DUA PULUH DUA

779 Words
Istanbul, Turki Hari sudah semakin sore, bahkan sudah banyak orang yang hadir untuk melayat jenazah Jessy. Mereka semua banyak dari kalangan pebisnis, kolega, dan para sosialita. Jenazah Jessy ditempatkan dikediaman Liam dan Catline. Keadaan mansion cukup ramai ditambah awak media yang meliput kematian Jessy, dari berbagai sumber. Jessy Frandes. Nama yang akan dikenang banyak orang, sesosok wanita tua yang penyayang, penyabar, donatur panti asuhan dan pembisnis yang jujur. Setelah kematian Jessy, mungkin perusahaan yang sempat Jessy pegang akan beralih ke tangan orang lain. Perusahaan yang dibangun mulai dari nol oleh Adeks Abraska Frandes. Diambil alih oleh Jessy dan sekarang entah siapa yang mengambil alih perusahaan penuh perjuangan dari Adeks. Aretha? Bahkan sampai saat ini tidak ditemukan titik terang keberadaan Aretha. "Ayo Catline." dengan kesabarannya, Liam memberi pengertian Catline yang harus merelakan kepergian ibunya. "Aku sudah tidak punya mommy." lirih Catline didekapan Liam. "Sudah sayang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan." Liam mengelus punggung sang istri. Semuanya berkumpul menjadi satu dikediaman Liam. Semua cucu Jessy datang menemui sang nenek, yang sudah tak bernyawa. Hanya Aretha yang tidak ada. Cucu satu-satunya dari anaknya Adeks yang tidak datang. "Mom, Dad." seru Sherly dengan derai air mata. "Sayang." Catline memeluk anak bungsunya, dengan erat. "Nenek sudah pergi mom." Sherly ikut menangis di pelukan sang ibu. "Iya, nenek mu pergi untuk selamanya." Catline melepaskan pelukannya, menatap Sheryl dengan lekat. "Apa kau menemukan sesuatu tentang Aretha?" "Tidak mom, tidak ada tanda-tanda keberadaan Aretha." jawab Sherly. Ya, selama di Britania Raya Sherly sibuk mencari informasi tentang Aretha. Ia menyempatkan waktu untuk menguak informasi apa saja yang menyangkut Aretha. Ditengah tengah kesibukannya sebagai mahasiswa di University of Philadelphia. "Sudahlah, kita hanya perlu berdoa untuk keselamatan Aretha dimana pun keberadaannya." potong Liam, ia berdiri dan menarik lengan Catline agar ikut berdiri. "Ayo kita kebawah. Dan kau Sherly, berganti lah lalu turun kebawah." Liam keluar dari kamar berserta Catline. Sedangkan Sherly hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Terlihat sangat ramai dibawah sana, semuanya sudah berkumpul. Dan ini saatnya jenazah Jessy di kebumikan. Mungkin hanya Aretha lah yang tidak hadir. "Dad, apa sekarang?" tanya Greno. "Iya." Liam berjalan masih dengan tangan yang merangkul pinggang Catline. "Jangan menangis sayang." Catline hanya mengangguk meskipun terasa sulit, untuk tidak menangis. "Paman, bibi." panggil Catline. Martin dan Maria menoleh, mendapati keponakannya yang sekarang wajahnya seperti monster. "Kau mengerikan sayang." ucap Maria prihatin. Maria mendekati Catline dan mengusap pipinya, "Jangan bersedih." "Sayang aku urus yang lain dulu. Kau baik-baik disini." pamit Liam, pergi dari hadapan Catline. Liam berjalan dengan tenang kearah Lucas, Villan dan juga Grena. "Bagaimana, apa sudah siap makam nya?" "Sudah paman." jawab Lucas. "Dimana Sam?" tanya Liam yang belum melihat keberadaan Sam. "Dia sedang dipemakaman paman. Mengurus semuanya." kata Grena. "Baiklah sebentar lagi jenazah ibu akan di kebumikan. Aku harap kalian tidak menangis disana." pesan Liam untuk semuanya. "Jelas aku tak akan menangis paman." serga Lucas. "Iya kau tidak menangis. Tapi matamu hanya mengeluarkan cairan bening." tukas Chesy yang sudah berada dibelakang Lucas. "Itu tidak benar Ches. Aku tidak menangis." kekeh Lucas. "Oh iya? Apa kau bisa menjamin kau tidak akan menangis, jika melihat prosesi pemakaman nenek?" tantang Chesy. Lucas terdiam tidak menjawab, sedangkan Liam, Grena dan Villan hanya menggelengkan kepala. Bisa-bisanya mereka berdebat di saat seperti ini. "Bisa." ucap Lucas mantap. "Aku tidak percaya. Buktinya tadi kau menangis didekat peti mati nenek." skak mat Chesy. "Sudah-sudah Ches. Iya, aku menangis tadi. Karena aku menyayangi bibi Jessy." kata Lucas dengan tegasnya. Liam tersenyum samar, perdebatan Lucas dan Chesy membuatnya bahagia. Karena mereka sangat menyayangi Jessy. Selaku ibu mertuanya. "Cukup perdebatan kalian. Ayo paman saatnya bibi dimakamkan." ucap Sam yang baru saja datang. "Semuanya sudah selesai Sam?" "Sudah paman." Martin berjalan menghampiri Liam, dan menepuk pundak Liam secara jantan, "Ayo saatnya Liam." Liam menatap Martin sejenak lalu berjalan mendekati peti mati Jessy. Villan, Greno, Sam dan Lucas mendekat mereka semua berada disisi kiri dan kanan peti mati. Mereka mengangkat peti mati dibantu oleh Liam dan Martin. Jackson dan Amer tidak ikut, karena mereka sudah tiba dipemakaman terlebih dahulu. Dengan hati-hati mereka menurunkan peti mati didalam mobil ambulance. Mobil ambulance itu melaju dengan kecepatan sedang. Diikuti mobil Liam, dan lainnya. *****              Lea memasuki rumah dengan penuh perjuangan. Banyak pertanyaan yang dilontarkan anak buah tuannya untuk dirinya. Mulai dari "Dari mana saja kau", "Mengapa kau keluar rumah lama sekali" dan masih banyak lagi. Lea mengendus kesal saat Albet menghampirinya, "Dari mana kau?" "Dari luar. Aku sungguh penat didalam rumah Albet." jawab Lea dengan kesal. "Kanapa kau terlihat kesal seperti itu Lea?" "Semua anak buah tuan David bertanya seperti itu kepadaku. Dan sekarang kau juga, sungguh aku lelah menjawabnya." Lea beranjak dari hadapan Albet. Lea memasuki kamarnya, yang disediakan David. "Sungguh menyebalkan." "Nanti malam akan aku beritahu nyonya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD