Setelah menatapku beberapa saat, pria asing berjas abu-abu itu memelukku erat. Pelukan eratnya menandakan bahwa dia merindukanku. Entah itu hanya firasatku atau apa, namun, sejujurnya aku pun ingin membalas pelukannya. Tapi, aku menahan diri sampai aku tahu alasan apa yang membuatnya membuangku begitu saja di tengah derasnya hujan.
“Putriku, aku merindukanmu, Nak.” Bisiknya. Dia melepas pelukannya, dan tanpa menanyai kabarku untuk sekadar basa-basi, dia langsung memintaku untuk pergi bersamanya sekarang juga.
“Kenapa kau tiba-tiba datang dan memintaku ikut denganmu, Mr. Davidson?” Aku belum mampu memanggilnya dengan sebutan Dad.
“Ceritanya panjang sayang, aku akan menceritakannya nanti saat kau sudah di rumah.” Dilihat dari caranya berbicara dan berpakaian layaknya seorang direktur, sepertinya dia orang yang terpandang. Mungkinkah dia seorang milyarder? Kalau iya, itu artinya aku anak seorang milyarder. Apalagi ada dua orang berjas hitam dan berkacamata layaknya seorang bodyguard atau seorang agent?
Pria ini jelas lebih tua dari ayah angkatku. Rambutnya nyaris memutih secara keseluruhan. Keriputnya sangat jelas menghasi wajah penuh wibawanya. Dan bola matanya berwarna hazel seperti bola mataku. Meski dia tampak sangat tua dan lelah, badannya tetap kekar. Agaknya dia menghabiskan banyak waktu di tempat kebugaran.
Aku memandang Mam, Pap dan Lizzy secara bergantian. Aku tahu mereka tak kan rela jika aku pergi ke New York. Mam masih menangis dan menggeleng-gelengkan kepala, Pap membatu seakan pasrah dan Lizzy... dia memang terlihat tegar meski ekspresinya muram. Dengan gerakan spontan dia berlari memelukku.
“Kumohon jangan pergi, Cind. Aku menyayangimu. Aku tidak ingin kau pergi, tetaplah di sini bersama aku, Mam dan Pap.” Rengeknya. Aku membelai lembut kepala Lizzy.
Kedatangan Mr. Davidson cukup mengejutkanku. Dia datang di waktu yang tak terduga. Di saat aku mulai ingin mencari orang tua kandungku dan aku tak pernah menyangka, ia akan datang. Benar-benar datang untuk menjemputku.
***
“Aku janji, aku akan sering mengunjungi London. Dan kau, pasti akan aku ajak ke New York, Lizz.” Kataku mencoba menenangkannya. Wajahnya makin muram dan aku tidak suka melihat wajahnya seperti itu.
Aku mengembuskan napas dalam, lalu sekilas menatap Mam dan Pap yang sedang membereskan barang-barangku dan memasukkan pakaian ke koper. Aku melihat mereka seakan tak berdaya dan tak bisa menolak permintaan Mr. Davidson. Ini pasti berhubungan dengan kekuasaan dan pengaruh orang itu. Aku pernah mendengar bahwa perusahaan Pap bekerja sama dengan pengusaha Amerika bernama Davidson. Aku tidak tahu apakah Davidson yang dimaksud adalah pria asing yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ayahku ini atau bukan.
“Aku mau setiap hari kau mengabariku, Cind. jangan lupakan adikmu ini,” wajahnya menatapku penuh harap.
“Iya, Lizzyku sayang,” Aku membelai lembut pipinya yang halus.
“Janji?” Lizzy mengangkat jari kelingkingnya, aku tersenyum dan menautkan jari kelingkingku pada jari kelingkinganya.
“Janji.”
Lizzy memelukku, “Aku sayang Cinderella.”
“Aku juga sayang Lizzy Eliot.”
“Kau tak bisa menolak keinginan Mr. Davidson, Cind?” Pertanyaan Pap mengejutkanku. Refleks, aku melepas pelukan Lizzy.
“Kalau kau menolaknya, aku yakin dia tidak akan memaksamu untuk pergi bersamanya ke New York.” Jelas Pap.
“Aku... aku hanya ingin tahu kenapa aku dibuang di tengah hujan begitu saja. Aku ingin tahu siapa ibuku, Pap. Dan Mr. Davidson bilang dia akan memberitahuku setelah aku di New York bersamanya.”
“Kalau kau tinggal di sana, bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Pap lagi.
“Aku sudah lulus. Sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu graduation saja.” jawabku enteng. Membahas sekolah, terlintas di benakku sosok Meghan, Joe dan Marry. Dan aku tidak suka ketiga wajah itu.
***
Di dalam jet pribadi mewah, Mr. Davidson sudah mengganti pakaiannya dengan jaket berlapis-lapis. New York mungkin lebih dingin dibandingkan London. Aku pun mengencangkan syal dan memakai topi kupluk.
“Mr. Davidson,” panggilku sedikit gugup, dia menoleh.
“Panggil aku Dad. Aku adalah Dad-mu, Cinderella.” Katanya seraya tersenyum.
“Emm, kau juga bisa memanggilku dengan Cind. Aku kurang suka dipanggil Cinderella.”
“Tapi aku suka namamu itu. Kau tahu, ibumu sangat menyukai tokoh Cinderella.”
“Ibuku?” setiap menyebut nama ‘ibuku’ aku selalu merasa terluka sekaligus penasaran. “Apakah Mr—maksduku, Dad mau menceritakan tentang Mom.”
Dia menghela napas dalam. “Dia sangat mirip denganmu. Kupikir kau adalah kopian Mom-mu. Maksudku dari segi fisik, kau sangat mirip dengannya.”
“Mom memiliki bola mata hazel sepertiku?”
“Ya. Rambut panjang pirang, hidung mancungmu yang unik dan... tatapan matamu yang lembut namun terkesan tajam. Kau benar-benar mirip dengan Anne.”
“Aku ingin segera sampai di New York agar aku bisa melihat Mom.”
Ekspresi wajahnya berubah ketika aku mengatakan keinginan untuk bertemu ibu kandungku. Muram dan sedih. Mendadak layu seperti tanaman yang tidak mendapatkan air selama musim kemarau.
“Kau kenapa?” Aku bertanya hati-hati.
“Cinderella, putriku. Ceritanya panjang. Aku berniat menceritakan semuanya setelah kita sampai di New York tapi, kau tampak begitu penasaran.”
“Bagaimana aku tidak penasaran, selama 18 tahun aku belum pernah melihat ibu kandungku. Tidak tahu alasan pasti dia membuangku. Tentu saja aku menuntut pertanggung jawaban kalian berdua.” balasku tajam.
Dia mendongak seakan menahan air matanya. “Baiklah, aku akan ceritakan semuanya. Sebelum bertemu ibumu, aku sudah memiliki seorang istri tanpa anak.” Tiba-tiba hatiku terasa dipilin.
“Aku jatuh cinta dengan ibumu dan menjalin hubungan gelap hingga kau lahir. Aku tidak bisa berpisah dengan istriku karena semua yang aku dapatkan adalah miliknya. Semua hartaku adalah darinya. Karena kecewa, ibumu meninggalkanku dan kabur ke negara asalnya. Aku mencoba mencarinya dan aku gagal. Aku tidak menemukannya sampai suatu ketika ada surat yang datang ke kantor. Surat itu dari ibumu. Surat itu berisi tentangmu. Tentang namamu dan segala identitasmu. Dia bilang ada tanda lahir di tangan sebelah kananmu yang membentuk bulan sabit. Dan ya, kau memiliki itu sehingga aku tidak ragu untuk membawamu sebagai anakku. Lalu, aku tidak tahu ibumu sakit apa, hal terakhir yang kudengar dia meninggal.” Dad menatapku sedih.
Aku membatu. Keterkejutan akan kisah pilu itu membuatku tak mampu menggerakkan anggota tubuh. Betapa beratnya beban ibuku. Apakah itu alasan dia membuangku lalu kenapa dia tidak menyerahkan aku pada ayahku.
“Dia yatim piatu, sayang. Ibumu bingung harus bagaimana, satu sisi dia sedang sakit parah dan dia tidak sanggup memberikanmu padaku karena aku masih memiliki istri. Maksudku, istriku itu bukan wanita biasa. Dia tidak akan segan untuk menyingkirkanmu. Dan Ibumu mendengar bahwa ada seorang pasangan suami istri yang sudah menikah beberapa tahun dan belum dikarunia seorang anak. Ibumu tidak memberikanmu pada sembarang orang. Dia melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum yakin bahwa orang yang akan menjagamu adalah orang baik.”
Itukah alasanmu, Mom? Air hangat menggenang di kelopak mataku.
Aku adalah hasil dari hubungan gelap. Mungkin benar terkaanku bahwa aku adalah sebuah kesalahan. Namun, mendengar cerita tentang Mom, aku yakin bahwa dia memang tidak berniat membuangku.
“Dan Mom sudah meninggal? Mom tidak ada di New York?” tanyaku dengan linangan air mata tak tertahan.
Dia mengangguk, “Ya, Mom-mu sudah berada di Syurga, Cinderella.”
“Bagaimana dengan istrimu? Bukankah kau bilang kalau istrimu akan menyingkirkan aku jika dia tahu.”
Dia tersenyum. Senyum antara bahagia juga sedih.
“Dia sudah meninggal karena overdosis obat-obatan.”
“Depresi?”
“Ya, setelah tahu kalau aku sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.”
“Dengan ibuku?” Aku memiringkan kepala menatapnya lekat.
“Bukan,” Dad menggeleng. “wanita lain setelah ibumu. Wanita itu sudah menjadi istriku sekarang. Ibu tirimu. Tapi tenang, dia tidak semengerikan istri pertamaku. Dan kau sudah dewasa untuk mengerti soal itu.”
"Dan kau punya seorang kakak tiri. Dia bukan anak kandungku tapi sudah kuanggap seperti anak kandungku. Namanya, Rey. Rey Davidson."
***