iluvia dan Arkan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ini? Basah basahan?" katanya mengernyit.
"Iya Tannte, tadi sempet hujanan." kata Arkan terkekeh, dan juga Iluvia.
"Yasudah yasudah, kalian masuk dulu kedalam. Bilas badan pakai air hangat ya. Iluvia ganti baju satunya. Kamu Arkan, ada baju OSIS punya si Alga waktu SMA dulu, nanti Tante ambilkan ya." kata Irla.
"Iya Tante, makasih." kata Arkan lalu tersenyum manis.
"Okedeh Ibunku yang cantik!" kata Iluvia lalu berlari kecil menuju kamarnya.
Iluvia segera melaksanakan apa yang disuruh Irla tadi, dan sesudah selesai, ia langsung menemui nemuin Arkan yang pasti sudah selesai mandi dan ganti baju karena faktanya, cowok itu super duper cepat jika melakukan apapun, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan manusia terlelet-- cewek.
"Hai!" kata Iluvia dengan wajah sumringah.
"Udah? Tugasnya mana?" kata Arkan.
Dan bodohnya, Iluvia melupakan suatu hal. Dasar s**l.
"Mana?" tanya Arkan bagaikan menskakmat hidupnya.
"Oh, hm. Itu, tugasnya..."
Arkan mengerutkan dahinya heran.
"Anu, lupa gue bawa. Dikamar. Lupa gue, hehe. Bentar ya gue ambil dulu." kata Iluvia lalu berlari kecil menuju kamar.
"Buruan udah siang!" jerit Arkan.
Jadi bagaimana? Iluvia harus apa? Apakah kalian ada saran?
Iluvia mencari dimeja belajarnya namun tidak ada satupun tugas matematika yang sisa atau secaman apa gitu. Mustahil kan jika dia harus membuat soal apa dulu gitu, waktu sudah mepet dan matematika tidak semudah itu, matematika itu pelajaran yang paling membuat kepala rasanya ingin putus.
Tok Tok Tok...
"Iluvia?" itu suara Irla.
Iluvia menepuk keningnya lalu mendengus sebal. Ia berjalan menuju pintu kamarnya lalu membukanya.
Sudah ia dapati Irla yang berdecak pinggang. "Kamu ini dari tadi ditungguin Arkan loh dibawah. Mana? Mana tugasmu yang ketinggalan?"
"Anu Bun... Hm-- itu..."
Irla mengernyitkan dahinya. "Anu apa?"
"Tugas Iluvia ilang, Bun!"
~~~
"Hah? Tugas lo ilang?"
"Iya, gue juga nggak tau tuh kemana."
Detak jantung Iluvia sudah mulai tak stabil lagi. Ia takut Arkan marah.
"Ya lo cari cari dulu deh. Yuk gue bantu cari." kata Arkan mengajak Iluvia kekamarnya untuk mencari tugas matematika itu.
Iluvia membesarkan matanya, lalu menggeleng. "Nggak usah."
"Kok gak usah? Luv, kita itu sampe basah basahan kaya gini, itu demi tugas matematika lo! Terus? Sekarang lo bilang ilang tugasnya? Terus buat apa kita kesini?" kata Arkan, nada suaranya meninggi.
Iluvia memutar pandangannya dari Arkan.
Tiba-tiba Irla datang dengan sedikit tergesa gesa. "Luv, ini Ibun nemuin tugas matematika kamu di atas lemari bupet. Nek Yarni yang ngerawatin." kata Irla seraya menyerahkan selembar kertas polio yang berisikan soal-soal matematika.
Tapi tunggu dulu, tugas matematika? Yang mana? Mana ada.
Dengan ragu, Iluvia ambil kertas itu. Dan ternyata itu adalah soal-soal matematika yang memang sengaja Iluvia kerjakan karena ia ingin mengerti lebih dalam lagi tentang salah satu materi di matematika. Tapi soal-soal itu sepertinya sudah lama sekali diatas bupet, kok masih ada saja sih? Ehe, ini sih Iluvia harus mentraktir Nek Yarni makan karena sudah menjadi penyelamatnya kini.
"Bener yang itu?" kata Arkan.
"Iya, bener." kata Iluvia lalu tersenyum paksa.
Irla menghela napas lega. "Oke sayang. Lain kali kamu jangan teledor begitu ya." katanya.
"Iya Ibun, maaf."
"Yaudah Tante, kalo gitu Arkan sama Iluvia pamit kesekolah dulu ya Tan." kata Arkan lalu meraih tangan Irla untuk kemudian mencium punggung tangannya.
~~~
Setelah motor ninja gagah itu berhenti diparkiran belakang sekolah, Arkan dan Iluvia segera berjalan menuju gerbang Taruna Negara dan masuk saat sudah diizinkan oleh Satpam untuk masuk karena Arkan memberikan penjelasan kepada Satpam itu dengan alasan yang masuk akal.
Saat sudah melangkahkan kaki dikoridor, Iluvia mendadak memberhentikan langkahnya.
Arkan yang merasa bahwa tubuh mungil Iluvia tidak lagi berada disamping kanannya, menoleh kebelakang dan sudah ia dapati Iluvia yang berdiri kaku ditempatnya, menatapnya dengan sorot mata yang tak ia mengerti.
Arkan memutar balikkan badannya lalu menghampiri Iluvia yang sudah seperti patung.
"Luv?" Arkan menatap Iluvia.
Dan Ya Tuhan, mengapa mata Arkan seindah itu? Itu pikiran Iluvia saat mata mereka bertemu pandang.
"Iluvia!"
"Eh," Iluvia tersentak.
"Lo kenapa?"
"Gue takut." kata Iluvia dengan wajah super ciut. Ciut ya, bukan cute.
"Tenang, Luv. Gue pastiin lo aman, gak bakal kena hukuman." kata dia.
Mata Iluvia berkaca-kaca, lalu sedetik kemudian mengeluarkan air bening dari ujung matanya.
Iluvia ini memang begitu, kalau sudah kebingungan tingkat akut dia suka menangis. Memang terkesan lebay tapi ya mau gimana lagi, hidupnya memang begitu, dan dia pun memang sudah begitu dari lahir. So?
"Kenapa? Lo takut dihukum? Tenang, kita gak bakalan dihukum karena kita kan emang ngambil tugas lo yang ketinggalan. Dan lama karena kehujanan, hujannya cukup lama. Bilang aja gue bawa motor bukan bawa mobil, gitu." Arkan berbicara sengan serius.
Tapi Iluvia tetap menangis menatap mata Arkan.
"Luv, hey..." Arkan menghapus air mata Iluvia, "Percaya sama gue." katanya lalu tersenyum.
"Tapi gue udah bohong, Arkan." Iluvia bersuara kali ini.
"Bohong?"
"Gue yakin setalah ini lo akan benci sama gue."
Arkan mengernyit, "Maksudnya?"
"Gue udah bohong. Sebenernya gak ada tugas matematika atau tugas apapun," kata Iluvia.
"Hah?"
"Iya, gue bohong. Maafin gue, Arkan..."
"Jadi? Ini? Semua yang udah kita lakuin buat ngambil kertas itu? Apaan?" nada suara Arkan meninggi.
Iluvia menundukkan kepalanya, "Maaf."
"Lo keterlaluan ya!" kata Arkan sedikit memekik. "Gue nganterin lo sampe gue basah-basahan kaya tadi karena gue khawatir sama lo, karena gue gak mau lo dihukum dalam bentuk apapun. Tapi lo malahan main-main."
Iluvia mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap lawan bicaranya yang sedang menggebu itu.
"Lo udah gede Luv, please ilangin sifat kekanak-kanakan lo. Jangan kaya anak kecil!"
"Maaf, Kan..." ucap Iluvia lirih.
"Lo itu selalu minta maaf tapi setelah itu lo akan ngulangin kesalahannya lagi, Luv." Arkan menatap Iluvia kecewa. "Kalo emang lo gak mau dengerin gue cerita, lo bisa bilang. Gak perlu bohong."
"Nggak, Kan. Gak gitu, gue--"
"Gak ada yang suka dibohongin, Luv." kata Arkan lalu pergi meninggalkan Iluvia yang pipinya sudah dibanjiri oleh air mata.
"Maaf..." lirihnya dalam hati yang kacau.
~~~
Dan kemudian adalah, hukuman.
Mereka diberi hukuman berdiri ditengah lapangan bersama teriknya matahari dan menghormat kearah bendera merah putih yang sudah terkibar.
Arkan berdiri tepat disamping Iluvia, melirik Iluvia sebentar dengan lirikan yang penuh dengan amarah.
Dan Iluvia tak berani untuk mengucapkan sepatah katapun.
Setengah jam berlalu, matahari semakin terik. Mereka masih setia berdiri disana dengan posisi menghormat bendera dan kepala mendongak keatas.
Tangan Iluvia yang semula menghormat sempurna, kini beralih dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Tubuh Iluvia melemas seperti orang yang tak memiliki daya tahan tubuh.
Dan selanjutnya adalah, gelap.
~~~
Terdengar suara batuk-batuk dari seseorang yang sudah terbaring dibrankar UKS, Iluvia.
Arkan, yang sedari tadi setia menemani Iluvia-- segera bangun dari duduknya dan menghampiri brankar Iluvia.
"Luv?"
Tanpa sadar, tangannya menggenggam erat tangan Iluvia.
Iluvia membuka matanya perlahan.
"Iluvia, lo udah bangun?" lengkungan senyum dibibir Arkan sudah terlihat jelas.
Setelah perjuangan Iluvia untuk membuka matanya agar lebar sempurna.
Dari awalnya,
Samar,
Samar,
Samar,
Hingga akhirnya, jelas.
Ia bisa melihat jelas siapa yang berada disampingnya saat ini.
Dan orang itu adalah... Iya benar, sangat.
"Gitu dong, gak usah pingsan-pingsan!" kata Arkan terkekeh.
Meski terkejut akan keberadaan Arkan disampingnya yang juga memegang erat tangannya, namun Iluvia harus tatap menetralkan jantungnya untuk sekarang ini. "Gue kenapa?"
"Lo di UKS. Tadi lo pingsan pas kita dihukum." kata Arkan. "Tapi lo gakpapa kan?"
"Aman kok." Iluvia tersenyum.
"Kayanya lo masuk angin deh gara-gara tadi hujanan."
"Nggak, kan gue udah bilang hujan gak akan bikin gue sakit."
"Iya tapi ini lo emang sakit."
"Gue cuma pusing aja, nanti juga reda lagi kok." Iluvia tersenyum tipis.
"Yaudah, gue mintain obat dulu ya." kata Arkan dan beranjak pergi setelah melepaskan tangan Iluvia dari genggamannya.
Iluvia menahan tangan Arkan untuk tetap berada disampingnya.
"Lo gak marah lagi?" kata Iluvia lembut.
Arkan tersenyum simpul. "Enggak."
"Maafin gue ya?" Iluvia memanyunkan bibirnya.
"Gue sadar, kejadian tadi itu banyak hikmahnya. Gue jadi sadar kalo hujan itu berkah dan baik. Dan lo, lo juga udah mengajarkan gue banyak hal hari ini, lewat hujan." kata Arkan, senyumnya semakin manis dan membuat Iluvia bagaikan sudah terkena gejala diabetes.
Dan didetik itu juga, senyum Iluvia mengembang. "Gue seneng lo udah sadar."
"Tapi, lo jangan bohong-bohong lagi ya?!" kata Arkan terkekeh.
"Hehehe, siap Pak Bos!"
~~~
Iluvia dan Arkan diizinkan masuk kekelas saat jam pelajaran ke 3, sesudah jam istirahat. Iluvia diantar oleh Arkan sampai kelasnya, sampai ia duduk di bangkunya.
"Lia, jagain nih temen lo jangan sampe dia kemana-mana dulu!" kata Arkan kepada Lia yang sudah duduk dibangku sebelah Iluvia.
"Iluvia kenapa? Terus kalian kemana aja? Gue chat juga dari tadi pagi!" kata Lia dengan wajah panik ala-nya.
"Panjang deh ceritanya." kata Arkan dengan senyum simpul.
"Seriusan nih gue kepo!" kata Lia.
"Bawel amat dah." Arkan terkekeh.
Gemas sekali Lia itu kalau sudah memaksa orang.
"Luv..." kata Lia seoalah merengek kepada sang Ibu minta dibelikan es krim.
"Eh, Iluvia lagi sakit juga!" kata Arkan.
"Hah? Sakit apaan lo?" kata Lia langsung memegang kening Iluvia.
"Apaan sih." Iluvia menepis tangan Lia dari dahinya.
"Lo sakit apa?" kata Lia lagi dengan super keponya.
"Enggak." kata Iluvia terkekeh.
"Arkan, serius! Iluvia sakit apa dan apa sebabnya?" kata Lia lagi.
"Dah ah gue mau ke kelas dulu, bye bye!" kata Arkan lalu pergi.
"Ih! Nyebelin parah!" kata Lia.
Iluvia merebahkan kepalanya diatas meja dengan kedua tangannya yang disilangkan sebagai alasnya.
"Iluvia yang cantik nan aduhai, ceritain dong story hari ini!" kata Lia dengan nada suara yang sangat manis.
~~~
Hari ini berlalu dengan sedikit kerikil tajam namun tetap indah pada akhirnya.
Sekarang sudah malam dan Iluvia harus tidur.
Besok tanggal merah dan gadis itu bakalan bangun siang, dan si Alga pasti akan lebih siang lagi bangunnya.
Oke, lihat saja besok.