"Ayo Lea cepat cerita." desak Elton yang sudah tidak sabar.
"Dari cerita nyonya Aretha. Nyonya bertemu tuan David di club malam. Tanpa nyonya sadari minuman nyonya dicampur obat perangsang oleh tuan. Dan akhir dari itu kau pasti tahu Elton. Setelah kejadian itu nyonya jarang pergi ke club, selama sebulan nyonya selalu mengurung diri. Hingga suatu ketika nyonya merasa aneh dengan dirinya, dan memeriksakan diri ke doktee. Dokter bilang jika nyonya hamil, dan itu membuat hati nyonya hancur. Hamil dari anak b******n dan laknat." Lea berhenti sesaat sebelum melanjutkan ceritanya.
"Nyonya sempat tak menerima bayi yang dikandungnya, dia hancur waktu itu. Hingga bertemu kembali dengan tuan, dan ternyata tuan tahu jika nyonya hamil. Saat itu juga tuan membawa nyonya ke Britania Raya. Di Britania Raya nyonya bertemu dengan ibu tuan David. Karen Aderxio, ibu tuan sangat baik ia membuat nyonya tak membenci bayi yang dikandungnya. Tapi, suatu hari ibu tuan pergi ke Turki dan memaparkan segalanya. Turki adalah negara tempat tinggal nyonya. Saat mengetahui itu tuan sangat marah dan menyeret nyonya agar ikut bersamanya. Tuan mengajak nyonya tinggal disini. Sedangkan para anggota keluarga, sedang mencari keberadaan nyonya. Ibu tuan pun tak tahu dimana keberadaan anaknya."
"Jadi Aretha sebenarnya tinggal di Turki?" raut wajah Elton sungguh menunjukkan rasa penasaran.
"Iya."
"Kalau begitu lanjutkan."
Lea memutar bola matanya jengah. "Jangan bertanya lagi, tunggu aku selesai bercerita." kata Lea mendengus kesal.
"Selama disini nyonya lelaki disiksa oleh tuan, disetubuhi dan dicambuk. Bahkan tuan tak segan segan menyayat tubuh nyonya."
"Lelaki biadab, dia menyiksa Aretha seperti itu?"
"Iya."
"Tidak perlu diteruskan ceritanya. Intinya David menyiksa Aretha." tegas Elton. Ia tak menyangka bahwa masih ada pria tak manusiawi yang masih hidup.
"Dia menyiksa tanpa alasan." gumam Elton berfikir sendiri.
"Tidak. Tuan mempunyai alasan." sergah Lea.
"Alasan apa?"
"Tuan salah faham terhadap papa nyonya Aretha. Tuan dendam karena ayah tuan dibunuh oleh papa nyonya Aretha. Dan sebagai ganti balas dendam nya, tuan menyiksa nyonya. Karena papa nyonya sudah meninggal. Jadi pelampiasan tuan adalah nyonya." papar Lea panjang lebar.
Elton terdiam mencerna apa yang baru saja diceritakan Lea. Ia mengerti sekarang, bahwa Aretha mengalami p********n selama tinggal disini.
"Sekarang aku ingin meminta sesuatu." ucap Lea tiba-tiba. Elton menatapnya dingin lalu mengangguk.
"Bebaskan nyonya."
Elton sedikit terkejut dengan permintaan wanita didepannya ini. "Bebaskan?"
"Iya bebaskan nyonya dari tuan David."
"Kenapa tidak kau saja?"
"Jika aku bisa pasti akan aku lakukan. Dan jika aku bisa pasti aku akan memberitahu keluarga nyonya, tempat keberadaan nyonya saat ini." teriak Lea telan didepan wajah pria itu.
"Kenapa kau tak bisa? Bukankah dia nyonya mu?" balas Elton dengan membentak. Ia sungguh tak suka ada yang berteriak didepannya.
"Jangan berteriak didepan ku." pringat Elton. Nada bicaranya melembut.
"Kenapa kau tak bisa?" Elton mengulangi pertanyaannya.
"Keluarga ku taruhannya. Tuan akan membunuh keluarga ku jika aku ikut campur urusannya. Aku tinggal disini hanya sebagai dokter pribadi." jelas Lea dengan menundukkan kepalanya.
"Jadi itu alasannya. Baiklah aku akan membantu Aretha terbebas dari b******n itu." putus Elton.
"Tapi tidak sekarang." lanjutnya.
"Kenapa?"
"Jangan terlalu terburu-buru, jika tidak Aretha tidak akan terbebas."
"Tapi nyonya harus pergi sekarang juga. Karena neneknya meninggal." kata Lea.
"Nenek?"
"Iya, neneknya. Jessy Frandes." ucap Lea. Elton mengangkat satu alisnya.
"Jessy Frandes? Memiliki putra yang sudah meninggal, bernama Adeks Abraska Frandes?"
"Iya, bagaimana kau tahu?"
"Keluarga Frandes cukup berpengaruh. Tapi, kenapa aku tidak pernah mendengar nama Aretha dalam keluarga Frandes?" tanya Elton.
"Aku tidak tahu itu. Yang terpenting ayo bebaskan nyonya." Lea terus saja memaksa.
"Aku akan bebaskan tapi tidak sekarang. Jangan gegabah, yang terpenting Aretha bisa keluar dari rumah itu. Persetan dengan menghadiri prosesi pemakaman neneknya." bentak Elton, membuat Lea terkejut akan bentakan nya.
"Aku harus pergi."
"Tunggu Elton." teriak Lea, berlari mengejar Elton.
"Aku mau bertanya. Kenapa kau bisa ada disini? Apa kau orang sini?"
"Tidak aku orang Amerika. Aku disini hanya untuk menyelesaikan pekerjaan ku." jawab Elton tanpa mau berhenti dan terus berjalan.
"Lebih baik kau pulang Lea." sarannya. Lea mengangguk yang tak mungkin dilihat oleh Elton.
Lama kelamaan punggung kokoh Elton tak terlihat. Lea mundur perlahan-lahan, ia berniat kembali. Sekarang hatinya sangat lega, karena sebentar lagi nyonya nya akan mendapatkan kebebasan. Dan ia berharap Elton adalah pria yang baik, tidak seperti tuannya yang b******n dan juga penyiksa.