Part 05. Demi Kamu Dewi

1517 Words
"Apa kau tidak ingin cari alasan pergi ke pabrik itu untuk bisa bertemu dengan istri mudamu?" Dewi ingin tahu seberapa suaminya itu memegang janji cintanya, yang beberapa hari lalu dia ucapkan saat berada di rumah sakit. "Aku..." Albian diam sejenak. Dewi menaikkan alisnya menunggu suaminya mengatakan sesuatu. "Kapan kau akan menceraikan dia sesuai janjimu kemarin?" Deg! Albian diam seketika. Tak mampu menjawab pertanyaan Dewi. "Buktikan saja kalau kau memang mencintaiku! kalau kau sungguh berat melupakan dia, lebih baik aku saja yang pergi dari kehidupanmu. Tolong, ceraikan aku sekarang juga!" pinta Dewi. Dadanya terasa sangat panas dan sesak saat mengatakan itu. Pandangan matanya juga nanar. Bibirnya terlihat bergetar. Namun, Dewi tetap berusaha baik-baik saja di depan orang lain. Sungguh, dia tidak pernah berpikir kalau suaminya akan mengkhianati pernikahan mereka. Tapi nyatanya Albian memang sudah menikah lagi dengan gadis belia. Tanpa mereka tahu, Alana datang ke kamar itu dengan membawa segelas air putih dan segelas teh hangat untuk Ibunya. Namun, langkah Alana terhenti kala dia mendengar ucapan sang Ibu yang meminta cerai dari ayahnya. "Aku mencintaimu, Dewi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan kamu," kata Albian menolak keinginan Dewi. "Pernikahan itu bukan keinginan aku, Dewi. Tolonglah mengerti sedikit posisiku sekarang ini." Dewi tertawa keras saat mendengar ucapan Albian. "Hahahah ... Mana ada menikah lagi karena terpaksa, bahkan banyak yang berdalih melakukan sunnah Rosullullah demi untuk bisa menikah lagi." Pertengkaran mereka terjadi lagi di rumah ini. Setelah kemarin Dewi sedikit luluh dengan perhatian Albian saat berada di rumah sakit, kini Dewi bersikukuh meminta cerai lagi sesaat setelah mereka sampai di rumah ini. Mata Alana membulat kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. Tanpa sadar gadis itu menjatuhkan baki dan dua gelas yang ada di tangannya saat melihat dan mendengar pertengkaran kedua orangtuanya itu. Piyar...!!! Terdengar suara gelas pecah dari arah pintu. Seketika Albian dan Dewi melihat ke arah sumber suara itu berasal. Sepasang suami istri itu terkejut saat melihat Alana anak pertama mereka berjongkok di depan pintu seraya memunguti pecahan gelas. "Alana?" lirih Dewi dan Albian bersamaan. Kedua orang tua itu merasa sangat bersalah. Dewi dan Albian yakin kalau Alana sangat terpukul saat melihat kedua orang tuanya bertengkar dan ingin bercerai. Merasa di perhatikan, kini Alana mendongakkan pandangannya. "Mama ... Papa..." langsung berdiri saat melihat kedua orang tuanya. Gadis berhijab itu langsung berlari menuju ke kamarnya meninggalkan pecahan gelas yang ia jatuhkan. Dewi dan Albian mematung. Mereka merasa gagal menjadi orang tua. Keduanya kini hanya bisa diam mematung tanpa ada suara. Hanya keheningan yang ada di dalam kamar tersebut. *** Kamar Alana. Sesampainya di dalam kamar, Alana langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Gadis itu terisak. Sesenggukan seraya memeluk guling yang ada di depannya. Alana tidak menyangka kalau kedua orang tuanya menyimpan rahasia begitu besar. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi, Alana tidak tahu apa- apa tentang hal itu. Ibunya tidak pernah mengatakan apapun tentang masalah itu. "Apa benar Papa menikah lagi ... Hiks..." tangis Alana pecah saat mengingat apa yang baru saja terjadi. Tidak mungkin kalau Alana salah dengar. Tadi waktu di kamar Ayah dan Ibunya pendengaran Alana baik-baik saja. Tidak ada masalah sedikitpun. "Papa ... Mama ... Kenapa kalian menyembunyikan masalah sebesar ini?" gadis berhijab itu bicara sendirian di dalam kamarnya. Drett. Drett. Drett. Suara ponsel Alana bergetar. Tanda ada pesan masuk. Perlahan gadis itu bangkit dari tidurnya, mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian ia meraih ponsel miliknya yang ada di atas nakas. "Diana?" lirihnya saat melihat notif dari Diana adik kandungnya yang berada di pondok pesantren. [Assalamualaikum Kak, aku kangen Mama dan Papa.] read. Pesan dari Diana. [Kenapa Mama dan Papa sekarang susah di hubungi ya, Kak? Dari kemarin Diana chat Mama dan Papa tidak di baca, apalagi di balas.] read. Keluh Diana lewat pesan chat aplikasi hijau. "Huft..." Alana menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. "Maafkan Kakak ya, Dek. Kalau Kakak tidak bisa cerita jujur sama kamu untuk sekarang ini, Mama dan Papa kita sedang bertengkar ... Hiks ... Kakak tidak mau kamu nanti di sana sedih gara-gara masalah ini ... Hiks..." tangis Alana kembali pecah saat dia melihat chat dari adiknya. Alana sendiri merasa tidak kuat saat mengetahui kenyataan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Padahal Alana sendiri sudah dewasa. Apalagi Diana yang baru saja lulus sekolah dasar dan sekarang baru berada di pondok pesantren untuk menimba ilmu di sana. Drett. Drett. Kembali pesan masuk lagi dari Diana. Dengan cepat Alana membalas pesan dari adiknya itu. [Kak, kenapa hanya di baca? Kak Lana sibuk ya?] read. Tanya Diana lewat chat. Jari Alana kini menari di atas keyboard ponsel miliknya. Mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari adiknya. [Waalaikumussalam Dik, Adik Apa kabar?] send. Alana membalas pesan dari adiknya. [Kakak dan keluarga di rumah baik-baik saja, Papa dan Mama juga baik. Mereka sedang beristirahat di kamarnya. Nanti kakak akan sampaikan kangen Diana sama Mama dan Papa.] send. Setelah membalas pesan dari Diana. Kini Alana mengembuskan napas lega. Walaupun semua yang dia tulis bohong. Alana hanya tidak mau adiknya bersedih di sana. Takut mengganggu konsentrasi belajar Diana. *** Di kamar Dewi dan Albian. Dewi duduk seraya bersandar pada bantal yang dia susun di belakangnya. Pandangan matanya lurus ke depan. Sedangkan Albian kini duduk di samping Dewi dan dia masih berusaha meyakinkan Dewi. Sejak pertengkarannya di ketahui Alana beberapa menit lalu. Albian dan Dewi kini saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mata Albian terus saja menatap Dewi dengan sendu. Ingin sekali Albian memeluk istrinya itu, membawanya dalam dekapan untuk meringankan beban pikirannya. Kata Dokter, Dewi tidak boleh banyak pikiran selama pemulihan. Itu yang membuat Albian tidak ingin jauh dari Dewi untuk sekarang ini. "Dewi, aku akan menceraikan dia. Demi kamu." suara Albian memecah keheningan. Setelah beberapa saat lalu mereka saling diam. Kini Albian membuka suaranya. Membuat Dewi yang semula menatap lurus ke depan. Seketika kini Dewi menoleh ke arah Albian. Tatapan mata keduanya kini saling bertemu. "Mulai sekarang aku akan tinggal di rumah ini sama kamu. Urusan pabrik bisa aku percayakan sama orang lain. Atau kalau perlu kita berdua yang mengurus pabrik itu. Paling sebulan sekali atau sebulan dua kali kita datang ke pabrik. Aku akan selalu ajak kamu dan Alana setiap ada urusan penting di pabrik itu. Sekalian kita jalan-jalan bareng. Sudah lama kita pernah pergi bersama kan?" lagi-lagi Albian ingin meyakinkan Dewi agar percaya dengan ucapannya. "Dewi, kamu cinta pertamaku. Kita menjalin hubungan bukan satu atau dua tahun. Tapi, sudah puluhan tahun kita menjadi pasang surut hubungan ini." Albian meraih kedua tangan Dewi. "Please, beri aku kesempatan lagi, Dewi. Aku Akan menceraikan dia, demi kamu, demi Alana dan juga demi Diana. Kasihan Alana, dia tadi pasti bersedih mendengar pertengkaran kita. Mulai sekarang kita akan sama-sama memulai hidup baru lagi." Albian menatap manik mata Dewi dalam-dalam. Perlahan namun pasti, kepala Dewi mengangguk pelan tanda setuju. "Aku akan segera menceraikan dia, demi kamu." Albian meraih tubuh lemah Dewi. Membawanya dalam dekapan. Bahkan Albian juga menciumi pucuk kepala Dewi dengan sayang. 'Semua ini aku lakukan demi Alana dan Diana. Aku tidak mau mereka sedih karena kedua orang tuanya berpisah. Walaupun sakit dengan kenyataan. Tapi, masa depan anak anak tidak ada yang bisa menebak. Aku mau menjalani pernikahan ini dan memaafkan Mas Albian demi mereka anak anakku. Hanya mereka harapanku.' batin Dewi dalam hati. Dewi tidak mau Alana bersedih setelah melihat pertengkarannya dirinya dengan Albian. Dewi hanya ingin membahagiakan anaknya walaupun dia yang terluka. *** Suara azan subuh sudah berkumandang. Albian bergegas bangun dari tidurnya. Sejenak Pria itu duduk di samping Dewi yang masih terlelap. Rupanya semalaman Albian tertidur di samping Dewi. Albian segera turun dari ranjang. Tangannya menarik selimut kemudian menutupi tubuh Dewi. Tanpa sadar bibir itu tersenyum. "Terima kasih," setelah mengatakan itu, Albian bergegas menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian Albian keluar dari kamar mandi. Pria itu membuka lemari. Dia terkejut saat melihat semua barangnya masih tertata rapi di dalam sana. Dewi tidak pernah membuang ataupun menyingkirkan barang dan pakaian miliknya. "Terima kasih banyak, Dewi. Kamu memang perempuan hebat yang pernah aku temui. Aku tidak salah memilih kamu jadi Ibu dari anak-anakku. Aku mencintaimu," ucap Albian lirih. Albian mengambil sajadah dan membentangkannya di lantai sudut ruangan yang ada di kamarnya. Kini Albian melakukan salat subuh. Setelah selesai. Albian kembali menyimpan sajadah di lemari. Mata Albian menatap Dewi yang masih berbaring. Kemudian Pria itu mendekat. Perlahan duduk di samping istrinya itu. "Eugh..." Dewi melenguh pelan. Perlahan matanya terbuka. Pandangan mata Dewi kini terhenti pada sosok yang ada di sampingnya. "Mau salat subuh? Aku akan bantu kamu ke kamar mandi." titah Albian. Dewi mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata. Albian membantu Dewi bangun dari tidurnya. "Apa tubuhmu masih lemas?" tanya Albian saat membantu Dewi turun dari ranjang. "Sedikit." Dewi menjawab dengan singkat. "Aku akan bantu kamu ke kamar mandi." tanpa meminta izin, Albian langsung mengangkat tubuh Dewi dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit berlalu. Kini Albian membawa Dewi keluar dari kamar mandi dan mendudukkan istrinya di kursi yang ada di depan meja rias. "Salat sambil duduk saja, tubuhmu sepertinya masih lemas." tutur Albian. Dewi hanya diam menatap suaminya. "Aku bantu, Ayok." Albian menuntun Dewi salat sambil duduk. Dewi benar-benar merasakan perhatian Albian. Perempuan itu terharu saat merasakan suaminya begitu sayang dan perhatian padanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD