"Delapan puluh tiga!"
"Delapan puluh empat!"
"Delapan puluh lima!"
"Delapan puluh enam!"
"Jangan curang!"
"Apanya yang curang sih bu?!" teriak Keyla.
"Udah lanjutin!" teriak bu Rina.
"Delapan puluh tujuh!"
"Delapan puluh delapan!"
"Seratus!!"
"Yang bener kalian!"
"Huaaaa, delapan puluh sembilan!"
"Sembilan puluh!"
"Capek bu!!"
Kalian pasti tau kenapa mereka menghitung nggak jelas di tengah lapangan.
Ya. Sekarang ini, Aron dan Keyla sedang menjalani hukuman dengan seratus kali squat jump. Bu Rina memang tidak tanggung tanggug untuk memberi hukuman, apalagi murid semacam Aron dan Keyla yang datang terlambat hingga setengah jam.
"Itu bukan urusan saya, siapa suruh kalian datang terlambat. Kalian yang melanggar aturan, kalian juga yang harus menanggung akibatnya."
ucap bu Rina sambil berkacak pinggang.
"Saya mau disuruh squat jump seratus kali sampai dua ratus kali juga nggak masalah. Tapi apa ibu nggak kasihan sama teman saya yang ini." ucap Aron sambil menunjuk ke arah Keyla yang sudah kelelahan.
"Hukuman tetap hukumam, peraturan tetap peraturan. Kalian ingat perkataan saya barusan? Kalian yang melanggar aturan, kalian yang menanggung akibatnya." ucap bu Rina garang.
"b*****t!" umpat Aron dan Keyla dalam hati.
"Sekarang kalian lanjutkan hukuman kalian, saya akan mengawasi dari sini." sambung bu Rina garang. Bu Rina memang sangatlah disiplin dan tidak segan segan memberi hukuman kepada murid yang melakukan pelanggaran, tak terkecuali.
"Sembilan puluh satu!"
"Sembilan puluh dua!"
"Sembilan puluh tiga!"
"Sembilan puluh empat!"
"Sembilan puluh lima!"
"Sembilan puluh enam!"
"Sembilan puluh tujuh!"
"Sembilan puluh delapan!"
"Sembilan puluh sembilan!!"
"SERATUS!!!"
"Sudah. Sekarang kalian kembali ke kelas masing masing, saya harus ke kantor sekarang. Lain kali jangan diulangi lagi. Mengerti?"
"Iya bu." sahut Keyla.
"Iya bu, iya. Tapi nggak janji, hehe." sahut Aron dengan cengegesannya.
"Kamu itu nggak ada kapok kapoknya sama sekali ya. Saya sampai bingung ngatasin kamu yang bandelnya minta ampun." ujar bu Rina sambil memijit pelipisnya.
"Kalo bingung tinggal pegangan tiang aja kali bu, gitu aja susah. Ya nggak key?"
Keyla hanya mengangguk sambil ketawa ketiwi. Bu Rina melihatnya hanya mampu menggeleng gelengkan kepalanya.
Bu Rina sudah kualahan menghadapi Aron. Apalagi bila Alvaro, Brian dan Farel juga ikut muncul, sudahlah, bu Rina ingin sekali membenturkan kepalanya keras keras ke tembok.
"Dasar." sahut Bu Rina.
Bu Rina pun langsung melenggang pergi meninggalkan Aron dan Keyla di tengah lapangan.
"Ngadem dulu deh gue." ucap Keyla.
Keyla berjalan mencari tempat untuk meneduh dari teriknya sinar matahari. Setelah menemukan tempat yang pas, Keyla langsung duduk selonjoran diatas tanah dengan bersandar disebuah pohon besar yang rindang.
Aron yang merasa ditinggal langsung menyusul Keyla dan duduk di samping Keyla.
"Adoh pegel semua badan gue!!" teriak Keyla saat bu Rina sudah menghilang dari hadapannya.
"Gue mah udah biasa ngadepin yang kayak gini. Tapi, masih ada hukuman yang lebih parah dari ini sih, sadis pokoknya." ucap Aron.
"Apaan tuh bang?" tanya Keyla.
"Bersihin wc! Parah baget, lo taukan wc sekolah kayak gimana? Baunya kayak tai kebo tau nggak." ujar Aron sok dramatis.
"Haha, lo emang pernah disuruh bersihin wc?"
"Gue pernah dapet hukum disuruh ngebersihin wc, tapi gue ogah. Gue kabur aja ke rumah dari pada ngebersihin wc." cerocos Aron.
"Jijik ewh ya, haha."
"Iya lah, haha."
"Kita emang nggak pernah jauh jauh dari yang namanya hukuman." ucap Keyla.
"Betul sekali."
"hahaha." mereka pun tertawa bersama sama.
"Ngantin yok." Ajak Aron.
"Yokk."
Mereka berdua berjalan santai menuju ke arah kantin sambil bergandengan tangan. Tapi tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh kebencian. Lebih tepatnya ke arah Keyla.
"Dasar cewek gatel. Lihat aja lo, key. Lo bakal mampus ditangan gue." batin orang itu.