“Ma, dia siapa? Dia siapa? Tolong jauhkan dia dari Aika. Aika takut.” Aika beringsut ke dalam pelukan Mama Desi, seraya membenamkan wajahnya tak ingin melihat Kairo. Hati Kairo pun terhenyak seketika, pun orang-orang di sana. Mereka menatap Kairo dengan tatapan miris. Kasihan! “Mama, Aika takut.” Aika makin mengeratkan pelukannya pada Mama Desi. Membuat Mama Desi bingung harus melakukan apa. Jujur atau bohong? “Aika, sebenarnya ... dia itu—” “Sahabat Aaron. Saya yang mengantarkan kamu ke sini,” sambar Kairo untuk memutus ucapan Mama Desi. Laki-laki itu tahu apa yang dipikirkan Mama Desi dan keluarga Aika. Namun, bagi Kairo, statusnya saat ini nggak penting. Lebih penting kondisi psikis Aika. Pikiran Aika tidak boleh dibuat terlalu rumit, hingga kembali histeris. Kairo mengangguk ke

