Aku merasakan sensasi berbeda ketika sepatu boot hitamku menginjak Kota New York. Tepatnya, di Brooklyn, emmm, tepatnya di depan rumah Dad. Seperti Cinderella abad modern. Ya, aku merasa benar-benar seorang Cinderella. Jet mewah, ayah kaya, ibu tiri dan seorang kakak tiri. Meskipun kakak tiriku seorang pria. Dan jet pribadi itu mendarat di depan rumah mewah yang entah bagaimana aku bisa mendiskripsikan kemewahan sekaligus keeleganan rumah di depan mataku ini, walau salju berusaha menutupinya.
Halaman rumah ini seluas lapangan sepak bola Inggris. Amazing!
“Ini rumahmu, Cind.” Aku menoleh. Ada rasa bahagia bercampur bangga. Rumah ini jelas tiga kali lipat lebih besar dari rumahku di London.
“Ayo masuk, Nak.” Aku mengangguk. Aku melihat dua orang berkepala plontos yang selalu mengikuti kami meminta izin untuk kembali ke kantor FBI. Tunggu... kantor FBI? Mereka—agen FBI?
Wow! Aku begitu terperangah akan apa yang aku ketahui.
“Ya, terima kasih atas bantuan kalian. Aku akan mampir ke sana kalau ada waktu.”
Dua orang berkepala plontos itu beringsut pergi menaikki jet pribadi. Sekilas Dad melambaikan tangan pada mereka sebelum jet itu benar-benar mengudara.
“Apakah mereka agen FBI?” Tanyaku penasaran.
“Ya, mereka yang membantu Dad menemukanmu.” Jawab Dad seraya tersenyum.
Astaga... luar biasa! Aku ditemukan oleh agen FBI.
“Kelly... lihatlah, siapa yang aku bawa.” Teriak Dad di dalam rumah. Koperku di bawa seorang pelayan berkulit hitam yang dengan sigap membantuku ketika mengetahui kedatanganku.
Seorang wanita paruh baya, berambut ikal pirang dan bertubuh langsing dengan rock heighwasted-nya muncul dan tersenyum lebar kepadaku. Dia mendekat dan tiba-tiba memelukku erat hingga aku sulit bernapas. Aku melihat kegembiraan yang seakan-akan kegembiraan itu memiliki tujuan tertentu padaku. Alih-alih membalas pelukannya, aku malah bergidik ngeri.
“Putriku, ayo makan, sayang. Kau pasti lapar. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Aku yang masak khusus untukmu hari ini.” Tanpa mendengar balasanku, dia menarik lenganku dan membawaku ke meja makan yang dekat dengan dapur.
Satu hal yang terlewatkan, rumah ini memiliki interior berhias emas. Dan furniture mahal yang entah darimana menghiasi interior ruangan. Aku tidak sempat menikmati interior emasnya karena wanita paruh baya itu langsung menarik lenganku menuju meja makan.
“Lihat, ada banyak makanan di meja ini, sayang. Kau mau makan yang mana dulu, ada Crab Cake, Grilled Chicken, Half Pound steak Burger—“
“Ya, aku akan mencoba semuanya.” Potongku cepat, aku merasa wanita yang dipanggil Dad—Kelly ini terlalu bawel hingga aku sendiri bingung.
Sejenak dia terdiam. Kemudian kembali tertawa dan berkata dengan keramahan yang dibuat-buat. Aku yakin dia ibu tiriku. Aku sungguh tidak nyaman dengan sikapnya yang penuh kepura-puraan. Aku masih 18 tahun dan aku bisa melihat kepura-puraannya dengan jelas.
Selesai makan, Kelly mengajakku masuk ke kamar. “Kamar ini sudah disiapkan sejak Sandra meninggal. Karena Dad-mu berniat mengajakmu tinggal di rumah ini.” Jelasnya.
Ada selimut sutra berwarna pink. Tirai merah. Dinding berwarna ungu. Perpaduan warna yang mencolok dan sangat tidak enak dilihat. Apakah seorang milyarder tidak memiliki desain khusus rumah yang mengatur cat kamar, warna tirai dan lainnya. Atau mungkin Kelly yang mengatur perpaduan warna mencolok ini?
“Silakan beristirahat sayang.” dia mengecup keningku lembut. Tindakan impulsif yang tidak aku sukai. Dia bukan Mommyku dan aku tidak suka orang asing bersikap sok dekat.
***
Saat makan malam, aku sempat menanyakan kakak tiriku atau apalah—aku tidak tahu menyebut dia sebagai kakak tiri atau bukan, kepada Dad. Tapi Kelly yang mengambil jatah jawaban Dad. Dia bilang Rey memang jarang pulang ke rumah karena dia sudah memiliki apartemen sendiri. Sayangnya, di rumah sebesar ini aku tidak melihat foto Rey yang sudah dewasa. Adanya foto Rey saat dia masih kanak-kanak. Kebanyakan foto di rumah ini adalah foto-foto Dad bersama Kelly dan ada satu foto yang aku yakini adalah Sandra Davidson. Istri pertama Dad. Ya, sekilas wajahnya mirip Cameron Diaz. Tentu saja aku menyukai wajahnya karena Sandra cantik seperti Cameron Diaz, meskipun tatapan Sandra memang lebih tajam dan dalam.
Tidak ada foto Mom. Ya Tuhan... Mom. Aku belum tahu bagaimana wajah Mom. Kemana aku harus mencari foto Mom. Dad dan Kelly sudah masuk ke kamar.
Baiklah, aku perlu beradaptasi dengan kehidupan baruku. Anak seorang milyarder yang kesepian. Di London, ada Lizzy yang akan menghiburku setiap saat dan kami sering berdebat banyak hal. Terkadang dia selalu sukses membungkam mulutku. Tapi sekarang... aku merasa sendirian. Mungkin aku butuh waktu untuk merasa akrab dengan New York. Ya, aku akan kuliah di sini. Dan tentu saja aku akan mendapatkan teman-teman baru.
Aku turun dari ranjang dan menyelipkan kakiku ke sandal selop hello kitty. Membuka pintu dan melangkah menuju dapur. Aku menuang bubuk kopi dan menuangkan air. Aku butuh kopi untuk menemani kesendirianku.
Deg!
Ada sebuah tangan yang menyentuh bahuku. Jantungku berdetak cepat. Aku menoleh dan melihat wajah seorang pria asing.
“Si-siapa kau?” tanyaku panik sekaligus takut. Aku takut kalau pria di depanku ini seorang...
“Aku yang harusnya bertanya, kau siapa?” tangannya menunjuk tepat di hidungku.
“Pelayan baru?” dia memiringkan kepalanya, menatapku dengan seksama.
Dasar! Sembarangan saja menyebutku pelayan baru.
Tapi seketika aku teringat soal kakak laki-laki. Ya, mungkin dia anak Kelly karena wajahnya memang tidak mirip penjahat dan penampilannya seakan menegaskan bahwa dia termasuk orang penting dalam sebuah perusahaan. Wajahnya imut namun penampilannya begitu maskulin. Dia memiliki mata kucing yang unik.
“Kau, Rey?” tanyaku kemudian.
“Ya, kau tahu aku?” dia balik bertanya. “Okay, sekarang katakan siapa dirimu?” sebelah alisnya terangkat.
“Aku Cind,” Aku menjulurkan tangan, “putri Mr. Davidson.” Aku tersenyum. Wajah Rey tampak ramah. Aku harap dia bisa menjadi teman pertamaku di negara ini.
“Ow,” jawabnya acuh tak acuh. Dia menggerak-gerakkan mulutnya aneh. Tapi sungguh dia malah tampak lucu alih-alih mengerikan.
Dia membalas jabatan tanganku, tapi dia tidak tersenyum. Seakan aku adalah makhluk dari luar angkasa yang patut diwaspadai. “Cind, nama yang unik.” Aku melepas tanganku dari tangannya. “Siapa nama panjangmu?” pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang paling malas aku jawab. Terkadang aku malu mengakui nama panjangku.
“Cinderella Eliot,” jawabku, sedikit tidak berselera.
“Hah?” seakan tak percaya, kedua daun bibirnya terbuka.
“Cinderella,” jawabku mengalihkan pandangan.
“Huaaahahaha!” dia terbahak. Aku nyaris terlonjak karena tawanya.
Apa-apaan dia? Dia pikir namaku selucu lelucon Mr. Bean?!
“Luar biasa, jadi kau datang ke sini untuk menemukan Pangeranmu, Cinderella?” tanyanya mengejek.
Aku merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya itu. Aku rasa namaku tidak layak dijadikan ejekan tak bermutu. Itu adalah nama pemberian Mom meski aku tidak menyukai nama Cinderella.
“Ya,ya, aku tahu.” Dia menepuk pundakku lembut. “Sebentar lagi kau akan bertemu dengan pangeranmu, seorang pewaris jaringan hotel terbesar di dunia.” Aku mengernyit bingung mendengar ucapannya. Aku tidak mengerti sama sekali. Pangeran? Pewaris jaringan hotel terbesar di dunia?
“A-ku tidak mengerti maksudmu, Rey?”
“Wah,” dia melepaskan tangannya dari pundakku.
“Kau benar-benar belum tahu?” dia bertanya hati-hati.
Aku menggeleng, “Tentang apa?”
Rey mengembuskan napas panjang. Menatap sekeliling dengan waspada. Lalu matanya menatapku dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut. Berulang-ulang selama beberapa kali hingga aku terheran-heran dengan apa yang dilakukannya. Mungkinkah dia sakit jiwa?
“Sepertinya kau masih kecil, maksudku... emmm,” dia membenamkan sebelah tangannya di saku celana dan tangan lainnya berada di dagu seakan menimbang-nimbang sesuatu hal yang akan diluncurkan kedua daun bibirnya. “Berapa usiamu?”
“Delapan belas tahun.” jawabku mantap.
“Huh! Ya ampun, apa-apaan Davidson dan Kelly itu?!” gumamnya. Aku mendengar dengan jelas gumamannya yang membuatku takut, ganjil sekaligus penasaran.
“Apa maksudmu?”
Rey membuang napas. “Kau akan tahu sendiri nanti. Itu bukan urusanku. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa ke sini?”
“....”
***