Part 06. Apa Papa Menikah Lagi?

1510 Words
Selesai salat subuh Albian membantu Dewi duduk di tepi ranjang. Punggung Dewi bersandar pada bantal. Kedua kakinya berselonjor lurus ke depan. Albian duduk di samping Dewi seraya memijat kaki istrinya itu dengan pelan. "Mau sarapan?" tanya Albian di sela aktivitasnya memijat. Dewi mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa pusing pagi ini. "Biar aku ambilkan, kamu juga harus minum obat pagi ini," ucap Albian dengan suara lembutnya. Kemudian pria itu bangkit berdiri dan keluar dari kamar itu meninggalkan Dewi sendirian di dalam sana. Albian melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Sesampainya di dapur, Albian melihat Alana sedang duduk di kursi sendirian. Anak gadisnya yang semalam sempat melihat pertengkaran dirinya dengan Dewi. Pria dewasa itu kini merasa sangat bersalah. Alana yang semula duduk menikmati secangkir teh hangat seraya bermain ponsel. Kini berpaling saat melihat ayahnya datang. "Alana?" panggil Albian. Gadis itu tak menoleh. Dia masih pura-pura sibuk menatap ke arah lain. Albian tahu, Alana pasti marah padanya. Kini, Pria dewasa itu mendekat. Kemudian duduk di kursi yang ada di samping Alana. "Apa Alana sudah sarapan?" tanya Albian pada putrinya. Matanya menatap kepala belakang Alana. "Lana, maafkan Papa dan Mama soal semalam," Albian mengatakannya itu dengan suara lirih. Tangan kanannya mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Apa Papa dan Mama akan berpisah?" tanya Alana seraya menoleh ke arah ayahnya. Menatap manik mata hitam yang ada di depannya dengan tatapan nanar. Bahkan air mata itu sudah membasahi pelupuk matanya. Tenggorokan Albian terasa kering. Bibirnya sulit untuk bicara. Dia bingung harus menjawab apa pertanyaan anaknya ini. "Lana..." belum sempat Albian melanjutkan ucapannya. Kini Alana memotong ucapan ayahnya. "Apa benar Papa menikah lagi dengan perempuan lain?" suara Alana terdengar serak. Sebenarnya Alana sudah malas bertemu dengan ayahnya sejak semalam saat mengetahui ayahnya menikah lagi. "Pa, kenapa Papa mengkhianati Mama? apa benar Papa sudah tidak sayang lagi sama Mama, Alana dan Diana?" Alana terisak. Suaranya makin terdengar serak. "Kenapa Papa jahat sekali ... Hiks..." Alana menatap sang Ayah dengan mata berkaca-kaca. Berharap mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Ibunya sudah cukup lama menderita. Yang Alana tahu Ibunya sakit. Tapi, ternyata Ibunya sakit hati karena ayahnya menikah lagi. "Maafkan Papa, Lana. Papa sangat menyayangi kalian bertiga. Apapun akan Papa lakukan untuk kalian." Albian memeluk tubuh Alana dengan erat. "Papa jahat ... Hiks..." Albian hanya bisa mengembuskan napas dalam-dalam. Karena kesalahannya kini keluarga yang sangat ia sayangi membencinya. "Lana, maafkan Papa. Papa janji akan selalu berada di rumah ini, Papa tidak akan kemana mana, Papa akan selalu menjaga Ibu kamu di sini." tangan Albian mengusap punggung Alana pelan. "Papa mau ambil sarapan dulu buat Ibu kamu." Albian melepaskan pelukannya. Dan langsung bangkit dari duduknya. Pria dewasa itu berjalan menuju lemari khusus untuk menyimpan bahan makanan. Albian mengambil telur dan menggorengnya di atas telfon. Setelah telur itu matang. Dia mengambil roti tawar dan memanggangnya. Alana hanya memperhatikan ayahnya. Tak ada kata yang keluar dari mulut gadis itu. Setelah minuman teh Alana habis, gadis itu pergi dari dapur tanpa mengatakan apapun pada ayahnya. Albian melirik Alana saat gadis itu melangkah pergi. Tak lama berselang setelah kepergian Alana. Kini Bu Ratna Ibu kandung Albian yang tinggal di rumah Dewi datang. "Bian?" sapa wanita paruh baya itu pada anak laki-lakinya. Bu Ratna kini duduk di kursi. Menatap Albian yang masih sibuk membuat sarapan untuk Dewi. "Albian?" Bu Ratna kembali memanggil anaknya. "Iya, Bu?" Albian menjawab. "Bagaimana kabar Dewi?" tanya Bu Ratna. "Alhamdulillah Dewi sudah baikan, Bu," sahut Albian. Kini Pria itu mematikan kompor dan menaruh roti panggang dan telur di atas piring. "Jangan sakiti, Dewi. Kamu jadi laki-laki harus bisa tanggung jawab terhadap keluargamu. Jangan sampai Ibu mendengar Dewi sakit seperti ini lagi." mendengar Ibu kandung mengatakan itu membuat Albian kembali merasa sangat bersalah karena sudah mengkhianati Dewi. Albian mengembuskan napas dalam-dalam. Perlahan mengeluarkannya lewat mulut. "Iya, Bu," jawab Albian singkat. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan dapur. Dan kembali ke kamar Dewi. Ceklek. Albian membuka pintu kamar. Bibirnya tersenyum saat melihat Dewi masih duduk di tempatnya semula. "Sarapan sudah siap, ayok makan." ajak Albian. Pria itu duduk di samping Dewi dan menyuapi istrinya. Namun, segera di tolak oleh Dewi. "Aku bisa makan sendiri." Dewi mengambil piring dari tangan Albian. Kemudian memakan telur buatan suaminya. "Aku siapkan obat ya?" kata Albian seraya bangkit dari duduknya. Dewi mengangguk pelan seraya mengunyah makanan yang ada di mulutnya. "Kalau kamu sudah sembuh, kita akan berkunjung menjenguk Diana. Dia sedang merindukan kita," ujar Albian. Mencoba bicara dengan Dewi seperti kebiasaan mereka dulu sebelum ada badai yang menerpa rumah tangganya. "Dari mana kamu tahu kalau Diana merindukan kita?" tanya Dewi dengan suara pelan. Dan Albian masih bisa mendengarnya. Albian tersenyum. "Semalam Diana kirim pesan." jawabnya singkat. Dewi menundukkan wajahnya seraya mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Tiba-tiba dia teringat dengan ponsel miliknya yang beberapa hari ini tidak pernah ia sentuh selama sakit dan selama berada di dalam rumah sakit. Dewi menaruh piring ke atas nakas. Perlahan dia bangkit berdiri. "Mau kemana?" "Ambil ponsel." "Biar aku ambilkan." Kepala Dewi mengangguk. Ia kembali duduk di tempatnya semula. Sejak Dewi sakit. Albian menyimpan ponsel Dewi ke dalam lemari. "Ini." Albian memberikan ponsel pada Dewi. "Terima kasih," sahutnya. Dewi membuka ponsel tersebut. Dan benar saja, banyak pesan masuk dari Diana. Tak terasa bibir Albian tersenyum saat mendengar Dewi mengatakan itu. Kemarin Dewi lebih banyak diam dan mengacuhkan dirinya. Dewi mulai membuka satu persatu pesan yang Diana kirimkan. Benar saja Diana sedang sangat merindukan Ibunya. Wanita dewasa itu membalas pesan yang Diana kirimkan. "Jangan lupa obatnya di minum ya. Biar lekas sembuh, kasihan Diana yang sedang kangen sama kamu." Albian memberikan obat pada Dewi. "Terima kasih, Mas." Albian menegang saat mendengar Dewi memanggilnya dengan sebutan Mas. Kata itu tidak pernah Albian dengar lagi saat Dewi mengetahui dirinya menikah dengan istri barunya. Tapi, baru saja Dewi menyebutkan kata Mas untuk memanggilnya. Apakah Dewi sudah mulai membuka hati lagi untuk suaminya itu? *** Keesokan harinya. Dewi terlihat lebih segar dari biasanya. Dia kelihatan lebih semangat. Albian yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum saat melihat Dewi yang sedang jalan- jalan di dalam kamar. "Apa kau mau jalan-jalan di halaman depan?" Albian berjalan mendekati Dewi. "Iya." tersenyum seraya menatap Albian. "Baiklah, aku akan antar kamu." "Iya, Mas." Sepasang suami istri itu saling melempar senyum. Albian dengan telaten menuntun Dewi keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Sedang Alana yang baru saja keluar dari kamarnya kini melihat Ayah dan Ibunya sudah baikan. Bibir gadis berhijab itu tersenyum. "Semoga Papa tidak bohongi Mama lagi." gumam Alana lirih. Di halaman rumah. Albian membantu Dewi duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. "Hati-hati," katanya. "Iya." Kini Albian juga duduk di samping Dewi. "Mas, minggu besok kita jenguk Diana, ya. Aku kangen sama dia." lirih Dewi seraya menatap Albian yang kini duduk di sampingnya. Kepala Albian mengangguk sembari tersenyum. "Iya, kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Karena perjalanan dari rumah ke pesantren tempat Alana mondok kan lumayan jauh. Aku tidak mau kamu kenapa - napa di jalan nanti." "Mas, apa..." ucapan Dewi terhenti saat mendengar bunyi suara ponsel milik Albian. "Tunggu ya, Wi." Albian mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana panjangnya. Kemudian dia bangkit berdiri. "Telepon dari siapa, Mas?" tanya Dewi penasaran. Walaupun sekarang dia sudah baikan dan sudah membuka hati kembali untuk Albian. Tapi, di hati kecilnya masih merasakan curiga. Tapi, Dewi segera menepis perasaannya tersebut. Demi kedua anaknya Dewi akan mencoba percaya pada suaminya seperti dulu. "Tidak tahu, mungkin dari pabrik." Albian sendiri tidak tahu nomor siapa yang menghubunginya. Nomor telepon rumah yang tidak pernah Albian kenal sebelumnya. "Oh..." Albian berjalan beberapa langkah menuju halaman seraya menekan tombol hijau untuk menerima sambung telepon tersebut. "Halo selamat pagi?" kata Albian setelah menerima telepon tersebut. [Halo, Mas! Kamu kemana saja sih Mas! Sudah sepuluh hari lebih kamu tidak pulang. Jangan bilang kamu sedang kerja!] terdengar suara Larasati istri muda Albian dari seberang sana. Sekilas Albian melirik ke arah Dewi yang kini sedang menatapnya seraya tersenyum. Albian membalas senyum istrinya. Kemudian melangkah menjauh dari Dewi. "Aku sedang bersama dengan Dewi, dia sedang sakit dan butuh aku." [Mas! Aku juga istrimu, aku sedang hamil anak kamu, Mas! Perut aku juga sakit banget, mules mulu rasanya.] Albian nampak sedang memijat keningnya. Dia sedang pusing sekarang. Di satu sisi Dewi sedang sakit dan butuh perhatian lebih agar lekas pulih. Di sisi lain Larasati sedang hamil dan juga butuh perhatian darinya. "Kemarin satu bulan lebih kita sudah tinggal bersama, sekarang Dewi sedang membutuhkan aku, Ras. Kamu ajak Ibu kamu saja tinggal di rumah. Biar kamu ada yang nemenin." Albian memutuskan untuk tinggal bersama Dewi. Karena sesuai kata Dokter, Dewi sedang membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya selalu bahagia agar dia tidak kembali stres berlebih. Itu malah akan membuat Dewi tambah sakit. Albian tidak mau terjadi apa-apa pada Dewi istrinya. Sedangkan Larasati sedang hamil muda. Dulu Dewi saat hamil tidak pernah manjat seperti itu. [Kalau aku merindukanmu gimana? Kapan kamu pulang, Mas?] kali ini suara Larasati terdengar pelan. "Aku tidak tahu." setelah mengatakan itu, Albian menutup sambungan teleponnya. "Huft..." Albian mengembuskan napas kasar seraya memijit keningnya yang tiba-tiba pusing setelah mendapat telepon dari Larasat. Istri barunya yang masih belia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD