Iluvia berjalan menelusuri koridor, langkahnya terhenti saat ia dengar ada yang memanggil namanya.
"Kalian?" ucap Iluvia setelah melihat keasal suara.
Itu suara Arkan dan Dirga, mereka sedang duduk ditepian koridor.
"Baru dateng?" tanya Arkan.
"Iya,"
"Dianter Abang?"
"Iyalah, mau siapa lagi."
"Eh gua duluan ya, mau nyamperin Firly bentar ke kelasnya. Kata dia, dia rindu." kata Dirga beranjak bangun dari duduknya.
Iluvia memutar bola matanya malas. "Cewek baru lagi?" kata Iluvia.
Dirga mengedipkan sebelah matanya yang membuat Iluvia ingin sekali menoyor kepala anak itu. Wahai kaum hawa SMA Taruna Negara, tolong jangan pada mau jika digoda oleh Dirga! Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling berbahaya, selain jin dan setan.
"Sini dong, duduk dulu." kata Arkan menepuk tempat disebelahnya yang tadi diduduki Dirga.
Iluvia tersenyun lalu duduk disamping Arkan, "Udah mau masuk gak sih?" tanyanya.
"Santai, masih lama." katanya.
Iluvia melirik jam tangannya, dan iya masih 20 menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi.
"Eh Luv, gue mau cerita deh." ucap Arkan
Iluvia mengernyit, "Apaan?" katanya lalu matanya bertemu pandang dengan Arkan. Ini sih sudah fiks, detak jantung Iluvia jadi tak terkontrol.
"Tentang perasaan."
Iluvia membesarkan matanya. "Perasaan?"
Arkan mengangguk, "Mau dengerin gak?"
"Iy-- iya."
Sungguh Iluvia sangat berharap seluruh pikiran negatif tentang apa yang akan terjadi nanti yang berkeliaran diotaknya tidak akan pernah terjadi. Doakan!
"Gue lagi suka sama seseorang, Luv." kata Arkan.
Deg.
Pupus.
Satu kata itulah yang mendeskripsikan perasaan Iluvia detik ini.
Ucapan Arkan itu membuat hatinya tumbang seketika. Arkan sedang menyukai seseorang, dan yang jelas bukan dirinya karena Arkan ceritanya pada Iluvia. Mustahil sekali jika ada orang bercerita tentang perasaannya kepada orang yang sebanarnya justru menjadi inti ceritanya.
Hati Iluvia seolah berteriak; Mengapa dia bisa bisanya mencintai orang yang salah? Mengapa dia bisa bisanya mencintai seseorang yang dari awal pun dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa memilikinya? Mengapa dia bisa bisanya mencintai seseorang yang sampai saat ini pun dan bahkan sampai kapan pun orang itu tidak akan pernah tahu perasaan dia yang sebenarnya? Mengapa dia bisa bisanya mencintai sahabatnya sendiri?
Kedua mata hazel milik Iluvia tidak sanggup lagi untuk menatap Arkan.
Iluvia rapuh. Sangat rapuh.
Mungkin lebih baik ia musnah saja dari muka bumi ini.
Mengapa juga ia harus masuk sekolah hari ini? Mengapa ia tidak bangun kesiangan saja tadi agar tidak usah berangkat kesekolah sekalian. Jika begitu, setidaknya ia tak akan berhadapan dengan Arkan hari ini. Untuk situasi seperti ini, ia tak sanggup-- sungguh.
"Luv?" Arkan memandang heran kearah Iluvia yang sedari tadi tidak bersuara.
"Eh-- iya?"
"Lu mah ah gak dengerin gue."
"Hah? Enggak, gue dengerin kok. Cuma gue lagi mikirin tugas matematika gue aja. Gue baru inget, gue lupa bawa tugasnya." kata Iluvia mengada-ada, sok panik, padahal ia sedang berbohong sekarang. Mana ada tugas matematika, ada saja tidak pelajarannya hari ini.
"Terus gimana?" tanya Arkan.
"Ya, gak gimana gimana. Siap aja kena hukuman." kata Iluvia seperti orang pasrah.
"Mau gue anter ambil kerumah lo?"
Iluvia membesarkan matanya. "Hah?"
"Iya, ayuk."
"Sekarang?" kata Iluvia.
"Iyalah, masa besok."
"Udah mau masuk, Kan."
"Gak apa, gue ngebut. Dari pada lu kena hukum. Padahal kan lo juga udah ngerjain kan Luv, udah gak dapet nilai, kena hukum juga." kata Arkan menatap Iluvia dengan serius.
Walaupun Arkan sering sekali menatap Iluvia dengan tatapan seserius ini, tetapi tetap Iluvia bisa melihat kalau tatapan itu kosong. Tidak ada arti apapun disana.
"Nggak usah deh Kan, gak masalah gue kena hukum. Ini bentar lagi masuk, lo anterin gue balik, yang ada lo juga kena hukum karena telat masuk." kata Iluvia.
"Kita bisa izin." katanya lalu memegang pergelangan tangan Iluvia dan berdiri, "Yuk?" kata Arkan.
"Sepuluh menit lagi bel masuk kelas, Kan. Udah mending lo masuk kelas lo, gue juga masuk kelas gue. Masalah cerita lo tadi, kita next istirahat ya, oke?" kata Iluvia lalu tersenyum.
"Gue gak nerima penolakan. Ayuk!" kata Arkan lalu menarik tangan Iluvia menuju ruang guru.
Setelah sampai didepan ruang guru, Iluvia segera melepaskan tangannya.
"Mau ngapain?" tanya Iluvia.
"Izin, bilang mau ngambil tugas matematika yang ketinggalan dirumah." jawab Arkan, lalu menarik tangan Iluvia lagi masuk dalam.
Didalam ruangan itu, sudah banyak guru-guru yang sedang bergegas untuk mengajar dikelas sesuai jadwalnya.
Arkan menatap Iluvia, "Guru matematika lo siapa?"
"Pak Yusuf."
"Lah iya, gue kan bohong kalo ada tugas. Jadi kalo Arkan nyamperin Pak Yusuf gimana? Nanti Pak Yusuf bakalan bilang gak boleh karena emang gak ada tugas apapun. Ah, woi... Gimana ini? Kegap dong gue?!!!"
Arkan menarik tangan Iluvia lagi menuju meja milik Pak Yusuf, tetapi mereka tak lihat keberadaan Pak Yusuf disana. Mungkin dia sudah masuk kelas pelajarannya lebih dulu? Ya, semoga.
"Eh mana?"
"Pak, maaf. Pak Yusuf dimana ya?" Arkan bertanya kepada Pak Tohir yang mejanya berada tepat disamping meja Pak Yusuf.
"Dia belum datang nak, kenapa memangnya?" Pak Tohir berbica sambil tersenyum, selalu tersenyum. Tak heran jika beliau dijuluki sebagai 'guru matematika terbaik' karena rata-rata Guru Matematika disetiap sekolah itu memang terbilang killer. Ya seperti Pak Yusuf itu lah, macam neraka jika dikelas ada orang itu.
"Maaf Pak, kira-kira kapan datangnya?" tanya Arkan lagi.
"Kayanya sih telat hari ini Pak Yusuf nya nak, ada keperluan apa memangnya?"
"Ini Pak, kami mau izin untuk ngambil tugasnya si Iluvia ini yang ketinggalan dirumah Pak." kata Arkan.
Iluvia mengangguk ke Pak Tohir, lalu tersenyum.
"Oh, yasudah. Saya selaku guru matematika juga, saya izinkan. Tapi, jangan lama-lama." kata Pak Tohir.
"Seriusan Pak?" kata Arkan.
"Iya. Tapi jangan lupa, sehabis ngambil tugasnya, balik lagi kesekolah. Jangan berkeliaran! "kata Pak Tohir, kemudian terkekeh selanjutnya.
Benar bukan? Pak Tohir itu terbaik.
"Siap Pak! Yasudah Pak kalo begitu, kami pamit dulu." lalu Arkan mencium punggung tangan pak Tohir, begitupun Iluvia.
Selanjutnya, Iluvia dan Arkan segera keluar dari ruang guru, dan langsung menuju parkiran.
Mereka pergi menggunakan motor ninja kesayangan Arkan yang tadi malam baru saja selesai dimodifikasi, menelusuri jalan yang sudah lumayan banyak asap kendaraan.
Iluvia mendekatkan wajahnya kepada kepala Arkan yang sudah dibungkus oleh helm full face merah miliknya. "Ar-- Kan?"
"Ya?"
"Makasih ya." kata Iluvia lalu tangannya yang tadi hanya memegang pundak Arkan, sekarang malah menyusup kepinggang Arkan, memeluknya dari belakang.
Iluvia reflek. Dia senang, Arkan sudah rela mengantar Iluvia mengambil tugasnya yang ketinggalan, padahal itu semua nihil, Iluvia berbohong.
Tidak ada tugas yang ketinggalan. Namun tak apa dia berbohong, yang terpentinh ia bisa bahagia. Lagi pula bohongnya dia kali ini juga demi kebaikan dirinya. Iya bukan?
"Iya sama sama," kata Arkan, dia sama sekali tidak risih dipeluk.
"Eh eh, maaf. Reflek gue." katanya lalu melepaskan kedua tangannya, dan kembali pada pundak Arkan.
"Gakpapa, peluk aja. Lagian, kalo lo pegangan dipundak gue gitu, gue jafi kaya tukang ojek, Luv." kata Arkan terkekeh.
Dengan pipi yang merah merona, Iluvia langsung memeluk Arkan lagi. Dan sedetik kemudian, kepalanya menyender dipundak Arkan.
Dan, dia bahagia.
~~~
Baru setengah perjalanan untuk sampai kerumah Iluvia-- hujan turun. Masih gerimis sebenarnya, tapi Arkan sudah meminggirkan motornya ke depan ruko yang sudah tutup.
"Neduh dulu."
Mereka turun dari motor ninja itu, lalu Arkan melepaskan helmnya dan membenarkan rambutnya.
"SubahanaAllah..."
"Kan gerimis doang." kata Iluvia.
"Ya sama aja, hujan juga. Ntar lo sakit, repot." kata Arkan. Matanya menatap Iluvia, seolah menisyaratkan; 'Udah lah gak usah banyak omong, udah tau gue gak suka hujan.'
Iluvia memutar bola matanya malas, "Yaelah lebay amat. Gak mungkin sakit kali."
Tiba-tiba, hujan turun semakin deras membasahi bumi.
"Liat kan?" katanya mendongakkan kepalanya.
Arkan memegang tangan Iluvia lalu memundurkan langkahnya sampai tubuh mereka menyentuh rolling door ruko itu.
Beberapa detik kemudian, yang tadinya hanya Iluvia dan Arkan yang meneduh didepan ruko itu, sekarang menjadi ramai orang yang memberhentikan perjalanannya.
"Dingin ya?" kata Arkan yang melihat Iluvia sedang menggosok-gosok telapak tangannya, berusaha menumbuhkan kehangatan.
Iluvia menggeleng, "Enggak." Iluvia menyudahi aksi gosok-gosok tadi.
Lalu Arkan membuka jaketnya, "Nih pake." katanya seraya memberi jaketnya ke Iluvia.
"Gak usah, gue gak kedinginan kok."
Lalu tiba-tiba, dari belakang Arkan memakaikan jaketnya kepunggung Iluvia.
"Eh,"
"Kaya gini aja lo kedinginan, apa lagi kalo lo hujan hujanan." kata Arkan.
"Enggak kali!" kata Iluvia dengan nada suara meninggi, sampai orang disebelahnya menoleh kearah Iluvia dan Arkan.
"Kaya gini, lo masih suka sama hujan, Luv? Lo terancam. Lo bisa dihukum kalo kita gak segera sampe kesekolah. Kalo aja gak hujan, kita udah sampe dirumah lo terus ngambil tugas lo dan abis itu kita bisa balik lagi kesekolah. Udah, selesai. Lo gak akan dihukum, dan lo dapet nilai. Sekarang gimana? Ini gara-gara hujan, Luv." kata Arkan berdecih. Nada bicaranya cukup santai, tetapi berhasil membuat hati Iluvia menjadi panas.
"Arkan!" nada bicara Iluvia makin meninggi, lalu ia melepaskan jaket milik Arkan dan melemparkan jaket itu ke tangan Arkan.
Iluvia mengerti sekali maksud Arkan. Arkan berbicara begitu seakan dia memang benci sekali dengan hujan. Maksud Arkan, hujan membuat kita menjadi kena masalah nantinya.
"Lo apaan sih! Hujan itu berkah. Hujan itu ciptaan Allah, Arkan! Lo ngomong begitu, sama aja lo bertentangan sama ciptaan Tuhan lo sendiri!"
Hujan turun semakin deras dan suara gemurungnya petir pun mulai terdengar. Sehingga, apa yang Iluvia ucapkan tadi hanya Arkan yang mendengarnya dengan jelas, sedangkan yang lain pada ketakutan mendengar suara petir yang memang besar sekali bunyinya, sekaligus menunggu berhentinya si hujan.
Arkan terdiam. Jika biadanya Arkan selalu menjawab ucapan Iluvia dengan marah jika Iluvia sudah menasehatinya tentang hujan, namun sekarang berbeda, dia terdiam.
Mungkin dia tersinggung atas ucapan Iluvia? Atau mungkin dia sudah proses sadar jika yang dia perbuat selama ini adalah salah?
Arkan memakaikan jaketnya lagi kepada Iluvia.
"Gak usah!" Iluvia menepis tangan Arkan.
"Maaf," katanya dengan nada suara yang terdengar 'super nyesel.'
Iluvia terdiam.
"Iluvia, maaf..."
Nada suara Arkan seolah mendorong Iluvia untuk segera menatapnya.
"Maaf."
"Iya." kata Iluvia kemudian.
"Gue mau cerita, Luv."
Iluvia memutar bola matanya malas,"Cerita apa? Cerita tentang perasaan lo? Nanti aja, ini bukan waktunya."
"Ini soal-- asal mula bencinya gue sama hujan, Luv." kata Arkan yang membuat Iluvua terkejut setengah mati.
"Hah?"
"Iya."
"Yaudah, buruan!"
"Nanti, jangan disini."
Setelah beberapa menit, akhirnya hujan berhenti. Orang-orang yang tadi meneduh pun mulai menlanjutkan perjalanannya lagi dengan wajah yanh sumringah.
Iluvia dan Arkan juga melanjutkan perjalanan menuju rumah Iluvia.
Iluvia bingung nanti jika sudah sampai rumahnya pasti ditanya oleh Irla, kenapa pulang bla bla bla dan Iluvia juga tak tahu mau mengambil tugas apa nanti dirumah.
Tapi, tiba-tiba hujan turun lagi.
Arkan segera meminggirkan motornya kesalah salah satu tempat duduk yang ada dibawah atap taman mini dipinggir jalan.
Mereka turun dan langsung duduk dibangku taman itu.
"Lo beneran gakpapa nih gapake jaket?" kata Iluvia, bibirnya bergetar kedinginan.
"Gakpapa. Lo sampe menggigil gitu, Luv." Arkan menggosok-gosok tangannya lalu menempelkan kedua telapak tangannya yang sudah hangat ke pipi Iluvia.
Mata mereka bertemu tatap.
Oh, Ya Tuhan... Iluvia sangat dag dig dug ser. Jantung Iluvia sangat tidak bersahabat sekali jika disituasi seperti ini.
Dengan segera Iluvia menepis tangan Arkan dari pipinya, ia tidak mau terlalu larut dalam situasi begini. Bisa bisa nanti dia terbawa perasaan, dan lalu bisa pingsan ditempa. Repot.
"Udah biasa. Tapi gue seneng, hujannya awet, Kan." kata Iluvia terkekeh. Sebenernya ia memancing Arkan supaya Arkan mengibarkan bendera perang lagi, namun nyatanya tidak. Arkan malah tersnyum sambil menggelengkan kepalanya 3 kali.
Arkan mulai menyender di senderan bangku taman, ia memandang mendungnya langit yang sedang menuru kan air jernih ke bumi, lalu lelaki itu menghembuskan napas panjang.
"Kata orang-orang, termasuk lo, hujan itu berkah, mendatangkan keajaiban, kebahagiaan, dan segala macem itulah. Tapi kenapa gue bisa kehilangan adik gue karena hujan Luv?" mata elang milik Arkan menatap dalam Iluvia. "Waktu itu, adik gue masih bayi. Masih baru umur 14 hari, baru balik dari rumah sakit. Disaat adik gue lagi tidur diranjangnya, hujan turun deras banget, berjam-jam, sampe-sampe di daerah rumah gue banjir parah. Awalnya air itu ngga masuk rumah gue, tapi lama kelamaan air dari luar masuk kerumah gue Luv. Masuknya nyerang gitu, langsung masuk yang bener-bener banyak banget dan sampe kamar adik gue. Waktu itu, dirumah gue cuma ada Mama yang masih lemes banget buat bangun, dan Kakek gue yang lagi ada dikamarnya, dia juga udah susah untuk jalan. Sedangkan Papa gue, dia lagi kerja dan gue lagi sekolah, dulu gue masih SMP. Saat itu perasaan gue gak enak banget, gue langsung hubungin Mama dan diangkat, ternyata Mama baru sadar, air dari luar masuk ke dalem rumah gue karena Kakek lupa nutup pintu depan. Dan kamar adik gue, kemasukan air duluan. Adik gue tenggelam dikedalaman air itu, Luv. Waktu itu, adik gue emang lagi pules-pulesnya tidur, dan gue gak nyangka ternyata tidurnya itu akan panjang dan gak akan bangun lagi sekaligus akan langsung pergi ke surga. Gue sedih banget. Dari dulu, gue dan Papa kepengen banget punya temen lagi, dan Mama ngelahirin anak cowok, gue dan Papa senengnya minta ampun. Tapi ternyata, bahagia kami cuma sebatas beberapa hari, Luv. Gak untuk selamanya." kata Arkan, ia mulai meneteskan air mata.
Baru kali Iluvia melihat sisi lemah dari seorang Arkan Balvero Stefanus.
Dan sudah bisa kalian tebak. Dari awal Arkan membuka ceritanya, ia sudah menangis lebih dulu. Ya, bukan Iluvua jika tidak mudah menangis.
Sekarang, Iluvia mengerti. Alasan Arkan kenapa dia sangat membenci hujan, dan dia juga baru tau kalau ternyata Arkan sempat memiliki Adik.
Arkan tidak oernah bercerita, mungkin karena ia tidak ingin membuka luka lama? Namun hari ini, Arkan kembali membukanya dihadapan seorang Iluvia Belvania Zee.
Iluvia mengelus lembut pundak Arkan, "Sabar ya. Adik lo pasti udah tenang disurga disana. Dan dia pasti lagi seneng disana, karena lo lagi ngebahas dia disini. Lo ceritain tentang dia sama gue." Iluvia tersenyum.
Arkan menghapus air matanya. "Makasih ya, Luv."
"Gue sekarang ngerti, keenapa lo benci banget sama hujan."
"Iya. Semenjak kematian Adik gue, gue mulai gak suka sama hujan, gue mulai benci sebenci bencinya sama hujan. Bahkan gue gak bisa liat orang hujan hujanan. Gue traum, Luv." kata dia.
"Iya, gue ngerti, gue paham. Tapi Kan, mau sampe kapan lo begini mulu? Mau sampe kapan lo benci hujan? Adik lo meninggal, mungkin karena Allah lebih sayang sama Adik lo, Allah kangen sama Adik lo jadi Allah ambil kembali Adik lo. Allah yang akan jaga Adik lo disana. Lo gak boleh berprasangka buruk tentang hujan Kan, gue ngerti kok kejadian yang lalu itu bikin lo dan keluarga terpukul banget. Tapi disatu sisi lo juga harus sadar, lo harus ngerti kalo hujan bukanlah penyebab kematian Adik lo, hujan bukan lah penghalang buat semua orang. Tapi hujan adalah anugerah dari Allah, hujan adalah ciptaan Allah yang indah." Iluvia tersenyum manis. " Semua kejadian buruk bukan seolah olah untuk membuat orang terpuruk, tapi itu adalah ujian. Allah lagi nguji lo dan sekeluarg. Dan lo harus melewatinya dengan sabar, ikhlas. Allah gak kan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Jadi percaya deh, lo, Mama lo, Papa lo, Kakek lo, semuanya kuat. Semuanya bisa ngelewatinnya, semuanya pasti bisa ngejalanin hari-hari tanpa Adik lo yang sempet beberapa hari mampir ke bumi cuma untuk ngeliat Abangnya, Mamanya, Papanya, dan Kakeknya yang sayang banget sama dia. Dan sekarang tugas lo, bahagiain kedua orang tua lo, bahagiain Kakek lo selagi mereka semua masih ada disamping lo. Buat mereka bangga sama lo. Jaga mereka. Mereka masih punya lo, dan lo masih punya mereka. Bersyukur Kan, maka nikmat kalian akan ditambah oleh Allah. Dan jangan lupa, lo harus ilangin tuh sifat lo sebagai pendendam. Karena itu gak baik banget, oke?"
Tanpa Iluvia sangka, for the first time---- Arkan memeluknya.
Sebenarnya Iluvia tak tahu apa yang ia ucapkan pada Arkan tadi sampai-sampai Arkan bisa memeluknya begini.
"Makasih, Luv! Makasih. Makasih lo udah sadarin gue atas semua kelakuan gue selama ini. Gue merasa udah jadi orang yang hina. Gue benci sama ciptaan Tuhan gue sendiri." kata Arkan. Ia menarik Iluvia lebih dalam lagi kedalam pelukannya.
"Ih udah lo gak boleh ngomong gitu. Tenang Kan, Allah maha pemaaf kok." kata Iluvia
Arkan melepaskan pelukannya, lalu berdiri dari duduknya, meraih tangan Iluvia dan Iluvia pun ikut berdiri.
Arkan tersenyum penuh arti, "Yuk!" katanya lalu menarik tangan Iluvia ke taman mini itu.
Benar, Arkan mengajak Iluvia main hujanan.
Demi apapun, Iluvia bahagia!
Ditaman itu, Arkan dan Iluvua bermain hujanan dan banyak orang yang melihat kearah mereka dengan tatapan yang beragam. Namun mereka tidak peduli, yang penting mereka bahagia.
"Ternyata, hujan gak seburuk itu Luv!" kata Arkan menjerit.
"Iya dong, lo nya aja yang sensian parah!" kata Iluvia juga menjerit.
"Gue suka hujan!!" Arkan merentangkan tangannya, lalu memegang kedua tangan Iluvia dan selanjutnya mereka berputar-putar ria.
Hujan, menjadi saksi kebahagiaan Iluvia harini.
Terimakasih, Tuhan. Hari ini lebih menyenangkan dibanding kemarin.
Untuk esok hari, bisa kah kau lebih indah? Jika tidak, ya sudah. Tetapi Iluvia sangat memohon, untuk setidak-tidaknya jangan menjadi hari yang buruk.