BAB 6

962 Words
“Kau tidak berangkat sekolah?” Lizzy bertanya tanpa ragu, dia duduk di sampingku seakan ingin mendengar sebuah dongeng.             “Darimana kau tahu, Lizz?” Sebelah alisku terangkat. Aku meletakkan ponsel yang sedari tadi berada di genggamanku. Entahlah, tapi aku mengharapkan sebuah telepon dari seseorang. Seseorang yang berlagak seperti domba namun dia adalah seorang serigala.             “Meghan tadi sore ke sini, dan kau belum datang. Dia cerita ke Mam tentang kebolosanmu itu, Cind.” Lizzy berkata seakan dia adalah gadis berusia 20 tahun. Lebih tua 2 tahun daripada aku.             “Apa ekspresi Mam saat mendengarkan Meghan?”             Bibir Lizzy memberengut lucu sebelum menjawab pertanyaanku, “Mam hanya geleng-geleng kepala. Mam sepertinya mempercayai cerita Meghan. Tapi, anehnya Mam bersikap biasa saja padamu.”             “Ya, Mam tidak menegurku.” ucapku seraya membayangkan kebersamaan beberapa jam yang lalu dengan Mam, dan Mam bersikap biasa saja seolah Meghan tidak datang dan tidak menceritakan kebolosanku.             “Bolehkah aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara Cinderella dan Meghan?” Lizzy memiringkan kepalanya, menatapku serius tapi dengan mimik yang jenaka. Aku suka nada bicaranya ketika mengucapkan namaku, Cinderella.             “Ini masalah dua orang gadis remaja yang akan beranjak dewasa. Anak kecil 8 tahun tidak boleh tahu.”             Lizzy mendengus sebal. “Umurku memang 8 tahun tapi buku-buku bacaanku menyamai orang-orang dewasa.” Aku suka sekali melihat bola mata biru Lizzy, bola mata birunya mengingatkan aku pada almarhum Nenek. Mereka berdua orang-orang tersayang, disusul Mam dan Pap.             “Lizz, maukah kau membuatkanku cokelat panas? Aku ingin minum cokelat panas dan menonton Mr. Bean di laptop.” Aku melempar senyum.             “Yeah, ide bagus! Aku akan ikut menonton Mr. Bean dan minum cokelat panas.” Sejurus kemudian, Lizzy melesat pergi ke dapur. Bagaimana aku tidak menyayangi gadis kecil itu? Aku selalu menyukai Lizzy, di setiap pemikiran sok dewasanya.             Aku harus menyusun strategi untuk menemukan orang tuaku. Jika memang aku adalah sebuah kesalahan, aku akan tetap menemui mereka. Aku harus tahu orang tuaku itu siapa. Meskipun aku harus meninggalkan Mam, Pap dan Lizzy.             Ponselku berdering. Tertera nama di layar, Joe. Aku mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Akhirnya, telepon darinya datang juga. Kenapa aku masih mengharapkan telepon dari pria berengsek itu?!             “Halo, Cind,” suara di seberang sana ketika aku menekan tombol ‘ya’.             “ Hei, aku mengkhawatirkanmu.”             Aku masih diam tak menjawab apa pun. Mengkhawatirkanku? Mengkhawatirkanku karena aku sudah tahu siapa dia sebenarnya?             “Tadi Meghan mendatangiku, dia mengancamku. Aku tahu kalau kau sudah tahu, Cind. tapi, percayalah aku dan meghan sebenarnya tidak lebih dari hanya seorang teman. Dan Meghan menginginkan hubungan lebih. Maksudku, ya ampun, bagaimana aku bisa menjelaskannya, bisakah kita bertemu sekarang?”             Pria itu benar-benar berengsek! Bagaimana dia bisa mengelak? Aku bahkan lebih percaya Megg dibandingkan dirinya.             “Joe, aku ingin hubungan kita berakhir. Aku sudah tahu semuanya dan kau tak perlu menjelaskan dengan susah payah. Aku tahu kau—“             “Astaga... Cind, aku tidak mengerti. Cind, dengar, aku tidak bisa mengakhiri hubungan kita. Aku mencintaimu, Meghan tidak lebih hanya sekadar teman, sama seperti Marry.”             “Joe, aku juga mencintaimu, tapi aku—“             “Ya, kita saling mencintai. Aku akan menjauh dari Marry, Meghan atau siapa pun itu. Tolong Cind, jangan akhiri hubungan kita. Aku mohon, aku benar-benar menginginkanmu. Bahkan aku belum sempat menciummu.” Joe kembali memotong ucapanku. Seolah ucapanku itu tidak penting dan tidak perlu didengarkan. Hanya ucapan dialah yang harus didengarkan.             Sejujurnya, aku suka dia memohon seperti itu, meski itu hanya kebohongan semata. Karena jika kau bertemu seorang pria pembohong, dia akan terus berbohong dan melukaimu tanpa rasa sesal yang berarti.             Lizzy datang dengan dua cangkir cokelat panas. Aku tahu dia sudah muncul beberapa saat lalu dan menguping dari balik pintu. Karena Lizzy ingin tahu, karena Lizzy peduli denganku, karena Lizzy menyayangiku. Dia akan mencari tahu apa pun yang membuat kakaknya sedih. Bukan tidak mungkin dia akan melabrak Joe jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.             “Tolong, jangan hubungi aku lagi.” Kataku, lalu mematikan telepon begitu saja.             “Ada masalah?” Sebelah alis Lizzy terangkat.                           “Bocah 8 tahun tidak perlu tahu tentang masalah apa pun yang sedang terjadi pada remaja 18 tahun yang akan beranjak dewasa.”             Lizzy mendengus kesal.             Ketika Lizzy memberikan secangkir cokelat panas, Mam berteriak memanggil namaku.             “Ada apa?” tanyaku pada Lizzy. Lizzy hanya mengangkat bahu.             “Mam,” gumamku ketika melihat Mam datang dengan linangan air mata. Perutku menegang melihat Mam berlinang air mata. Aku nyaris tidak pernah melihat Mam menangis. Dan ini pertama kalinya aku melihat Mam menangis.             “Ada apa, Mam?” tanyaku, menatap Mam khawatir.             Mam tidak menjawab, Mam malah memelukku erat.             “Cind... Cinderella... anakku...”             “Mam, ada apa?” Aku makin khawatir, panik sekaligus penasaran.             Ada apa ini? Kenapa Mam bersikap seakan-akan aku akan pergi darinya. Aku di sini, Mam. Aku belum pergi. Cinderella masih bersamamu, Mam.             Lizzy yang berdiri di sampingku hanya diam, tak bergeming. Dia hanya memerhatikan aku dan Mam yang sedang berpelukan. Tatapannya cukup mengenaskan, seolah dia ingin memelukku juga. Memeluk aku dan Mam.             “Ini, terlalu cepat sayang. Mam, sebenarnya tidak ingin memberitahu yang sebenarnya padamu. Harusnya kau...” suaranya tertelan oleh tangisnya.             “Mam,” ucapku lirih. Tuhan seakan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi melalui bisikan-bisikan dalam hati.             “Mam, aku sudah membaca buku catatan Nenek. Catatan tentangku.” Mam melepas pelukannya, menatapku tak percaya. Setidaknya, Mam tidak perlu bersusah payah menjelaskan siapa aku sebenarnya karena aku sudah tahu bahwa aku bukanlah anak kandungnya.             “Cind,” Mam kembali memelukku, dia menangis lagi. Tangisnya semakin pecah. Semakin membuatku paham kalau Mam teramat sayang padaku seperti menyayangi anaknya sendiri.             “Di ruang tamu, ada beberapa pria. Salah satu dari mereka mengaku sebagai ayah kandungmu. Mam tidak ingin kehilangan kamu, Cind.”             Ayah.                   Ayahku datang setelah 18 tahun lamanya?    ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD