Part 04. Janji Albian

1046 Words
Albian berjalan menyurusi koridor rumah sakit dengan perasaan yang berkecamuk di dalam d**a. Ucapan Dokter tadi membuatnya teringat dengan pertengkarannya dulu dengan Dewi sebelum mereka berpisah. Sejak kejadian itu Dewi berubah membenci Albian dan Dewi juga sering sakit-sakitan dan mengurung diri di kamar. Sebisa mungkin Albian sudah mencoba menutupi pernikahan keduanya dengan Larasati. Tapi, Dewi masih juga mengetahuinya. Sekarang setelah melihat istri yang di sayanginya terbaring lemah seperti ini karena dirinya, membuat Albian merasa sangat bersalah. "Maafkan aku, Dewi." lirih Albian seraya membuka pintu ruangan di mana Dewi di rawat inap. Di dalam ruangan itu hanya ada Albian dan Dewi. Alana baru saja pamit untuk pulang ke rumah. Bu Ratna neneknya juga sekarang sedang tidak enak badan karena penyakit tua. Alana sebagai cucu menjaganya dan menemani di rumah. Pria dua anak itu melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Kakinya melangkah pelan mendekati ranjang. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat Dewi membuka matanya. Deg! Pandangan mata keduanya kini bertemu. Dewi menatap Albian. Begitu pula dengan Pria itu. Untuk sejenak pandangan mata mereka saling beradu. Hingga beberapa detik kemudian Dewi memilih mengalihkan pandangan matanya ke arah lain untuk menghindari tatapan mata Albian. "Dewi?" Albian mendekat. Menggenggam tangan Dewi. Tapi, Dewi segera menepisnya. "Alhamdulillah kamu sudah baikan, sekarang kamu makan, ya?" Albian tahu kalau Dewi masih enggan memaafkan dirinya. Tapi, Albian akan tetap berusaha memperbaiki hubungan yang sudah retak ini kembali. Albian kini meraih piring yang ada di atas nakas. Makanan pemberian dari rumah sakit. "Dewi, kamu makan dulu, biar lekas sembuh." Albian mengatakan itu dengan suara lembutnya seraya mengaduk bubur ayam yang ada di tangannya. Dewi diam, enggan menjawab. Dia sekarang memilih sibuk dengan menatap tembok yang ada di depannya untuk menghindari Albian. "Aku tahu kamu benci sama aku, Dewi. Tapi, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita, kasihan Alana dan Diana. Mereka masih membutuhkan kita." Albian menaruh kembali piring itu ke tempat semula. Mendengar ucapan Albian, membuat Dewi tersenyum sinis. Perempuan itu tidak mempercayai Pria yang ada di sampingnya tersebut. "Apa yang akan kau perbaiki? Biarkan saja piring itu retak, kalau pun kau akan berusaha memperbaikinya, tetap saja bekas itu tidak akan hilang." Dewi mengatakan itu dengan perasaan jengkel pada suaminya. Bagaimana mungkin suaminya mengatakan akan memperbaiki hubungan ini. Sedangkan dia sendiri yang sudah mengingkari janjinya. Mengkhianatinya dan menikah lagi dengan perempuan lain. Apalagi usia perempuan yang Albian nikahi seusia Alana anaknya. Pasti istri baru Albian masih muda dan masih bisa melayani Albian dengan baik. Tidak seperti Dewi yang sudah mulai menua, apalagi Dewi sudah melahirkan dua anak gadis sudah menginjak remaja. Albian terdiam mematung di tempat ia berdiri. Matanya menatap Dewi dengan sendu. Merasa sangat bersalah karena sudah mengkhianati. "Aku akan berusaha mendapatkan maaf darimu Dewi." Albian bersikeras. Dewi tersenyum kecut. Tubuhnya sudah teramat sakit untuk memaafkan Albian. Semua impiannya ikut hancur setelah mengetahui suaminya itu menikah lagi. "Dengan meninggalkan dia?" tantang Dewi. Kini perempuan itu menggeser tubuhnya. Matanya menatap Albian. Hening. Tak ada kata lagi yang keluar dari bibir mereka. Hingga beberapa saat kemudian Albian membuka suaranya. Setelah mengingat janjinya pada Alana untuk menjaga Dewi. Juga teringat dengan ucapan Dokter yang mengatakan kesehatan Dewi menurun akibat stres. Dan Albian tahu semuanya itu karena kesalahannya. "Aku akan meninggalkan dia, demi kamu Dewi. Aku mau kita bersama lagi seperti dahulu, kita buka lembaran baru lagi, sayang. Kita akan memulai semuanya seperti dulu," kata Albian seraya memeluk Dewi. Kali ini Dewi diam saja saat Albian memeluknya. Ucapan Albian barusan mengingatkan Dewi saat dulu sebelum mereka berdua menikah. Saat itu Albian dan Dewi sempat putus sesaat setelah mereka lulus sekolah menengah atas. Tapi, tak lama berselang setelah itu Albian kembali menemui Dewi dan meminta maaf karena tidak pernah memberi kabar selama satu bulan ini. Dan Dewi memaafkan Albian. Saat itu pula Albian pun melamarnya. Mereka berdua akhirnya menikah. "Aku minta maaf, sayang. Aku akui kalau aku salah. Maaf, maaf, maaf. Aku janji akan meninggalkan dia. Kita akan mulai lagi kisah baru kita bersama dengan Alana dan Diana. Aku sangat menyayangi kalian bertiga," ucap Albian tepat di telinga Dewi. Membuat perempuan itu terisak mendengar ucapan suaminya. Sepasang suami istri itu menangis terharu. *** Dua hari kemudian. Dewi sudah di izinkan pulang oleh Dokter. Albian dengan telaten merawat Dewi dengan kasih sayang. Walaupun di dalam hati kecilnya Dewi masih belum percaya sepenuhnya dengan suaminya itu. Tapi, melihat kesungguhan Albian, Dewi sedikit luluh. Mobil warna putih kini berjalan memasuki halaman rumah mewah berlantai dua. Istana kecil Dewi dan Albian. "Aku antar kamu istirahat di kamar ya," Albian mengangkat tubuh Dewi keluar dari mobil. Membawanya masuk ke dalam rumah. Dan langsung menuju ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Alana membantu ayahnya membuka pintu kamar itu. Albian segera membawa Dewi masuk dan membaringkan tubuh itu di atas ranjang. "Lana ambilkan minum dulu ya, Ma." Alana bergegas pergi setelah mengatakan itu. Albian menatap Dewi. Kemudian Pria itu duduk di samping istrinya. "Mau makan apa? Roti atau..." ucapan Albian terjeda. "Tidak." potong Dewi. "Baik, kalau pengen makan sesuatu, katakan saja ya." Dewi mengangguk pelan tanpa tersenyum. Hening. Keduanya saling diam tanpa mengatakan apapun. "Seminggu lebih kau ada di sini, lalu bagaimana dengan pabrik itu?" suara Dewi memecah keheningan yang ada. "Keadaan pabrik baik baik saja. Setiap hari mereka mengirim laporannya. Aku tinggal memeriksa saja," sahut Albian seraya tersenyum melihat Dewi. Walaupun Dewi sendiri masih enggan menampakan senyuman sejak bertemu dengan Albian. Terakhir Albian melihat senyum istrinya itu, entah kapan. Yang jelas Dewi sudah lama tidak tersenyum lagi. Senyuman itu seakan sudah hilang dari dirinya. "Apa kau tidak ingin cari alasan ke pabrik itu untuk bertemu dengan istri mudamu?" Dewi ingin tahu seberapa suaminya itu memegang janji cintanya beberapa hari lalu saat berada di rumah sakit. "Aku..." Albian diam sejenak. Dewi menaikkan alisnya menunggu suaminya mengatakan sesuatu. "Kapan kau akan menceraikan dia sesuai janjimu kemarin?" Deg! Albian diam seketika. Tak mampu menjawab pertanyaan Dewi. *** Luka hati ini ada karena kamu, sakit ini ada karena kamu. Lalu semudah itukah kamu meminta maaf kepadaku untuk menutupi semua kelakuanmu itu? Sepandai apapun kau memperbaiki luka yang sudah tergores, tetap saja sayatan luka itu akan membekas jua. Seperti itu pula hatiku ini. Sakit, saat tahu kau menikah lagi dengannya tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Sungguh pandai kau menyimpan rahasia. Tapi, semua sudah terbongkar pada waktunya. Aku tahu Tuhan maha pemaaf. Tapi, aku butuh waktu untuk melihat kesungguhanmu itu. Dewi Maharani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD